"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
✦✦ ✦ ✦
"Teman-teman kamu sudah pulang?" tanya Khaira, begitu melihat Galvin kembali menghampirinya di sana.
Galvin menjawab dengan anggukkan.
Setelah teman-teman keluar dari Perpustakaan Galaksi, Galvin langsung memutuskan untuk kembali menghampiri Khaira yang masih bekerja di lantai dua perpustakaan.
waktu yang cukup lama.
Sekilas Galvin melirik ke arah sofa yang Khaira tunjukkan. Namun, dengan cepat, dia mengalihkan kembali pandangannya dari sofa itu.
Mau senyaman apa pun sofa itu seperti apa yang Khaira katakan, dia sama sekali tidak akan tertarik untuk duduk di sana.
Hal itu dikarenakan jarak sofa itu cukup jauh dengan meja kerja Khaira.
"Gue mau duduk di sini," ucapnya.
Dia malah menarik kursi yang ada di sekitarnya, kemudian dia mengarahkan kursi itu supaya berhadapan langsung dengan meja kerja Khaira.
Entah mengapa dia ingin duduk berada dekat dengan Khaira. Walaupun tetap saja jarak antara tempat duduk mereka terhalang oleh sebuah meja kerja.
"Kenapa ga duduk di sana saja? Nunggu di sana pasti lebih nyaman." Khaira kembali menyarankan.
Menurutnya, duduk di sofa jauh lebih nyaman dari pada di kursi.
Jika dirinya harus memilih, dia akan memilih untuk duduk di sofa itu dari pada di kursi, yang walaupun sama-sama nyaman untuk diduduki.
"Terserah gue. Gue mau di sini," ucap Galvin, tampak tidak peduli.
Dia langsung menduduki kursi itu dengan santai, kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Hal itu membuat Khaira langsung menggelengkan kepalanya pelan, seraya tersenyum tipis di balik cadar.
"Yaudah, gimana kamu," sahut Khaira.
Kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang hampir selesai.
"Kenapa lihat aku terus?" tanya Khaira, sambil mengalihkan pandangannya yang semula menatap layar komputer, kini beralih menatap Galvin.
Dia menyadari jika Galvin terus menatapnya, dan itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.
Jika terus diperhatikan seperti itu, dia menjadi tidak fokus terhadap pekerjaannya.
"Gue serius dengan pesan yang gue kirim tadi," ucap Galvin tiba-tiba.
Hal itu menjadi alasan kenapa Galvin terus menatap Khaira.
"Aku tau kamu serius," sahut Khaira.
Dia sama sekali tidak menganggap jika pesan yang Galvin kirimkan adalah sebuah candaan.
Selama hampir tiga tahun dia mengenal Galvin sebagai teman kelasnya, sekaligus partner organisasi, sudah pasti dia tahu bahwa Galvin tidak pernah becanda akan sesuatu.
"Gue ga yakin lo bisa ngelakuin itu," ucap Galvin, menatap Khaira dengan yakin.
Khaira tersenyum samar di balik cadar. "Supaya aku tidak terlalu bersikap ramah kepada orang lain?" tanya Khaira, menegaskan apa yang Galvin maksudkan.
Galvin menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya, terhadap lawan jenis," sambung Galvin, melengkapi kalimat Khaira yang menurutnya belum tuntas.
Dia tidak mempermasalahkan Khaira bersikap seramah apa pun terhadap sesama perempuan. Dia hanya tidak suka Khaira bersikap terlalu ramah kepada lawan jenis saja.
"Akan aku usahakan," ucap Khaira, tidak bisa menjanjikan bahwa dia akan benar-benar bisa melakukan itu.
Masalahnya, dia menganggap semua orang sama. Dia ramah kepada semua orang, tanpa ada maksud apa pun.
Apalagi pekerjaannya di perpustakaan, yang tentu saja harus bersikap ramah kepada para pengunjung, supaya para pengunjung tidak canggung meminta bantuan kepadanya, jika memang mereka memerlukan bantuan tentang buku-buku yang ada di perpustakaan itu.
"Kenapa lo langsung setuju?"
