Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. ELARA JADI BOCAH?!
Pagi di Akademi Sihir Oberyn dipenuhi suara dentingan sihir dan percakapan para murid yang sibuk berpindah dari satu kelas ke kelas lain. Matahari musim dingin menyelinap melalui jendela-jendela tinggi bangunan batu, memantulkan cahaya lembut di lantai marmer koridor yang panjang.
Di salah satu ruang kelas praktik sihir, suasana jauh lebih ramai daripada biasanya.
Ruangan itu adalah kelas Rapalan Sihir milik Profesor Calestine.
Di tengah ruangan yang luas, puluhan murid berdiri berpasangan. Mereka memegang tongkat sihir atau memfokuskan mana di telapak tangan, mencoba mengucapkan mantra yang ditulis di papan besar di depan kelas.
Profesor Calestine berdiri di dekat meja pengajar dengan tangan terlipat di belakang punggung.
Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna lavender pucat yang diikat longgar, dan matanya yang tajam memerhatikan para murid dengan ekspresi serius namun elegan.
"Perhatikan intonasi rapalan kalian," kata Profesor Calestine dengan suara tenang. "Kesalahan kecil dalam pengucapan mantra dapat menyebabkan efek yang sama sekali berbeda."
Beberapa murid langsung menelan ludah.
Di akademi sihir, kesalahan kecil memang bisa berakibat ... aneh.
Di salah satu sudut ruangan, Elara Ravens berdiri bersama pasangan praktiknya hari itu, seorang murid laki-laki bernama Zane.
Zane tampak gugup.
"A-aku masih belum yakin dengan rapalan ini," kata Zane sambil memegang buku catatan, membaca mantra yang tertulis lagi dan lagi.
Elara tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa. Kita lakukan perlahan saja."
Zane mengangguk.
Mantra yang mereka latih hari ini adalah mantra resonansi energi, sebuah sihir yang digunakan untuk menyesuaikan aliran mana antara dua pengguna sihir. Sebuah mantra perlindungan jika pengaplikasiannya telah sempurna.
Secara teori mantra ini tidak berbahaya.
Secara teori.
Zane menarik napas panjang. "Baiklah, aku akan mulai."
Elara mengangguk dan mengangkat tangannya untuk memfokuskan mana.
Zane menatap tulisan di bukunya seksama, lalu mulai merapalkan mantra.
"Eldra ... Solvstergh-"
Namun lidah Zane terpeleset. Ia mengucapkan satu suku kata dengan nada yang salah.
Elara sempat mengerutkan kening.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Kilatan cahaya biru tiba-tiba menyala di antara mereka.
"Eh?" Elara bahkan tak sempat bereaksi.
PFOOM!
Ledakan cahaya kecil memenuhi ruangan.
Beberapa murid di dekat mereka menoleh kaget ke arah Zane dan Elara.
Ketika cahaya itu menghilang, Zane berdiri kaku. Tangannya masih terangkat.
Namun orang di depannya ... menghilang.
"E-Elara?" panggil Zane dengan nada mulai panik.
Zane berkedip.
"Ya?" Kemudian terdengar suara kecil dari bawah.
Zane menunduk perlahan.
Di lantai, berdiri seorang gadis kecil berambut hitam sepanjang pinggang menatap Zane bingung.
Gadis kecil itu mengenakan seragam akademi yang kini terlalu besar untuk tubuhnya. Lengan bajunya menggantung. Roknya hampir menyentuh lantai.
Gadis kecil itu mengedipkan mata dengan bingung.
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa detik kemudian ...
"HAH?!" Seluruh kelas meledak.
"Apa itu?!"
"Kenapa Elara jadi kecil?!"
"Zane, apa yang kau lakukan?!"
Zane sendiri tampak seperti ingin pingsan. "A-aku ... aku tidak tahu!"
Profesor Calestine berjalan mendekat dengan langkah cepat.
Ia melihat ke bawah. Kemudian berhenti.
Di depan Profesor Calestine berdiri Elara Ravens versi empat tahun.
Pipi bulat.
Mata besar.
Rambut hitam panjang yang kini jatuh hingga pinggang kecilnya. Seragam akademi yang kebesaran membuatnya terlihat seperti anak kecil yang tersesat di baju orang dewasa.
Profesor Calestine berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Kemudian ... ia menutup mulutnya.
"Ya ampun, Elara."
Beberapa murid langsung ribut dengan decak gemas.
"Lucu sekali."
"Itu benar-benar Elara?"
"Elara kecil. Astaga dia luar biasa imut."
Zane hampir menangis. "Profesor! Saya tidak sengaja! Saya salah mengucapkan mantra!"
Profesor Calestine menghela napas panjang. Ia mengusap dahinya.
"Baik, mari kita lihat," ucap Profesor Calestine. Ia berjongkok di depan Elara kecil. "Elara?"
Namun gadis kecil itu hanya menatap sekeliling dengan bingung. Matanya berkedip melihat begitu banyak orang dewasa mengelilinginya.
Profesor Calestine mengangkat alis. "Menarik. Sepertinya dia tidak ingat siapa dirinya."
Zane panik. "P-Profesor! Bagaimana cara mengembalikannya?!"
