Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik Jarum Adiluhung
“Dasar gak berguna!”
Maureen murka. Ia mencengkeram kerah jas Dr. Setto dan berteriak, “Aku sudah bilang jangan cabut jarumnya! Sekarang setelah kejadian begini, cuma itu yang bisa kamu bilang?”
“Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan saya!” Dr. Setto menggeleng keras. “Pasti tabib yang tadi! Jarum-jarumnya yang menyebabkan ini!”
Maureen menamparnya.
“Berhenti lempar kesalahan ke orang lain, bajingan! Aku peringatkan sekarang, kalau sesuatu terjadi pada kakekku, aku bunuh kamu!”
Mendengar itu, wajah Dr. Setto memucat. Keluarga Wiraningrat cukup berkuasa untuk menyingkirkannya tanpa jejak.
“Ada apa ini?”
Saat itu, Hans masuk. Ketika melihat kondisi Soedjoyo, ia mengernyit.
“Bukannya aku sudah bilang jangan cabut jarumnya?” katanya tidak senang. “Kenapa kalian gak dengar?”
“Tuan Rinaldi, tadi—”
Sebelum Maureen sempat menjelaskan, Dr. Setto melompat maju dan mencengkeram kerah Hans.
“Jadi kamu yang pasang jarum itu?” bentaknya. “Jarum bodoh kamu yang bikin Tuan Wiraningrat kritis! Ini tanggung jawab kamu!”
Hans menjadi kambing hitam yang paling mudah disalahkan.
“Jadi, boleh aku simpulkan kamu yang mencabut jarumnya?” Hans mengangkat alis.
“Kalau iya kenapa?”
“Nggak apa-apa. aku cuma penasaran. Gimana kamu bisa jadi dokter kalau segitu gak becus dan cerobohnya?”
“Kamu—”
“Diam!”
Maureen mendorong Dr. Setto menjauh, lalu menarik Hans ke sisi ranjang.
“Tuan Rinaldi, kita gak punya waktu. Tolong selamatkan kakek saya!”
“Nona Wiraningrat, dia cuma penipu! Dia gak bakal bisa melakukan apa pun untuk kakek Anda. Jangan sampai tertipu!” kata Dr. Setto marah.
“Kalau menurut kamu dia gak bisa apa-apa, kenapa kamu sendiri gak berbuat sesuatu?” Maureen menatap tajam.
“Saya .…”
Dr. Setto terdiam. Jika ia bisa menyelamatkan Soedjoyo, ia sudah melakukannya sejak tadi.
Saat Hans hendak memulai perawatan, Dr. Setto tiba-tiba berkata, “Sebagai peringatan, anak muda. Tuan Wiraningrat orang berpengaruh. Kalau kamu gagal, kamu harus siap menanggung akibatnya.”
“Kalau begitu, aku gak jadi merawatnya. Urus sendiri saja.”
Hans tidak ingin terus berdebat. Ia berbalik hendak pergi.
“Dasar bajingan! Tutup mulut busuk kamu!”
Maureen murka. Ia menampar Dr. Setto lagi. Tamparannya begitu keras hingga pria itu terhuyung dan hampir jatuh. Melihat wajahnya yang mulai bengkak, Hans merasa puas meski ekspresinya tetap datar.
Ekspresi Maureen berubah menjadi memohon ketika ia berbicara kepadanya.
“Tolong, Tuan Rinaldi. Keluarga Wiraningrat akan berutang budi besar jika Anda bisa menyelamatkan kakek saya.”
“Tidak akan mudah. Racunnya sudah terpicu, jadi sekarang jauh lebih agresif. Akupunktur saja tidak cukup untuk menyembuhkannya. aku butuh sesuatu yang lain,” kata Hans.
“Apa pun yang Anda butuhkan akan saya sediakan,” jawab Maureen.
