NovelToon NovelToon
Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Bercerai? Siapa Takut! Aku Punya 7 Kakak Sultan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Selingkuh / Balas Dendam / Pelakor / Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"

Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".

Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.

Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.

"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."

Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: HARGA SEBUAH PENGHINAAN

BAB 4: HARGA SEBUAH PENGHINAAN

Keheningan di dalam ballroom itu terasa begitu mencekik. Ratusan pasang mata yang tadinya memandang penuh kekaguman ke arah panggung, kini beralih menatap Raka dan Siska dengan pandangan yang lebih rendah daripada menatap kotoran di jalanan. Di dunia para elit, reputasi adalah segalanya, dan dalam sekejap, Raka Ardiansyah telah menjadi musuh nomor satu di kota ini.

Raka merasa kakinya lemas, seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi jeli. Dia menatap Alana yang berdiri di atas panggung, begitu bersinar di bawah lampu kristal. Wanita yang selama tiga tahun ini dia suruh-suruh untuk mencuci kaus kakinya, wanita yang sering dia bentak karena rasa masakan yang sedikit kurang asin, kini berdiri sebagai penguasa yang bisa melenyapkannya hanya dengan satu jentikan jari.

"Alana... ini tidak mungkin," gumam Raka, suaranya nyaris hilang ditelan hiruk-pikuk bisikan sinis para tamu.

Siska, di sampingnya, mencoba mencari perlindungan di balik punggung Raka. Wajahnya yang tadi penuh riasan tebal kini tampak kuyu karena keringat dingin yang mengucur. Dia baru saja menyadari bahwa pria yang dia rebut dari Alana bukan lagi seorang CEO sukses, melainkan seorang pria yang sedang menuju liang lahat finansial.

Di depan mereka, ketujuh kakak Adiwangsa masih berdiri melingkar, membentuk barikade yang tidak memberikan celah sedikit pun untuk melarikan diri.

Bastian, sang kakak kedua yang merupakan seorang perwira tinggi, maju satu langkah. Langkah sepatunya yang mengkilap bergema di atas lantai marmer. "Tuan Raka, kau tampak pucat. Apa AC di sini terlalu dingin untuk orang yang baru saja kehilangan rumahnya?"

Raka mencoba menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering seperti padang pasir. "Tuan... Tuan Bastian, ini semua pasti kesalahpahaman. Alana adalah istriku, aku sangat mencintainya. Kejadian semalam itu... itu hanya pertengkaran rumah tangga biasa!"

"Istri?" Suara tawa dingin memotong kalimat Raka.

Arka, kakak kelima yang dikenal sebagai dokter bedah jenius namun berhati dingin, melangkah maju sambil memainkan sebuah pulpen perak di tangannya. "Berdasarkan laporan medis yang aku terima subuh tadi, adikku mengalami memar di lengan kiri dan tanda-tanda dehidrasi karena kedinginan. Sebagai dokter, aku biasanya menyembuhkan orang. Tapi untukmu, aku merasa lebih tertarik membedah bagaimana struktur otak seorang pria yang membuang berlian demi sepotong plastik sampah."

Arka melirik Siska dengan tatapan menghina saat mengucapkan kata 'plastik sampah'. Siska tersentak, wajahnya merah padam karena malu dan marah, tapi dia tidak berani bersuara.

Di atas panggung, Alana menurunkan mikrofonnya dan mulai melangkah turun melalui tangga kecil di sisi panggung. Elvan menyertai di sampingnya, menjaga gaun Alana agar tidak tersangkut, sementara tangan kirinya siap menahan tubuh Alana jika dia merasa goyah. Tapi Alana tidak goyah. Setiap langkahnya penuh dengan martabat.

Kerumunan tamu memberikan jalan bagi Alana. Suasana menjadi sunyi saat Alana berhenti tepat tiga langkah di depan Raka.