"Sebentar lagi pekerjaan aku selesai. Maaf sudah buat kamu menunggu," ucap Khaira, masih merasa tidak enak hati, karena Galvin menunggunya dalam waktu yang cukup lama.
Walaupun bukan dia yang meminta Galvin untuk menunggunya, tetapi Galvin sendiri yang menginginkan itu.
"Kamu tunggu di sofa itu saja."
Khaira menunjuk ke arah sofa bulat yang selalu digunakan oleh pengunjung perpustakaan untuk membaca buku dengan santai.
Sofa itu memang sangat nyaman diduduki, walaupun dalam
tanya Galvin, menatap Khaira dengan tatapan heran.
Selama di dalam organisasi, dia tahu jelas jika Khaira tidak akan langsung menyetujui sesuatu, apalagi jika hal itu bertentangan dengannya.
Namun kali ini Khaira langsung menyetujuinya. Khaira tampak dengan mudah menuruti ucapannya. Itu membuatnya heran.
"Selama itu benar, tidak ada alasan untuk aku tidak setuju," jawab Khaira, dengan tenang.
Selama ini dia sering kali menentang setiap keputusan yang bertentangan dengannya, bukan karena dia merasa dirinya paling
benar, tetapi dia hanya ingin
meluruskan sesuai dengan
ketentuan yang memang sudah
menyebar luas di antara mereka,
yang tidak mereka sadari.
"Aku mungkin tidak menyadari
kesalahan aku yang terlalu ramah
terhadap orang lain hingga
membuat kesalahpahaman.
Sehingga Allah menegur aku
dengan perantara kamu," ucap
Khaira, benar-benar menerima itu.
"Terkadang kita bisa
mengetahui kekurangan diri kita
dari orang lain. Karena pada
umumnya, manusia sulit menyadari kekurangan ataupun kesalahan dirinya sendiri," sambungnya kembali, dengan tenang dan pelan.
Galvin langsung mengangguk pelan, seraya tersenyum samar.
"Ada lagi yang mau kamu bicarakan, sebelum aku melanjutkan pekerjaan?" tanya Khaira dengan sopan.
Dia tidak mungkin melanjutkan pekerjaannya selagi ada yang masih mengajaknya untuk berbicara.
Apalagi yang saat ini berbicara dengannya adalah Galvin, suaminya sendiri. Dia akan menghormati suaminya, walaupun
mereka berpikir bahwa pernikahan itu bukan benar-benar keinginan mereka.
"Gue udah selesai. Lanjutin lagi pekerjaan lo," ucap Galvin.
Khaira langsung mengangguk pelan, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya, setelah tidak ada lagi yang ingin Galvin bicarakan dengannya.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit, akhirnya Khaira berhasil menyelesaikan pekerjaanya hari ini dengan tepat waktu.
Hari sudah malam dan
memang setiap hari Perpustakaan
Galaksi tutup di malam hari.
Galvin ingin membantu Khaira
merapihkan barang-barang yang
ada di meja kerjanya, tetapi Galvin
ragu melakukannya.
"Terima kasih sudah
menunggu," ucap Khaira kepada
Galvin yang masih duduk dengan
tenang di kursi sebrang meja
kerjanya.
"Ga perlu bilang makasih,"
sahut Galvin, sekilas melirik ke
arah Khaira, kemudian kembali
mengalihkan pandangannya ke
arah ponsel yang dia pegang sejak
awal.
Dia memainkan ponselnya
bukan tanpa tujuan. Melainkan
karena dia harus memeriksa
laporkan organisasi, sekaligus
laporan bengkel yang dia kelola
bersama teman-temannya.
"Kamu udah selesai? Mau
pulang sekarang?" tanya Khaira
kepada Galvin yang masih fokus
pada ponselnya.
"Hm. Pulang sekarang," sahut
Galvin.
Dengan cepat dia mematikan
ponselnya kemudian memasukkan
ponsel itu ke dalam saku jaketnya.
Dari lantai dua, mereka
berjalan beriringan. Namun begitu
hendak menuruni anak tangga,
Khaira tiba-tiba menghentikan
langkahnya.
"Kenapa?" tanya Galvin, dengan
nada bicara datar, sama seperti
biasanya.
