NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#8

Kantin fakultas bisnis siang itu terasa lebih gerah dari biasanya, terutama bagi mereka yang duduk di meja pusat kekuasaan. Edgar Castiel Martinez duduk dengan santai, namun aura di sekitarnya tampak tidak stabil.

Di sampingnya, Ethan Gonzales berkali-kali mencoba memancing pembicaraan tentang saham teknologi yang sedang naik, namun Edgar hanya menanggapinya dengan gumaman pendek.

Pikiran Edgar masih tertahan pada satu kata: Alay.

Kata itu terus berdenging di telinganya seperti nyamuk yang menyebalkan. Ia, seorang Martinez, disebut banyak gaya oleh seorang gadis yang bahkan tidak memiliki marga.

"Ethan," suara Edgar tiba-tiba memecah diskusi membosankan tentang portofolio investasi.

Ethan langsung tegak, wajahnya berbinar penuh harap. "Ya, Ed? Ada apa?"

"Leonor Kaia. Dia tinggal di mansion mu, kan?" tanya Edgar sembari mengaduk kopinya yang sudah dingin.

Ethan sedikit terkejut, namun segera mengangguk. "Ya, dia tinggal di sana. Di paviliun belakang, sebenarnya. Kau tahu sendiri, Ayah tidak terlalu suka dia berada di ruang utama. Memangnya kenapa? Apa dia berbuat ulah lagi?"

Edgar menyandarkan punggungnya, matanya menyipit penuh rencana. "Proyek kolaborasi fakultas kita dimulai minggu ini. Aku tidak suka bekerja di perpustakaan kampus yang berisik. Aku ingin membahas detail rencana bisnis untuk lini busananya di tempat yang tenang. Bagaimana jika aku ke rumahmu besok malam?"

Mendengar itu, Ethan hampir tersedak air mineralnya. Matanya membelalak tak percaya. Edgar Martinez, pria yang rumahnya bahkan tidak bisa dimasuki sembarang orang, menawarkan diri untuk bertamu ke mansion Gonzales?

"Tentu! Tentu saja, Ed! Ayahku pasti akan sangat senang menyambut mu," ujar Ethan dengan nada bangga yang meluap-luap. Di otaknya, Ethan sudah membayangkan bagaimana ia akan memamerkan hal ini pada David Gonzales. Membawa seorang Martinez ke rumah adalah pencapaian politik keluarga yang luar biasa. Ia akan dianggap sebagai anak emas yang berhasil membawa relasi tingkat tinggi ke hadapan ayahnya.

Clark dan Jackson, dua sahabat Edgar yang juga pewaris hotel dan logistik, saling bertukar pandang penuh arti.

"Wow, Ed. Kau benar-benar niat ya mengurusi proyek desain ini? Biasanya kau tinggal menyuruh asisten untuk mengerjakan rencana bisnisnya," goda Jackson sambil tertawa.

"Aku hanya ingin melihat bagaimana gadis tanpa nama itu bekerja," jawab Edgar dingin, meski ada kilat obsesi yang mulai tumbuh di matanya.

Tepat saat suasana meja itu memanas oleh rencana Ethan, pintu kantin terbuka. Leonor masuk dengan langkah yang masih tampak lelah. Ia tidak lagi memakai gaun sage green semalam, hari ini ia kembali ke setelan perangnya, jaket denim kebesaran dan celana kain hitam.

Namun, ada yang aneh. Tangan kanan Leonor terus-menerus meraba telinga kanannya. Wajahnya yang semula datar kini tampak sedikit panik. Ia memeriksa saku jaketnya, menggeledah tas kanvasnya, lalu meraba lantai di sepanjang jalan yang ia lalui.

Anting perak berbentuk bintang kecil, satu-satunya perhiasan peninggalan ibunya, hilang sebelah.

Leonor tidak menyadari bahwa ia berjalan mendekati meja para pewaris karena terlalu fokus mencari di bawah meja-meja kantin. Saat ia menyadari dirinya sudah berdiri tepat di depan meja Edgar, ia mematung.

Edgar memperhatikannya dengan teliti. Ia melihat kecemasan di mata Leonor, sesuatu yang membuatnya tampak rapuh sekaligus menggemaskan.

"Mencari sesuatu, Kaia? Atau kau sedang mencoba teknik baru untuk menarik perhatianku dengan berakting seperti orang bingung?" tanya Edgar, suaranya terdengar merdu namun menusuk.

Leonor mendongak, matanya merah karena kurang tidur dan kini ditambah rasa sedih. "Bukan urusanmu, Martinez."

