Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Tawaran yang Menekan
Bayu merasakan getaran ponsel di saku celananya berhenti secara tiba-tiba, menandakan bahwa waktu yang diberikan oleh Rian mungkin telah habis. Kesunyian yang mengikuti getaran itu terasa lebih menyesakkan daripada desakan pesan-pesan sebelumnya yang terus menghantui pikirannya.
Fahmi yang berdiri di hadapannya justru tersenyum lebar, sebuah senyuman yang begitu tulus hingga membuat Bayu merasa semakin minder. Keramahan itu terasa seperti cermin besar yang memantulkan segala keburukan dan niat kotor yang sempat hinggap di hati Bayu.
Fahmi melangkah mendekat lalu menepuk bahu Bayu dengan pelan, sebuah gestur persahabatan yang dulu sering mereka lakukan saat masih remaja. Sentuhan itu terasa sangat hangat, namun bagi Bayu, itu adalah beban moral yang menghujam langsung ke harga dirinya.
"Gimana kabar ibu di rumah, Bay? Beliau sehat-sehat aja kan sekarang?" tanya Fahmi dengan nada suara yang penuh perhatian mendalam.
Bayu tertegun sejenak, tenggorokannya mendadak terasa kering dan lidahnya kelu untuk sekadar menjawab pertanyaan sederhana mengenai kabar ibunya. Ia teringat wajah pucat ibunya yang tadi sore masih berkutat dengan tumpukan baju cucian milik orang lain demi sesuap nasi.
"Ibu ... ya gitu, Mi. Kadang masih sering batuk-batuk kalau kecapekan," jawab Bayu pelan sembari menundukkan pandangannya ke lantai semen yang retak.
Fahmi mengangguk-angguk dengan raut wajah yang berubah menjadi sedikit khawatir setelah mendengar penjelasan singkat dari sahabat lamanya tersebut. Ia tampak berpikir sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat penting untuk ia sampaikan kepada Bayu malam itu.
"Bay, kalau emang diperlukan, gue siap kok bantu biayain pengobatan ibu sampai benar-benar sembuh total," tawar Fahmi tanpa ragu sedikit pun.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Fahmi dengan nada yang sangat rendah hati, tanpa ada maksud untuk menyombongkan kemampuannya. Namun bagi Bayu, tawaran itu justru terasa seperti sebuah penghinaan halus bagi seorang lelaki yang pernah memimpin perusahaan besar di Jakarta.
Bayu mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana yang robek untuk menahan rasa malu yang membakar seluruh permukaan kulit wajahnya. Ia merasa sangat tidak berguna karena untuk mengobati ibunya sendiri pun, ia harus bergantung pada belas kasihan orang lain.
"Nggak usah, Mi. Gue masih bisa usahain sendiri kok buat pengobatan ibu nanti," tolak Bayu dengan suara yang terdengar agak kaku.
Fahmi tidak terlihat tersinggung dengan penolakan itu, ia justru tersenyum maklum seolah sangat memahami sifat keras kepala yang dimiliki oleh sahabatnya. Ia menepuk bahu Bayu sekali lagi, seolah ingin memberikan kekuatan tambahan bagi jiwa Bayu yang sedang goyah dan hampir runtuh.
"Gue paham kok, tapi jangan sungkan kalau emang kondisinya mendesak ya, Bay. Kita ini kan sahabat, sudah seharusnya kalau ada yang kesulitan kita saling bantu," tambah Fahmi lagi.
Fahmi kemudian mengajak Bayu berjalan perlahan meninggalkan teras masjid yang sepi menuju arah parkiran motor yang berada di sisi selatan gedung. Suasana malam yang sunyi itu hanya diisi oleh suara langkah kaki mereka berdua yang beradu dengan suara jangkrik dari semak-semak sekitar.
Selama berjalan menyusuri jalanan setapak, Fahmi mulai bercerita tentang rencana jangka panjangnya yang sangat ambisius untuk memajukan pendidikan di desa mereka. Ia tampak sangat antusias saat membicarakan proyek barunya untuk membangun sebuah perpustakaan digital yang modern di dalam panti asuhan.
"Gue pengen anak-anak panti itu nggak ketinggalan zaman dan bisa akses ilmu pengetahuan seluas mungkin lewat internet," ujar Fahmi dengan mata berbinar.
Ia menjelaskan bahwa dengan adanya perpustakaan digital, anak-anak yatim itu bisa belajar banyak hal secara mandiri tanpa harus terkendala jarak dan biaya. Fahmi ingin menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang selama ini dianggap remeh oleh sebagian besar orang di kota.
"Tapi jujur aja, gue agak buta soal sistem jaringan dan keamanan datanya supaya nggak gampang dibobol orang," lanjut Fahmi sambil melirik Bayu.
