"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....
yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ke-tiga puluh
KLIK.
Suara mekanisme kunci yang terbuka terdengar seperti simfoni kemenangan di telinganya. Pintu brankas terbuka pelan. Raisa merogoh ke dalam dan menarik sebuah map merah tebal bertuliskan "Aset Kalimantan". Wajahnya berbinar cerah.
"Dapat!" mata Raisa berkilat setan, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan yang bengis. "Ini tiketku untuk kembali menjadi ratu. Dengan dokumen ini, Tuan Suryo akan memberiku segalanya." gumamnya pelan.
Tidak puas hanya dengan map itu, ia melihat kotak beludru hitam di sudut brankas. Begitu dibuka, kilauan berlian dan zamrud dari kalung peninggalan nenek buyut Suhadi memantul di matanya. Perhiasan itu sangat mahal, warisan yang seharusnya jatuh ke tangan Najwa sebagai cucu kandung.
"Ini bukan mencuri," bisik Raisa pada kegelapan, tangannya dengan rakus meraup perhiasan itu ke dalam sakunya. "Ini adalah upah atas sembilan belas tahun pengabdianku pada keluarga yang ternyata membuangku seperti sampah!" ucapnya dengan nada tajam.
" aku harus mencari sesuatu lagi", ia melihat tumpukan uang, dan langsung memasukkan kedalam tas ranselnya, " ini lebih dari cukup, sore tadi aku memberikan uang cukup banyak pada wanita tua itu, dan ganti nya berlipat-lipat, benar kata-kata mutiara itu, semakin banyak uang yang kita berikan kepada fakir miskin, semakin banyak pula yang akan kita dapatkan, hahaha, dan benar saja, aku semakin kaya sekarang" ucapnya senang.
Namun, saat Raisa hendak berbalik menuju pintu, lampu kristal besar di tengah ruangan mendadak menyala terang benderang. Raisa tersentak hebat, refleks menutup matanya yang perih karena cahaya yang tiba-tiba.
"Mengambil upah, atau sedang menggali kuburanmu sendiri, Raisa?"
Suara dingin dan berat itu membuat jantung Raisa seolah berhenti berdetak. Ia menurunkan tangannya dan melihat Alendra berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai kayu dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Adriansyah berdiri tegak dengan wajah tanpa ekspresi, sementara Najwa menatapnya dari belakang dengan tatapan yang sangat sedih.
Raisa membeku, tangannya masih memegang map merah, bibirnya kelu...."K-kak Alen... ini tidak seperti yang Kakak lihat..."
Ucapnya gugup setengah mati,
Alendra melangkah maju, langkah sepatunya berdentum keras di lantai kayu "Tidak seperti yang aku lihat? Kau menyelinap lewat pintu belakang, membobol brankas Kakek, dan mencuri perhiasan almarhumah Nenek, serta tumpukan uang, Apa lagi yang belum aku lihat, Raisa? Oh, mungkin pertemuanmu dengan Suryo di kafe kemarin?" ucap Alendra dengan suara dingin,namun menusuk.
Raisa ternganga. "Kakak... Kakak membuntutiku?" tanya Raisa tidak percaya.
"Tugas ku sekarang adalah menjaga rumah ini dari hama, Raisa. Dan sayangnya, hama itu datang dari dalam." balas Najwa dengan lembut,namun memancarkan kesedihan di sana, ia tidak menyangka,Raisa akan berbuat jauh seperti itu.
Najwa melangkah maju, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran karakter kakaknya "Kak Raisa... kenapa? Kakek masih memberimu tempat tinggal. Kakek masih membiarkanmu kuliah. Kenapa Kakak memilih untuk menjadi pengkhianat?"
Raisa meledak, ia melemparkan map itu ke arah Najwa "Diam kau, anak suci! Kau tidak tahu rasanya menjadi aku! Dibesarkan dalam kemewahan lalu tiba-tiba dilempar ke selokan karena masalah darah! Aku tidak punya apa-apa lagi! Dan jika aku harus hancur, aku pastikan keluarga ini hancur bersamaku!"
Raisa tiba-tiba merogoh sesuatu dari balik jaketnya, sebuah korek api. Ia menyalakan apinya, menatap map merah yang berserakan di lantai.
