NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cahaya dibalik cadar desa dan kedatangan sang raja neraka

Matahari baru saja memanjat langit Aethelgard, membiaskan cahaya keemasan yang menembus sela-sela embun pagi. Vani menarik napas dalam, menikmati aroma tanah basah dan pinus yang menjadi ciri khas wilayah ini. Baginya, pagi ini adalah pagi yang sempurna untuk berbelanja. Ferdi, suaminya yang kaku itu, telah menyelesaikan pembangunan teras rumah baru mereka, dan Vani merasa rumah itu membutuhkan sentuhan kehangatan—sebuah lampu hias yang cantik dan tentu saja, gulai daging sapi yang melimpah untuk makan malam.

"Ferdi, aku berangkat!" teriak Vani dari depan pagar kayu.

Ferdi yang sedang mengasah cangkul di bawah pohon ek hanya bergumam rendah sebagai jawaban. "Hati-hati. Jangan biarkan siapa pun menyentuh keranjangmu."

Vani terkekeh. "Aku ini Ratu Cahaya, Ferdi. Bukan gadis desa yang rapuh."

Dengan langkah ringan, Vani menyusuri jalan setapak menuju pasar pusat di kota perbatasan. Kota ini adalah tempat bertemunya berbagai ras: manusia, elf, hingga para kurcaci pedagang.

Pertemuan Di Kedai Buku: Sebuah Impian Kecil

Pasar sudah mulai ramai saat Vani sampai. Ia berjalan melewati deretan kios kain, aroma rempah-rempah yang tajam menyengat hidungnya. Namun, langkahnya terhenti di depan sebuah kedai buku kecil yang terletak di pojok pasar. Di sana,

seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun dengan gaun lusuh sedang mendekap sebuah buku dengan sampul berwarna emas yang memudar.

Itu adalah buku Legenda Ratu Cahaya.

Vani berdiri tepat di sebelah anak itu, pura-pura melihat lampu minyak yang dipajang di toko sebelah, namun telinganya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut mungil itu.

"Ibu, lihat! Ratu Vani di sini terlihat sangat gagah!" seru anak itu dengan mata berbinar. "Dia bisa membelah kegelapan hanya dengan satu gerakan tangan. Aku ingin sekali menjadi kuat seperti dia, Bu. Aku ingin menjadi Ratu Cahaya nomor satu!"

Ibunya, seorang wanita dengan gurat kelelahan di wajahnya, tersenyum pahit sambil mengusap kepala putrinya. "Dia adalah orang suci, Sayang. Orang paling agung di alam semesta. Sangat sulit bagi orang seperti kita untuk menemuinya. Mungkin hanya para raja dan dewa yang bisa mencium ujung jubahnya."

Anak kecil itu menunduk, jarinya meraba gambar Vani di sampul buku tersebut. "Tapi, Bu... apakah aku bisa punya kekuatan cahaya juga? Aku ingin belajar, aku ingin melindungi Ibu."

Ibunya mendesah pelan. "Sihir cahaya adalah berkah langka, Nak. Kita tidak punya garis keturunan penyihir. Tapi kau punya hati yang baik, itu sudah cukup."

Vani terdiam di tempatnya. Ia menatap profil anak kecil itu dari samping. Ada rasa hangat sekaligus pedih di hatinya. Ia ingin sekali berteriak, "Aku di sini! Aku tepat di sampingmu!", namun ia tahu kedamaian hidupnya dengan Ferdi bergantung pada penyamarannya. Vani hanya bisa tersenyum tipis, menatap anak itu dengan tatapan penuh kasih sayang yang tak terucap.

Tiba-tiba, langit yang biru bersih berubah menjadi ungu kemerahan. Hawa dingin yang menusuk tulang mendadak menyelimuti pasar. Orang-orang mulai panik. Kicauan burung berganti dengan jeritan ketakutan.

BOOM!

Sebuah portal hitam pekat terbuka di tengah alun-alun pasar. Sepuluh prajurit berbaju zirah hitam dengan api neraka yang menjilat-jilat dari celah helm mereka melompat keluar. Mereka adalah sisa-sisa pasukan garis keras neraka yang mencoba mencari keberadaan raja mereka yang hilang, namun dengan cara melakukan teror.

"Cari energi yang kuat di sini! Hancurkan siapa pun yang menghalangi!" teriak sang pemimpin pasukan sambil mengayunkan pedang api hitamnya.

Sebuah bola api neraka dilepaskan secara membabi buta. Secara tragis, api itu meluncur deras menuju kedai buku, tepat ke arah anak kecil yang masih mematung karena ketakutan. Ibunya menjerit, mencoba menarik anaknya, namun api itu terlalu cepat.

"TIDAK!" teriak sang Ibu.

SREEEET!

Dalam sekejap mata, sebuah bayangan melesat. Vani sudah berdiri di depan anak itu. Ia tidak lagi memegang keranjang sayurnya. Tangan kanannya terangkat ke depan, telapak tangannya terbuka.

"Hancurlah," bisik Vani dengan nada dingin yang belum pernah

terdengar selama ia tinggal di gubuk.

DUAAARRRR!

Sebuah pilar cahaya murni meledak dari tangan Vani, menciptakan perisai berbentuk bunga lili yang memancarkan energi suci. Api neraka itu tidak hanya tertahan, tapi seketika padam menjadi abu saat menyentuh cahaya Vani. Seluruh pasar mendadak menjadi sangat terang, seolah-olah matahari jatuh ke bumi.

"Siapa kau?!" teriak pasukan neraka itu, mereka mundur selangkah karena merasakan tekanan energi yang luar biasa.

Vani melepaskan topi capingnya, membiarkan rambut pirang keemasannya terurai indah tertiup angin yang dihasilkan oleh kekuatannya sendiri. Matanya yang jernih kini berkilat dengan otoritas tertinggi.

"Kalian membawa api kotor kalian ke tempat yang salah," ujar Vani. Suaranya tidak keras, tapi bergema di seluruh kota, menembus jiwa setiap orang yang mendengarnya.

Pertempuran Cahaya Melawan Kegelapan

Sepuluh pasukan neraka itu menyerang serentak. Mereka adalah prajurit elit yang mampu menghancurkan sebuah desa dalam hitungan menit. Namun, bagi Vani, mereka hanyalah debu yang mengganggu penglihatannya.

Vani tidak menggunakan senjata. Ia hanya berdansa di tengah hujan serangan pedang api. Setiap gerakan tangannya menyisakan jejak cahaya yang mematikan.

Sring! Sring!

Ia mengibaskan tangannya, dan tali-tali cahaya muncul dari udara, menjerat leher para prajurit itu dan membanting mereka ke tanah dengan kekuatan yang tak masuk akal. Pemimpin pasukan mencoba melakukan serangan terakhir dengan menusukkan pedangnya ke jantung Vani.

Vani hanya menangkap mata pedang yang membara itu dengan dua jarinya. Pedang itu hancur berkeping-keping saat bersentuhan dengan kulitnya yang suci.

"Kembalilah ke lubang kalian, dan sampaikan pada tuanmu bahwa tanah ini berada di bawah perlindunganku," ujar Vani sambil melepaskan gelombang cahaya berbentuk cincin yang menghantam sepuluh pasukan itu hingga terpental berkilo-kilo meter jauhnya, hilang dari pandangan.

Pasar kembali sunyi. Semua orang terpaku. Di tengah kekacauan itu, seorang Jenderal Elf yang bertugas menjaga keamanan kota maju dengan langkah gemetar. Saat ia melihat wajah Vani dengan jelas, lututnya lemas. Ia jatuh bersujud, air mata jatuh membasahi tanah.

"Cahaya Suci yang Tak Terpadamkan... Rambut emas yang membawa keadilan..." Jenderal Elf itu menangis tersedu-sedu. "Baginda Ratu Vani?! Tuanku yang Agung! Kami tidak menyangka... kami tidak pernah bermimpi bahwa Ratu Alam Semesta sudi menginjakkan kakinya di pasar kotor kami ini!"

Orang-orang di pasar, menyadari siapa wanita di depan mereka, langsung ikut bersujud. Suasana haru biru menyelimuti tempat itu. Sang Ibu dari anak kecil tadi hanya bisa gemetar, tak menyangka bahwa wanita yang berdiri di sampingnya sejak tadi adalah sosok di buku cerita anaknya.

Vani menghampiri anak kecil itu. Ia berjongkok, menyamakan tingginya. Anak itu masih memegang buku ceritanya, matanya besar penuh kekaguman.

"Kau ingin menjadi kuat?" tanya Vani dengan suara paling lembut yang ia miliki.

Anak itu mengangguk pelan, wajahnya masih basah oleh air mata.

Vani meletakkan tangannya di atas kepala anak itu. Sebuah lingkaran cahaya emas kecil muncul di kening si anak, menyerap ke dalam kulitnya. "Aku telah membuka gerbang jiwamu. Di dalam dirimu kini ada benih cahayaku. Berlatihlah, jangan biarkan kebencian mengotorinya. Suatu hari, kau akan menjadi pelindung yang hebat."

Vani kemudian merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Itu adalah Lolipop Matahari, permen suci dari istana Luxeria yang tidak pernah habis dan bisa memberikan ketenangan jiwa.

"Ini untukmu. Hadiah karena kau sudah menyukai ceritaku," ujar Vani sambil memberikan permen itu.

Vani bangkit berdiri, mengenakan kembali topinya, dan mengambil keranjang belanjaannya yang anehnya tidak rusak sedikit pun. Ia berjalan pergi menembus kerumunan orang yang masih bersujud.

