NovelToon NovelToon
Cinta Diruang Trauma

Cinta Diruang Trauma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Anjelisitinjak

Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 29

Pagi di hari kedua ini terasa jauh lebih tenang, meskipun aroma khas rumah sakit masih setia menyelimuti indra penciumanku.

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis cahaya di atas lantai porselen yang dingin. Aku baru saja selesai sarapan dan sedang berusaha memosisikan diriku agar lebih nyaman saat tiba-tiba pintu kamar rawatku berderit pelan.

​Mataku membelalak. Sosok yang muncul di sana adalah seseorang yang saat ini paling ingin sekaligus paling tidak ingin aku temui.

​Tomi.

​Laki-laki itu melangkah masuk dengan ragu, tangannya membawa sebuah keranjang buah yang tertata rapi dan sebuket bunga lili putih yang segar. Wangi bunga itu seketika menyeruak, mengalahkan bau obat-obatan yang sejak kemarin mengerak di ruangan ini.

Ia mengenakan kemeja biru muda yang tampak rapi, namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan guratan kelelahan dan kecemasan yang mendalam.

​"Hana..."

suaranya rendah, penuh kelegaan saat melihat mataku terbuka.

​Aku terpaku, jantungku mendadak berdegup tak beraturan.

"Loh, Tomi? Kamu... kamu tahu dari mana aku di sini?" tanyaku dengan suara yang masih sedikit lemah.

​Tomi meletakkan bunga dan buah itu di atas nakas, tepat di samping ponselku yang masih bisu. Ia kemudian menarik kursi yang tadi diduduki Mama, duduk di samping ranjangku dengan tatapan yang seolah sedang memindai seluruh tubuhku untuk memastikan aku benar-benar baik-baik saja.

​"Iya, Hana. Aku tahu dari Om dhani. Kemarin aku terus-menerus menghubungimu tapi tidak ada jawaban, lalu aku memberanikan diri menelepon Papa kamu. Beliau bilang kamu drop dan harus dirawat. Aku... aku khawatir banget, Hana. Rasanya aku nggak bisa tenang kalau belum lihat kamu langsung," jawabnya jujur.

Matanya menatapku lurus, memancarkan ketulusan yang membuatku semakin merasa bersalah.

​Saat ini hanya ada kami berdua.

Mama baru saja pamit sekitar setengah jam yang lalu, katanya ada urusan mendadak di rumah dan sekalian ingin mandi serta mengganti pakaian. Papa sudah pasti berada di perusahaan sejak subuh tadi, mengurus pekerjaan yang sempat tertunda karena menjagaku semalaman. Kesunyian di kamar ini mendadak terasa begitu pekat dan canggung.

​Aku berdehem kecil, mencoba mengusir rasa canggung yang merayap di antara kami. Tanganku tanpa sadar memainkan ujung selimut rumah sakit yang kasar.

"Maaf ya, Tom. Aku nggak bermaksud bikin kamu khawatir. Ponselku... ya, aku memang sengaja mematikannya kemarin."

​Tomi mengangguk pelan, ia tidak tampak marah atau tersinggung.

"Nggak apa-apa, Han. Yang penting sekarang aku sudah lihat kamu sadar. Gimana keadaan kamu sekarang? Masih ada yang sakit? Apa kata dokter?"

​"Sudah lebih baik," jawabku pendek. Aku mencoba memberikan senyum tipis, meski di dalam hati aku merasa seperti seorang pembohong besar.

"Mungkin cuma kecapekan kerja saja."

​Tomi terdiam sejenak. Ia meraih satu tangkai bunga lili dari buket yang dibawanya, lalu memutarnya perlahan dengan jemarinya.

"Hana, aku tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal lain. Tapi sejak pertemuan terakhir kita... sejak aku mengutarakan perasaanku, dan kamu tiba tiba pulang tidak mau bertemu denganku sama sekali lalu, tiba-tiba kamu sakit begini, aku merasa sangat bersalah. Apa... apa perkataanku waktu itu yang membuatmu terbebani sampai jatuh sakit?"

​Pertanyaan Tomi bagaikan hantaman telak tepat di ulu hatiku.

Aku menatap punggung tanganku yang masih diinfus. Bagaimana aku harus mengatakannya? Bagaimana aku harus menjelaskan bahwa pemicu hancurnya mentalku bukanlah dia, melainkan bayangan masa lalu

​"Bukan, Tom. Bukan karena itu," ucapku lirih. Aku tidak berani menatap matanya.

