Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Melintasi Samudra dan Runtuhnya Gerbang Suci
Pagi itu, Kota Emerald terbangun dalam kedamaian semu. Berita tentang hancurnya lantai 88 Menara Emerald telah ditutupi rapat-rapat oleh militer dan Emerald Group, disebut sebagai "ledakan generator internal". Dunia fana terus berputar tanpa menyadari bahwa malam sebelumnya, kiamat nyaris menelan kota mereka.
Di meja makan kediaman Kusuma, aroma roti panggang dan kopi hitam menguar hangat.
Arya duduk dengan santai, meneguk kopinya. Di seberangnya, Nadia sudah mengenakan setelan kerja yang rapi. Meski baru tidur beberapa jam, wajah Nadia memancarkan rona cerah yang luar biasa. Sirkulasi Qi dari tahap Kondensasi telah memurnikan kelelahannya secara alami. Di pergelangan tangannya, Bulan Beku bersemayam tenang dalam wujud gelang perak.
"Paman Han sudah mengerahkan tim konstruksi untuk merenovasi lantai 88. Sementara waktu, aku akan memimpin dari kantor cabang," ucap Nadia, memotong rotinya dengan anggun. Ia menatap suaminya. "Kau... benar-benar akan pergi ke Barat hari ini?"
Arya mengangguk pelan. "Hanya kunjungan singkat. Jika sarang tawon tidak dibakar, tawon-tawon itu akan terus mengirimkan pekerja mereka untuk mengganggu kebun kita."
Nadia meletakkan pisaunya. Ada sebersit kekhawatiran di matanya, bukan karena ia meragukan kekuatan suaminya, melainkan insting alami seorang istri. "Dunia Barat itu sangat luas. Pasukan militer dan kultivator mereka pasti sudah bersiap menunggumu."
"Persiapan fana tidak ada artinya di hadapan kekuatan mutlak," jawab Arya dengan senyum tipis yang menenangkan. Ia bangkit dan berjalan menghampiri Nadia, mengecup pelan puncak kepala istrinya. "Jaga rumah. Terus latih sirkulasi Sutra Bulan Es Sejati. Aku akan pulang sebelum jam makan malam."
Nadia memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan sentuhan itu, lalu mengangguk mantap. "Aku akan menunggumu. Jangan buat aku makan malam sendirian."
Arya tersenyum. Ia melangkah keluar menuju halaman belakang. Tanpa ritual yang rumit, tanpa mantra yang panjang, Arya hanya mengangkat kaki kanannya dan melangkah ke udara kosong.
Riak emas menyebar dari titik pijakannya. Dalam satu kedipan mata, tubuh pemuda berjaket katun itu melesat membelah langit, meninggalkan Kota Emerald dengan kecepatan yang menembus batas suara, namun secara ajaib tidak menciptakan suara dentuman sonik sedikit pun.
Bagi radar satelit militer tercanggih di Bumi, Arya hanyalah distorsi cahaya kecil yang tidak bisa dilacak.
Sepuluh ribu kilometer dari Kota Emerald, tersembunyi di balik badai salju abadi Pegunungan Alpen di benua Barat, berdirilah Kuil Suci Olympus.
Ini bukanlah gereja biasa, melainkan benteng raksasa yang diukir langsung ke dalam tebing gunung, dilindungi oleh sihir kuno dan teknologi militer fusi. Markas besar Asosiasi Kuil Barat ini adalah pusat kendali dari ratusan sekte bayangan, ksatria, dan politisi dunia Barat.
Namun hari ini, benteng yang tak pernah tertembus selama delapan abad itu dilanda kepanikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sirine peringatan spiritual meraung-raung. Di aula utama yang diterangi oleh ribuan lilin emas, sang Saint—pria tua dengan kain merah penutup mata—berdiri gemetar di depan altar. Di sekelilingnya, dua belas Grand Inquisitor (Hakim Agung) berjubah putih dan ratusan Paladin berbaju zirah paduan titanium bersiaga dengan senjata terhunus.
"Yang Mulia!" teriak seorang komandan Paladin, berlari masuk dengan wajah pucat. "Radar deteksi fluktuasi Qi kita di perbatasan Samudra Atlantik baru saja meledak! Ada energi spiritual dengan kepadatan yang belum pernah tercatat dalam sejarah, melesat langsung ke arah gunung ini!"
"Berapa lama lagi dia tiba?!" raung salah satu Grand Inquisitor.
"T-tiga menit! Kecepatannya sepuluh kali lipat dari jet tempur hipersonik!"