"Kamu jalan duluan aja. Aku
nyusul di belakang," ucap Khaira,
mempersilahkan Galvin untuk
berjalan lebih dulu.
Bukan tanpa alasan dia
mengatakan itu, tetapi karena di
lantai pertama masih banyak para
pekerja yang masih merapihkan
sisa-sisa pekerjaannya.
Khaira tidak ingin rekan
kerjanya melihat kebersamaannya
dengan Galvin. Apalagi hampir
seluruh pekerja lama yang ada di
sana tahu bahwa Galvin adalah
pemilik perpustakaan itu.
Khaira takut akan terjadi
keributan, jika para karyawan itu
melihat kebersamaan mereka.
'Setakut itu?' batin Galvin,
mengejek sikap Khaira yang terlalu
peduli dengan tanggapan orang
lain.
Padahal menurutnya,
tanggapan orang lain sama sekali
tidak penting. Hanya beberapa
orang-orang tertentu saja yang dia
pedulikan tanggapan, karena dia
memang cuek akan hal itu.
"Ayo, Gal. Kamu jalan duluan,"
ucap Khaira kembali, tanpa
mengatakan alasannya lagi.
Tanpa menanyakan alasannya,
Galvin langsung melangkah lebih
dulu di depan Khaira.
Dia tidak menanyakan
alasannya, karena dia juga sudah
paham begitu melihat masih
banyak orang yang ada di lantai
pertama.
"Kamu mau pulang sekarang,
Khaira?" tanya Ibu Kepala
Perpustakaan dengan ramah, yang
tanpa sengaja berpapasan dengan
Khaira di lantai pertama.
"Iya, Bu. Pekerjaan saya sudah
selesai," jawab Khaira, dengan
sikapnya yang tidak kalah ramah.
Galvin yang sudah lebih dulu
berjalan di depan Khaira, tiba-tiba
menghentikan langkahnya, begitu
dia merasakan jika tidak ada lagi
yang berjalan mengikutinya di
belakang.
Dia langsung menoleh ke
belakang, dan benar saja, Khaira
tidak ada di sana.
'Harusnya lo yang jalan di
depan,' batin Galvin, sambil
menggelengkan kepalanya dengan
pelan.
Dia memutuskan untuk
menghampiri Khaira yang terlihat
sedang berbicara dengan Kepala
Perpustakaan.
"Tuan Muda?" sahut Kepala
Perpustakaan, begitu melihat
Galvin yang tiba-tiba hadir di
tengah-tengah obrolannya dengan
Khaira.
"Ada perlu apa tuan muda
sampai harus ke sini? Anda bisa
menghubungi saya, tanpa harus
datang langsung ke perpustakaan,"
ucapnya.
"Apa ada masalah dengan
laporan perpustakaan?" tanyanya,
dengan perasaan khawatir.
Ditakutkan memang ada suatu
masalah yang membuat Galvin
datang ke perpustakaan malam-
malam seperti itu.
"Tidak. Saya ke sini ingin
menjemput Khaira," jawab Galvin,
tenang.
Kedua telapak tangannya dia
masukkan ke dalam saku celana,
hingga menambah kesan
wibawanya.
"Menjemput Khaira?" tanya
Kepala Perpustakaan, yang tampak
terkejut mendengar alasan Galvin
datang ke sana.
"Ibu saya memintanya untuk
datang ke rumah, karena ada yang
harus beliau bicarakannya dengan
Khaira," jelas Galvin, mencari
alasan lain.
Tidak mungkin dia
mengatakan jika Khaira sudah
tinggal bersama di rumah mereka,
karena saat ini Khaira adalah
istrinya.
Kepala Perpustakaan
mengangguk paham.
Sudah menjadi rahasia umum
jika ibunda Galvin memperlakukan
Khaira sebagai putrinya sendiri.
Kedekatan antara Khaira dan
ibunda Galvin sudah diketahui para
karyawan yang ada di sana.
Namun yang mengherankan
saat ini adalah kebersamaan Galvin
dan juga Khaira.
Baru pertama kali mereka
melihat Galvin sendiri yang
menjemput Khaira.
Padahal sebelumnya, tidak ada
interaksi sama sekali antara
keduanya.
