Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilarang merokok
Esok paginya Lara sudah bersiap pergi ke kampus. Ia berdiri sejenak di ruang makan, pandangannya jatuh pada meja yang terasa terlalu lengang. Biasanya di jam seperti ini Arka sudah duduk dengan tenang, secangkir kopi hitam di tangannya, sementara di hadapannya selalu tersedia sarapan untuk Lara—entah roti panggang, sereal, atau makanan sederhana lain yang belakangan tak pernah absen.
Kini hanya ada kursi kosong dan sunyi yang menggantung di udara. Lara menghela napas pelan, merutuki dirinya sendiri karena merasa terlalu manja. Baru sehari Arka pergi, tapi rasanya apartemen itu sudah berubah asing.
Ia meraih ponselnya dengan perasaan ragu, lalu senyum kecil terbit di wajahnya saat melihat sebuah notifikasi. Pesan dari Arka. Singkat, tapi hangat. Arka mengingatkannya agar berhati-hati, jangan lupa sarapan, dan meminta maaf karena baru bisa mengabarinya pagi itu. Lara membaca pesan itu dua kali, dadanya menghangat tanpa diminta. Jarinya bergerak cepat membalas, meyakinkan Arka bahwa ia baik-baik saja dan akan menurut.
Setelah itu Lara meraih tasnya, melirik meja makan sekali lagi sebelum akhirnya beranjak pergi. Langkahnya terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Lara pun kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Duduk di bangku kelas, mencatat, mendengarkan penjelasan dosen, meski kali ini lagi-lagi ia tidak sekelas dengan Axel.
Belum lama pelajaran berjalan, tiba-tiba panggilan alam datang tanpa kompromi. Lara meringis kecil, menunggu momen yang tepat sebelum akhirnya mengangkat tangan dan meminta izin keluar kelas. Ia melangkah cepat menuju toilet, menunaikan hajatnya dengan lega, lalu bergegas kembali ke kelas.
Namun saat melintasi lorong, tepat di sudut dekat wastafel kecil, Lara mendadak berhenti. Ia teringat sesuatu.
“Eh… aku belum cuci tangan,” gumamnya polos.
Lara pun berbalik dan menghampiri wastafel. Air mengalir, tangannya sibuk digosok, sampai tiba-tiba terdengar suara batuk—lebih tepatnya tersedak—dari balik dinding wastafel yang memisahkan lorong kecil di belakangnya. Lara menoleh, alisnya berkerut penasaran. Dengan langkah ragu, ia mengitari sudut itu.
Dan seketika ia terkejut.
Di sana berdiri seorang pemuda bersandar santai di dinding, sebatang rokok terselip di jarinya. Asap tipis masih menggantung di udara.Pemuda itu adalah Revan.
Mereka saling menatap beberapa detik, sama-sama terdiam karena sama-sama tidak menyangka.
“Eh… kamu kan yang kemarin nabrak aku,” celetuk Lara spontan.
Padahal, jelas-jelas dia sendiri yang menabrak Revan.
Revan belum sempat membuka mulut untuk membantah, ketika tiba-tiba—srek—rokok di tangannya dirampas begitu saja oleh Lara. Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Lara membuang rokok itu ke tempat sampah terdekat.
“Rokok nggak baik buat kesehatan,” katanya datar, seolah sedang menegur adik sendiri.
Revan bengong.
“Loh… kok dibuang sih?” protesnya refleks, setengah kaget setengah tidak percaya.
Namun Lara sama sekali tidak menanggapi. Ia malah merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa permen, lalu—tanpa izin—menarik tangan Revan dan menumpahkan permen-permen itu ke telapak tangannya.
“Nih. Makan permen aja. Setidaknya ini lebih baik daripada ngerokok,” ucapnya santai.
Setelah itu, seolah tidak merasa bersalah sama sekali, Lara tersenyum tipis—senyum yang ringan dan tulus—lalu berbalik pergi begitu saja, langkahnya cepat menyusuri lorong menuju kelas.
Revan berdiri mematung.
Ia menatap tangannya yang kini penuh permen, lalu melirik ke arah tempat rokoknya tadi dibuang. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia terkekeh pelan.
“Cewek aneh…” gumamnya, tapi sudut bibirnya justru terangkat lebih tinggi.
Untuk pertama kalinya setelah lama, Revan merasa… tertarik. Bukan karena kecantikan semata, tapi karena satu hal sederhana: gadis itu sama sekali tidak memperlakukannya seperti Revan si populer—melainkan seperti manusia biasa yang perlu diomeli demi kesehatannya sendiri.
Tidak lama setelah kejadian itu, Revan akhirnya masuk ke kelasnya. Ia duduk di bangkunya sambil menyandarkan punggung, alasan kenapa tadi ia merokok pun sebenarnya sepele—hanya untuk mengusir kantuk yang sejak pagi menempel seperti lem.
Namun fokusnya jelas tidak ada di papan tulis.
Pikirannya malah kembali ke lorong tadi. Ke tangan kecil yang tanpa izin merampas rokoknya. Ke nada datar tapi sok bijak itu. Ke permen-permen yang kini sudah ia simpan di saku.
“Rokok nggak baik buat kesehatan.”
Revan mendengus kecil. Harusnya dia kesal. Harusnya dia marah. Tapi anehnya, yang muncul justru rasa geli.
Cewek itu… benar-benar di luar nalarnya.
Tanpa sadar, sudut bibir Revan terangkat. Senyum kecil, tapi bertahan cukup lama.
“Hei.”
Teman sebangkunya menoleh dengan alis terangkat. “Lo kenapa senyum-senyum sendiri?”
Revan tersadar. Ia berdeham kecil, lalu menjawab refleks tanpa banyak mikir,
“Tadi habis ketemu cewek aneh.”
Temannya hanya mengangguk santai. “Oh.”
Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada rasa penasaran. Jelas dia tidak paham apa yang dimaksud Revan.
Dan Revan tidak merasa perlu menjelaskannya.
Karena bahkan untuk dirinya sendiri, ia belum bisa mengartikan—kenapa satu kejadian singkat di lorong wastafel bisa membuat hari yang membosankan ini terasa… sedikit lebih hidup.