NovelToon NovelToon
SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

SISA WANGI YANG MENYAKITKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ruby Jingga

Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
​Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
​Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wewangian Kemenangan dan Bayang-Bayang Masa Lalu

​Matahari Paris menyirami tepi sungai Seine dengan cahaya keemasan yang lembut, seolah ikut merayakan kesuksesan yang tengah dipanen Gendis. Di sebuah gedung butik eksklusif yang terletak di distrik mewah, papan nama Gendis Couture bersinar megah. Hari ini adalah hari peluncuran resmi koleksi parfum perdana miliknya, sebuah karya yang ia racik sendiri dengan penuh ketelitian selama berbulan-bulan.

​Gendis berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya. Ia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang memeluk tubuhnya dengan elegan. Tidak ada lagi sisa-sisa kesedihan atau keraguan di matanya. Ia adalah perempuan yang telah bangkit dari abu kehancuran dan mengubahnya menjadi berlian.

​Mala, asisten setianya sekaligus tangan kanan yang paling ia percaya, mendekat dengan senyum lebar. Mala adalah perempuan tangguh yang telah mendampingi Gendis sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di Paris yang ia pilih karena Gendis tahu betul Mala bisa diandalkan.

​"Nona, data penjualan sudah masuk," ujar Mala dengan nada antusias. "Parfum Aura Gendis sudah terjual habis di seluruh butik dan toko daring dalam waktu kurang dari empat jam. Kita mencetak rekor sebagai parfum terlaris nomor satu tahun ini. Para kritikus parfum di Paris sudah memberikan ulasan bintang lima. Dan penjualan di Indonesia juga tidak kalah fantastis."

​Gendis tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus namun tetap menunjukkan kelasnya.

"Terima kasih, Mala. Ini bukan hanya kerja kerasku. Tanpa ketelitianmu dalam mengatur logistik dan jaringan distribusi, angka ini mustahil tercapai."

​"Anda terlalu rendah hati, Nona" sahut Mala sambil menyerahkan tablet berisi laporan perbankan. "Selain di dunia parfum, posisi Anda di Bank pun semakin tak tergoyahkan. Laporan dari direksi pusat menyatakan bahwa portofolio yang Anda tangani menghasilkan pertumbuhan aset tertinggi dibandingkan manajer lainnya. Anda benar-benar sedang berada di puncak, Nona."

​Gendis mengangguk. Ia tahu, di balik kesuksesan ini, ia tetap harus menjaga profesionalisme. Dunia perbankan adalah dunianya yang lain, sebuah dunia di mana ia dihormati bukan karena latar belakangnya, melainkan karena otak tajam dan integritasnya.

​"Mala, pastikan laporan-laporan kepentingan Bank sudah rampung sebelum rapat besok," instruksi Gendis tegas. "Aku tidak ingin ada celah kecil pun yang bisa mengganggu ritme kerja kita."

​"Tentu, Nyonya. Segera saya selesaikan," jawab Mala sebelum undur diri.

​Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang pria dengan setelan jas tailor-made yang tampak sempurna memasuki ruangan. Baskara. Tatapan matanya yang teduh langsung terkunci pada Gendis, seolah-olah di ruangan yang penuh dengan orang penting itu, hanya Gendis yang memiliki eksistensi nyata.

​"Kau terlihat luar biasa, Gendis," ucap Baskara dengan suara rendah yang membuat jantung siapa pun berdesir. Ia mendekat, lalu tanpa ragu meraih jemari Gendis dan mengecupnya pelan.

​"Bas, kau sudah di sini?" Gendis tersenyum, kali ini ada binar cinta yang tidak bisa ia sembunyikan.

​"Bagaimana mungkin aku melewatkan momen besar perempuan yang paling aku kagumi?" Baskara menatap Gendis penuh cinta. Ia kemudian menggandeng tangan Gendis dengan posesif namun sopan. "Ayo, semua tamu penting sudah menunggu. Mereka ingin bertemu dengan sang peracik Aura Gendis."

​Mereka berjalan menuju ruang perjamuan. Di setiap langkah, Baskara tidak segan-segan menggandeng Gendis di depan publik, menunjukkan kepada dunia bahwa wanita di sampingnya adalah miliknya, sebuah pernyataan yang lebih kuat dari kata-kata apa pun.

Baskara selalu menatap Gendis dengan intensitas yang membuat Gendis merasa seperti satu-satunya wanita di dunia.

​"Gendis, apakah kau merasa bahagia?" bisik Baskara saat mereka berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota Paris.

​"Aku merasa... tenang, Bas," jawab Gendis jujur. "Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dan setelah drama panjang antara aku, Indra dan Cindy, aku merasa aku tidak sedang berlari dari siapa pun atau apa pun. Aku hanya menjadi diriku sendiri."

