NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

✦✦ ✦ ✦

"Teman-teman kamu sudah pulang?" tanya Khaira, begitu melihat Galvin kembali menghampirinya di sana.

Galvin menjawab dengan anggukkan.

Setelah teman-teman keluar dari Perpustakaan Galaksi, Galvin langsung memutuskan untuk kembali menghampiri Khaira yang masih bekerja di lantai dua perpustakaan.

waktu yang cukup lama.

Sekilas Galvin melirik ke arah sofa yang Khaira tunjukkan. Namun, dengan cepat, dia mengalihkan kembali pandangannya dari sofa itu.

Mau senyaman apa pun sofa itu seperti apa yang Khaira katakan, dia sama sekali tidak akan tertarik untuk duduk di sana.

Hal itu dikarenakan jarak sofa itu cukup jauh dengan meja kerja Khaira.

"Gue mau duduk di sini," ucapnya.

Dia malah menarik kursi yang ada di sekitarnya, kemudian dia mengarahkan kursi itu supaya berhadapan langsung dengan meja kerja Khaira.

Entah mengapa dia ingin duduk berada dekat dengan Khaira. Walaupun tetap saja jarak antara tempat duduk mereka terhalang oleh sebuah meja kerja.

"Kenapa ga duduk di sana saja? Nunggu di sana pasti lebih nyaman." Khaira kembali menyarankan.

Menurutnya, duduk di sofa jauh lebih nyaman dari pada di kursi.

Jika dirinya harus memilih, dia akan memilih untuk duduk di sofa itu dari pada di kursi, yang walaupun sama-sama nyaman untuk diduduki.

"Terserah gue. Gue mau di sini," ucap Galvin, tampak tidak peduli.

Dia langsung menduduki kursi itu dengan santai, kemudian melipatkan kedua tangannya di depan dada.

Hal itu membuat Khaira langsung menggelengkan kepalanya pelan, seraya tersenyum tipis di balik cadar.

"Yaudah, gimana kamu," sahut Khaira.

Kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya yang hampir selesai.

"Kenapa lihat aku terus?" tanya Khaira, sambil mengalihkan pandangannya yang semula menatap layar komputer, kini beralih menatap Galvin.

Dia menyadari jika Galvin terus menatapnya, dan itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.

Jika terus diperhatikan seperti itu, dia menjadi tidak fokus terhadap pekerjaannya.

"Gue serius dengan pesan yang gue kirim tadi," ucap Galvin tiba-tiba.

Hal itu menjadi alasan kenapa Galvin terus menatap Khaira.

"Aku tau kamu serius," sahut Khaira.

Dia sama sekali tidak menganggap jika pesan yang Galvin kirimkan adalah sebuah candaan.

Selama hampir tiga tahun dia mengenal Galvin sebagai teman kelasnya, sekaligus partner organisasi, sudah pasti dia tahu bahwa Galvin tidak pernah becanda akan sesuatu.

"Gue ga yakin lo bisa ngelakuin itu," ucap Galvin, menatap Khaira dengan yakin.

Khaira tersenyum samar di balik cadar. "Supaya aku tidak terlalu bersikap ramah kepada orang lain?" tanya Khaira, menegaskan apa yang Galvin maksudkan.

Galvin menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya, terhadap lawan jenis," sambung Galvin, melengkapi kalimat Khaira yang menurutnya belum tuntas.

Dia tidak mempermasalahkan Khaira bersikap seramah apa pun terhadap sesama perempuan. Dia hanya tidak suka Khaira bersikap terlalu ramah kepada lawan jenis saja.

"Akan aku usahakan," ucap Khaira, tidak bisa menjanjikan bahwa dia akan benar-benar bisa melakukan itu.

Masalahnya, dia menganggap semua orang sama. Dia ramah kepada semua orang, tanpa ada maksud apa pun.

Apalagi pekerjaannya di perpustakaan, yang tentu saja harus bersikap ramah kepada para pengunjung, supaya para pengunjung tidak canggung meminta bantuan kepadanya, jika memang mereka memerlukan bantuan tentang buku-buku yang ada di perpustakaan itu.

"Kenapa lo langsung setuju?"