"Anting mu hilang, ya?" tebak Edgar santai. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang berkilau. Itu adalah anting bintang milik Leonor yang terjatuh di koridor tadi pagi.

Mata Leonor berbinar. "Itu milikku! Kembalikan!"

Edgar menjauhkan tangannya saat Leonor hendak meraihnya. "Tidak semudah itu. Kau memanggilku alay tadi pagi, ingat? Anggap saja ini biaya kompensasi atas kerugian mentalku."

Teman-teman Edgar mulai tertawa. Clark dan Jackson tampak sangat menikmati tontonan itu.

"Ayolah, Ed. Jangan terlalu jahat pada gadis cantik," celetuk Clark sambil mengedipkan mata pada Leonor, yang langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Leonor.

Edgar kemudian menaruh anting itu di atas meja, menutupinya dengan telapak tangannya. "Aku akan mengembalikannya, tapi dengan satu syarat."

Leonor menarik napas berat. "Apa?"

"Apa kau punya sosial media? Instagram? Atau apa pun itu?" tanya Edgar tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat seluruh meja terdiam. Ethan bahkan sampai melongo. Edgar Martinez, pria yang hanya mengikuti akun-akun resmi perusahaan dan majalah ekonomi, menanyakan sosial media pada seorang gadis?

"Untuk apa?" tanya Leonor ketus.

"Untuk memastikan kau tidak kabur dari proyek kolaborasi kita. Aku perlu memantau progres mu," alasan Edgar terdengar sangat dibuat-buat.

"Aku tidak punya waktu untuk mengunggah foto narsistik seperti teman-temanmu," jawab Leonor pedas. "Aku hanya punya akun portofolio untuk desainku. Dan aku tidak akan memberikan akses pada pria sepertimu."

Edgar tertawa, kali ini tawanya tidak terdengar menghina, tapi lebih seperti tawa yang penuh tantangan. "Kuno sekali. Di zaman sekarang, tidak punya sosial media pribadi? Apa kau hidup di zaman batu, Leonor?"

"Aku hidup di dunia nyata, Edgar. Dunia di mana benda berharga tidak bisa digantikan dengan angka pengikut di Instagram," Leonor menunjuk anting di bawah tangan Edgar. "Sekarang kembalikan."

"Ambil saja sendiri," tantang Edgar, sambil perlahan mengangkat tangannya namun tetap menjaganya cukup dekat agar Leonor harus menyentuh tangannya jika ingin mengambil anting itu.

Leonor terdiam sejenak. Ia tahu ini jebakan. Namun, anting itu terlalu berharga. Dengan cepat, ia menyambar anting itu. Jari-jarinya yang halus sempat bersentuhan dengan kulit tangan Edgar yang hangat. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik yang membuat keduanya terkejut secara internal, namun keduanya terlalu angkuh untuk mengakuinya.

"Sampai jumpa besok malam di rumahmu, Leonor," ucap Edgar saat Leonor berbalik untuk pergi.

Langkah Leonor terhenti. Ia menoleh ke arah Ethan yang sedang tersenyum lebar penuh kemenangan.

"Apa maksudnya ini, Ethan?" tanya Leonor tajam.

"Edgar akan datang ke mansion besok malam untuk membahas proyek. Ayah sudah setuju," ujar Ethan bangga. "Siapkan dirimu. Jangan sampai kau mempermalukan nama keluarga di depan tamu terhormat kita."

Leonor menatap Edgar yang sekarang sedang tersenyum miring ke arahnya, seolah-olah dia baru saja memenangkan satu babak dalam permainan catur mereka.

"Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku?" tanya Leonor pada Edgar.

Edgar mengangkat bahu. "Mengganggumu adalah satu-satunya hal yang tidak terasa membosankan di kampus ini."

Leonor tidak membalas lagi. Ia berjalan keluar dari kantin dengan perasaan campur aduk. Ia tahu, mansion Gonzales yang biasanya dingin akan menjadi jauh lebih panas besok malam. Ia sudah bersumpah akan membuat Edgar jatuh cinta dan kemudian mencampakkannya, tapi ia tidak menyangka Edgar akan masuk ke dalam rumahnya secepat ini.

Di meja kantin, Edgar menatap jari-jarinya yang baru saja bersentuhan dengan Leonor.

"Dia menarik, kan?" tanya Jackson sambil menyikut lengan Edgar.

"Dia hanya gangguan kecil yang perlu dijinakkan," jawab Edgar tenang, meski dalam hatinya ia mulai menyadari bahwa menjinakkan Leonor Kaia mungkin adalah tugas tersulit yang pernah ia ambil, dan ia mulai menikmatinya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!