NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: DURI DI BALIK KONTRAK EMAS

Angin malam di Puncak bertiup lebih kencang, membawa aroma pinus dan sisa-sisa tanah basah ke dalam beranda rumah tua Wijaya. Di atas meja kayu yang permukaannya mulai halus karena sering dibersihkan, tumpukan dokumen hukum berserakan, bersaing tempat dengan cangkir kopi yang sudah dingin. Juliet memijat pangkal hidungnya, matanya terasa panas setelah berjam-jam menatap barisan angka dan klausul kontrak yang memusingkan.

"Ayah Adam tidak main-main," bisik Juliet, suaranya parau. "Dia memblokir semua akses kita ke distributor pupuk organik di Jawa Barat. Bahkan pemasok pot keramik langganan kita tiba-tiba membatalkan pesanan secara sepihak pagi tadi."

Gaara, yang sedari tadi berdiri di ambang pintu menatap kegelapan lembah, berbalik. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu yang berderit. Tanpa sepatah kata, ia berdiri di belakang kursi Juliet. Tangan kasarnya yang hangat mulai memijat bahu Juliet dengan gerakan memutar yang lembut namun bertenaga.

"Biarkan dia membeli semua toko di pulau ini, Juliet," ucap Gaara rendah, suaranya bergetar di dekat telinga Juliet. "Dia bisa menguasai pasar, tapi dia tidak bisa menguasai tanah tempat mawar kita berpijak."

Juliet memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Gaara yang seolah melunturkan semua beban di pundaknya. "Tapi bagaimana kita mengirim Golden Hope ke pameran Singapura bulan depan jika kita bahkan tidak punya akses ke logistik udara? Perusahaan kargo itu... mereka semua berada di bawah payung grup mereka."

Gaara menghentikan pijatannya, lalu perlahan memutar kursi Juliet agar menghadapnya. Ia berlutut di depan gadis itu, menyamakan tinggi mereka. Di bawah temaram lampu gantung yang bergoyang ditiup angin, tatapan mata Gaara tampak begitu dalam dan protektif.

"Kau ingat apa yang kau katakan pada Ayah Adam di pengadilan?" tanya Gaara. "Bahwa kita punya abu dari api putranya sebagai nutrisi? Kita akan membuktikannya. Kita tidak butuh pupuk kimia mereka. Kita akan membuat kompos sendiri dari limbah organik lembah ini. Dan soal logistik..."

Gaara meraih tangan Juliet, mengecup jemarinya satu per satu dengan lembut. Sentuhan bibirnya yang hangat di atas kulit Juliet membuat jantung gadis itu berdesir hebat. Rasa lelah yang tadinya mencekik seolah menguap begitu saja.

"Aku sudah bicara dengan beberapa kawan lama di pelabuhan rakyat," lanjut Gaara. "Kita tidak akan lewat jalur udara yang mereka awasi. Kita akan lewat jalur laut, menggunakan kapal-kapal nelayan tradisional yang tidak akan pernah terpantau radar korporat mereka. Mawar kita akan sampai di Singapura dengan cara yang paling jujur: dipandu oleh bintang dan ombak."

Juliet menatap pria di depannya dengan rasa kagum yang meluap. Gaara selalu punya cara untuk mengubah kebuntuan menjadi jalan setapak yang penuh petualangan. Ia menarik napas panjang, lalu melingkarkan lengannya di leher Gaara, menarik pria itu masuk ke dalam pelukannya.

"Kenapa kau selalu punya jawaban untuk segalanya?" bisik Juliet di ceruk leher Gaara.

Gaara membalas pelukan itu dengan erat, menghirup aroma mawar yang selalu melekat pada tubuh Juliet—aroma yang kini menjadi candu baginya. "Karena aku tidak punya pilihan lain selain menang, Juliet. Aku tidak akan membiarkan mawar terbaikku layu hanya karena keserakahan manusia-manusia beton itu."

Gaara menjauhkan sedikit tubuhnya, menatap bibir Juliet yang sedikit terbuka. Di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya kuning redup itu, suasana mendadak menjadi sangat panas dan intim. Gaara merunduk, mencium bibir Juliet dengan perlahan, seolah sedang mencicipi madu yang paling langka. Juliet membalasnya dengan gairah yang selama ini ia tahan di bawah tumpukan masalah hukum mereka.

Ciuman itu lama dan mendalam, sebuah bahasa tanpa kata yang menyatakan bahwa di antara perjalanan kasih yang akan mereka lalui, momen-momen seperti inilah yang membuat setiap tetes keringat dan air mata terasa berharga. Tangan Gaara merayap ke pinggang Juliet, menariknya berdiri hingga mereka berdiri berhadapan, menyatu dalam kehangatan malam Puncak yang dingin.