"Kenapa kalian malah
berkumpul di sini. Jam kerja sudah
selesai. Lebih baik kalian segera
pulang sebelum terlalu malam,"
ucap Kepala perpustakaan kepada
beberapa karyawan yang masih
ada di sana.
Para karyawan itu sengaja mendekat dan bersembunyi di
antara rak-rak buku, karena
mereka penasaran dengan
pembicaraan Kepala Perpustakaan
bersama Galvin dan Khaira.
"Maaf, Bu Kepala. Sepertinya
kami harus pulang lebih dulu
sebelum terlalu larut," ucap Khaira,
meminta izin untuk pulang lebih
dulu.
Dia tidak nyaman menjadi
pusat perhatian rekan-rekan
kerjanya yang masih ada di sana,
sehingga dia memutuskan untuk
segera pergi.
"Iya, silahkan. Mohon maaf
atas ketidaknyamanan ini," ucap
Kepala Perpustakaan kepada Galvin
dan juga Khaira.
Mengingat sikap Khaira yang
selalu tidak suka dilihat banyak
orang, kecuali dalam situasi
tertentu, membuat Kepala
Perpustakaan mengerti bahwa saat
ini Khaira sedang merasa tidak
nyaman.
"Maaf, Khaira. Karena
pertanyaan saya, kamu menjadi
pusat perhatian," ucap Kepala
Perpustakaan kembali kepada
Khaira.
Khaira langsung
menggelengkan kepalanya dengan
pelan. "Tidak papa, Bu. Kalau
begitu, kami permisi," ucapnya, dan
langsung mendapatkan anggukkan
setuju dari kepala perpustakaan.
"Assalamu'alaikum," ucap
Khaira dan Galvin secara
bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu
Kepala, serta beberapa karyawan
yang masih ada di sana, mereka
menjawab serentak.
Galvin dan Khaira langsung
melangkah keluar dari
perpustakaan.
Mereka berjalan bersamaan
menuju parkiran perpustakaan.
Tanpa ada pembicaraan,
mereka memasuki mobil itu,
kemudian melanjutkan mobil itu
keluar meninggalkan wilayah
perpustakaan.
Selama di perjalanan hingga
mereka tiba di halaman rumah,
tidak ada pembicaraan apa pun di
antara mereka. Selama di
perjalanan, mereka sama-sama
diam.
Awalnya, Khaira ingin
mengajak Galvin berbicara tentang
acara sekolah yang akan mereka
selenggarakan dalam waktu dekat.
Namun, Khaira kembali
mengingat jika Galvin pernah
mengatakan bahwa dia tidak suka
membicarakan organisasi di luar
jam sekolah. Selagi pembicaraan itu
tidak benar-benar urgent.
"Bunda dan ayah udah tidur,
ya?" tanya Khaira, sambil melirik ke
arah Galvin yang berjalan di
sampingnya.
"Hm. Ini udah malam," jawab
Galvin, melangkah ke arah ruang
keluarga.
"Kamu mau ke mana?" tanya
Khaira, bingung.
Dia sama sekali tidak tahu
kenapa Galvin memilih menuju
ruang keluarga daripada ke kamar
mereka untuk beristirahat.
Galvin tidak menjawab, dan
Khaira memutuskan untuk
mengikuti Galvin, karena
ditakutkan Galvin membutuhkan
sesuatu.
"Tunggu gue di sini," ucap
Galvin kepada Khaira, begitu
mereka berdua sudah tiba di ruang
keluarga.
Dia meminta Khaira duduk di
sofa ruang keluarga itu,
menggunakan gerakan sorot
matanya.
"Kenapa harus tunggu di sini?
Memangnya kamu mau ke mana?"
tanya Khaira.
Dia tidak hentinya dibuat
bingung oleh tingkah Galvin yang
tiba-tiba bersikap aneh seperti itu.
"Tunggu aja," jawab Galvin,
datar.
Kemudian dia berlalu dari
hadapan Khaira.
'Sebenarnya dia mau apa?'
batin Khaira.
Dia semakin dibuat bingung
oleh Galvin yang tiba-tiba
melangkah menuju ke arah dapur.
