Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Raya merasa lega ketika sesi pemotretan itu selesai. Meski awalnya ia keberatan, tapi kini ia hanya bisa tersenyum pasrah. Bu Atika terlihat sangat bahagia melihat hasil foto-foto kehamilan Raya bersama Arya, dan hal itu cukup membuat suasana menjadi hangat. Namun, ketika mereka semua duduk di ruang keluarga untuk melihat hasil cetakannya, ponsel Arya tiba-tiba berdering.
"Sebentar ya Ma, aku angkat telfon dulu," ucap Arya sambil berdiri dan mengangkat telepon.
Raya dan Bu Atika mengangguk. Tak lama kemudian, Arya kembali dengan ekspresi serius.
"Maaf, aku harus segera ke kantor sekarang.
Ada rapat penting dengan klien," katanya.
"Oke Nak, hati-hati di jalan ya," ujar Bu Atika, lalu menepuk pelan bahu Arya.
Sebelum melangkah pergi, Arya melirik ke arah Raya yang duduk diam sambil memainkan jari-jarinya di atas pangkuan. Ia tersenyum.
Setelah Arya pergi, keheningan sempat memenuhi ruangan hingga akhirnya Bu Atika membuka percakapan.
"Raya..." panggilnya pelan.
Raya menoleh dan mengangguk. " Iya Bu."
"Gimana kalau kita istirahat sejenak di taman belakang."
"Boleh Bu."
Mereka berdua kini berjalan menuju taman belakang. Saat mereka duduk suasana senja mulai menyelimuti langit. Bu Atika menarik napas panjang sebelum membuka pembicaraan yang terasa lebih dalam.
"Raya, apa kamu bahagia?"
Raya sedikit tersentak mendengar pertanyaan Bu Atika. "Eh ke...kenapa Ibu bertanya seperti itu?"
Bu Atika tersenyum lalu mengelus lengan Raya, menandakan jika pertanyaan itu tidak apa-apa. "Aku minta maaf atas sikap Arya dulu... Dia sempat berpikir untuk tidak bertanggung jawab padamu karena takut kami tidak setuju dengan pilihannya."
Raya terdiam. Kalimat itu menyentuh sesuatu dalam hatinya. Namun, ia tetap menjaga ekspresi agar tetap tenang. Bu Atika melanjutkan dengan suara lembut namun penuh ketegasan seorang ibu.
"Kami tidak pernah memandang status sosial. Yang kami pedulikan adalah kebahagiaan anak kami... dan sekarang, kebahagiaanmu juga."
Raya tertegun sejenak. Ia hanya bisa tersenyum, menunduk pelan.
"Terima kasih, Bu." ucapnya sedikit kikuk. "Aku tidak ada alasan untuk marah. Unm--, aku mengerti jika memang keluarga Mas Arya tidak bisa menerimaku. Tetapi, sekarang aku bahagia karena keluarga Mas Arya sangat...sangat menerimaku. Meskipun aku hanya wanita sederhana dan biasa saja."
Bu Atika tersenyum, kemudian mengelus lembut tangan Raya. "Kamu sudah seperti anak sendiri sekarang. Dan tak lama lagi, kamu akan melahirkan cucu pertama kami. Setelah itu, Arya akan menikahimu lalu kau akan menjadi bagian dari keluarga ini selamanya."
Raya kembali mengangguk. Namun dalam hatinya, ada gejolak yang tak bisa dia ceritakan. Hubungan mereka hanyalah sandiwara... Tapi semakin hari, perhatian dan kehangatan keluarga Arya membuatnya ragu, haruskah ia terus berpura-pura?
Sementara itu, di kantor Arya...
Setelah sampai di ruangannya, Arya menjatuhkan diri ke kursi besar di balik meja kerjanya. Ia bersandar dan menatap langit-langit sejenak. Ingatannya masih terbayang pada ekspresi wajah Raya tadi tersipu, kikuk, dan penuh kejutan kecil yang membuatnya ingin terus menggoda.
Irsyad yang baru saja masuk membawakan dokumen hanya bisa menahan tawa kecil melihat bosnya yang tersenyum sendiri.
"Bos..." sapa Irsyad dengan wajah serius.
Arya buru-buru merapatkan jasnya dan mengubah ekspresi menjadi serius.
"Mana file-nya?" ucap Arya sebelum Irsyad bertanya sesuatu tentang pemotretan hari ini.
Irsyad menyerahkan map cokelat berisi materi serta riwayat perusahaan klien yang akan mereka temui.
"Ini materi rapat kita dengan klien Pak. Mereka ingin finalisasi kerja sama untuk proyek kuartal depan."
Arya menerima dokumen itu, membuka beberapa halaman penting, dan memindai cepat dengan pandangan tajam.
"Ada perubahan dari presentasi sebelumnya?" tanyanya sambil duduk di kursi utamanya.
Irsyad mengangguk. "Ada. Dan... ada satu hal yang menurutku penting Bos tahu."
Arya mengangkat alis, memberi isyarat agar Irsyad melanjutkan.
"Pak Adrian satu-satunya investor yang masih bertahan di perusahaan Hartawan katanya belum mengatur ulang jadwal pertemuan. Dan itu bukan tanpa alasan."
Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi, mata tajamnya menatap Irsyad penuh selidik. "Apa alasannya?"
Irsyad menghela napas. "Ada desas-desus bahwa perusahaan Hartawan akan menjalin kerja sama strategis dengan... perusahaan milik Pak Yandris."
Sekejap, Arya terdiam.
Pak Yandris.
Nama itu seperti suara sirene yang tiba-tiba meraung dalam kepalanya. Bagai petir menyambar, ia teringat dengan sengketa bisnis beberapa tahun lalu sebuah perusahaan pakaian eksklusif, fokus pada dress wanita kelas atas, yang sempat meniru konsep bisnis milik Arya tanpa izin.
"Perusahaan pakaian yang itu?" gumam Arya, setengah tidak percaya.
Irsyad mengangguk. "Iya. Sejak semua klien dan investor menarik diri dari perusahaan, mereka mulai bergandengan dengan tokoh-tokoh bisnis tua yang punya modal kuat, salah satunya Yandris."
"Kenapa Hartawan begitu nekat?" Arya mendesis.
"Karena mereka sedang sekarat. Dan Pak Yandris, seperti biasa, akan memanfaatkan keadaan.
Mungkin dia tidak pernah benar-benar melupakan keinginannya untuk mengambil alih sebagian pasar kita."
Arya mengepalkan tangan. Ini bukan sekadar bisnis. Ini soal prinsip dan harga diri. Dulu ia menahan diri agar tidak mempermalukan Pak Yandris di depan publik, tapi kini lelaki tua itu muncul kembali melalui celah kelemahan Hartawan.
"Kalau benar mereka menjalin kerja sama, kita harus siap. Jangan sampai mereka bangkit dan balik menggigit kita," kata Arya dengan nada dingin.
Irsyad menatap bosnya itu dengan waspada. "Apa kita akan ambil tindakan?"
Arya berdiri, menutup map rapat di hadapannya. Tatapannya menajam, penuh tekad.
"Kita kumpulkan semua data yang kita punya tentang pergerakan mereka. Dan buat simulasi risiko kerja sama Hartawan-Yandris. Aku tidak akan membiarkan mereka merusak reputasi kita."
Irsyad mengangguk, "Baik, akan langsung saya siapkan."
Namun dalam pikirannya, Arya tahu, ini bukan hanya tentang bisnis. Dan itu berbahaya.
"Aku juga ingin tahu siapa saja yang saat ini masih berdiri di belakang Hartawan. Siapa investor baru mereka, siapa yang pergi, siapa yang datang."
"Baik," jawab Irsyad cepat.
Sebelum Irsyad sempat melangkah keluar dari ruangan Arya, Irsyad menoleh kearah Arya.
"Pak Arya..."
Arya menoleh, menatap asistennya yang masih berdiri dengan ekspresi penuh pertimbangan di depan pintu ruangannya.
Irsyad menatap Arya dengan serius, lalu dengan suara yang lebih rendah ia bertanya, "Apakah rencana Bapak untuk membantu Bu Raya membalas dendam kepada keluarga Hartawan masih akan berjalan sesuai rencana... ataukah akan berubah setelah mendengar kabar bahwa perusahaan Pak Yandris bergabung dengan mereka?"
Pertanyaan itu meluncur seperti peluru pelan yang tepat sasaran. Menusuk tepat ke dalam benak Arya.
Ia tidak langsung menjawab.
Tangannya menggenggam map rapat erat, dan rahangnya sedikit mengeras. Mata Arya menatap lurus ke arah Irsyad, seolah mencari sesuatu yang bisa menjelaskan keraguan dalam dirinya.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Arya pelan, tapi tegas.
Irsyad melangkah mendekat, suaranya tetap tenang namun ada ketegasan di dalamnya. "Karena saya tahu... rencana ini bukan sekadar untuk menjatuhkan perusahaan mereka. Tapi juga untuk mengembalikan harga diri Bu Raya. Untuk menunjukkan bahwa dia bukan perempuan yang bisa dibuang seenaknya."
Arya menarik napas panjang. "Kamu benar."
"Tapi Pak Yandris bukan lawan yang bisa dianggap remeh. Dia penuh intrik dan tidak segan mengorbankan siapa saja," lanjut Irsyad. "Kalau Bapak melanjutkan rencana ini, itu berarti kita akan membuka dua front peperangan sekaligus. Satu, terhadap keluarga Hartawan. Dan satu lagi, terhadap Yandris yang sekarang masuk dalam permainan mereka."
