NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Gerbang Surga Keempat

Surga Ketiga - Perbatasan Dataran Ilusi.

Tiga puluh dua kapal perang Malam Abadi membelah lautan awan merah Surga Ketiga, melambat saat mereka mendekati batas wilayah yang memisahkan dunia fana dan tempat persemayaman para pertapa kuno.

Di depan mereka, tidak ada tembok batu atau pusaran dimensi yang buas. Yang ada hanyalah sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari kabut putih bercahaya. Di bawah gerbang itu, duduk bersila sesosok Proyeksi Roh seorang pria tua dengan janggut putih yang menjuntai hingga menembus awan, memegang sebuah pengocok debu dari bulu bangau kosmik.

Pria tua itu membuka matanya yang seputih susu. Meski ia hanyalah proyeksi, tekanannya membuat lambung kapal perang emas yang telah dicat hitam itu berderit pelan.

"Niat membunuh yang begitu pekat menodai jubahmu, Pemuda Fana," suara pertapa kuno itu mengalun damai, menolak terpengaruh oleh aura dominasi Shen Yu maupun hawa es Lin Xue. "Aku adalah Penjaga Gerbang Nirwana dari Surga Keempat. Kaisar Taiyi telah menyetujui pembukaan Turnamen Penentuan Era. Jika kau ingin menembus Surga Kesembilan tanpa membakar seluruh lapisan dunia, ini adalah jalanmu."

Shen Yu melayang keluar dari geladak, berhenti sejajar dengan wajah proyeksi raksasa tersebut. Tangannya disembunyikan di balik lengan jubah hitamnya.

"Sebutkan aturannya, Orang Tua. Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan khotbah tentang moralitas," potong Shen Yu dingin.

Penjaga Gerbang Nirwana mengelus janggutnya, tidak terpancing emosi. "Sederhana. Tiga pertarungan hidup dan mati di Arena Kehampaan Surga Keempat. Faksi Malam Abadi melawan perwakilan Pengadilan Langit Kesembilan. Pihak yang memenangkan dua dari tiga pertarungan berhak mendapatkan Kepingan Kunci Surga Kesembilan. Namun, jika kau kalah... eksistensimu akan dihapus oleh Hukum Mutlak arena itu sendiri."

"Tiga pertarungan," Shen Yu menyeringai, matanya memancarkan arogansi absolut. "Sangat efisien. Kapan arena itu dibuka?"

"Dalam waktu tujuh hari fajar Surga Ketiga," jawab pertapa itu, perlahan memudar kembali menjadi kabut. "Pilih tiga petarung terbaikmu, Kaisar Malam. Taiyi tidak akan mengirim eksekutor rendahan kali ini. Ia akan mengirim monster-monster yang disembunyikan oleh sejarah."

Proyeksi itu lenyap, meninggalkan armada Malam Abadi mengambang dalam keheningan.

Shen Yu berbalik dan mendarat kembali di geladak kapal utama. Lin Xue telah menunggunya, didampingi oleh Yao Ji yang menunduk patuh dan Mo Han yang bersiaga.

"Guru, tiga pertarungan," Lin Xue menganalisis dengan cepat, mata ungunya berkilat. "Kau akan mengambil satu slot. Aku akan mengambil slot kedua. Kita membutuhkan satu orang lagi untuk memastikan kemenangan utuh, atau setidaknya memancing kekuatan lawan."

Shen Yu mengalihkan pandangannya, menatap Yao Ji dan Mo Han secara bergantian.

Yao Ji adalah mantan dewi di ranah Dewa Sejati Tahap Menengah. Secara teori, ia sangat kuat. Namun ia hidup dalam kemewahan Kuil Teratai Darah; mental tempurnya lebih rapuh dari vas porselen. Di sisi lain, Mo Han memiliki mentalitas anjing liar yang menolak mati, namun kultivasinya masih terjebak di Dewa Fana Tahap Awal, sebuah ranah yang akan hancur hanya oleh hembusan napas juara Pengadilan Langit.

"Kalian berdua sangat memalukan," desah Shen Yu, menggelengkan kepalanya pelan.

Mo Han langsung bersujud hingga dahinya membentur lantai kayu. "Hamba tidak berguna, Kaisar Malam! Hamba pantas mati!"

Yao Ji memucat, mencoba mempertahankan keanggunannya. "K-Kaisar Malam, hamba menguasai Dao Pesona. Mungkin hamba bisa—"

"Menari untuk mereka?" cemooh Shen Yu. "Di arena kematian, pesona adalah senjata untuk pelacur, bukan pejuang."

Shen Yu mengangkat tangan kanannya. Cincin perak dan kilat emas di mata kirinya berputar liar. Ruang dimensi di atas geladak kapal tiba-tiba robek, menciptakan sebuah pusaran gelap yang memancarkan raungan binatang purba dan hawa panas yang mendidih.

"Aku akan menggunakan Dao Waktu-ku dan sisa esensi dari Akar Fusang," deklarasi Shen Yu, memadatkan sebuah dimensi saku di udara. "Satu hari di luar adalah sepuluh tahun di dalam. Kalian memiliki tujuh hari. Tujuh puluh tahun di neraka sakuku."

Yao Ji membelalak ngeri. "T-Tujuh puluh tahun?! K-Kaisar, tolong! Sutra dan kulit hamba—"

"Xue'er," Shen Yu tidak memedulikan rengekan sang dewi. "Masukkan sepercik Dao Kehidupan-mu ke dalam dimensi itu. Jangan biarkan mereka mati. Hancurkan tulangnya, biarkan tersambung, dan hancurkan lagi."

"Sesuai keinginanmu," Lin Xue menyeringai tipis, menjentikkan jarinya. Dua kelopak teratai es melesat dan menempel di dahi Mo Han dan Yao Ji.

Tanpa basa-basi, Shen Yu menjulurkan tangannya. Ketiadaan menyedot tubuh Mo Han dan Yao Ji secara paksa. Keduanya menjerit histeris sebelum tertelan ke dalam pusaran gelap yang langsung tertutup rapat.

Selama tujuh hari berikutnya, armada Malam Abadi mengambang dalam keheningan yang menegangkan.

Satu-satunya hiburan bagi Shen Yu dan Lin Xue adalah mendengarkan gema samar dari dalam dimensi saku tersebut. Di hari pertama (sepuluh tahun di dalam), terdengar jeritan Yao Ji yang meratapi kuku dan rambutnya yang terbakar oleh api ilusi Gagak Emas. Di hari ketiga, suara Mo Han yang memaki-maki tulang rusuknya sendiri terdengar serak.

"Teriakan Dewi Buangan itu terlalu tinggi nadanya di awal, tapi sekarang sudah lebih bernuansa keputusasaan yang murni," komentar Lin Xue sambil menyesap teh seduhan daun embun kosmik, duduk di hadapan Shen Yu di atas geladak.

"Penderitaan adalah penempa yang paling jujur," Shen Yu memutar cawan tehnya, matanya menatap kabut Surga Keempat. "Jika mereka tidak gila setelah tujuh puluh tahun, maka salah satu dari mereka layak berdiri di belakang bayanganku."

Tepat pada hari ketujuh, saat fajar Surga Ketiga menyingsing.

CRACK!

Pusaran dimensi itu robek dari dalam. Dua sosok terlempar keluar, menghantam geladak kapal dengan suara debuman berat.

Para prajurit Malam Abadi menahan napas.

Sosok pertama yang bangkit adalah Yao Ji. Gaun sutra mewahnya telah berubah menjadi compang-camping yang hangus. Rambut peraknya dipotong kasar sebatas leher karena terbakar. Wajahnya dipenuhi debu dan bekas luka yang baru saja menutup. Namun, matanya... mata delima yang dulunya dipenuhi pesona murahan itu kini memancarkan niat membunuh sedingin pembunuh bayaran dari dunia bawah. Dao Pesona-nya telah ia ubah secara paksa menjadi Dao Ilusi Kematian.

Di sebelahnya, Mo Han berdiri. Tubuh kurusnya kini dipenuhi otot padat yang dipenuhi bekas sayatan. Ia kehilangan satu matanya, ditutupi oleh kain compang-camping, namun auranya telah meledak menembus batasan fana. Bertarung nyawa tanpa henti selama tujuh puluh tahun telah memaksanya menerobos ke Dewa Fana Tahap Puncak!

Keduanya tidak merintih. Mereka melangkah maju secara serentak, lalu berlutut di hadapan Shen Yu dengan satu kaki, memancarkan aura prajurit elit yang sejati.

"Hamba... telah kembali," suara Yao Ji parau, tanpa nada godaan sedikit pun.

"Pedang berkarat ini siap meminum darah surga, Tuan!" Mo Han meninju dadanya sendiri.

Shen Yu meletakkan cawan tehnya. Ia bangkit berdiri, menyandarkan Pemutus Samsara Primordial di bahunya. Senyum tiraninya mengembang lebar, melihat mahakarya kekejamannya.

"Cukup bagus untuk menutupi kursi kosong," kata Shen Yu, berbalik menghadap gerbang kabut Surga Keempat. "Majukan armada! Kita buat Kaisar Taiyi tersedak oleh arogansinya sendiri!"

1
saniscara patriawuha.
gasssssd deuiiiii
saniscara patriawuha.
gasssdd...
saniscara patriawuha.
hancurrrrkannnn
Indah Hidayat
terlalu sombong si mc shg terkesan halu
Indah Hidayat
si mc terlalu gampang menang walau beda 1 ranah...agak aneh, dipaksain shg jadi tdk alami, tdk masuk diakal.
Indah Hidayat
baru kali ini baca novel si mc arogannya tingkat dewa
Mamat Stone
terus berkarya Thor 💥💥💥🙏
Mamat Stone
Sehat dan sukses selalu Thor 🙏
Mamat Stone
/Casual/💥💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
💥💥
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
/Hammer/💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!