"Satu gerakan saja dari kalian, dokumen aset terpenting Kakek ini akan jadi abu!" ancam Raisa menyeringai.
Alendra tetap tenang, tidak bergerak sedikit pun "Bakar saja, Raisa. Bakar kalau kau berani. Najwa sudah memindahkan semua data digitalnya ke server rahasia sore tadi. Map yang kau pegang itu... hanyalah salinan yang sudah kami siapkan untuk memancingmu." balas Alendra menatap tajam ke arah Raisa, sebenarnya hatinya sakit, melihat adik yang ia sayangi dan ia kira adik kandung ternyata berkhianat, bahkan memperlakukan orang tuanya begitu kejam.
Wajah Raisa berubah dari amarah menjadi horor murni. Ia membuka map itu dengan kasar dan menyadari bahwa kertas di dalamnya hanyalah lembaran kosong. Wajahnya berubah pucat pasi.
Najwa, Alendra, dan Adriansyah kini berdiri melingkari Raisa yang masih terduduk lemas setelah rencana pembakarannya gagal total.
Raisa meraung "Kalian semua licik! Kalian menjebakku!" tegas Raisa menatap ketiganya, matanya berubah merah karena saking marahnya.
Najwa berjongkok di depan Raisa, mengambil sepotong perhiasan nenek yang terjatuh. "Kami tidak menjebakmu, Kak Raisa. Kakak yang menjebak diri sendiri. Kakak pikir harta ini adalah segalanya? Kakak salah. Harta ini adalah kutukan bagi orang yang serakah seperti Kakak."
Najwa mencengkeram dagu Raisa, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Dengarkan baik-baik. Aku bisa saja membiarkanmu dipenjara malam ini atas pencurian dan percobaan sabotase. Tapi itu terlalu mudah. Aku ingin Kakak melihat... bagaimana aku membangun kembali apa yang Kakak coba hancurkan. Kakak akan melihat dari balik teruji besi, bagaimana Najwa 'Si Gadis Desa' ini memimpin dinasti yang sangat Kakak dambakan."
"KAU IBLIS, NAJWA! KAU IBLIS BERWAJAH MALAIKAT! Cuih...." Raisa meludah ke wajah Najwa ,dan membuat Alendra dan Adriansyah maju selangkah,tapi Najwa mengangkat tangan nya agar kakaknya tidak ikut campur, Najwa menghapus air liur Raisa dengan jilbabnya.
" sudah saatnya, ayo kak, kita ke sana" ajak Najwa , lalu Alendra dan Adriansyah menarik paksa Raisa.
" MAU KEMANA HAH?, JANGAN BAWA AKU " Raisa meronta,ia tidak mau di tarik paksa oleh kakaknya.
Plakkkk...
Adriansyah yang tidak tahan mendengar teriakan Raisa , ia pun menampar wajah Raisa, sampai Najwa dan Alendra menoleh , tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Adriansyah , orang yang paling menyayangi Raisa bisa menampar Nya tanpa merasa bersalah.
Raisa memegang pipinya yang terasa perih. ia tidak menyangka,kakak yang selalu memanjakan dirinya tega menyakiti dirinya, bukan hanya sakit di fisik nya, kini hatinya pun merasa nyeri,
" kau tega sekali kak... Dari dulu kau tidak pernah menyakiti ku, bahkan membentakku saja tidak pernah...,tapi sekarang kau menamparku...hiks hiks " Isak Raisa ...
" dengar ya, mulai sekarang , jangan pernah memanggil aku kakak, aku bukan kakakmu, adikku Hanya Najwa, tidak ada yang lain" tegas Ardiansyah yang membuat Alendra menggelengkan kepalanya,ia tidak menyangka, adiknya bisa sekasar itu...
Lalu Ardiansyah menarik tangan Raisa,ia menyeret paksa Raisa,dan melemparkannya ke dalam mobil, sedangkan Najwa dan Alendra mengikuti dari belakang, Alendra masih tidak tega ,ia tidak menyangka,adik yang dulu sangat ia manjakan ternyata seorang monster,
Kakek Suhadi tersenyum melihat cucu laki-lakinya bisa tegas seperti itu, ia sangat marah melihat Raisa meludahi Najwa, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa melihat tatapan Najwa yang memintanya agar tidak ikut campur.
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong