NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: BALASAN DARI SEORANG DATUK

---

Malam itu, lampu minyak di gudang Maringgih menyala lebih terang dari biasanya.

Di atas meja, dua surat tergeletak berdampingan—surat dari Halimah yang basah oleh air mata, dan kertas kosong yang menanti diisi.

Maringgih membaca surat itu sekali lagi. Perlahan. Setiap kata, setiap kalimat, setiap tetes air mata yang membekas.

"Jangan benci saya..."

Dadanya sesak.

---

Sudah tiga kali ia membaca surat itu. Tiga kali ia merasakan getar yang sama.

Anak ini... ia menderita. Ia hancur. Tapi ia tetap berusaha.

Maringgih menghela napas. Ia mengambil pena. Kertas kosong di depannya.

Tapi sebelum menulis, ia merenung sejenak. Memikirkan kejadian di kebun pala. Memikirkan Sulaiman yang memaki-maki warga. Memikirkan Halimah yang menangis di pinggir kebun.

Ia bukan ayahnya. Ia tidak bersalah.

Ia mulai menulis. Tangannya tegas, huruf-hurufnya jelas—tidak seperti surat Halimah yang gemetar dan basah. Ini surat dari seorang Datuk. Maskulin. Tegas. Tapi tetap ada kelembutan di sudut-sudutnya.

---

Kepada Halimah,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halimah,

Suratmu sudah kubaca. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali membaca, aku melihat kejujuran yang jarang kudapatkan dari orang dewasa, apalagi dari seorang gadis seusiamu.

Ia berhenti. Memilih kata berikutnya.

Tentang kejadian di kebun pala—aku tahu kau melihatnya. Aku tahu kau menyaksikan semuanya. Aku juga tahu, kau bukan pelakunya. Darah yang tumpah itu bukan di tanganmu. Maka jangan sekali-kali kau merasa bersalah atas apa yang tidak kau lakukan.

Yang bersalah adalah yang memukul. Yang bersalah adalah yang merebut. Yang bersalah adalah yang memerintahkan kekejaman itu. Dan itu—maafkan aku—adalah ayahmu.

Maringgih menghela napas. Ini bagian tersulit.

Tapi aku tidak membenci ayahmu, Halimah. Aku tidak membencinya sebagai manusia. Yang aku benci adalah sifat yang menempel di kepalanya—keserakahan, ketakutan kehilangan jabatan, dan kelupaan dari mana ia datang.

Itu yang aku lawan. Bukan dirinya.

---

Ia melanjutkan.

Dan tentang dirimu...

Pena berhenti sejenak.

Aku tidak pernah membencimu. Sekali pun tidak. Bahkan saat aku melihatmu di pinggir kebun, yang aku rasakan bukan benci. Tapi... sedih. Sedih karena kau harus menyaksikan semua itu. Sedih karena kau harus menanggung malu yang tidak seharusnya kau tanggung.

Kau bertanya apakah aku akan membencimu karena kau anak Sulaiman. Kau bertanya apakah warga akan membencimu.

Halimah, orang boleh melihat darimu dari siapa ayahmu. Tapi orang juga bisa melihat darimu dari siapa dirimu sendiri. Dan aku—aku melihat yang kedua.

Mata Maringgih basah. Tapi ia terus menulis.

Ada satu hal yang mungkin kau tidak tahu. Saat aku memarahi ayahmu di kebun, aku melakukannya dalam bahasa Belanda.

Kenapa? Bukan karena aku ingin menyombongkan diri. Tapi karena aku tidak ingin warga kampung mengerti apa yang aku katakan.

Ia berhenti. Menarik napas.

Aku memarahinya dengan keras. Aku menghajarnya dengan kata-kata. Tapi aku lakukan itu dalam bahasa yang hanya ia dan kau pahami. Karena meskipun ia salah, ia tetap seorang Datuk. Ia tetap ayahmu. Dan aku—aku tidak ingin ia jatuh martabatnya di depan semua orang.

Itu untuknya. Dan untukmu.

Maafkan aku jika kata-kataku terlalu keras. Maafkan aku jika aku telah menghina ayahmu. Bukan maksudku menjatuhkan harga dirinya di depan umum. Aku hanya ingin ia sadar. Aku hanya ingin ia berhenti.

---

Maringgih berhenti sejenak. Matanya menerawang.

