NovelToon NovelToon
My Shaneen

My Shaneen

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.

Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.

Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kopi, Kucing, Dan Komandan

Pukul sepuluh pagi. Seharusnya Duke Matthias sudah berada di markas militer untuk memimpin rapat strategi. Namun, di sinilah dia, masih berdiri di teras luas Elysium Estate, menolak untuk pergi sebelum mendapatkan "izin" resmi dari pemilik rumah yang bahkan tidak tahu siapa dia.

Matthias melihat Shaneen sedang duduk di kursi rotan gantung di pinggir sungai Silver Creek. Gadis itu tidak peduli pada kehadiran satu peleton pasukan di halaman depannya. Dia sibuk berbicara sendiri sambil menatap layar tabletnya.

"Tidak, tidak... nadanya terlalu ceria. The Eclipse itu konsepnya gelap, bukan lagu anak TK," gumam Shaneen sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

Matthias melangkah mendekat. Bayangannya yang tinggi menutupi cahaya matahari yang jatuh ke tablet Shaneen.

"Lady Shaneen, aku masih di sini," suara Matthias berat, mencoba mencuri perhatian.

Shaneen mendongak. Dia mengerjap, menatap Matthias seolah-olah baru sadar kalau pria itu manusia, bukan patung pajangan. "Oh? Tuan Falken? Kau masih di sini? Kupikir kau sudah pergi memimpin barisan di suatu tempat."

Matthias menghela napas, mencoba sabar. "Namaku Matthias. Dan aku tidak sedang memimpin barisan. Aku sedang menunggumu menyambutku dengan layak."

Shaneen meletakkan tabletnya. Dia kemudian mengambil sebuah toples kecil di sampingnya. "Kalau kau mau disambut, duduklah. Tapi jangan protes kalau kursinya sedikit berbulu."

Matthias duduk di kursi kayu di depan Shaneen dengan sangat kaku—punggung tegak, tangan di atas lutut. Benar-benar gaya militer. Tepat saat dia duduk, seekor kucing gembul berwarna abu-abu (jenis British Shorthair) melompat ke pangkuan Matthias.

Matthias membeku. Dia tidak pernah memegang sesuatu yang selembut dan seberantakan ini. "Ini, apa?"

"Itu Mozart. Kucingku," jawab Shaneen santai sambil mulai memberikan cemilan kucing ke tangan Matthias. "Nah, mumpung kau pengangguran pagi ini, tolong suapi dia. Dia suka manusia yang diam seperti patung, katanya kau bantal yang nyaman."

Ajudan Matthias dari jauh hampir pingsan melihat tangan Jenderal Agung yang biasa memegang pedang, kini gemetar memegang creamy treat untuk seekor kucing.

"Aku bukan pengangguran, Lady Shaneen," bisik Matthias, namun anehnya dia tidak mengusir kucing itu. Dia mulai menyuapi Mozart dengan sangat canggung. "Aku punya banyak urusan negara."

"Urusan negara macam apa yang lebih penting daripada memberi makan Mozart?" Shaneen tertawa kecil.

Tawa itu... Matthias tertegun. Suaranya renyah, manis, dan sangat tulus. Jauh dari tawa palsu para Lady di pesta semalam. Saat tertawa, mata sleepy eyes Shaneen menyipit membentuk bulan sabit. Cantik sekali.

"Kenapa menatapku begitu? Apa ada sisa selai di wajahku?" Shaneen mengusap pipinya dengan ceroboh, malah membuat noda kopi di tangannya pindah ke pipinya yang putih.

Matthias secara refleks mengulurkan tangan. Dengan ibu jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, dia mengusap pipi Shaneen dengan sangat lembut. Gerakannya pelan, seolah takut merusak porselen mahal.

"Ada noda," ujar Matthias pendek. Jantungnya berdegup kencang saat kulit jempolnya bersentuhan dengan kulit wajah Shaneen yang sangat halus.

Shaneen terdiam sebentar. Dia tidak tersipu malu seperti gadis kebanyakan. Dia justru menatap Matthias dengan tatapan menyelidik. "Tanganmu kasar sekali, Tuan Falken. Kau pasti jarang memakai hand cream ya? Sebagai Jenderal, kau harus merawat asetmu. Bagaimana kalau tanganmu lecet saat memegang tongkat upacara?"

Matthias menarik tangannya kembali, merasa gemas sekaligus ingin tertawa. "Ini tangan prajurit, Lady Shaneen."

"Yah, prajurit atau bukan, kau butuh perawatan," Shaneen berdiri, masuk ke dalam paviliun sebentar, lalu kembali membawa sebuah botol kecil berwarna pink dengan stiker kelinci. "Pakai ini. Ini produk dari brand-ku sendiri. Baunya seperti stroberi, tapi sangat melembapkan."

"Aku tidak akan memakai krim stroberi, Lady Shaneen," tolak Matthias tegas. Harga dirinya sebagai Jenderal dipertaruhkan.

"Pakai, atau aku tidak akan pernah mau menghafal namamu," ancam Shaneen dengan wajah serius yang dibuat-buat (tapi terlihat sangat manis).

Matthias menatap botol pink itu, lalu menatap Shaneen. Akhirnya, dengan wajah pasrah yang membuat ajudannya ingin menangis, sang Jenderal Tertinggi mengoleskan krim stroberi ke tangannya yang terbiasa dengan bau mesiu.

"Pintar," Shaneen menepuk-nepuk bahu Matthias seolah dia adalah prajurit magang. "Nah, sekarang karena kau sudah wangi stroberi, kau terlihat sedikit lebih... manusiawi. Tidak seperti robot perang."

Matthias menatap tangannya yang sekarang beraroma buah. Dia menatap Shaneen yang kembali asyik dengan tabletnya, sesekali menggoyangkan kakinya yang memakai sandal bulu mengikuti irama musik di kepalanya.

Gadis ini... benar-benar ajaib, batin Matthias. Dia kaku, dia dingin, tapi entah kenapa, dia merasa sangat nyaman di samping Shaneen yang mulutnya tajam namun tingkahnya sangat menggemaskan ini.

"Lady Shaneen," panggil Matthias.

"Hmm?" Shaneen menyahut tanpa menoleh.

"Besok... aku akan datang lagi. Tanpa pasukan."

Shaneen mendongak, matanya berbinar lucu. "Baguslah. Pasukanmu itu bikin rumput tamanku stres. Tapi kalau besok datang, bawakan aku cokelat dari toko di pusat kota ya? Katanya itu enak, tapi aku malas keluar rumah."

Matthias tersenyum tipis. Sangat tipis. "Cokelat, ya? Baiklah. Aku akan membawakannya."

Matthias berdiri, Mozart si kucing protes karena bantalnya pergi. Sang Jenderal berjalan menjauh dengan aroma stroberi yang mengikutinya, meninggalkan Shaneen yang kembali bergumam tentang lirik lagu, tanpa menyadari bahwa dia baru saja menjinakkan seekor singa perang dengan sebotol krim kelinci.

1
Vivi
👍😍
Hana Nisa Nisa
sampai tahan.nafas bacanya
Mamanya Raja
Thor cerita mu keren loh
Bae •: terimakasih ya^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!