Keesokan paginya, perang ekonomi benar-benar dimulai.

Sebuah truk besar berhenti di depan gerbang rumah Puncak. Bukan membawa pupuk, melainkan membawa surat sita jaminan atas beberapa aset tambahan yang diklaim masih merupakan bagian dari utang lama Pak Wijaya kepada keluarga Adam.

"Nona Juliet," seorang pria berseragam dinas pengadilan turun dengan wajah kaku. "Kami diperintahkan untuk menginventarisir seluruh tanaman di lahan ini sebagai aset yang disengketakan. Tidak boleh ada satu pun pot yang keluar dari gerbang ini sampai persidangan bulan depan selesai."

Juliet berdiri di teras dengan tangan bersedekap. Di sampingnya, Gaara sudah memegang cangkul dengan genggaman yang siap untuk hal terburuk.

"Kalian boleh menginventarisir," ucap Juliet dengan nada dingin yang ia pelajari dari ayahnya. "Tapi kalian tidak punya hak untuk menyentuh satu lembar daun pun. Mawar Golden Hope terdaftar atas nama individu, bukan atas nama perusahaan Wijaya yang kalian kejar. Baca lagi dokumen hak patennya sebelum kalian berani melangkah lebih jauh."

Petugas itu tampak ragu, menoleh ke arah pengacara keluarga Adam yang berdiri di dekat mobil mewah di kejauhan. Sang pengacara memberikan isyarat untuk tetap maju.

Namun, sebelum mereka sempat menyentuh gerbang, suara deru motor yang banyak terdengar dari arah bawah lembah. Puluhan pemuda desa, para petani bunga lokal yang selama ini dibantu oleh Gaara dengan ilmu lanskapnya, datang mengepung area depan rumah.

"Ada masalah, Mas Gaara?" teriak salah satu pemuda yang merupakan pemimpin komunitas tani lokal.

Gaara tersenyum tipis. "Hanya tamu yang salah alamat, Man."

Kehadiran massa membuat petugas pengadilan itu mundur teratur. Mereka sadar bahwa di daerah pegunungan seperti ini, hukum tertulis seringkali kalah oleh hukum adat dan solidaritas warga.

"Kalian pikir bisa memenangkan ini dengan cara premanisme?" teriak pengacara keluarga Adam dari dalam mobilnya. "Tunggu sampai kami membawa aparat kepolisian resmi!"

"Bawa saja!" balas Juliet. "Dan jangan lupa bawa media. Dunia pasti ingin tahu bagaimana seorang konglomerat mencoba mencuri hak paten seorang yatim piatu yang sedang membangun desanya sendiri."

Malam itu, setelah keributan mereda, Juliet dan Gaara duduk di taman rahasia yang kini mulai hijau kembali. Abu sisa kebakaran semalam memang benar-benar ajaib; mawar-mawar itu tumbuh dua kali lebih cepat dari biasanya.

"Kita baru saja menyatakan perang terbuka pada seluruh keluarga Adam, bukan hanya putranya," ucap Juliet sambil menatap bintang-bintang.

Gaara mengangguk. Ia sedang membersihkan duri dari batang mawar yang baru dipetik. "Dulu, ayahku jatuh karena dia sendirian. Dia tidak punya dukungan dari orang-orang kecil. Tapi kita berbeda, Juliet. Kita punya akar di sini."

Gaara memberikan setangkai mawar emas yang baru mekar kepada Juliet. "Dalam bab perjalan kisah ini mungkin terasa berat, tapi lihat... mawarnya tetap mekar. Adam dan ayahnya bisa membangun gedung setinggi langit, tapi mereka tidak akan pernah bisa menciptakan keajaiban sesederhana kelopak bunga ini."

Juliet menerima mawar itu, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Gaara. Ia tahu, perjalanan menuju bab berikutnya masih sangat jauh. Masih ada bab-bab yang penuh duri, pengkhianatan, dan mungkin air mata yang lebih banyak lagi. Namun, menatap profil wajah Gaara yang tegas di bawah cahaya bulan, Juliet yakin bahwa dia tidak sedang berjalan sendirian.

"Gaara," panggil Juliet pelan.

"Ya?"

"Jangan pernah lepaskan tanganku, meski badai yang lebih besar datang di bab selanjutnya."

Gaara menoleh, lalu mengecup kening Juliet dengan sangat lama. "Sampai kelopak terakhir mawar ini jatuh, Juliet. Sampai bab terakhir ditulis. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip, menyimpan ribuan intrik yang siap menerjang mereka. Namun malam itu, di lereng Puncak yang sunyi, hanya ada kehangatan dua jiwa yang telah bersiap untuk perang yang lebih besar.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!