"Sebentar lagi pekerjaan aku selesai. Maaf sudah buat kamu menunggu," ucap Khaira, masih merasa tidak enak hati, karena Galvin menunggunya dalam waktu yang cukup lama.

Walaupun bukan dia yang meminta Galvin untuk menunggunya, tetapi Galvin sendiri yang menginginkan itu.

"Kamu tunggu di sofa itu saja."

Khaira menunjuk ke arah sofa bulat yang selalu digunakan oleh pengunjung perpustakaan untuk membaca buku dengan santai.

Sofa itu memang sangat nyaman diduduki, walaupun dalam

tanya Galvin, menatap Khaira dengan tatapan heran.

Selama di dalam organisasi, dia tahu jelas jika Khaira tidak akan langsung menyetujui sesuatu, apalagi jika hal itu bertentangan dengannya.

Namun kali ini Khaira langsung menyetujuinya. Khaira tampak dengan mudah menuruti ucapannya. Itu membuatnya heran.

"Selama itu benar, tidak ada alasan untuk aku tidak setuju," jawab Khaira, dengan tenang.

Selama ini dia sering kali menentang setiap keputusan yang bertentangan dengannya, bukan karena dia merasa dirinya paling

benar, tetapi dia hanya ingin

meluruskan sesuai dengan

ketentuan yang memang sudah

menyebar luas di antara mereka,

yang tidak mereka sadari.

"Aku mungkin tidak menyadari

kesalahan aku yang terlalu ramah

terhadap orang lain hingga

membuat kesalahpahaman.

Sehingga Allah menegur aku

dengan perantara kamu," ucap

Khaira, benar-benar menerima itu.

"Terkadang kita bisa

mengetahui kekurangan diri kita

dari orang lain. Karena pada

umumnya, manusia sulit menyadari kekurangan ataupun kesalahan dirinya sendiri," sambungnya kembali, dengan tenang dan pelan.

Galvin langsung mengangguk pelan, seraya tersenyum samar.

"Ada lagi yang mau kamu bicarakan, sebelum aku melanjutkan pekerjaan?" tanya Khaira dengan sopan.

Dia tidak mungkin melanjutkan pekerjaannya selagi ada yang masih mengajaknya untuk berbicara.

Apalagi yang saat ini berbicara dengannya adalah Galvin, suaminya sendiri. Dia akan menghormati suaminya, walaupun

mereka berpikir bahwa pernikahan itu bukan benar-benar keinginan mereka.

"Gue udah selesai. Lanjutin lagi pekerjaan lo," ucap Galvin.

Khaira langsung mengangguk pelan, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya, setelah tidak ada lagi yang ingin Galvin bicarakan dengannya.

 

Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit, akhirnya Khaira berhasil menyelesaikan pekerjaanya hari ini dengan tepat waktu.

Hari sudah malam dan

memang setiap hari Perpustakaan

Galaksi tutup di malam hari.

Galvin ingin membantu Khaira

merapihkan barang-barang yang

ada di meja kerjanya, tetapi Galvin

ragu melakukannya.

"Terima kasih sudah

menunggu," ucap Khaira kepada

Galvin yang masih duduk dengan

tenang di kursi sebrang meja

kerjanya.

"Ga perlu bilang makasih,"

sahut Galvin, sekilas melirik ke

arah Khaira, kemudian kembali

mengalihkan pandangannya ke

arah ponsel yang dia pegang sejak

awal.

Dia memainkan ponselnya

bukan tanpa tujuan. Melainkan

karena dia harus memeriksa

laporkan organisasi, sekaligus

laporan bengkel yang dia kelola

bersama teman-temannya.

"Kamu udah selesai? Mau

pulang sekarang?" tanya Khaira

kepada Galvin yang masih fokus

pada ponselnya.

"Hm. Pulang sekarang," sahut

Galvin.

Dengan cepat dia mematikan

ponselnya kemudian memasukkan

ponsel itu ke dalam saku jaketnya.

Dari lantai dua, mereka

berjalan beriringan. Namun begitu

hendak menuruni anak tangga,

Khaira tiba-tiba menghentikan

langkahnya.

"Kenapa?" tanya Galvin, dengan

nada bicara datar, sama seperti

biasanya.

