Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kekecewaan
Mereka berdua kemudian berpelukan sambil duduk di sofa ruang tamu.
Bai Xuning menyandarkan wajahnya di bahu Hu Lian, mencium aroma harum yang selalu membuatnya merasa tenang.
Setelah beberapa saat, Hu Lian perlahan menepuk lengannya dengan lembut.
"Sudah cukup? Kamu harus pergi bekerja...."ucapnya dengan suara lembut namun tegas.Namun Tuan Muda Bai hanya menggeleng keras dan mengerang sedikit, memeluknya lebih erat.
"Tidak perlu... asistenku saja yang mengurus semua pekerjaanku hari ini. Wang Yihan bisa mengatasi itu dengan baik," jawabnya dengan nada yang jelas menunjukkan dia tidak mau pergi kemana-mana.
"......" Hu Lian hanya bisa menatapnya dengan ekspresi campuran antara tak berdaya dan kesal.
baru kali ini aku melihat CEO yang malas bekerja seperti ini, pikirnya dengan menggeleng perlahan. Dia menyadari bahwa Bai Xuning benar-benar takut kehilangannya setelah kejadian kemarin dan kunjungan Ling Zhi tadi pagi.
"Aku kan tidak pergi kemana-mana... aku hanya akan di rumah saja istirahat," ucapnya untuk menenangkannya, mengusap rambut pria itu dengan lembut. "Kalau kamu tidak bekerja, bagaimana dengan perusahaanmu?"
Bai Xuning hanya mengangkat wajahnya."Perusahaan itu sudah ada jauh sebelum aku lahir, pasti akan tetap baik-baik saja tanpa aku sehari saja. Yang penting aku ada di sini untuk menjagamu," jawabnya sebelum mencium dahinya dengan lembut.
Hu Lian hanya bisa menghela nafas merasa tidak punya kekuatan untuk membujuk pria itu yang sudah bersikeras untuk tinggal.
Namun pada pukul 10 pagi tepatnya, suara notifikasi pesan muncul di ponsel Bai Xuning.
Setelah membacanya, wajahnya menunjukkan ekspresi enggan namun dia tahu tidak ada pilihan lain selain pergi ke perusahaan.
"Ada masalah penting yang harus aku tangani langsung di kantor," ucapnya dengan sedikit kesal, menatap Hu Lian dengan pandangan penuh tidak ingin pergi.
Dengan terpaksa dia akhirnya siap untuk meninggalkan apartemen. Sebelum keluar, dia mengulang-ulang meminta agar gadis itu hanya tinggal di rumah saja dan tidak pergi kemana-mana.
"Jangan keluar, kalau ada kebutuhan apa-apa langsung hubungiku atau Wang Yihan,"pesannya dengan nada khawatir.
Hu Lian mengangguk dengan penuh pengertian dan mengantarnya sampai ke pintu gedung apartemen.
Setelah melihat mobil hitam pria itu menghilang di tikungan jalan, Hu Lian berbalik untuk masuk kembali ke dalam gedung.
Namun sebelum dia bisa menyentuh pegangan pintu, ponsel di tangannya tiba-tiba berbunyi dengan nada dering yang dia kenal sangat baik—ini adalah nomor dari ibunya.
Tanpa berlama-lama, dia segera menjawab panggilan.
"Ibu? Ada apa ya?" ucapnya dengan suara ramah, sedikit penasaran mengapa ibunya meneleponnya di tengah hari seperti ini.
Di ujung sana terdengar suara lembut ibunya yang penuh perhatian. "Lian, bagaimana kabarmu sayang? Aku baru saja mendengar kabar dari teman bahwa ada kejadian di sekitar kampusmu... kamu tidak apa-apa kan?"
Hu Lian sedikit terkejut mendengarnya, namun segera menjawab dengan tenang. "Aku baik-baik saja Ibu, tidak perlu khawatir."
Namun suara ibunya sepertinya tidak percaya dan terdengar seperti ingin mengatakan sesuatu yang lebih penting...