Profesor Calestine berdiri kembali. "Sihir transformasi akibat kesalahan rapalan biasanya tidak permanen. Efeknya akan hilang sendiri."
Zane bernapas lega. "B-benarkah?"
"Ya." Profesor Calestine menambahkan dengan tenang, "Dalam dua puluh empat jam."
Seluruh kelas terdiam.
"Elara akan seperti ini dalam dua puluh empat jam?"
Zane langsung memegang kepalanya. "Dua puluh empat jam?!"
Sementara itu Elara kecil mulai melihat sekeliling dengan semakin bingung.
Semua orang terlalu tinggi.
Ruangan terlalu besar.
Ia tidak mengenali siapa pun.
Bibir kecilnya mulai bergetar. "Lala di mana?" tanyanya.
Lalu mata Elara kecil berkaca-kaca.
"Ma ... Mama ..." Suara kecilnya bergetar. "Mama?"
Beberapa murid langsung panik.
"Elara mau menangis!"
"Bagaimana ini?!"
Dan benar saja. Detik berikutnya ...
"Huwaaaaaaa!" Tangisan keras memenuhi ruangan.
Elara kecil menangis sambil menggosok matanya. "Papa! Mamaaa! Huwaa!"
Seluruh kelas langsung kacau.
"Apa yang harus kita lakukan?!"
"Ada yang tahu cara menenangkan anak kecil?!"
Zane panik setengah mati. "Aku benar-benar akan mati membuat Elara menangis sekarang."
Profesor Calestine menghela napas lagi. Lalu ia dengan tenang mengangkat Elara kecil ke dalam gendongannya.
"Sudah, sudah," Profesor Calestine mengusap punggung kecil Elara. "Tidak apa-apa."
Namun Elara masih menangis keras. "Mamaaa! Papa!"
Profesor Calestine mencoba menenangkan Elara, lalu berkata pada murid lainnya, "Baiklah. Pelajaran hari ini selesai."
Seluruh kelas terdiam
Profesor Calestine menatap Zane. "Dan kau ... jangan menyentuh buku mantra apa pun selama sisa hari ini."
Zane langsung mengangguk dengan wajah pucat.
Profesor Calestine berjalan keluar kelas sambil menggendong Elara kecil.
Tangisan gadis kecil itu masih terdengar.
Di koridor akademi, banyak murid yang menoleh penasaran.
"Siapa anak itu?"
"Lucu sekali."
"Kenapa Profesor Calestine menggendong anak kecil?"
Beberapa murid langsung menyadari sesuatu.
"Eh, anak itu mirip dengan Elara dari divisi Vanguard."
Bisik-bisik langsung menyebar.
Elara kecil masih menangis di bahu profesor.
Akhirnya mereka sampai di kantor guru.
Begitu pintu dibuka, beberapa profesor yang sedang duduk langsung menoleh.
"Profesor Calestine? Kau kembali cepat seka-"
Kemudian mereka melihat gadis kecil di gendongan Calestine.
"Itu anak siapa?"
Profesor Calestine meletakkan Elara di kursi besar dan menjawab, "Ini Elara Ravens."
Ruangan langsung hening.
"APA?!"
Para profesor langsung berdiri dan melihat Elara dengan seksama.
Calestine menjelaskan dengan tenang kesalahan rapalan sihir dari pasangan praktik Elara di kelas tadi.
Seorang profesor menghela napas. "Akademi ini tidak pernah membosankan. Ada saja yang terjadi."
Calestine menyandarkan dagunya di tangan. "Efeknya akan hilang dalam dua puluh empat jam. Jadi seharusnya bukan masalah."
Elara kecil sudah berhenti menangis, tapi masih mengendus. Matanya yang besar melihat sekeliling dengan hati-hati.
Seorang profesor wanita tidak bisa menahan diri.
"Lucu sekali. Jadi seperti ini Elara Ravens saat kecil."
"Matanya bulat besar."
"Lihatlah pipi gembul itu."
"Benar-benar seperti boneka."
Calestine berkata, "Aku akan mengirimnya pulang ke kediaman Duke Oberyn."
Namun tepat saat itu pintu ruang guru terbuka.
Seorang pemuda tinggi berambut pirang masuk ke dalam ruangan dengan berkas di tangannya. Seragam Student Council tampak rapi di tubuh pria itu.
Aaron Oberyn.
Ia tampak hendak mengatakan sesuatu kepada salah satu profesor. Namun langkahnya berhenti.
Matanya tertuju pada kursi di tengah ruangan.
Seorang gadis kecil berambut hitam duduk di sana.
Seragam akademi kebesaran.
Pipi masih sedikit merah karena menangis.
Mata besar dan jernih.
Aaron berkedip.
Sekali.
Dua kali.
"Lala?!" Aaron terkejut luar biasa. Tidak mungkin ia tidak mengenali sosok mungil itu.
Gadis kecil itu menoleh. Matanya menatap Aaron dengan bingung.
Beberapa detik hening.
Kemudian Aaron menutup wajahnya dengan tangan. Dan tertawa kecil tidak percaya.
"Astaga, aku bisa mati senang rasanya," gumam Aaron.
Siapa sangka senyum senang merekah di wajah Aaron ketika ia melihat pujaan hatinya kini dalam versi kecil yang sama dengan yang Aaron ingat saat mereka kecil.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