"Kamu jalan duluan aja. Aku

nyusul di belakang," ucap Khaira,

mempersilahkan Galvin untuk

berjalan lebih dulu.

Bukan tanpa alasan dia

mengatakan itu, tetapi karena di

lantai pertama masih banyak para

pekerja yang masih merapihkan

sisa-sisa pekerjaannya.

Khaira tidak ingin rekan

kerjanya melihat kebersamaannya

dengan Galvin. Apalagi hampir

seluruh pekerja lama yang ada di

sana tahu bahwa Galvin adalah

pemilik perpustakaan itu.

Khaira takut akan terjadi

keributan, jika para karyawan itu

melihat kebersamaan mereka.

'Setakut itu?' batin Galvin,

mengejek sikap Khaira yang terlalu

peduli dengan tanggapan orang

lain.

Padahal menurutnya,

tanggapan orang lain sama sekali

tidak penting. Hanya beberapa

orang-orang tertentu saja yang dia

pedulikan tanggapan, karena dia

memang cuek akan hal itu.

"Ayo, Gal. Kamu jalan duluan,"

ucap Khaira kembali, tanpa

mengatakan alasannya lagi.

Tanpa menanyakan alasannya,

Galvin langsung melangkah lebih

dulu di depan Khaira.

Dia tidak menanyakan

alasannya, karena dia juga sudah

paham begitu melihat masih

banyak orang yang ada di lantai

pertama.

"Kamu mau pulang sekarang,

Khaira?" tanya Ibu Kepala

Perpustakaan dengan ramah, yang

tanpa sengaja berpapasan dengan

Khaira di lantai pertama.

"Iya, Bu. Pekerjaan saya sudah

selesai," jawab Khaira, dengan

sikapnya yang tidak kalah ramah.

Galvin yang sudah lebih dulu

berjalan di depan Khaira, tiba-tiba

menghentikan langkahnya, begitu

dia merasakan jika tidak ada lagi

yang berjalan mengikutinya di

belakang.

Dia langsung menoleh ke

belakang, dan benar saja, Khaira

tidak ada di sana.

'Harusnya lo yang jalan di

depan,' batin Galvin, sambil

menggelengkan kepalanya dengan

pelan.

Dia memutuskan untuk

menghampiri Khaira yang terlihat

sedang berbicara dengan Kepala

Perpustakaan.

"Tuan Muda?" sahut Kepala

Perpustakaan, begitu melihat

Galvin yang tiba-tiba hadir di

tengah-tengah obrolannya dengan

Khaira.

"Ada perlu apa tuan muda

sampai harus ke sini? Anda bisa

menghubungi saya, tanpa harus

datang langsung ke perpustakaan,"

ucapnya.

"Apa ada masalah dengan

laporan perpustakaan?" tanyanya,

dengan perasaan khawatir.

Ditakutkan memang ada suatu

masalah yang membuat Galvin

datang ke perpustakaan malam-

malam seperti itu.

"Tidak. Saya ke sini ingin

menjemput Khaira," jawab Galvin,

tenang.

Kedua telapak tangannya dia

masukkan ke dalam saku celana,

hingga menambah kesan

wibawanya.

"Menjemput Khaira?" tanya

Kepala Perpustakaan, yang tampak

terkejut mendengar alasan Galvin

datang ke sana.

"Ibu saya memintanya untuk

datang ke rumah, karena ada yang

harus beliau bicarakannya dengan

Khaira," jelas Galvin, mencari

alasan lain.

Tidak mungkin dia

mengatakan jika Khaira sudah

tinggal bersama di rumah mereka,

karena saat ini Khaira adalah

istrinya.

Kepala Perpustakaan

mengangguk paham.

Sudah menjadi rahasia umum

jika ibunda Galvin memperlakukan

Khaira sebagai putrinya sendiri.

Kedekatan antara Khaira dan

ibunda Galvin sudah diketahui para

karyawan yang ada di sana.

Namun yang mengherankan

saat ini adalah kebersamaan Galvin

dan juga Khaira.

Baru pertama kali mereka

melihat Galvin sendiri yang

menjemput Khaira.

Padahal sebelumnya, tidak ada

interaksi sama sekali antara

keduanya.