Wajah sang Saint berubah pucat pasi. Monster dari Timur itu benar-benar datang! Ia tidak menggunakan pesawat, tidak membawa pasukan, melainkan menyeberangi samudra antarbenua hanya dengan tubuh fisiknya. Itu adalah pencapaian yang hanya ada dalam mitos para Dewa!
"Aktifkan Aegis of Olympus!" titah sang Saint, suaranya bergetar menahan teror. "Kuras semua kristal suci di ruang bawah tanah! Jangan biarkan dia menembus perimeter gunung!"
Dalam hitungan detik, sebuah kubah cahaya putih raksasa bermanifestasi, menyelimuti seluruh puncak Pegunungan Alpen. Kubah itu memancarkan teks-teks kuno berbahasa Latin. Ini adalah formasi pertahanan terkuat dunia Barat, diklaim mampu menahan hantaman meteor dan puluhan hulu ledak nuklir sekaligus.
Ratusan meriam laser dan peluncur rudal pencegat yang disembunyikan di balik salju langsung mengarah ke langit timur.
Dua menit berlalu dengan ketegangan yang mencekik tenggorokan. Keringat dingin membasahi zirah para Paladin.
Lalu, badai salju mendadak berhenti.
Bukan mereda, melainkan benar-benar membeku di udara. Jutaan kepingan salju berhenti jatuh, melayang diam layaknya foto yang dijeda. Suhu udara anjlok hingga membuat zirah titanium para pasukan retak-retak.
Di atas langit yang kini cerah tanpa awan, sesosok pemuda muncul. Ia melayang dengan santai, kedua tangannya berada di dalam saku jaketnya. Matanya yang memancarkan cahaya keemasan menunduk, menatap kubah raksasa dan benteng Pegunungan Alpen layaknya menatap sebuah miniatur mainan.
Di dalam aula, melalui layar proyeksi sihir, sang Saint menelan ludah. "Dia datang... Iblis Timur itu benar-benar datang..."
"Tembak! Hancurkan dia!" komando salah satu Grand Inquisitor dengan panik.
BZZZTT! WUSHHH!
Ratusan sinar laser pemotong dan puluhan rudal balistik meluncur serentak dari puncak gunung, menciptakan jaring kematian yang tak bisa dihindari. Langit menyala oleh ledakan yang memekakkan telinga.
Asap tebal menutupi posisi Arya di angkasa. Para Paladin menahan napas, berharap serangan gabungan itu setidaknya bisa melukai sang monster.
Namun, saat asap itu tersapu angin, pemandangan yang terlihat membuat mereka nyaris gila.
Arya masih melayang di tempat yang sama, tanpa sehelai benang pun dari pakaiannya yang terbakar. Peluru, rudal, dan sinar laser itu telah menguap menjadi debu tepat satu meter sebelum menyentuh kulitnya, dihentikan oleh lapisan Qi keemasan yang setipis sayap sayap capung.
"Hanya kembang api murahan," suara Arya mengalun santai, namun secara ajaib terdengar jelas di telinga setiap prajurit dan inkuisitor di balik tebing yang tertutup.
Arya perlahan mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak udara kosong di bawahnya.
BOOM!
Sebuah telapak kaki raksasa berwarna emas transparan, seukuran sebuah kota kecil, mendadak bermanifestasi di langit. Telapak kaki itu turun dengan kecepatan luar biasa, menghantam langsung kubah putih Aegis of Olympus.
KRRAAAAKK!
Pelindung mutlak yang diklaim tak bisa dihancurkan oleh nuklir itu... retak dalam satu kedipan mata, sebelum akhirnya pecah berkeping-keping seperti cangkir kaca tipis yang diinjak oleh gajah raksasa.
Gelombang kejut dari hancurnya formasi tersebut menyapu puncak Pegunungan Alpen, memicu longsoran salju mahadahsyat. Ratusan meriam laser hancur lebur. Pintu gerbang batu seberat puluhan ton yang melindungi aula utama Kuil Barat meledak menjadi debu.
Di dalam aula, para Paladin terlempar ke dinding, memuntahkan darah. Para Grand Inquisitor berlutut dengan gendang telinga pecah. Altar suci mereka retak terbelah dua.
Debu bebatuan memenuhi udara. Dari balik reruntuhan gerbang raksasa itu, terdengar langkah kaki yang pelan dan teratur.
Sosok Arya berjalan masuk menembus debu. Matanya yang keemasan menatap lurus ke arah sang Saint yang kini jatuh terduduk di depan altarnya yang hancur.
"Aku sudah menyuruhmu mencuci lehermu," ucap Arya datar, melepaskan tekanan Inti Emasnya yang membuat gravitasi di ruangan itu meningkat seratus kali lipat. "Sekarang, siapa yang akan maju lebih dulu untuk menyerahkan nyawanya?"