"Kamu nggak salah apa-apa. Kamu orang baik, Tom. Sangat baik."

​"Tapi kamu menghindar, Han," potong Tomi lembut namun tegas.

"Aku bisa merasakannya. Kalau ada sesuatu yang mengganggumu, atau kalau kehadiranku justru membuatmu tidak nyaman, tolong katakan. Aku lebih baik tahu kejujurannya daripada melihatmu menderita sendirian seperti ini."

​Aku menelan ludah.

Ketulusan Tomi benar-benar menjadi beban yang sangat berat. Semakin dia menunjukkan betapa dia peduli, semakin aku merasa tidak layak. Di kepalaku, foto Wira yang sedang memeluk wanita lain itu seolah menertawakanku, mengingatkanku bahwa aku masih terikat pada luka yang belum sembuh, sementara Tomi menawarkan masa depan yang cerah dan bersih.

​"Aku cuma butuh waktu, Tom," bisikku akhirnya.

"Banyak hal yang sedang berkecamuk di kepalaku. Dan berada di sini, di rumah sakit ini, membuatku sadar kalau aku belum benar-benar selesai dengan diriku sendiri."

​Tomi menghela napas panjang, ia meletakkan kembali bunga lili itu dan memberanikan diri menyentuh ujung jemariku yang tidak diinfus. Sentuhannya hangat, sangat berbeda dengan dinginnya air shower yang mengguyurku dua malam lalu.

​"Aku akan tunggu, Hana. Berapa lama pun waktu yang kamu butuh, aku akan tunggu. Aku nggak akan memaksa kamu menjawab sekarang. Fokus saja pada kesehatanmu dulu. Aku cuma ingin kamu tahu, kamu nggak perlu menghadapi semuanya sendirian."

​Aku hanya bisa terdiam, membiarkan keheningan kembali menguasai ruangan.

Di luar, suara perawat yang sedang mendorong kereta medis terdengar samar-samar, namun di dalam sini, waktu seolah berhenti.

Aku menatap Tomi sekali lagi. Di bawah cahaya lampu rumah sakit yang pucat, aku bisa melihat dengan jelas binar di matanya binar yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sedang jatuh cinta sedalam-dalamnya. Ketulusan itu terpancar nyata, tanpa topeng, tanpa kepura-puraan. Namun, melihatnya justru membuat dadaku terasa seperti dihantam godam besar.

Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hubungan dengannya sementara aku merasa diriku hanyalah puing-puing bangunan yang sudah hancur total? Aku merasa tidak layak. Sama sekali tidak layak. Jika aku jujur pada hatiku sendiri, ya, aku mencintai Tomi.

Kehadirannya selama ini adalah oase di tengah gurun pasir hidupku yang gersang. Tapi, ada sebuah kejujuran pahit lainnya yang juga tidak bisa kubantah Wira. Nama itu masih bersemayam di sana. Wira masih memiliki tempat, sebuah sudut gelap di hatiku yang belum bisa sepenuhnya kuhapus, apalagi setelah melihat betapa bahagianya dia di atas penderitaanku.

Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian di tengah tubuhku yang masih bergetar hebat. Aku tidak bisa terus membiarkan Tomi bergantung pada harapan yang rapuh. Aku harus mengakhiri ini, meski itu artinya aku harus merobek hatiku sendiri dan hatinya.

"Tom..."

suaraku terdengar parau, hampir pecah di udara yang sunyi.

Tomi sedikit memajukan tubuhnya, menatapku dengan penuh perhatian.

"Iya, Han? Ada apa? Apa ada yang terasa sakit?"

"Maaf... maafkan aku sebelumnya, Tom,"

aku menjeda kalimatku, mencoba menahan air mata yang mulai mendesak keluar.

"Aku tahu betapa besarnya perasaanmu padaku. Aku bisa melihatnya. Tapi, aku merasa aku sama sekali tidak layak untukmu. Kamu... kamu belum benar-benar tahu siapa aku yang sebenarnya. Kamu laki-laki yang luar biasa, Tom. Kamu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik, wanita yang utuh, wanita yang tidak punya beban masa lalu sepertiku."

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti terbakar.

"Aku bukan wanita yang pantas untuk kamu dampingi. Maaf banget, Tom. Aku nggak bisa."

