NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puing-Puing Harga Diri yang Runtuh

​Lantai semen yang dingin dan aroma pengap sisa hujan semalam menyambut kedatangan Bapak dan Ibu Indra di ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan. Tidak ada lagi sapaan hormat dari staf-staf perusahaan atau bungkukan patuh dari para asisten. Yang ada hanyalah tatapan datar dari para sipir yang sudah bosan melihat drama keluarga di balik jeruji besi.

​Saat pintu besi berderit terbuka, seorang pria dengan seragam oranye lusuh berjalan menyeret langkah. Rambutnya yang dahulu selalu tertata klimis kini tumbuh berantakan, berminyak, dan menutupi sebagian keningnya yang kusam.

​"Indra..." Ibu menutup mulutnya, menahan isak tangis yang seketika pecah.

​Sosok di depannya bukan lagi eksekutif muda yang gagah. Indra tampak kumal. Kulitnya pucat karena kurang sinar matahari, dan sorot matanya redup, seolah cahaya kehidupan di dalamnya telah padam total. Ia duduk di kursi kayu keras itu tanpa tenaga, bahkan hampir tidak mampu menegakkan punggungnya sendiri.

​"Ibu... Bapak..." suara Indra parau, seperti gesekan logam berkarat.

​"Astaga, Ndra... kenapa kamu jadi begini?" tanya Ibunya dengan tangan gemetar meraih jemari Indra yang kasar. "Kamu tidak makan? Kamu tidak mengurus dirimu?"

​Indra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat ganjil dan menyakitkan. "Untuk apa, Bu? Untuk siapa aku harus terlihat rapi? Di sini, aku hanya nomor. Aku bukan lagi Indra yang hebat itu."

​Ia terdiam sejenak, lalu matanya mendadak membelalak, seolah teringat sesuatu yang sangat penting.

​"Bu, Pak, Gendis mana? Apa dia tidak ikut? Apa dia mengirim pesan lewat Bapak? Dia, dia pasti tahu aku di sini, kan?"

​Ayahnya menghela napas panjang, wajahnya mengeras. "Gendis sedang di luar negeri, Ndra. Dia sedang membangun dunianya sendiri yang jauh lebih bercahaya daripada kegelapanmu di sini. Kami ke sana kemarin tapi kata pembantunya, Gendis sedang meluncurkan bisnisnya di mulai dari Paris."

​Mendengar itu, Indra justru menunduk dalam, air matanya jatuh membasahi meja plastik yang kusam.

"Dia pasti makin cantik ya, Pak? Aku baru sadar, selama bertahun-tahun, aku punya malaikat di sampingku. Dia yang menyiapkan pakaianku, dia yang mengatur jadwalku, dia yang selalu memaafkan egoku. Kenapa aku bisa sebodoh itu, Pak? Kenapa aku menukar berlian asli dengan rongsokan yang berlumuran lumpur?"

​"Baru sekarang kamu sadar?" suara ayahnya meninggi, emosinya mulai tersulut melihat kondisi putranya yang hancur karena kesalahannya sendiri.

​"Aku menyesal, Pak! Sumpah, aku menyesal!" Indra memukul meja dengan kepalan tangannya yang lemah. "Setiap malam aku terbangun dan aku mengira aku masih di kamar kami, lalu aku mencium aroma parfum Gendis yang menenangkan. Tapi saat aku membuka mata, yang tercium hanya bau pesing dan apek. Aku merindukannya, Pak. Aku merindukan suaranya yang lembut. Bagaimana bisa aku menyakiti perempuan sehebat dia? Bagaimana bisa aku mengkhianati perempuan yang bahkan tetap menjaga martabat keluarga kita saat aku sendiri yang menginjak-injaknya?"

​"Sudah, Ndra... sudah," tangis Ibunya semakin kencang.

