NovelToon NovelToon
Gema Yang Tertinggal

Gema Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Ketos / Pengganti / Tamat
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.

Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Pagi itu, aku memaksakan diri melangkah masuk ke lobi kantor. Tubuhku memang belum seratus persen pulih, tapi berdiam diri di apartemen hanya akan membuat gema rasa bersalah di kepalaku berteriak lebih kencang. Aku mengenakan turtleneck hitam untuk menutupi leherku yang masih terasa dingin dan memulas wajah dengan rona yang lebih segar agar tidak ada yang bertanya soal kejadian di IGD.

Lobi masih sepi saat aku menekan tombol naik. Pintu lift terbuka, dan jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang ada di dalam.

Baskara. Sendirian.

Ia berdiri tegak di sudut lift, mengenakan kemeja abu-abu gelap yang rapi. Tatapan kami bertemu selama sepersekian detik sebelum aku masuk dan berdiri di sisi yang berlawanan. Pintu tertutup, menyisakan kami berdua dalam ruang sempit yang mendadak terasa kekurangan oksigen.

"Sudah kubilang istirahat total. Kenapa sudah masuk?" suara beratnya memecah keheningan. Dingin, namun ada nada otoritas yang tak bisa kubantah.

Aku tetap menatap lurus ke arah pintu lift yang mengkilap. "Proyeknya sudah mendekati deadline, Pak Baskara. Saya tidak ingin menjadi penghambat."

Baskara mendengus sinis, suara yang sangat familier dari masa lalu saat ia merasa aku sedang keras kepala. "Selalu saja begitu. Merasa paling kuat, padahal kemarin hampir pingsan kalau tidak ada Danesha."

Aku menoleh perlahan, menatap profil samping wajahnya. "Terima kasih... untuk buburnya kemarin pagi."

Gerakan tangan Baskara yang sedang merapikan jam tangannya terhenti. Ia tidak menoleh padaku, tapi aku bisa melihat rahangnya mengeras. Gema kebaikan diam-diamnya di rumah sakit seolah terbongkar di sini, di antara lantai satu dan dua puluh dua.

"Jangan salah paham," ucapnya tajam, akhirnya ia menoleh dan menatapku dengan mata yang penuh frustrasi. "Aku melakukannya hanya agar kamu cepat sembuh dan tidak merepotkan Rasya dengan rasa cemasnya yang berlebihan. Dia terlalu baik untuk mengkhawatirkan orang sepertimu."

"Aku tahu," balasku tenang, meski hatiku terasa seperti ditusuk jarum. "Itulah sebabnya aku berbohong padanya kemarin. Aku tidak akan membiarkan masa laluku yang buruk merusak kebahagiaannya. Kamu tenang saja, Bas."

Lift berdenting di lantai 22. Sebelum pintu terbuka sepenuhnya, Baskara melangkah maju, menghalangi jalanku sejenak.

"Berhenti bersikap seolah kamu sedang melakukan pengorbanan besar, Aruna," desisnya rendah. "Kebohonganmu itu bukan untuk melindungiku atau Rasya, tapi untuk melindungi egomu sendiri agar tidak perlu mengakui betapa jahatnya kamu dulu."

Ia melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan aroma parfumnya yang menyesakkan paru-paruku. Aku berdiri mematung di dalam lift selama beberapa detik. Dia benar. Ketenanganku, kebohonganku, dan profesionalitasku hanyalah cara lain bagiku untuk melarikan diri dari gema kenyataan bahwa aku telah menghancurkan pria sehebat dia.

Aku melangkah keluar dari lift dengan tungkai yang masih sedikit lemas, menyeret langkah menuju meja kerjaku. Setiap derap sepatuku di atas lantai marmer kantor seolah menggaungkan kata-kata Baskara tadi. Melindungi egomu sendiri.

Sesampainya di meja, aku menjatuhkan tas kerja dan terduduk kaku. Aku memandangi tumpukan dokumen yang menanti, namun pikiranku masih tertahan di ruang sempit lift tadi. Baskara benar-benar tahu cara menguliti topengku. Di saat aku merasa sudah melakukan hal yang paling benar dengan berbohong demi kebahagiaannya, dia justru melihatnya sebagai bentuk pengecutan terbesarku.

"Lho, Aruna? Kok sudah masuk?" Siska muncul dengan segelas kopi di tangannya, menatapku kaget. "Kamu pucat banget, Na. Benaran sudah kuat?"

"Aku oke, Sis. Cuma butuh kopi hitam biar mata melek," jawabku sesingkat mungkin. Aku segera menyalakan komputer, mencoba menenggelamkan diri dalam deretan data traffic iklan yang membosankan.

Namun, fokusku terpecah saat mataku tak sengaja melirik ke arah ruangan kaca di ujung lorong. Melalui celah tirai yang sedikit terbuka, aku melihat Baskara sedang duduk di kursinya. Ia memijat pangkal hidungnya, tampak sangat lelah. Di atas mejanya, aku bisa melihat gantungan kunci matahari kusam itu tergeletak begitu saja di dekat mousepad.

Pemandangan itu membuat dadaku kembali berdenyut nyeri. Dia membenciku, dia menganggapku jahat, tapi dia masih membiarkan benda tak berharga dariku tetap berada dalam jangkauan matanya. Itulah yang paling menyakitkan—melihat dia tetap menyimpan sisa-sisa diriku sembari melontarkan kata-kata pedas sebagai tameng pelindungnya.

Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan internal kantor muncul di layar monitor.

Baskara: "Ke ruanganku sekarang. Ada revisi dari klien yang tidak bisa menunggu."

Aku menghela napas panjang, merapikan turtleneck hitamku, dan berdiri. Aku harus kembali menjadi Aruna yang profesional. Jika dia ingin aku mengakui betapa jahatnya aku, maka aku akan menunjukkannya dengan cara tidak membiarkan satu pun emosi masa lalu merusak kinerjaku hari ini.

Aku melangkah menuju ruangannya, membawa buku catatan seolah-olah aku benar-benar siap untuk bekerja, padahal di dalam sini, aku sedang berjuang menahan gema rasa bersalah yang nyaris membuatku pecah.

1
byyyycaaaa
mampir juga di kembali bertemu bukan bersatu yuk 🙏
falea sezi
ada yg baru kah thor
falea sezi
q ksih hadiah
falea sezi
wahh kok end berasa kurang hehe
falea sezi
jangan ada badai lagi y
falea sezi
banyak up berasa kurang nthor suka deh novel mu q ksih hadiah karena novel mu bagus
falea sezi
klo baskara main gila. cerai nah laki. tolol
falea sezi
ulet bulu ini gatel amat ya
falea sezi
ada baby. mocy ya di perut hehe
falea sezi
moga cpet ada bayi thor
falea sezi
rasya mau jd ulet bulu ya jalang
falea sezi
lanjuttt
falea sezi
lanjut donkk mau tau endingnya gimana
falea sezi
resain Aruna klo g bokek resain pergi aja bodoh amat
falea sezi
bas lu jd serakah ya skg aneh biarin Aruna move on lu jg uda punya pcr. egois bgt sih lu
falea sezi
wes bas urus aja pcrmu np ngurusin Aruna behh ne cowo gk bs move on ya lu
falea sezi
resain pergi jauh Aruna jangan nyari sakit sendiri
falea sezi
abis kerjain proyek resain aja runa cari krja lain dan cari cogan lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!