NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Tiga Bulan Penelanan Mutlak dan Kota Bintang Jatuh

Gudang Harta Klan Pedang Perak terletak jauh di bawah tanah, dilindungi oleh tiga belas lapis formasi penyegel. Selama ratusan tahun, klan ini telah mengumpulkan kekayaan dari pajak, perburuan, dan perdagangan. Tumpukan Kristal Dewa Tingkat Rendah membentuk bukit-bukit kecil yang memancarkan cahaya biru, sementara rak-rak kayu giok dipenuhi dengan kotak obat, ramuan, dan inti binatang buas.

Di tengah-tengah lautan kekayaan itu, Ye Chen duduk bersila dengan mata terpejam.

"Tiga bulan," gumam Ye Chen. "Di dunia bawah, sumber daya ini cukup untuk menghidupi sebuah kekaisaran selama seribu tahun. Di Alam Dewa Kuno, ini hanyalah tiket masukku menuju tingkat selanjutnya."

Ye Chen menarik napas panjang.

"Mutiara Penelan Surga... Jangan sisakan apa pun."

WUUUUUUUNG!

Sebuah pusaran hitam pekat meledak dari perut Ye Chen, meluas hingga menutupi seluruh ruangan gudang harta. Ini bukan sekadar penyerapan, ini adalah perampokan kosmik.

Kristal-kristal Dewa yang keras seketika hancur menjadi debu, energinya tersedot membentuk sungai cahaya yang mengalir deras ke dalam tubuh Ye Chen. Kotak-kotak giok meledak, melepaskan pil-pil dan tanaman obat berusia ribuan tahun yang langsung dimurnikan oleh Mutiara.

Tubuh Ye Chen memanas hingga jubah abu-abunya hangus menjadi abu.

Di bawah kulitnya, Tulang Emas Gelap-nya mulai menyerap energi murni itu seperti spons yang kehausan. Meridian di tubuhnya, yang sebelumnya telah beradaptasi dengan Qi Dewa, kini mulai melebar dan mengeras, membentuk jaringan yang mampu menahan laju energi setara lautan.

Dewa Fana Tingkat 2 Puncak...

Krak!

Dewa Fana Tingkat 3 Awal...

Rasa sakit yang luar biasa menghantam sistem sarafnya, tetapi Ye Chen tidak mengerang. Dia menjadikan rasa sakit itu sebagai alat untuk menajamkan tekadnya.

Di Alam Dewa, kultivasi bukan sekadar mengumpulkan Qi. Di atas Dewa Fana Tingkat 3, seorang kultivator harus mulai menyatukan jiwanya dengan Hukum Alam (Law). Bagi Ye Chen, hukum alamnya bukanlah angin, air, atau api.

Itu adalah Kehampaan dan Kehancuran.

Waktu berlalu tanpa terasa di dalam gudang bawah tanah itu.

Tiga Bulan Kemudian.

Di luar pintu besi gudang harta, Yin Yue dan Yin Xue berdiri dengan gelisah. Hari ini adalah tenggat waktu terakhir. Jika Ye Chen tidak keluar, mereka harus berangkat ke Kota Bintang Jatuh tanpanya, dan itu sama saja dengan menyerahkan status klan mereka.

"Kakak, apakah dia gagal menerobos?" bisik Yin Xue cemas. "Gudang itu sunyi sekali sejak bulan pertama. Mungkinkah dia mati karena keracunan energi (Qi Deviation)?"

Yin Yue menggeleng tegas. "Orang yang bisa membunuh Tetua Ular Kematian dengan satu bantingan tidak akan mati hanya karena menyerap energi. Kita tunggu."

KREAAAAK...

Pintu besi hitam setebal satu meter itu perlahan terbuka dari dalam.

Debu tebal berhembus keluar. Ketika pandangan menjernih, Yin Xue dan Yin Yue tanpa sadar mundur selangkah, menahan napas mereka.

Ye Chen berjalan keluar. Dia mengenakan jubah hitam baru yang disediakan oleh klan.

Secara fisik, dia tidak terlihat berubah. Tidak ada otot yang membengkak aneh atau aura yang meledak-ledak. Sebaliknya, auranya benar-benar... kosong. Dia terlihat seperti manusia fana biasa yang tidak pernah berlatih bela diri sekalipun.

Namun, justru "kekosongan" itulah yang membuat bulu kuduk kedua kakak beradik itu berdiri. Di mata mereka yang berkultivasi, Ye Chen terasa seperti sebuah jurang tak berdasar. Jika mereka menatap matanya terlalu lama, jiwa mereka seolah akan tersedot masuk.

"Kultivasi Anda..." Yin Yue menelan ludah. "Tuan Ye, Anda mencapai tingkat berapa?"

"Dewa Fana Tingkat 4 Puncak," jawab Ye Chen santai, mengibaskan debu dari lengannya.

Meskipun terdengar rendah, fondasi Qi Dewa Ye Chen ratusan kali lebih padat daripada kultivator tingkat yang sama. Ditambah lagi, kekuatan fisik Tulang Emas Gelap-nya kini telah mencapai tingkat yang tidak bisa diukur dengan standar normal.

"Gudang kalian sudah kosong," tambah Ye Chen. "Semoga investasi kalian tidak sia-sia."

Yin Yue tersenyum pahit, mengingat kekayaan leluhur berabad-abad yang ludes dalam tiga bulan. "Selama Anda bisa memenangkan slot formasi teleportasi dari Sekte Bintang Jatuh, semua itu sepadan. Kereta terbang sudah siap, Tuan Ye. Kita harus berangkat."

Kota Bintang Jatuh (Fallen Star City).