Sementara dirinya diminta untuk
menunggu di sana.
Tidak lama menunggu, Galvin
kembali muncul dari arah dapur
dengan membawa nampan di
tangannya. Nampan itu berisi
makanan dan minuman.
"Ini makanan kesukaan lo,"
ucap Galvin, yang tiba-tiba
menyodorkan nampan berisi
makanan itu kepada Khaira.
Dia meletakkan nampan itu
tepat di atas meja, di depan Khaira.
Khaira masih menatapnya
dengan heran. "Bukannya tadi kita
udah makan, kan?" tanyanya.
Jalanan malam tadi memang
cukup padat dan ramai, sehingga
Galvin memutuskan untuk
mengajak Khaira makan malam di
perjalanan.
Mereka memang sama-sama
menyantap makan malam di sebuah
restoran. Namun, keduanya tidak
menikmati makan malam itu.
"Lo belum kenyang, kan?" tanya
Galvin, menebak.
Dia bisa melihat, jika Khaira
tidak nyaman makan di luar seperti
itu, karena Khaira menggunakan
cadar.
"Aku...," ucap Khaira terhenti.
Baru saja dia ingin menjawab
bahwa dirinya sudah kenyang,
tetapi perutnya lebih dulu berbunyi
dan menunjukkan bahwa dia masih
lapar.
Galvin langsung tersenyum
samar, melihat Khaira yang
menunduk malu karena suara dari
dalam perutnya yang berbunyi
tanpa persetujuan dari pemiliknya.
"Makan sekarang. Sebelum
bunyi di perut lo makin keras," ucap
Galvin, duduk di sofa yang berbeda
dengan sofa yang sedang Khaira
duduki.
Khaira mengulum bibirnya di
balik cadar. Dia sungguh malu,
benar-benar malu.
"Makan, Khaira."
Galvin kembali bersuara,
karena Khaira masih
menundukkan kepala.
Dengan berat hati dan perasaan
malu di hati, Khaira
memberanikan diri untuk
mengangkat kembali
pandangannya, menatap Galvin
yang ternyata sedang menatapnya
dengan ekspresi santai.
"Liat makanannya, bukan liat
gue," cibir Galvin.
Hingga membuat Khaira
langsung mengerjapkan kedua
kelopak matanya dengan cepat.
"Kamu ga makan?" tanya
Khaira, mencoba mengalihkan
topik pembicaraan.
"Gue udah kenyang," jawab
Galvin, berbohong.
Padahal dia juga belum merasa
kenyang, karena selama di restoran
tadi selera makannya berkurang,
begitu melihat Khaira yang tidak
juga menikmati makanan di
restoran itu.
"Gal," sahut Khaira, saat Galvin
tiba-tiba bangkit dari sofa itu.
"Kenapa?" tanya Galvin, sambil
menyambar jaketnya, yang semula
dia lepas.
"Kamu mau ke mana?" tanya
Khaira, begitu menyadari jika
Galvin seperti sedang bersiap untuk
pergi.
"Bengkel," jawab Galvin,
dengan singkat.
Khaira sedikit menaikkan
kedua alisnya. "Sekarang?"
tanyanya.
Galvin mengangguk samar.
"Hm. Kenapa?"
Khaira langsung diam, seraya
bergumam pelan.
"Eumm...," gumamnya, dengan
kepalanya yang kembali
menunduk.
Entah kenapa dia tidak berani
mengatakan apa yang ingin dia
katakan kepada Galvin. Dia merasa
ragu untuk mengatakannya, karena
dia merasa bahwa dirinya bukan
siapa-siapa.
"Bilang aja, Khaira." Galvin
mulai kesal, karena Khaira tidak
kunjung berbicara.
"Kamu bisa temenin aku makan
dulu? Sebentar aja," ucap Khaira,
perlahan kembali menatap ke arah
Galvin yang masih berdiri di
tempatnya.
Galvin langsung menaikkan
salah satu alisnya. "Kenapa?
Takut?" tanyanya.
"Bukan takut. T-tapi...," ucap
Khaira, tidak bisa melanjutkan
ucapannya.