“Aku butuh seperempat ons ulat, seperempat ons laba-laba, dan seperempat ons kecoak. Goreng semuanya lalu simpan dalam wadah kedap udara.”
“Ih. Buat apa sih benda-benda itu? Jijik banget,” kata Renatta dengan wajah mual.
“Berhenti ngoceh. Pergi cari semuanya!”
Maureen menatap tajam. Dengan enggan, Renatta keluar bersama para pengawal untuk mencari serangga-serangga itu. Tak lama kemudian mereka kembali membawa wadah berisi serangga goreng.
“Nona Wiraningrat, setelah aku selesai melakukan akupunktur pada kakek Soedjoyo, tolong buka wadah ini dan letakkan di depan hidung dan mulutnya,” kata Hans.
“Baik.”
Maureen mengangguk.
“Aku mulai.”
Hans mengeluarkan jarum peraknya dan menarik napas dalam. Ia memusatkan konsentrasi, lalu menancapkan jarum pertama di perut bawah Soedjoyo. Dengan satu jentikan jari, jarum itu berputar cepat. Seutas energi halus masuk ke tubuh Soedjoyo melalui jarum tersebut.
Jarum kedua ditancapkan sedikit di atas jarum pertama tanpa ragu. Tiga jarum berikutnya ditempatkan cepat dan mantap, membentuk garis lurus dari dua titik awal.
Menariknya, Hans tidak sekadar menusukkan jarum. Ia perlahan mendorong jarum-jarum itu bergerak naik dari bagian perut.
Setiap jarum yang dipasang membuat kulit Soedjoyo sedikit menggembung, seolah ada sesuatu merayap di bawah permukaannya.
“Omong kosong,” gumam Dr. Setto dengan bibir mencibir. “Akupunktur itu cuma tipu-tipu. Gak ada dasar ilmiahnya!”
“Benar! Dia cuma mempermalukan diri sendiri!” dokter-dokter lain juga berbisik di antara mereka.
Jelas mereka tidak punya kepercayaan pada pengobatan alternatif.
Saat Hans menempatkan jarum terakhir, tubuhnya sudah basah oleh keringat. Yang ia lakukan bukan akupunktur biasa. Itu adalah seni kuno yang telah lama hilang.
Teknik Jarum Adiluhung.
Teknik ini bisa menghidupkan kembali orang yang hampir mati, tetapi hanya jika pelakunya memiliki tenaga dalam yang cukup. Proses ini sangat menguras energi, jadi ia hanya menggunakannya dalam keadaan darurat.
“Nona Wiraningrat, wadahnya,” Hans mengingatkan.
Maureen segera membuka wadah itu. Bau menyengat langsung memenuhi ruangan. Soedjoyo menerima paparan paling kuat.
“Semakin absurd saja,” Dr. Setto mendengus lagi. “Apa kalian benar-benar percaya jarum dan kecoak goreng bisa menyelamatkan orang sekarat?”
“Hanya karena kamu gak bisa, bukan berarti orang lain juga gak bisa,” jawab Hans ringan.
“Kalau kamu berhasil, aku makan sewadah kecoak itu!” tantang Dr. Setto.
Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, Soedjoyo membuka mulutnya untuk pertama kali setelah berhari-hari tak bereaksi. Seekor kelabang hitam merayap keluar dari mulutnya.
Tertarik oleh bau serangga goreng, kelabang itu merayap masuk ke dalam wadah dan mulai memakannya.
“Kelabang? Itu kelabang?”
“Ya Tuhan, ada kelabang di dalam tubuh Tuan Wiraningrat!”
“Ih!”
Ketika orang-orang di ruangan itu menyadari apa yang terjadi, mereka terkejut. Renatta bahkan langsung muntah. Melihat kelabang merayap keluar dari mulut manusia terasa mengerikan. Pemandangan itu seperti mimpi buruk.
Tiba-tiba terdengar batuk keras dari ranjang.
Soedjoyo pun membuka matanya.