Fahmi kemudian meminta pendapat teknis secara langsung dari Bayu karena ia sangat menganggap Bayu jauh lebih ahli dalam bidang teknologi informasi. Ia tahu betul rekam jejak Bayu di Jakarta sebagai orang yang sangat mumpuni dalam mengelola infrastruktur digital perusahaan-perusahaan besar yang pernah dipimpinnya.
"Menurut lo, perangkat apa yang paling efisien buat kita pasang di panti nanti, Bay? Gue butuh masukan dari ahlinya supaya nggak salah beli," tanya Fahmi tulus.
Bayu hanya bisa mengangguk pendek tanpa berani menatap mata sahabatnya yang nampak sangat penuh dengan harapan dan kepercayaan yang begitu besar. Ia merasa sangat munafik karena beberapa menit yang lalu, ia hampir saja menggunakan keahlian teknologinya untuk merusak data demi uang haram seratus juta.
"Nanti ... nanti gue coba buatkan daftar spesifikasinya kalau gue udah sempat buka laptop lagi," jawab Bayu dengan suara yang terdengar sangat hambar di telinganya.
Setiap kata pujian yang keluar dari mulut Fahmi mengenai keahliannya justru terasa seperti pisau tajam yang menguliti sisa-sisa harga diri Bayu yang masih tersisa. Ia merasa sangat kotor karena keahlian yang dipuji oleh Fahmi itu hampir saja ia gadaikan kepada Rian untuk melakukan tindakan kriminal yang memuakkan.
"Gue senang banget kalau lo mau bantu supervisi proyek ini, Bay. Gue yakin hasilnya bakal luar biasa kalau lo yang pegang kendalinya," puji Fahmi lagi.
Mereka terus berjalan di bawah naungan pohon-pohon kamboja yang baunya sangat khas, menambah suasana haru yang kian menyergap perasaan batin Bayu yang sedang kacau. Bayu merasa seolah-olah semesta sedang menertawakan kondisinya yang sekarang sedang terhimpit di antara dua dunia yang sangat berbeda dan sangat kontradiktif.
"Lo tahu nggak, Nayla juga setuju banget pas gue bilang mau ajak lo kerja bareng lagi buat urusan teknologi panti," cerita Fahmi tanpa beban.
Mendengar nama Nayla disebut, jantung Bayu berdegup lebih kencang dan ia merasa semakin tidak layak untuk berada di lingkungan orang-orang baik seperti mereka. Ia membayangkan bagaimana kecewanya Nayla jika mengetahui bahwa lelaki yang ia banggakan ini hampir saja menjadi pencuri data digital hanya karena lapar.
"Dia bilang, nggak ada orang lain yang lebih hebat dari Bayu kalau urusan komputer dan sistem informasi di desa ini," tambah Fahmi sambil terkekeh pelan.
Bayu hanya bisa menelan ludah yang terasa sangat pahit di tenggorokannya, merasa seperti seorang penjahat yang sedang mendapatkan penghargaan dari para korbannya. Ia merasa sangat sesak karena kepercayaan yang diberikan oleh Fahmi dan Nayla terasa jauh lebih berat daripada beban kemiskinan yang ia tanggung saat ini.
Mereka akhirnya sampai di samping motor besar milik Fahmi yang terparkir rapi di bawah lampu jalan yang cahayanya mulai meredup dan berkedip-kedip. Motor itu nampak gagah dan bersih, mencerminkan sosok pemiliknya yang sukses namun tetap membumi dan tidak pernah melupakan akar asalnya di desa tersebut.
Fahmi mengeluarkan kunci motor dari saku kokonya dan memasukkannya ke dalam lubang kunci, namun ia tidak segera menyalakan mesin kendaraan roda dua miliknya itu. Ia kembali menatap Bayu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah ingin memastikan bahwa sahabatnya itu benar-benar dalam kondisi yang baik-baik saja malam ini.
"Ingat ya Bay, gue selalu ada di sini kalau lo butuh teman buat sekadar cerita atau butuh bantuan apa pun soal keluarga," ucap Fahmi penuh penekanan.
Bayu hanya bisa menundukkan kepala, menghindari kontak mata langsung dengan Fahmi yang nampak sangat bersungguh-sungguh dengan semua perkataan dan tawarannya yang menekan itu. Di dalam sakunya, ponsel yang sudah mati itu terasa sangat dingin, sedingin hatinya yang kini mulai menyadari betapa jauhnya ia telah menyimpang dari jalan kejujuran.
"Gue pamit dulu ya, salam buat Ibu. Jangan lupa kabari gue soal daftar perpustakaan digital itu kalau lo ada waktu senggang," pamit Fahmi sambil menyalakan motornya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