Dia sama sekali tidak merasa
takut. Apalagi saat ini dia berada di
dalam rumah yang di dalamnya
terdapat banyak orang. Baik itu
ayah dan ibu mertuanya, maupun
para pekerja yang tinggal di rumah
itu. Jadi untuk apa dia takut?
Dia hanya ingin Galvin
menemaninya makan, tanpa dia
tahu alasannya. Dia tidak memiliki
alasan yang jelas untuk itu.
"Tapi lebih baik kamu pergi
sekarang, sebelum kemalaman,"
ucap Khaira kembali, dia baru
menyadari hal itu.
"Gue di sini sampai lo selesai
makan," putus Galvin, memilih
untuk duduk kembali di sofa itu.
"Gimana kalau kamu
malaman pergi nya?" tanya
Khaira, khawatir.
"Makan ya makan sekarang dan
berhenti bicara," sahut Galvin.
Padahal sebenarnya, dia tidak
masalah berangkat semalam apa
pun, karena dia sudah terbiasa.
Jalanan malam sama sekali tidak
menakutkan baginya.
"Ini kamu yang nyiapin?" tanya
Khaira, di tengah-tengah acara
makannya.
Galvin menggeleng pelan.
"Bukan. Bibi yang siapin. Gue cuma
bawa aja," jawabnya, jujur.
"Pantesan kamu tau kalau ini
makanan kesukaan aku," ucap
Khaira sambil tertawa pelan.
Khaira sering berbicang
dengan para pelayan di rumah itu,
terutama di para pelayan di bagian
dapur.
Mereka sering kali
menanyakan makanan kesukaan
Khaira, sehingga mau tidak mau
Khaira harus memberitahunya.
Walaupun dia baru beberapa
hari tinggal di rumah itu, tetapi
keberadaannya langsung disenangi
oleh semua penghuni yang ada di
sana, karena sikap Khaira selalu
bersikap ramah, tanpa peduli siapa
orangnya.
"Jadi menurut lo, gue ga tau
makanan kesukaan lo?" tanya
Galvin, menuntut jawaban dari
kalimat yang sebelumnya Khaira
katakan.
Khaira langsung mengangguk.
"Kamu memang ga tau makanan
kesukaan aku, kan?" tanyanya,
dengan sangat yakin jika Galvin
tidak mungkin tahu.
"Kalau gue tau, gimana?" tanya
Galvin.
Khaira tertawa pelan. "Kayanya
mungkin."
Galvin tidak merespon lagi, dia
membiarkan Khaira untuk
menghabiskan makanannya.
Hingga setelah beberapa saat,
makanan itu habis tidak tersisa.
"Udah kenyang?" tanya Galvin.
"Alhamdulillah, kenyang."
Khaira merapihkan piring
bekas makan itu, kemudian dia
letakkan kembali piring dan gelas
itu di atas nampan.
"Makasih udah mau nemenin,"
ucapnya, sambil tersenyum di balik
cadar.
Galvin mengangguk tenang.
"Gue pergi sekarang," ucapnya,
kemudian langsung bangkit dari
tempat duduknya.
"Mau pulang?" tanya Khaira,
ikut bangkit dari sofa itu.
"Hm. Ga tau jam berapa," jawab
Galvin.
"Jangan tunggu gue pulang,
apalagi sampai lo ketiduran di sofa,"
sambungnya kembali.
Khaira mengangguk patuh.
"Gue berangkat," ucap Galvin.
Khaira langsung
menganggukkan kepalanya. "Hati-
hati," ucapnya, dengan tulus dan
penuh perhatian.
Khaira mengulurkan salah satu
telapak tangannya ke arah Galvin.
Galvin yang mengerti itu,
langsung membalas uluran tangan
Khaira. Hingga Khaira mencium
lembut punggung tangan sekaligus
telapak tangannya.
Bibir Khaira terasa jelas
menyentuh kulit tangannya,
walaupun Khaira menciumnya
terhalang oleh cadar.
"Assalamu'alaikum," ucap
Galvin, kepada Khaira sudah
berdiri kembali, tepat di
hadapannya.
Tatapan mata Khaira yang
dalam dan tenang, membuatnya
ingin memandangi manik-manik
indah itu dalam jarak yang lebih
dekat.