Hu Lian masuk ke dalam apartemen dan menutup pintunya dengan hati-hati sambil masih terus berbicara dengan ibunya di telepon.
"Ibu bertemu dengan Ling Zhi? Kapan itu?"tanya dia dengan suara penuh rasa ingin tahu, berjalan ke arah sofa dan duduk perlahan.
Ibu Hu menjawab dengan nada yang hangat dan penuh nostalgia. "Kemarin sore sayang...dia mampir ke rumah kita untuk menyampaikan kabar bahwa kamu terluka....dulu kamu berdua sangat dekat, sering bermain bersama setiap hari hingga disebut sebagai pasangan kecil oleh tetangga-tetangga."
Hu Lian mendengarkan dengan seksama, mencoba mengingat semua yang diceritakan ibunya.
Saat ibunya terus bercerita tentang bagaimana Ling Zhi selalu melindunginya dari anak-anak lain yang suka menggangu, dia mulai merasa mengerti mengapa wajah Bai Xuning menjadi begitu dingin setiap kali menyebut nama pria itu.
Apakah karena hubungan kita dulu yang cukup dekat membuatnya begitu marah dan cemas?pikirnya dengan sedikit rasa ragu.
"Ibu juga merasa senang karena Ling Zhi masih memperhatikan kamu dengan baik," lanjut ibunya. "Dia bilang kalau ada apa-apa denganmu, dia akan selalu siap membantu. Kamu juga ya sayang, jangan terlalu jauh dengannya ya? Lagipula dia adalah teman baik kamu dari dulu."
"Baiklah Ibu... aku akan ingatnya," jawabnya dengan suara pelan.
Setelah mengakhiri panggilan dengan ibunya, Hu Lian menghela nafas panjang dan memutuskan untuk menyembunyikan fakta tentang pertemuan ibunya dengan Ling Zhi beserta cerita masa lalunya dari Bai Xuning.
Sampai saat ini dia masih sangat sensitif tentang Ling Zhi... kalau memberitahukan sekarang, pasti dia akan meledak karena cemburu dan mungkin melakukan hal yang tidak diinginkan, pikirnya sambil melihat ke arah tas makanan yang masih tergeletak di lantai.
Dia kemudian mengambil tas itu dan membukanya dengan hati-hati, menemukan berbagai makanan sehat yang biasanya dia sukai—beberapa di antaranya bahkan adalah hidangan yang sering dibuat oleh neneknya dulu.
Hu Lian merasa sedikit terharu melihatnya, namun segera mengingat janjinya pada diri sendiri untuk tidak membahas apa-apa tentang Ling Zhi dengan Bai Xuning.
Dia menyimpan makanan itu ke dalam kulkas dengan hati-hati, kemudian pergi ke kamar untuk mengambil buku bacaan agar bisa menghabiskan waktu dengan tenang sambil menunggu Bai Xuning pulang.
Saat membaca, pikirannya tetap tidak bisa lepas dari apa yang diceritakan ibunya.
Meskipun ingatannya masih sangat samar, dia mulai merasa ada kesan hangat yang muncul setiap kali menyebut nama Ling Zhi.
Namun dia segera mengusir pikiran itu dan fokus pada bukunya—dia harus menjaga suasana hati agar tidak membuat Bai Xuning curiga ketika dia pulang nanti.
Mendengar cerita-cerita dari Ling Zhi, ingatan Hu Lian tentang dirinya mulai perlahan kembali sedikit demi sedikit.
Dia mulai mengingat bagaimana mereka bermain bersama di halaman rumah saat kecil, bagaimana Ling Zhi selalu melindunginya dari anak-anak yang suka menggangu, dan bagaimana mereka pernah berjanji untuk selalu saling membantu satu sama lain.
Seiring berjalannya waktu, keduanya jadi sering bertemu.
Mereka pergi makan malam bersama di restoran kecil yang dulu mereka suka kunjungi, Ling Zhi mengantar Hu Lian ke kampus setiap pagi, dan terkadang mereka juga menghabiskan waktu akhir pekan dengan menonton film di rumah atau di bioskop.
