NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Cerai
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibu Mertua & Adik Ipar

Di dalam lift, Hans menatap kalung kristal itu dengan perasaan hampa. Meskipun ia sudah menduganya, ia tetap sedih karena pernikahannya berakhir begitu saja.

Dulu ia mengira kebahagiaan itu sederhana, makanan tersaji di meja, hari-hari yang ceria, dan kesenangan kecil yang cukup. Sekarang ia sadar bahwa hidup biasa justru dianggap dosa. Sudahlah. Sudah waktunya ia bangun dari lamunan panjang ini.

Tiba-tiba HPnya berdering, memaksanya keluar dari lamunannya. Saat ia mengangkatnya, suara yang familiar terdengar dari seberang.

"Pak Rinaldi, saya Andy Palumbo dari Jakarta Group. Saya dengar hari ini ulang tahun pernikahan Anda dengan Nona Rasheed, jadi saya sudah menyiapkan hadiah untuk Anda. Saya ingin tahu apakah Anda punya waktu hari ini?"

"Terima kasih atas niat baik Anda, tapi sepertinya kami tidak membutuhkan hadiah itu," kata Hans.

"Kenapa?"

Andy terdengar terkejut. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

"Ada hal lain yang ingin Anda bicarakan, Pak Palumbo?"

"Sebenarnya ada." Andy berdeham canggung. "Saya punya teman yang terkena penyakit aneh. Dia sudah menemui banyak dokter, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Saya berharap Anda bisa membantu."

"Pak Palumbo, Anda tahu aturan saya."

"Tentu saya tahu. Saya sungguh-sungguh memohon. Teman saya memiliki beberapa Canscora, dan saya ingat Anda sedang mencarinya. Saya yakin dia bersedia memberikannya jika Anda menolongnya," kata Andy.

"Benarkah?" tanya Hans serius.

"Ya, benar!"

"Kalau begitu, saya bersedia melihat kondisinya."

Hans langsung menyetujui permintaan itu.

Ia tidak tertarik pada uang atau perhiasan, melainkan tanaman obat langka yang ia butuhkan untuk menyelamatkan nyawa.

"Terima kasih, Pak Rinaldi! Saya akan segera mengirim seseorang menjemput Anda!" kata Andy dengan lega.

Sebagai presiden Jakarta Group sekaligus salah satu dari Crazy Rich di Jakarta, Andy justru bersikap sangat hati-hati di hadapan Hans.

"Satu lagi beres, tinggal lima. Waktu aku harusnya cukup," gumam Hans pelan. Kabar ini sedikit memperbaiki suasana hatinya.

Dengan bunyi denting, pintu lift terbuka. Begitu ia melangkah keluar dari gedung, ia melihat dua sosok yang dikenalnya berjalan ke arahnya. Mereka adalah ibu Tiffany, Sarrah Hussein, dan adiknya, Rorry Rasheed.

"Ma, Rorry, kenapa kalian ke sini?" sapa Hans.

"Kamu dan Tiffany sudah bercerai?" Sarrah langsung bertanya tanpa basa-basi.

"Iya, kami sudah berpisah." Hans tersenyum kaku. "Ini bukan salah Tiffany, ini salah aku. Tolong jangan salahkan dia, Ma."

Ia berniat mengakhiri pernikahan itu dengan baik. Namun Sarrah mendengus dingin mendengar jawabannya.

"Jelas lah ini salah kamu. Aku kenal anakku. Kalau kamu tidak melakukan kesalahan, kenapa dia mau menceraikanmu?"

Hans tertegun.

Apa wanita ini menyalahkan korban?

"Ma, Mama tahu bagaimana aku memperlakukannya selama tiga tahun terakhir. Aku yakin aku gak pernah mengkhianati kepercayaannya," kata Hans.

"Siapa yang tahu apa yang kamu lakukan di belakang kami?" Sarrah mendengus lagi. "Anakku benar menceraikanmu. Lihat dirimu. Kamu jelas tidak selevel dengannya!"

"Ma, apa Mama gak merasa sudah keterlaluan?" Hans mengerutkan kening.

Kalau saja tiga tahun lalu ia tidak membantu keluarga Rasheed, mereka tidak mungkin berada di posisi sekarang.

"Berlebihan? Memangnya kenapa kalau iya? Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya?" Sarrah menyilangkan tangan di dada.

"Sudah cukup, Ma. Jangan buang-buang waktu sama dia." Rorry tiba-tiba melangkah maju. "Dengerin baik-baik, Rinaldi. Aku gak peduli kamu cerai atau gak sama kakak aku, tapi kamu harus kasih semua uang yang kamu terima dari dia."