Kota ini tidak terletak di atas tanah datar, melainkan dibangun di dalam Kawah Meteorit Raksasa yang membentang ratusan mil. Bangunan-bangunannya dipahat langsung dari batuan meteorit hitam yang kaya akan energi bintang. Di atas kota, melayang markas besar Sekte Bintang Jatuh—sebuah pulau terapung yang menutupi separuh langit.

Ini adalah pusat kekuasaan mutlak di wilayah utara Kekaisaran Langit Berkabut.

Kereta terbang Klan Pedang Perak mendarat di pelabuhan khusus peserta turnamen. Tempat itu sudah dipenuhi oleh ratusan kereta mewah dari klan dan sekte lain.

Begitu Ye Chen, Yin Yue, dan Yin Xue turun, mereka langsung disambut oleh atmosfer persaingan yang tajam. Ribuan kultivator muda dengan tatapan angkuh berlalu-lalang, masing-masing memancarkan aura Dewa Fana Tingkat 3 hingga Tingkat 5.

"Ingat, Tuan Ye," bisik Yin Yue. "Turnamen ini diikuti oleh seluruh jenius di wilayah utara. Sekte Bintang Jatuh menggunakan ini untuk merekrut darah segar sekaligus menunjukkan dominasi mereka. Pertarungan di arena sangat brutal, dan kematian sering terjadi."

"Kematian adalah guru terbaik," jawab Ye Chen datar.

Saat mereka berjalan menuju area pendaftaran, sebuah suara tawa yang keras dan kasar menghentikan langkah mereka.

"Hahaha! Lihat siapa yang datang! Klan Pedang Perak yang menyedihkan!"

Sekelompok pria berjubah putih dengan motif bulu harimau menghadang jalan mereka. Pemimpinnya adalah seorang pemuda kekar dengan rambut putih jabrik dan sepasang kapak besar di punggungnya. Auranya kuat, berada di Dewa Fana Tingkat 5 Awal.

"Hu Lei (Harimau Petir), Tuan Muda dari Klan Harimau Salju," Yin Xue berbisik pada Ye Chen. "Klan mereka adalah saingan terberat kami di wilayah utara."

Hu Lei melangkah maju, tatapan matanya melecehkan saat melihat Yin Yue.

"Kudengar kau hampir mati karena racun, Yin Yue. Sayang sekali kau selamat. Jika kau mati, aku tidak perlu repot-repot menghancurkan klanmu di arena ini," ejek Hu Lei. "Lalu, di mana pamanmu yang bodoh itu? Kenapa kalian hanya membawa satu pengawal rendahan?"

Hu Lei melirik Ye Chen yang berdiri tenang di belakang Yin Yue. Karena Ye Chen menyembunyikan auranya, Hu Lei menganggapnya sebagai pelayan biasa.

"Minggir, Hu Lei. Kami tidak punya waktu meladeni anjing menggonggong," balas Yin Yue dingin.

Wajah Hu Lei mengeras. "Jalang! Berani kau memanggilku anjing?!"

Hu Lei mengangkat tangan kanannya yang besar, berniat menampar wajah Yin Yue untuk mempermalukannya di depan umum. Kekuatan tamparan seorang Dewa Fana Tingkat 5 cukup untuk menghancurkan kepala manusia biasa.

Yin Yue bersiap menangkis, tapi sebelum dia bisa bergerak...

Sebuah tangan yang terlihat biasa saja, tanpa fluktuasi Qi, menjulur dari belakang Yin Yue dan dengan santai menangkap pergelangan tangan Hu Lei di udara.

Tap.

Suaranya sangat pelan, tapi Hu Lei merasa seolah tangannya baru saja dijepit oleh dua gunung baja.

"Apa...?" Hu Lei mencoba menarik tangannya, tapi tidak bisa bergerak satu milimeter pun. Wajahnya mulai memerah karena mengerahkan seluruh tenaga.

Ye Chen melangkah maju, melepaskan tangan Hu Lei, lalu dengan gerakan kasual mengibaskan punggung tangannya ke arah wajah Hu Lei.

Bukan pukulan, hanya sebuah tamparan balasan.

PLAK!

Suara tamparan itu menggema seperti ledakan petir.

Tubuh besar Hu Lei, yang beratnya ratusan kilogram, terangkat dari tanah. Dia berputar tiga kali di udara seperti gasing, memuntahkan darah dan beberapa gigi, sebelum akhirnya menghantam tanah berbatu kawah meteorit dengan suara DUAGH! yang menyakitkan.

Para pengikut Klan Harimau Salju ternganga, rahang mereka nyaris jatuh ke tanah. Tuan muda mereka, seorang jenius Tingkat 5, baru saja ditampar hingga terbang oleh seorang "pelayan"?

Ye Chen mengambil sapu tangan dari sakunya, mengelap tangannya, lalu membuangnya ke tubuh Hu Lei yang setengah pingsan.

"Jangan menghalangi jalan," kata Ye Chen dengan nada bosan.

Dia berbalik menatap Yin Yue dan Yin Xue yang sama-sama mematung karena terkejut.

"Pendaftarannya di sebelah mana?" tanya Ye Chen.

Tanpa menunggu lama, seluruh pelabuhan yang tadinya bising menjadi sunyi senyap. Tatapan ribuan peserta kini tertuju pada Ye Chen, mengubah penilaian mereka dari "pelayan rendahan" menjadi "monster yang menyamar".

Turnamen Pertarungan Bintang belum resmi dimulai, tetapi nama Klan Pedang Perak dan sosok misterius di belakangnya telah menabuh genderang perang pertama.

(Akhir Bab 29)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!