Hu Lian mulai terbiasa dengan kedekatan mereka, merasa ada rasa nyaman yang dia tidak bisa jelaskan setiap kali bersama pria itu.
Namun pada suatu malam, ketika mereka baru saja pulang dari menonton film dan akan memasuki apartemen Hu Lian, kedua mata mereka langsung terpaku pada sosok yang berdiri diam di depan pintu—Bai Xuning.
Pria itu mengenakan jas hitamnya yang biasa dikenakan untuk bekerja, wajahnya tanpa ekspresi dan pandangannya terasa kosong seperti es.
Rambutnya tampak sedikit berantakan dan matanya menunjukkan bahwa dia sudah tidak tidur cukup lama.
Jantung Hu Lian berdetak kencang seolah akan keluar dari dada. Tanpa berpikir panjang, dia segera melepaskan mendorong Ling Zhi yang sedang membantunya membuka pintu dan berjalan cepat ke arah Bai Xuning.
"Bai Xuning...." panggilnya dengan suara sedikit bergetar ingin menjelaskan apa yang terjadi.
Namun sebelum dia bisa mendekatinya, Bai Xuning mengambil langkah mundur dengan perlahan, seolah menghindari sentuhan apa pun darinya.
Matanya yang dulu penuh kasih sayang kini hanya menunjukkan rasa jauh dan sakit hati.
"Sudah tiga hari... aku mencoba menghubungimu tapi kamu tidak pernah menjawab panggilan atau pesan," ucapnya dengan suara yang dingin dan datar, tidak melihat langsung ke arah Hu Lian melainkan pada Ling Zhi yang berdiri di belakangnya.
"Ternyata kamu sudah memiliki pria lain yang bisa menemani kamu dengan baik."
"......"Hu Lian merasa ingin menangis dan marah melihat wajahnya yang seperti itu.
Hu Lian berusaha menjaga emosinya agar tidak terlalu terbawa, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas. "...Jangan seperti ini Ayo masuk dulu kita bicara dengan tenang..."
"Tidak perlu..." jawab Bai Xuning dengan dingin sebelum berbalik dan memasuki apartemennya sendiri. Bang!
Pintu dibanting dengan keras, membuat dinding sedikit bergetar dan menyisakan Hu Lian berdiri di luar dengan hati yang merasa sesak.Ling Zhi segera menghampirinya dengan wajah penuh perhatian.
"...Biarkan saja dia sendiri untuk sementara ? Lagipula kalian sudah putus bukan? Mungkin dia hanya merasa cemas tapi tidak punya hak untuk marah.......," ucapnya dengan nada lembut, mencoba menenangkannya.
Hu Lian menoleh padanya dengan mata yang menyipit, ekspresinya jelas menunjukkan rasa tidak senang. "Siapa yang mengatakan hal itu padamu?!"
"Aku..." Ling Zhi terdiam dan tidak bisa melanjutkan perkataannya, wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak bisa berbohong.
Hu Lian dengan cepat menduga bahwa ini pasti berasal dari orang tuanya—mereka mungkin masih menginginkan agar dia dan Ling Zhi bisa bersama seperti yang diharapkan dulu.
Hu Lian menarik nafas dalam dan menyentuh dahinya dengan tangan yang tidak terluka, rasanya sangat capek menghadapi semua masalah ini sekaligus.
"Ling Zhi, maaf... tolong pulang dulu dan kita tak perlu bertemu untuk sementara waktu. Aku perlu waktu untuk menjelaskan semua ini pada Bai Xuning dan juga bicara dengan orang tuaku," ucapnya dengan suara yang penuh kelelahan.
Ling Zhi mengangguk dengan pemahaman, meskipun wajahnya menunjukkan rasa kecewa.
"Baiklah Ah Lian... kalau kamu butuh bantuan apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungiku....," ucapnya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Hu Lian sendirian di depan pintu apartemen.