"Uang? Uang apa?" Hans benar-benar kebingungan.

"Jangan pura-pura bego! Aku tahu kakak aku kasih kamu 200 Miliar sebagai uang cerai!" kata Rorry dingin.

"Betul! Itu uang anakku. Kamu gak berhak mengambilnya! Kembalikan sekarang!" Sarrah mengulurkan tangan menuntut.

"Aku gak mengambil uang apa pun darinya," Hans menyangkal.

"Omong kosong! Siapa yang nolak 200 Miliar? Kamu kira kami bodoh?" Rorry sama sekali tidak percaya.

"Rinaldi, sebaiknya kamu tahu diri dan serahkan uang itu. Jangan sampai Mama marah!" ancam Sarrah.

"Kalau gak percaya, kalian bisa telepon Tiffany dan tanya langsung." Hans tidak ingin menjelaskan lebih jauh.

"Apa sekarang kamu mengancam kami? Dengar, mau kamu memohon seperti apa pun, aku gak akan membiarkanmu pergi membawa satu sen pun dari milik kami!" Sarrah menggeram.

"Ma, dia bebal banget. Kita geledah aja kantongnya!" kata Rorry tak sabar. Ia langsung merogoh kantong Hans.

Sarrah pun ikut menggeledah.

"Ma, apa Mama harus melakukan ini?" Hans mengernyit.

Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini oleh keluarga Rasheed begitu cepat setelah perceraian. Mereka benar-benar kejam.

Sarrah meludah ke tanah dengan jijik.

"Siapa yang kamu panggil Mama? Jaga mulutmu. Kamu pikir kamu siapa?" katanya sambil terus mengobrak-abrik kantong Hans.

Beberapa saat kemudian, mereka tidak menemukan apa yang mereka cari.

"Sialan, jangan-jangan dia memang gak ambil uangnya?" kata Rorry kesal.

Tiba-tiba ia melihat kalung kristal di leher Hans dan menariknya dengan kasar.

"Bukannya ini kalung kakakku? Kenapa ada sama kamu? Kamu nyuri, ya?" tuntut Rorry.

"Itu pusaka keluarga Rinaldi. Kembalikan!" kata Hans, wajahnya menggelap.

Ia mungkin menolak uang, tetapi ia tidak akan melepaskan kenang-kenangan terakhir dari ibunya.

"Pusaka keluarga? Berarti ini berharga dong?" Mata Rorry langsung berbinar.

"Kalau begitu, Rinaldi, anggap saja ini sebagai pembayaran atas tiga tahun kamu menumpang hidup bersama kami. Ayo pergi!" Sarrah memberi isyarat pada putranya dan bersiap pergi.

"Berhenti!" Hans mencengkeram pergelangan tangan Rorry. "Kembalikan kalung itu!"

"Aduh! Sakit! Lepasin!" Rorry meringis kesakitan.

"Kembalikan," ulang Hans dengan nada berbahaya.

"Sial, mending aku buang daripada balikin ke kamu!"

Menyadari ia tak mampu melepaskan diri, Rorry melempar kalung itu ke tanah. Dengan bunyi nyaring, kalung kristal itu pecah menjadi beberapa bagian.

Wajah Hans memucat. Itu satu-satunya benda yang ia miliki untuk mengenang ibunya.

"Berani banget kamu nyentuh aku! Mending aku hancurin daripada balikin ke kamu!" kata Rorry sambil mengusap pergelangan tangannya yang sakit.

Hans mengepalkan tinju begitu kuat hingga jarinya berderak. Matanya memerah dipenuhi amarah.

"Bajingan!" Tak mampu lagi menahan amarahnya, Hans menampar wajah Rorry.

Tamparan itu begitu keras hingga tubuh Rorry terputar tak terkendali sebelum jatuh ke tanah. Kepalanya berputar hebat sampai ia tak mampu berdiri.

"Kalau Mamamu gak peduli ngajarin sopan santun, biar aku yang ngajarin!" Hans mencengkeram rambutnya dan menyeretnya bangun, lalu menamparnya berkali-kali.

Wajah Rorry segera berlumuran darah.

"Berani sekali kamu memukul anakku!" Sarrah menjerit sambil berusaha menolong putranya.

"Minggir!" Hans menoleh dan menatapnya tajam. Tatapan itu begitu dingin dan mengintimidasi hingga Sarrah membeku di tempat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!