Kalimat itu akhirnya meluncur sempurna dari mulutku. Begitu dingin, begitu final.

Aku merasa benar-benar jatuh ke dasar jurang saat mengatakannya. Aku melihat perubahan di wajah Tomi. Binar di matanya meredup seketika, digantikan oleh guncangan emosi yang berusaha ia tahan. Ia terdiam cukup lama, mematung di kursinya sambil menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan campuran antara luka, ketidakpercayaan, dan rasa ingin tahu yang dalam.

"Kenapa, Han?" suaranya kali ini terdengar sangat lirih, hampir seperti bisikan yang menyakitkan.

"Kenapa kamu merasa nggak layak? Apa ini karena status? Atau karena apa? Aku nggak peduli dengan masa lalu atau apapun yang kamu sembunyikan. Aku hanya peduli pada kamu yang ada di depanku sekarang."

Aku memalingkan wajah ke arah jendela, tidak sanggup melihat hancurnya wajah pria yang selalu baik padaku ini.

Dia menunggu jawabanku. Keheningan di antara kami terasa mencekik. Aku tahu, jika aku tidak memberikan alasan yang kejam, dia tidak akan pernah menyerah. Dan jika dia tidak menyerah, dia akan terus terjebak dalam lubang kegelapan bersamaku.

Aku harus menjadi penjahatnya di sini.

"Bukan itu, Tom," ucapku dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan datar. Aku memaksakan diriku untuk menoleh dan menatapnya tanpa ekspresi, meski di dalam sana aku sedang menjerit.

"Sebenarnya... aku memang tidak memiliki perasaan apa pun padamu. Lebih dari itu."

Aku melihat Tomi tersentak, seolah baru saja ditampar dengan keras.

"Selama ini, aku hanya menganggapmu sebagai teman bisnis yang baik. Teman sejak zaman kuliah yang aku hargai profesionalitasnya," lanjutku, setiap kata yang keluar dari bibirku terasa seperti sembilu yang menyayat.

"Perhatianmu, kedekatan kita... aku pikir itu hanya bagian dari persahabatan kita. Tidak lebih. Maaf kalau sikapku selama ini membuatmu salah paham, Tom. Tapi untuk urusan perasaan, hatiku tidak ada di sana."

Kata-kataku terdengar sangat kejam di telingaku sendiri.

Aku baru saja membunuh harapan laki-laki yang paling tulus padaku. Aku melihat Tomi menarik tangannya pelan-pelan dari dekat jemariku. Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya yang tampak goyah.

"Jadi... selama ini hanya aku yang merasa?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Hanya sekedar teman bisnis dan teman kuliah?"

Aku mengangguk pelan, tetap mempertahankan topeng kedinginanku.

"Iya. Hanya itu. Aku nggak mau membohongi kamu lebih jauh lagi, apalagi di kondisiku yang sekarang. Aku ingin semuanya jelas."

Tomi bangkit dari duduknya. Ia tidak marah, ia tidak membentak. Dan itulah yang membuatku semakin hancur. Ia justru tersenyum sebuah senyum paling menyedihkan yang pernah kulihat seumur hidupku.

"Terima kasih atas kejujurannya, Hana," ucapnya dengan nada yang sangat sopan, namun penuh luka.

"Maaf kalau selama ini aku sudah lancang memberikan harapan pada diriku sendiri. Aku... aku permisi dulu. Semoga kamu cepat sembuh."

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Setiap langkahnya terasa sangat berat, dan aku tahu, saat pintu itu tertutup nanti, aku baru saja mengusir satu-satunya cahaya yang mencoba menerangi hidupku yang gelap. Begitu pintu kamar rawat itu tertutup rapat, pertahananku runtuh total.

Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan, terisak tanpa suara di bawah selimut rumah sakit yang dingin.

Aku baru saja membuang Tomi demi bayang-bayang Wira yang bahkan sudah tidak peduli padaku. Aku merasa sangat jahat, sangat kotor, dan sangat sendirian.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
wahhh.....Tomi cowok keren tapi masih misterius nih
🌹Widian,🧕🧕🌹
haiiiii.......mampir nih !
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪
🌹Widian,🧕🧕🌹: mampir juga kak ke karyaku🙏
total 2 replies
li l
next part thor up jam berapa 🤭
Anjeli: hehe ditunggu ya jangan lupa like dan vote nya🫶😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!