​"Tidak, Bu! Aku harus mengatakannya! Aku ini pengecut! Aku ini lelaki paling gagal di dunia!" Indra meracau, matanya menatap kosong ke arah langit-langit. "Aku melihat foto-fotonya di majalah yang dibawa teman selku. Gendis... dia terlihat seperti ratu. Dia elegan, dia berkelas. Dan aku? Aku hanyalah sampah yang dulu beruntung bisa memilikinya, tapi malah membuang keberuntungan itu demi nafsu sesaat. Gendis itu sempurna, Pak. Dia cantik dari hati sampai ke wajahnya. Dan aku... aku menghancurkan hidupnya!"

​Ayah berdiri, wajahnya merah padam karena amarah yang tak tertahankan lagi. "Kamu memang bodoh, Indra! Bapak sudah bilang berkali-kali dulu, jaga istrimu! Gendis itu aset paling berharga dalam hidupmu, bukan cuma sebagai istri, tapi sebagai manusia! Kamu lebih memilih berselingkuh dengan perempuan murahan itu daripada setia dengan perempuan yang sudah membangun fondasi hidupmu dari nol! Sekarang lihat dirimu! Kamu kehilangan semangat hidup, kamu terlihat seperti gelandangan, dan kamu kehilangan segalanya karena ego laki-laki yang merasa paling hebat! Ibu juga! Sedari dulu selalu membahas masalah anak di depan Gendis! Jangan-jangan memang Indra yang bermasalah!"

​Indra hanya bisa terisak, bahunya berguncang hebat, sementara sang ibu hanya menunduk dalam tanpa sanggahan karena rusaknya rumah tangga anaknya memang ada andil dirinya juga.

"Aku ingin minta maaf, Pak... aku ingin bersujud di kakinya..." jerit Indra putus asa.

​"Dia sudah memaafkanmu dengan cara yang paling menyakitkan, Ndra," sahut Bapaknya dengan nada dingin yang menusuk. "Dia memaafkanmu dengan cara membiarkanmu melihat betapa suksesnya dia tanpa dirimu. Itulah hukuman terberat bagi lelaki seperti kamu."

​Setelah meninggalkan Indra dengan segala puing-puing penyesalannya, Bapak dan Ibu Indra tidak langsung pulang. Dengan hati yang panas dan penuh rasa muak, mereka mendatangi Lapas Perempuan di wilayah yang berbeda. Nama yang mereka tuju adalah satu, Cindy.

​Di ruang kunjungan yang lebih sempit, Cindy muncul dengan wajah yang jauh dari kata mewah. Tidak ada lagi bulu mata palsu, tidak ada lagi gincu merah menyala, dan tidak ada lagi aroma parfum mahal yang dulu sering ia pamerkan. Ia tampak kusam, dengan kulit yang mulai bermasalah karena udara penjara yang tidak sehat.

​Begitu melihat orangtua dari lelaki yang ia rebut, Cindy mencoba memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Bapak... Ibu... syukurlah kalian datang. Tolong saya, Indra tidak bisa dihubungi, saya... "

​"Tutup mulutmu, perempuan jalang!" bentak Ibu, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu.

​Cindy tersentak, wajahnya pucat pasi. "Ibu... kenapa bicara begitu? Saya juga korban di sini, saya..."

​"Korban?!" Bapak tertawa sinis, matanya menatap Cindy dengan rasa jijik yang sangat dalam. "Kamu itu bukan korban. Kamu itu parasit! Kamu itu racun yang masuk ke dalam keluarga kami dan menghancurkan semuanya!"

​Ibu mendekat ke jeruji besi, menatap Cindy dengan pandangan merendah. "Dulu kamu begitu percaya diri, ya? Kamu dandan menor, pakai barang-barang bermerek dari uang anakku, lalu dengan sombongnya merasa bisa menyaingi Gendis? Kamu pikir dengan modal wajah hasil polesan dan rayuan murah, kamu bisa setara dengan menantuku?"

​Cindy menunduk, air matanya mulai mengalir.

"Saya mencintai Indra, Bu..."