Anak kecil itu memandang permen di tangannya, lalu memandang sampul bukunya. Ia menangis kencang, kali ini karena bahagia. "Ratu Cahaya... dia benar-benar hebat! Aku akan berlatih! Aku akan menemuimu lagi di puncak, Baginda Ratu!"

Tanpa disadari anak itu, berkah Vani telah memberinya potensi sihir tingkat Saint. Sebuah kekuatan yang biasanya butuh ribuan tahun untuk dicapai, kini mengalir tenang di nadinya.

Kepulangan Dan Kedatangan Tamu Tak Diundang

Vani sampai di rumah barunya saat matahari tepat di atas kepala. Ia membawa 5 kg daging sapi terbaik dan sebuah lampu kristal kecil yang cantik. Namun, saat ia melangkah masuk ke halaman, ia merasakan aura yang sangat ia kenal. Aura yang berat, panas, dan penuh dengan kesombongan.

Di petak sawah yang baru dibuat, Ferdi sedang mengayunkan cangkulnya dengan kaos yang basah oleh keringat. Ia tidak memakai zirah, hanya celana kain kasar. Namun di depannya, berdiri seorang pria berambut perak dengan jubah hitam yang sangat megah.

Dia adalah Irfan, Sang Raja Neraka.

Irfan menatap Ferdi dengan pandangan yang sulit diartikan—antara marah, bingung, dan jijik.

"FERDI!" suara Irfan menggelegar, membuat beberapa burung di pohon apel Vani terbang ketakutan. "Aku mencarimu ke seluruh dimensi gelap! Aku mengira kau sedang merencanakan penghancuran surga atau sedang menyegel dewa-dewa sombong! Tapi apa yang kulihat?! KAU SEDANG BERMAIN DENGAN LUMPUR?!"

Ferdi menghentikan ayunan cangkulnya. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu menatap Irfan dengan pandangan datar yang sangat dingin.

"Kau menghalangi aliran airku, Irfan. Minggir sedikit ke kiri," ujar Ferdi singkat.

"APA?! MINGGIR KE KIRI?!" Irfan nyaris meledak. "Aku datang ke sini untuk membawamu pulang! Pasukan kita tercerai-berai! Dan kau malah menjadi petani?! Kau adalah Raja Kegelapan yang membuat seluruh alam semesta gemetar! Di mana harga dirimu?!"

Vani berjalan mendekat sambil menenteng kantong dagingnya. "Hei, Raja Neraka yang berisik! Jangan teriak-teriak di halaman rumahku! Kau mengganggu pertumbuhan padi yang baru kutanam!"

Irfan menoleh ke arah Vani, matanya menyipit.

"Vani... Ratu Cahaya... jadi ini benar? Kau benar-benar merayu saudaraku untuk hidup seperti manusia rendahan di gubuk kayu ini?"

"Ini bukan gubuk kayu biasa, ini rumah kami,"

jawab Vani sambil berkacak pinggang. "Dan asal kau tahu, anak buahmu baru saja mencoba membakar pasar tadi pagi. Jadi, kalau kau tidak mau aku memotong lidahmu, bantu Ferdi mencangkul atau pergilah dari sini!"

Irfan melongo. Ia menatap Ferdi, lalu menatap Vani. "Kalian berdua benar-benar sudah gila."

Ferdi menancapkan cangkulnya ke tanah. "Dunia sudah cukup hancur karena ambisi kita, Irfan. Di sini, aku menemukan bahwa menanam benih jauh lebih sulit daripada membunuh seribu pasukan, tapi hasilnya jauh lebih memuaskan. Sekarang, ambil cangkul cadangan di teras atau pulanglah."

Irfan terdiam. Ia melihat kesungguhan di mata Ferdi. Ia melihat betapa damainya (walaupun aneh) kehidupan mereka. Dengan gerutu yang sangat panjang, Irfan akhirnya melepaskan jubah megahnya, melemparkannya ke atas rumput, dan berjalan menuju teras untuk mengambil cangkul.

"Ingat Ferdi! Aku melakukan ini bukan karena aku ingin jadi petani! Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku bisa mencangkul lebih baik darimu!" teriak Irfan sambil mulai menghantamkan cangkulnya ke tanah dengan kekuatan yang membuat bumi bergetar.

Vani tertawa kecil sambil masuk ke dalam rumah. "Nah, begitu dong. Persaudaraan di atas lumpur sawah. Aku akan memasak daging ini, pastikan kalian selesai sebelum matahari terbenam!"

Hari itu, Aethelgard menjadi saksi sejarah yang mustahil: Raja Kegelapan dan Raja Neraka bekerja bersama di bawah matahari, diawasi oleh Ratu Cahaya yang sedang menyiapkan bumbu dapur.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!