Halimah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan. Aku tidak tahu apakah ayahmu akan berubah. Aku tidak tahu apakah warga kampung akan bisa menerima kalian kembali. Tapi satu hal yang aku tahu: kau tidak sendiri.

Jika kau butuh tempat bicara, aku di sini. Jika kau butuh seseorang yang mengerti, aku di sini. Bukan sebagai Datuk. Bukan sebagai musuh ayahmu. Tapi sebagai... seseorang yang peduli.

Karena jujur saja, Halimah—

Pena berhenti. Maringgih menatap kalimat itu. Haruskah ia menulis ini?

Tapi ini jujur. Ini dari hati.

—kau telah membuat hati ini bergerak lagi. Setelah sekian lama mati rasa, setelah Aminah pergi, kau datang dengan keberanian dan kejujuran yang membuatku... tidak bisa berpaling.

Perlahan, bayangan masa lalu mulai tergantikan. Bukan karena aku lupa. Tapi karena aku belajar bahwa hidup harus terus berjalan. Dan kau—kau membuatku ingin terus berjalan.

Terima kasih sudah menulis. Terima kasih sudah percaya padaku.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Maringgih

---

Ia meletakkan pena. Surat itu ia baca ulang. Satu kali. Dua kali.

Ini dia. Ini aku. Apa adanya.

Ia melipat surat itu dengan hati-hati. Memasukkannya ke dalam amplop. Di bagian luar, ia menulis:

Untuk Halimah

---

Pintu gudang terbuka. Dullah masuk tanpa mengetuk—kebiasaan yang hanya ia lakukan karena sudah seperti keluarga.

"Tuan, masih nulis? Udah malam, Tuan."

Maringgih menoleh. "Baru selesai."

Dullah melihat amplop di tangan tuannya. Ia tersenyum miring.

"Itu balasan buat Neng Halimah, Tuan?"

Maringgih mengangguk.

Dullah berani-berani bertanya, "Boleh saya tahu isinya, Tuan?"

Maringgih menatapnya. "Berani sekali kau."

Dullah tersenyum. "Maaf, Tuan. Saya cuma penasaran. Tuan nggak pernah segelisau ini. Biasanya kalau urusan dagang, selesai. Tapi kalau urusan Neng Halimah..." ia mengangkat bahu.

Maringgih diam. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit.

"Kau ini," gumamnya.

Dullah mendekat. "Tuan, saya boleh bicara jujur?"

"Boleh."

"Saya senang Tuan akhirnya... hidup lagi. Sejak Aminah pergi, Tuan kayak patung. Sibuk, kerja, tapi nggak hidup. Sekarang..." Dullah tersenyum. "Sekarang Tuan kelihatan seperti manusia lagi."

Maringgih tertegun. Ia tidak menyangka Dullah bisa berkata seperti itu.

"Kau pikir aku terlalu banyak berpikir?"

Dullah mengangguk. "Iya, Tuan. Tapi itu wajar. Cinta emang bikin orang banyak pikiran." Ia tertawa kecil. "Saya juga pernah ngalamin, Tuan. Sebelum istri saya meninggal."

Maringgih tersenyum. "Kau ini... berani sekali."

"Maaf, Tuan. Saya cuma... saya lihat Tuan berubah. Dan saya senang. Itu saja."

Maringgih menghela napas. "Dullah, besok pagi kau antar surat ini ke Mak Ijah. Sampaikan pesan: 'Terima kasih sudah menjaga Halimah.'"

Dullah menerima amplop itu. "Siap, Tuan. Tapi kalau Mak Ijah tanya kabar Tuan, saya jawab apa?"

Maringgih diam. Lalu berkata, "Katakan... aku baik-baik saja. Dan aku akan terus menunggu kabar darinya."

Dullah tersenyum lebar. "Saya sampaikan, Tuan."

---

Dullah pergi. Maringgih sendirian.

Ia kembali ke jendela. Memandang kampung yang gelap. Di sana, di rumah besar yang sunyi, seorang gadis mungkin sedang terjaga, menunggu kabar.

Halimah... kau telah membuat hati ini bergerak lagi.

Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun, senyum itu tulus.

Bayangan Aminah perlahan memudar. Bukan hilang. Tapi bergeser. Memberi ruang untuk seseorang yang baru.

Mungkin ini saatnya.

Angin malam berdesir. Hangat. Berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Dan Maringgih, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, merasa... hidup.

---

[Bersambung ke Bab 34..]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!