"Kenapa kalian malah

berkumpul di sini. Jam kerja sudah

selesai. Lebih baik kalian segera

pulang sebelum terlalu malam,"

ucap Kepala perpustakaan kepada

beberapa karyawan yang masih

ada di sana.

Para karyawan itu sengaja mendekat dan bersembunyi di

antara rak-rak buku, karena

mereka penasaran dengan

pembicaraan Kepala Perpustakaan

bersama Galvin dan Khaira.

"Maaf, Bu Kepala. Sepertinya

kami harus pulang lebih dulu

sebelum terlalu larut," ucap Khaira,

meminta izin untuk pulang lebih

dulu.

Dia tidak nyaman menjadi

pusat perhatian rekan-rekan

kerjanya yang masih ada di sana,

sehingga dia memutuskan untuk

segera pergi.

"Iya, silahkan. Mohon maaf

atas ketidaknyamanan ini," ucap

Kepala Perpustakaan kepada Galvin

dan juga Khaira.

Mengingat sikap Khaira yang

selalu tidak suka dilihat banyak

orang, kecuali dalam situasi

tertentu, membuat Kepala

Perpustakaan mengerti bahwa saat

ini Khaira sedang merasa tidak

nyaman.

"Maaf, Khaira. Karena

pertanyaan saya, kamu menjadi

pusat perhatian," ucap Kepala

Perpustakaan kembali kepada

Khaira.

Khaira langsung

menggelengkan kepalanya dengan

pelan. "Tidak papa, Bu. Kalau

begitu, kami permisi," ucapnya, dan

langsung mendapatkan anggukkan

setuju dari kepala perpustakaan.

"Assalamu'alaikum," ucap

Khaira dan Galvin secara

bersamaan.

"Wa'alaikumsalam," jawab Ibu

Kepala, serta beberapa karyawan

yang masih ada di sana, mereka

menjawab serentak.

Galvin dan Khaira langsung

melangkah keluar dari

perpustakaan.

Mereka berjalan bersamaan

menuju parkiran perpustakaan.

Tanpa ada pembicaraan,

mereka memasuki mobil itu,

kemudian melanjutkan mobil itu

keluar meninggalkan wilayah

perpustakaan.

 

Selama di perjalanan hingga

mereka tiba di halaman rumah,

tidak ada pembicaraan apa pun di

antara mereka. Selama di

perjalanan, mereka sama-sama

diam.

Awalnya, Khaira ingin

mengajak Galvin berbicara tentang

acara sekolah yang akan mereka

selenggarakan dalam waktu dekat.

Namun, Khaira kembali

mengingat jika Galvin pernah

mengatakan bahwa dia tidak suka

membicarakan organisasi di luar

jam sekolah. Selagi pembicaraan itu

tidak benar-benar urgent.

"Bunda dan ayah udah tidur,

ya?" tanya Khaira, sambil melirik ke

arah Galvin yang berjalan di

sampingnya.

"Hm. Ini udah malam," jawab

Galvin, melangkah ke arah ruang

keluarga.

"Kamu mau ke mana?" tanya

Khaira, bingung.

Dia sama sekali tidak tahu

kenapa Galvin memilih menuju

ruang keluarga daripada ke kamar

mereka untuk beristirahat.

Galvin tidak menjawab, dan

Khaira memutuskan untuk

mengikuti Galvin, karena

ditakutkan Galvin membutuhkan

sesuatu.

"Tunggu gue di sini," ucap

Galvin kepada Khaira, begitu

mereka berdua sudah tiba di ruang

keluarga.

Dia meminta Khaira duduk di

sofa ruang keluarga itu,

menggunakan gerakan sorot

matanya.

"Kenapa harus tunggu di sini?

Memangnya kamu mau ke mana?"

tanya Khaira.

Dia tidak hentinya dibuat

bingung oleh tingkah Galvin yang

tiba-tiba bersikap aneh seperti itu.

"Tunggu aja," jawab Galvin,

datar.

Kemudian dia berlalu dari

hadapan Khaira.

'Sebenarnya dia mau apa?'

batin Khaira.

Dia semakin dibuat bingung

oleh Galvin yang tiba-tiba

melangkah menuju ke arah dapur.