​"Aku akan selalu ada di sini untuk memastikan kau tetap merasa tenang," janji Baskara.

​Namun, di belahan bumi yang lain, jauh dari romansa dan kemewahan Paris, sebuah pemandangan kontras tersaji di sebuah apartemen di pinggiran kota. Sebuah laptop menyala menampilkan berita utama tentang kesuksesan Gendis dan kedekatannya dengan Baskara.

​Siska, seorang wanita dengan mata yang tajam dan sorot dingin, menatap layar tersebut tanpa berkedip. Tangannya yang memegang cangkir kopi gemetar, bukan karena takut, melainkan karena kebencian yang mendidih. Ia teringat masa lalunya bersama Baskara, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

​Ia menoleh ke arah seorang putri kecil yang sedang bermain boneka di sudut ruangan. Anak itu tampak sangat mirip dengan Baskara. Namanya Sheila. Siska mengamati wajah putrinya, lalu menatap kembali wajah Baskara di layar laptop.

​"Lihat, Sheila," bisik Siska kepada putrinya. Suaranya terdengar dingin, penuh dengan misteri dan rencana yang telah lama ia susun.

​Sheila hanya menoleh polos, tidak mengerti apa yang sedang berkecamuk di pikiran ibunya.

"Siapa itu, Ma? Apakah itu paman yang ada di foto di laci kamar Mama?"

​Siska tidak menjawab. Ia hanya mengelus rambut putrinya dengan gerakan yang kaku, lalu bangkit berdiri menuju jendela, menatap jalanan yang basah dengan tatapan tajam.

​"Sudah saatnya, Bas," ucap Siska pelan, suaranya nyaris seperti desis ular. "Kau menikmati duniamu dengan wanita itu, sementara aku di sini membesarkan apa yang seharusnya menjadi milikmu. Kau pikir kau bisa menghapus masa lalu secepat itu? Tidak, Baskara. Tidak akan pernah."

​Di Paris, Gendis tertawa lepas saat Baskara membisikkan sesuatu yang lucu. Namun, entah mengapa, tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Ia merasa seolah ada sesuatu yang akan terjadi.

​"Ada apa, Sayang?" tanya Baskara lembut, menyadari perubahan ekspresi Gendis.

​"Tidak apa-apa," jawab Gendis berusaha mengabaikan perasaan aneh itu. "Hanya... tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Tapi tidak penting."

​Gendis kembali tersenyum, membiarkan Baskara menuntunnya kembali ke keramaian. Ia tidak tahu bahwa jauh di sana, awan hitam baru saja mulai berarak, siap untuk menguji kembali kedamaian yang baru saja ia raih. Di sebuah ruangan yang pengap, Siska mulai mengemas koper-kopernya. Ia tidak lagi peduli dengan apa pun, tujuannya hanya satu, Indonesia. Dia akan menunggu di sana dan jika sudah saatnya, dia akan masuk.

​"Persiapkan dirimu, Baskara," gumam Siska sambil menutup laptopnya. "Drama ini akan segera memasuki babak yang paling tidak kamu inginkan."

​Gendis, dengan Aura Gendis-nya yang mewangi, masih belum menyadari bahwa badai masa lalu Baskara baru saja memutuskan untuk datang menjemput haknya. Kehidupan yang telah ia susun dengan begitu rapi kini terancam oleh satu nama, Siska.

1
Agus Tina
Kasihan Gendis ...
Agus Tina
up
Ruby Jingga: Hari ini ya kak, semalem otor ketiduran ya ampun lupa update jadinya
total 1 replies
Agus Tina
Bagus ceritanya selalu suka dengan cerita yg karakter wanitanya kuat
..
Agus Tina
Kalau di cerita pelajor banyak yg kalah dan menuai karma, tapi kenapa kalau di kenyataan justru sebaliknya banyak istri sah yg kalah dari pelakor, dibuang, justru pelakor semakin bersinar, bahagia dan mendqpatkan pembelaab.
Ruby Jingga
guys aku up maleman ya hari ini banyak lembur di real life🙏
Susilawati Arum
Up lagi dong thor..maaf kemaruk thor
Susilawati Arum
Terimakasih banyak author untuk update terbarunya
july: sama² kak, bntr lagi aku up lagi ya
total 1 replies
Susilawati Arum
Baru kali ini baca novel pemeran utama wanitanya terbaik pokoknya..Ter the best lah Gendis
Susilawati Arum
Ceritanya bagus banget...msh update nggak author
Ruby Jingga: update kak sorean dikit yaaa
total 1 replies
arniya
makin seru....
arniya
tunggu tanggal mainnya indra.....
arniya
mampir kak
Ruby Jingga: makasih kakak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!