NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 Kalimat yang Disepelekan

Aku kira setelah bolak-balik beli barang, setelah kaki pegal dan kepala penuh hitung-hitungan, setidaknya suasana bakal sedikit lebih tenang. Aku salah. Begitu aku balik ke aula dan taruh barang-barang terakhir, jam sudah nunjuk hampir magrib. Badan lengket, kaus basah di punggung, dan rambut rasanya berat banget. Aku nggak langsung duduk. Aku berdiri sebentar, ngelurusin punggung, ngatur napas. Rasanya kayak baru kelar kerja rodi. Tara di sampingku. Dia juga kelihatan capek, tapi masih berusaha bantu nyusun air mineral.

“Kita tinggal nunggu apa lagi?” dia nanya. Aku nengok sekeliling. Meja sudah rapi. Snack sudah dibagi per plastik. Air sudah ditumpuk. Kabel sound system sudah digulung. Kursi sudah diatur.

“Kayaknya tinggal nunggu instruksi,” jawabku. Aku ngomong pelan. Bukan karena nggak yakin, tapi karena capek buat ngomong keras. Aku duduk di kursi paling pinggir. Nggak strategis, tapi aman. Dari sana aku bisa lihat hampir semuanya tanpa harus terlibat langsung. Aku pikir, kali ini aku bakal diem aja.

Beberapa menit berlalu. Orang-orang mulai datang lagi. Ada yang baru kelar mandi. Ada yang baru ganti baju. Ada yang bawa kopi dari luar. Suasana berubah. Lebih santai. Lebih rame. Rara masuk ke aula bareng dua orang lain. Mukanya fresh. Rambutnya rapi. Bajunya ganti. Aku langsung sadar satu hal kecil yang bikin dada agak sesak: aku belum sempat ganti apa pun sejak siang.

Rara berdiri di tengah aula. Ngeliat sekeliling. Tangannya nyilang. Matanya muter, berhenti di beberapa titik. Aku tahu tatapan itu. Tatapan ngecek.

“Ini sudah semua?” tanyanya.

“Iya,” jawab beberapa orang hampir barengan. Aku diem. Rara jalan ke meja snack. Buka satu plastik. Lihat isinya. Tutup lagi. Geser ke plastik lain. Lakukan hal yang sama. Aku perhatiin dari jauh. Tanganku refleks dingin. “Kenapa snacknya beda?” dia nanya.

Aku berdiri setengah refleks. “Yang itu stoknya habis. Jadi sebagian diganti.” Aku berusaha jawab biasa aja. Nada netral. Nggak defensif. Rara ngangguk pelan. “Oh.” Aku kira selesai. Ternyata belum. Dia jalan ke arah Bu Santi. Mereka ngobrol sebentar. Aku nggak dengar jelas, tapi cukup buat lihat ekspresi Bu Santi yang agak bingung. Aku balik duduk. Tara nyenggol lenganku pelan. “Kamu nggak apa-apa?”

Aku geleng. “Nggak.” Jawaban bohong, tapi pendek. Beberapa menit kemudian, ada satu momen kecil yang nggak kelihatan penting, tapi entah kenapa nempel sampai sekarang. Sela lagi cerita ke beberapa anak soal tadi kami ke pasar. Ketawa kecil. Cerita soal muter-muter nyari barang. Cerita soal panas. Cerita biasa. Rara lewat di belakang mereka. Aku dengar suaranya. Nggak keras. Tapi jelas. “Ya biasa,” katanya sambil senyum kecil.

“Mereka muter nggak jelas.” Kalimatnya pendek. Santai. Seolah cuma komentar lewat. Tapi aku dengar. Langsung. Jelas.

Aku nggak tahu kenapa kalimat itu rasanya beda. Padahal aku sudah sering dengar komentar lebih parah. Tapi yang ini… kena. Aku nggak langsung nengok. Badanku kaku. Tanganku berhenti gerak. Rasanya kayak ada yang narik sesuatu di dalam dada, tapi pelan-pelan, bikin perih. Muter nggak jelas.

Aku ulang di kepala. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Aku pengin berdiri. Pengin bilang, nggak jelas dari mana? Pengin jelasin satu-satu toko yang kami datengin. Pengin sebutin harga. Waktu. Alasan.

Tapi kakiku berat. Mulutku kering. Sela ketawa kecil, mungkin nganggep itu bercanda. Anak-anak lain juga ketawa. Nggak ada yang sadar kalau satu kalimat barusan cukup buat bikin aku pengin pulang. Tara nengok aku. Tatapan matanya berubah. Dia pasti dengar juga.

Aku pura-pura sibuk buka botol minum. Minum cepat. Terlalu cepat sampai tenggorokan perih. “Na…” Tara manggil pelan.

 Aku geleng sebelum dia lanjut. Aku nggak mau nangis. Nggak di sini. Nggak sekarang. Setelah itu, aku nggak banyak gerak. Aku duduk. Kadang berdiri kalau disuruh. Tapi selebihnya, aku diem.

Rara beberapa kali lewat. Ngasih instruksi ke orang lain. Nadanya tegas. Yakin. Semua dengerin. Nggak ada lagi instruksi ke aku. Dan entah kenapa, itu justru bikin aku lebih kesel.

Aku ngerasa kayak orang yang dipakai pas perlu, terus dianggap nggak penting pas sudah selesai. Kayak alat. Dipakai. Disimpan.

Waktu isya datang, beberapa orang mulai keluar aula. Cari makan. Ada yang ngajak-ngajak. “Naya, ikut makan nggak?” seseorang nanya.

Aku geleng. “Nanti.”

Padahal aku laper. Banget. Tapi entah kenapa, aku nggak pengin pergi bareng mereka. Tara juga nolak. Dia duduk di sebelahku. “Kamu marah?” dia nanya pelan.

Aku mikir sebentar. “Aku capek.”

Jawaban aman. Tapi bukan itu doang. Aku capek jelasin. Capek ngerjain tanpa dianggep. Capek denger komentar seolah-olah aku nggak niat.

Di luar aula, suara orang ketawa makin jauh. Di dalam, tinggal beberapa orang beresin sisa-sisa. Lampu putih bikin mata perih.

Aku berdiri lagi. Bantu angkat kursi yang belum keangkat. Bukan karena disuruh. Tapi karena kalau aku diem, kepalaku keburu penuh. Sambil angkat kursi, kalimat itu balik lagi. Muter nggak jelas.

Aku pengin ketawa. Pahit. Kalau memang nggak jelas, kenapa selalu aku yang disuruh beli? Kenapa selalu aku yang dititipin uang? Kenapa kalau kurang, namaku yang disebut? Aku taruh kursi terakhir. Duduk. Nafas berat.

Malam makin turun. Aula hampir kosong. Tinggal kami-kami yang “inti”, katanya. Rara duduk di depan. Main HP.

Ketawa kecil baca sesuatu. Santai. Aku lihat itu sambil mikir satu hal yang mulai muncul jelas di kepalaku: mungkin aku nggak dianggap penting bukan karena aku nggak kerja, tapi karena aku terlalu sering bilang “iya”.

Dan malam itu, aku pulang dengan perasaan yang nggak bisa aku jelasin ke siapa-siapa. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih ke… greget yang ketahan.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!