​"Cinta?!" seru Ibu Indra. "Kamu tidak tahu arti cinta! Kamu hanya tahu cara merampas! Lihat dirimu sekarang. Berdiri di sana, kumal, hina, dan tidak berguna. Dulu kamu merasa paling cantik, kan? Kamu merasa sudah menang karena berhasil membuat Indra berpaling dari istrinya? Sekarang lihat perbandingannya. Gendis sekarang ada di Paris, dipuja dunia sebagai 'Malaikat Tanpa Sayap' karena kebaikannya. Sementara kamu? Kamu di sini, mendekam karena kasus narkoba dan pencucian uang!"

​"Ibu, tolong jangan bandingkan saya dengan dia..." isak Cindy.

​"Tentu saja kami akan terus membandingkanmu!" Bapak menimpali. "Kami ingin kamu sadar betapa memalukannya dirimu. Kamu itu cuma LC, Cindy. Pekerjaanmu memang melayani lelaki, tapi kamu lancang mau menggeser posisi seorang permaisuri. Kamu benar-benar tidak tahu diri. Melihatmu sekarang saja kami merasa mual. Bagaimana bisa Indra dulu buta sampai-sampai mau menyentuh perempuan serendah kamu?"

​"Saya mohon... berhenti..." Cindy menutup telinganya, menangis meraung-raung. Rasa malunya memuncak. Ia teringat bagaimana dulu ia sering mengirim pesan provokatif kepada Gendis, merasa dirinya lebih unggul karena mendapatkan perhatian Indra.

​"Kamu harus tahu satu hal, Cindy," Ibu bicara dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Gendis baru saja mengunjungi orang tuamu di kampung. Dia memberi mereka uang, dia membiayai sekolah adik-adikmu. Dia melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan jika kamu punya otak yang benar. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa sementara kamu sibuk menghancurkan hidup orang, dia sibuk menyelamatkan orang-orang yang kamu terlantarkan."

​Cindy mendongak, matanya yang sembap membelalak. "Bapak dan Ibu juga tahu berita itu?"

​"Iya! Dan sekarang keluargamu sendiri malu mengakui kamu sebagai anak!" Bapak menambahkan. "Mereka lebih menghormati Gendis yang sudah kamu sakiti daripada kamu, anak kandung mereka yang hanya memberi malu. Kamu sudah kalah telak, Cindy. Bukan cuma kalah harta, tapi kalah martabat, kalah jiwa, dan kalah segalanya."

​"Aku benci dia! Aku benci Gendis!" teriak Cindy histeris, namun suaranya hanya memantul di dinding penjara yang dingin.

​"Bencilah sesukamu," sahut sambil berbalik pergi. "Kebencianmu tidak akan pernah bisa menyentuh ujung kaki Gendis. Kamu hanyalah debu di bawah sepatunya yang mahal. Mari, Pak. Kita pulang. Melihat perempuan ini terlalu lama hanya membuat kita ikut kotor."

​Cindy merosot ke lantai, memeluk lututnya sendiri sambil terisak hebat. Kata-kata "debu di bawah sepatu Gendis" terus terngiang di kepalanya seperti lonceng kematian bagi egonya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa selama ini ia hanya sedang berhalusinasi bisa menyaingi Gendis. Ia tak pernah setara. Ia hanya pemain pengganti di saat Indra sedang khilaf, dan kini ia ditinggalkan di tempat yang memang seharusnya menjadi tempat bagi orang-orang sepertinya, di kegelapan, dilupakan, dan dihina.

​Di luar penjara, Bapak dan Ibunya Indra berjalan menuju mobil mereka dengan napas yang terasa lebih plong, meski duka akan kondisi Indra masih membekas. Namun bagi mereka, satu hal yang pasti, keadilan telah ditegakkan oleh waktu, dan Gendis tetaplah pemenang tunggal dalam drama yang menyakitkan ini.

1
Agus Tina
Bagus ceritanya selalu suka dengan cerita yg karakter wanitanya kuat
..
Agus Tina
Kalau di cerita pelajor banyak yg kalah dan menuai karma, tapi kenapa kalau di kenyataan justru sebaliknya banyak istri sah yg kalah dari pelakor, dibuang, justru pelakor semakin bersinar, bahagia dan mendqpatkan pembelaab.
Ruby Jingga
guys aku up maleman ya hari ini banyak lembur di real life🙏
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!