Sementara dirinya diminta untuk

menunggu di sana.

Tidak lama menunggu, Galvin

kembali muncul dari arah dapur

dengan membawa nampan di

tangannya. Nampan itu berisi

makanan dan minuman.

"Ini makanan kesukaan lo,"

ucap Galvin, yang tiba-tiba

menyodorkan nampan berisi

makanan itu kepada Khaira.

Dia meletakkan nampan itu

tepat di atas meja, di depan Khaira.

Khaira masih menatapnya

dengan heran. "Bukannya tadi kita

udah makan, kan?" tanyanya.

Jalanan malam tadi memang

cukup padat dan ramai, sehingga

Galvin memutuskan untuk

mengajak Khaira makan malam di

perjalanan.

Mereka memang sama-sama

menyantap makan malam di sebuah

restoran. Namun, keduanya tidak

menikmati makan malam itu.

"Lo belum kenyang, kan?" tanya

Galvin, menebak.

Dia bisa melihat, jika Khaira

tidak nyaman makan di luar seperti

itu, karena Khaira menggunakan

cadar.

"Aku...," ucap Khaira terhenti.

Baru saja dia ingin menjawab

bahwa dirinya sudah kenyang,

tetapi perutnya lebih dulu berbunyi

dan menunjukkan bahwa dia masih

lapar.

Galvin langsung tersenyum

samar, melihat Khaira yang

menunduk malu karena suara dari

dalam perutnya yang berbunyi

tanpa persetujuan dari pemiliknya.

"Makan sekarang. Sebelum

bunyi di perut lo makin keras," ucap

Galvin, duduk di sofa yang berbeda

dengan sofa yang sedang Khaira

duduki.

Khaira mengulum bibirnya di

balik cadar. Dia sungguh malu,

benar-benar malu.

"Makan, Khaira."

Galvin kembali bersuara,

karena Khaira masih

menundukkan kepala.

Dengan berat hati dan perasaan

malu di hati, Khaira

memberanikan diri untuk

mengangkat kembali

pandangannya, menatap Galvin

yang ternyata sedang menatapnya

dengan ekspresi santai.

"Liat makanannya, bukan liat

gue," cibir Galvin.

Hingga membuat Khaira

langsung mengerjapkan kedua

kelopak matanya dengan cepat.

"Kamu ga makan?" tanya

Khaira, mencoba mengalihkan

topik pembicaraan.

"Gue udah kenyang," jawab

Galvin, berbohong.

Padahal dia juga belum merasa

kenyang, karena selama di restoran

tadi selera makannya berkurang,

begitu melihat Khaira yang tidak

juga menikmati makanan di

restoran itu.

"Gal," sahut Khaira, saat Galvin

tiba-tiba bangkit dari sofa itu.

"Kenapa?" tanya Galvin, sambil

menyambar jaketnya, yang semula

dia lepas.

"Kamu mau ke mana?" tanya

Khaira, begitu menyadari jika

Galvin seperti sedang bersiap untuk

pergi.

"Bengkel," jawab Galvin,

dengan singkat.

Khaira sedikit menaikkan

kedua alisnya. "Sekarang?"

tanyanya.

Galvin mengangguk samar.

"Hm. Kenapa?"

Khaira langsung diam, seraya

bergumam pelan.

"Eumm...," gumamnya, dengan

kepalanya yang kembali

menunduk.

Entah kenapa dia tidak berani

mengatakan apa yang ingin dia

katakan kepada Galvin. Dia merasa

ragu untuk mengatakannya, karena

dia merasa bahwa dirinya bukan

siapa-siapa.

"Bilang aja, Khaira." Galvin

mulai kesal, karena Khaira tidak

kunjung berbicara.

"Kamu bisa temenin aku makan

dulu? Sebentar aja," ucap Khaira,

perlahan kembali menatap ke arah

Galvin yang masih berdiri di

tempatnya.

Galvin langsung menaikkan

salah satu alisnya. "Kenapa?

Takut?" tanyanya.

"Bukan takut. T-tapi...," ucap

Khaira, tidak bisa melanjutkan

ucapannya.