Arya menunduk sebentar, lalu menatap kembali Irsyad. "Aku tahu. Dan justru karena itulah aku tidak akan mengubah rencanaku. Apa pun yang terjadi."
Irsyad terdiam, menunggu kelanjutan jawaban itu.
"Raya telah terlalu lama dihancurkan oleh mereka. Dibuang, dihina, dianggap tidak berguna... oleh keluarga yang tidak tahu diri itu. Aku tidak akan membiarkan Raya terus menerus bersedih mengingat hal itu."
Mendengar penegasan Arya yang begitu kuat dalam membela Raya, Irsyad hanya bisa tersenyum kecil. Senyum itu bukan karena puas, tapi karena ia seperti baru menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar dendam dan strategi bisnis.
Ia bersedekap, memiringkan tubuhnya sambil menatap Arya yang hendak kembali ke meja kerjanya.
"Sepertinya... bos saya ini benar-benar sudah jatuh cinta, ya?" goda Irsyad dengan nada ringan namun penuh makna.
Langkah Arya terhenti. Ia menoleh, menatap Irsyad dengan alis terangkat. "Jatuh cinta?"
Irsyad mengangguk mantap. "Iya, jatuh cinta. Dan sepertinya bukan cinta yang biasa. Ini tuh... cinta yang pelan-pelan tumbuh tanpa disadari. Romantis banget, bos."
Arya langsung menepisnya, mengibaskan tangan seolah mengusir lalat. "Ck, kamu ini. Terlalu banyak nonton drama. Laki-laki itu jangan terlalu sering nonton Drakor atau dracin, apalagi drama ku menangis."
"Gak ada hubungannya Bos. Saya kasih tahu ya, cinta tuh nggak harus tumbuh karena waktu yang lama. Kadang, baru lihat seseorang... klik. Nyambung. Nggak harus nunggu sering ketemu atau bersama bertahun-tahun dulu," ujar Irsyad, masih dengan senyuman isengnya.
Arya tertawa pelan, lalu memutar-mutar kursi kerjanya. "Kamu itu terlalu percaya cinta instan. Aku ini realistis, Syad. Rasa itu datang kalau sudah terbiasa, sudah kenal lama, sudah tahu luar-dalam."
Irsyad berjalan pelan mendekat ke meja Arya.
"Tapi kadang perasaan itu nggak peduli sama logika. Tiba-tiba saja muncul, dan kita nggak bisa lari darinya. Kaya... sekarang ini, yang Bos alami."
Arya hanya mendengus, membuka laptopnya sambil mengalihkan pandangan. Tapi matanya sempat menerawang, seolah tak mampu menolak kata-kata Irsyad tadi.
Irsyad memperhatikannya dalam diam.
"Bos sadar nggak," lanjutnya, "belakangan ini bos sering tersenyum sendiri, sering melamun sambil mikirin Bu Raya, terus... tiap dengar namanya disebut, respon bos selalu beda. Kalau itu bukan jatuh cinta, terus apa?"
"Sok tahu kamu. Memangnya kalau aku lagi senyum-senyum sendiri, kamu tahu dari mana aku senyum mikirin dia?"
"Ck, hati kecilku berkata dan itu selalu benar."
"Bulshiit."
"Bos ini terlalu jaim untuk mengatakan sebenarnya."
Arya berhenti mengetik.
"Memang aku peduli padanya," katanya akhirnya, pelan. "Tapi karena aku tahu dia butuh bantuan. Dia perempuan yang kuat, tapi pernah dihancurkan. Aku cuma nggak mau dia merasa sendirian."
Irsyad mengangguk pelan. "Dan kadang, dari rasa peduli yang tulus itu, cinta bisa tumbuh."
Arya memandang asistennya itu dalam diam.
"Terserah kamu mau bilang apa, Syad," ujarnya kemudian, berusaha tetap kalem. "Yang jelas, saat ini, prioritasku adalah menjalankan perjanjian kita berdua. Aku butuh wanita untuk menghindari tuntutan dari kedua orangtuaku dan dia butuh perlindungan sekaligus ayah dari anaknya. Itu saja."
Irsyad tersenyum lebar. "Itu aja udah cukup bukti sih, Pak. Yang penting Bapak jaga baik-baik tuh perasaan. Jangan sampai nyesel di akhir."
"Sudah cukup? Kalau kamu tidak ingin mendapatkan tugas tambahan yang membuatmu tidak bisa bermalam mingguan dan tidak bisa tidur, tetaplah diruanganku dan---"
"Saya permisi Bos."
Arya menghela napas kasar kemudian tersenyum tipis mengingat percakapannya dengan Irsyad barusan.