Dia sama sekali tidak merasa

takut. Apalagi saat ini dia berada di

dalam rumah yang di dalamnya

terdapat banyak orang. Baik itu

ayah dan ibu mertuanya, maupun

para pekerja yang tinggal di rumah

itu. Jadi untuk apa dia takut?

Dia hanya ingin Galvin

menemaninya makan, tanpa dia

tahu alasannya. Dia tidak memiliki

alasan yang jelas untuk itu.

"Tapi lebih baik kamu pergi

sekarang, sebelum kemalaman,"

ucap Khaira kembali, dia baru

menyadari hal itu.

"Gue di sini sampai lo selesai

makan," putus Galvin, memilih

untuk duduk kembali di sofa itu.

"Gimana kalau kamu

malaman pergi nya?" tanya

Khaira, khawatir.

"Makan ya makan sekarang dan

berhenti bicara," sahut Galvin.

Padahal sebenarnya, dia tidak

masalah berangkat semalam apa

pun, karena dia sudah terbiasa.

Jalanan malam sama sekali tidak

menakutkan baginya.

"Ini kamu yang nyiapin?" tanya

Khaira, di tengah-tengah acara

makannya.

Galvin menggeleng pelan.

"Bukan. Bibi yang siapin. Gue cuma

bawa aja," jawabnya, jujur.

"Pantesan kamu tau kalau ini

makanan kesukaan aku," ucap

Khaira sambil tertawa pelan.

Khaira sering berbicang

dengan para pelayan di rumah itu,

terutama di para pelayan di bagian

dapur.

Mereka sering kali

menanyakan makanan kesukaan

Khaira, sehingga mau tidak mau

Khaira harus memberitahunya.

Walaupun dia baru beberapa

hari tinggal di rumah itu, tetapi

keberadaannya langsung disenangi

oleh semua penghuni yang ada di

sana, karena sikap Khaira selalu

bersikap ramah, tanpa peduli siapa

orangnya.

"Jadi menurut lo, gue ga tau

makanan kesukaan lo?" tanya

Galvin, menuntut jawaban dari

kalimat yang sebelumnya Khaira

katakan.

Khaira langsung mengangguk.

"Kamu memang ga tau makanan

kesukaan aku, kan?" tanyanya,

dengan sangat yakin jika Galvin

tidak mungkin tahu.

"Kalau gue tau, gimana?" tanya

Galvin.

Khaira tertawa pelan. "Kayanya

mungkin."

Galvin tidak merespon lagi, dia

membiarkan Khaira untuk

menghabiskan makanannya.

Hingga setelah beberapa saat,

makanan itu habis tidak tersisa.

"Udah kenyang?" tanya Galvin.

"Alhamdulillah, kenyang."

Khaira merapihkan piring

bekas makan itu, kemudian dia

letakkan kembali piring dan gelas

itu di atas nampan.

"Makasih udah mau nemenin,"

ucapnya, sambil tersenyum di balik

cadar.

Galvin mengangguk tenang.

"Gue pergi sekarang," ucapnya,

kemudian langsung bangkit dari

tempat duduknya.

"Mau pulang?" tanya Khaira,

ikut bangkit dari sofa itu.

"Hm. Ga tau jam berapa," jawab

Galvin.

"Jangan tunggu gue pulang,

apalagi sampai lo ketiduran di sofa,"

sambungnya kembali.

Khaira mengangguk patuh.

"Gue berangkat," ucap Galvin.

Khaira langsung

menganggukkan kepalanya. "Hati-

hati," ucapnya, dengan tulus dan

penuh perhatian.

Khaira mengulurkan salah satu

telapak tangannya ke arah Galvin.

Galvin yang mengerti itu,

langsung membalas uluran tangan

Khaira. Hingga Khaira mencium

lembut punggung tangan sekaligus

telapak tangannya.

Bibir Khaira terasa jelas

menyentuh kulit tangannya,

walaupun Khaira menciumnya

terhalang oleh cadar.

"Assalamu'alaikum," ucap

Galvin, kepada Khaira sudah

berdiri kembali, tepat di

hadapannya.

Tatapan mata Khaira yang

dalam dan tenang, membuatnya

ingin memandangi manik-manik

indah itu dalam jarak yang lebih

dekat.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!