Raka langsung menjatuhkan diri berlutut. Dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. "Alana! Sayang! Maafkan aku! Aku khilaf, Siska yang menggodaku! Dia yang merayuku untuk menceraikanmu! Aku masih mencintaimu, Alana. Mari kita pulang, kita lupakan surat cerai konyol itu!"

Siska terbelalak mendengar ucapan Raka. "Mas Raka! Apa yang kau katakan?! Kau bilang kau membencinya!"

"Diam kau, wanita ular!" bentak Raka pada Siska demi menyelamatkan nyawanya sendiri. "Kalau bukan karena kau, aku tidak akan mungkin menyakiti istri kesayanganku!"

Alana menatap pria di bawah kakinya itu dengan tatapan kosong. Dia mencari sisa-sisa rasa cinta yang dulu pernah memenuhi hatinya, tapi yang dia temukan hanyalah rasa jijik yang luar biasa.

"Bangun, Raka," suara Alana terdengar tenang, hampir seperti bisikan, namun menusuk. "Jangan kotori lantai hotel kakakku dengan lututmu."

Raka mendongak, matanya berkaca-kaca penuh kepalsuan. "Kau memaafkanku, kan?"

Alana tersenyum tipis—sebuah senyum yang membuat bulu kuduk Raka meremang. "Memaafkanmu adalah urusan Tuhan. Tugas kakak-kakakku adalah mengatur pertemuanmu dengan-Nya secepat mungkin."

"Alana, kumohon..."

"Tiga tahun, Raka," potong Alana, nadanya mulai bergetar karena emosi yang tertahan. "Tiga tahun aku bangun jam lima pagi untuk menyiapkan keperluanmu. Tiga tahun aku menahan hinaan ibumu yang menganggapku pembawa sial karena tidak kunjung hamil, padahal kau yang jarang pulang. Tiga tahun aku memakai baju lama agar kau bisa membeli dasi sutra untuk pamer di depan teman-temanmu. Dan semalam... semalam kau membuangku di tengah badai seolah aku adalah bangkai."

Alana menarik napas panjang, menenangkan dadanya yang naik-turun. "Kau ingin kembali padaku karena mencintaiku? Tidak. Kau ingin kembali karena kau melihat emas di belakangku. Kau ingin kembali karena kau takut miskin."

Satya, kakak keenam yang jenius teknologi, melangkah maju sambil memutar sebuah rekaman suara di tabletnya. Suara itu memenuhi ballroom melalui pengeras suara.

“Mas, setelah Alana pergi, kita jual saja perhiasan kunonya itu. Paling tidak bisa buat kita DP mobil baru.” (Suara Siska)

“Hahaha, tenang saja. Wanita bodoh itu tidak akan berani melawan. Dia tidak punya siapa-siapa. Dia akan mati kelaparan di jalanan.” (Suara Raka)

Rekaman itu diambil dari alat penyadap yang dipasang Satya di rumah Raka sesaat sebelum rumah itu dihancurkan. Seluruh tamu berbisik jijik. Skandal ini benar-benar menjijikkan.

Wajah Raka menjadi pucat pasi. Dia tidak bisa mengelak lagi.

"Sekarang," Elvan angkat bicara, suaranya menggelegar penuh otoritas. "Karena semua orang sudah tahu betapa rendahnya pria ini, mari kita selesaikan bagian administratifnya."

Elvan memberi kode pada asistennya. Sebuah koper dibuka, isinya adalah tumpukan dokumen.

"Raka Ardiansyah, perusahaanmu, Ardiansyah Group, telah secara resmi dibeli oleh Keluarga Adiwangsa melalui akuisisi paksa sore tadi karena utang-utangmu yang menumpuk. Dan per detik ini, aku menunjuk Alana Adiwangsa sebagai Direktur Utama yang baru," ujar Elvan dengan senyum dingin.

Raka ternganga. "Apa? Perusahaanku... milik Alana?"

"Bukan hanya perusahaanmu," sambung Hanif, si kakak keempat yang ahli properti. "Apartemen yang kau janjikan pada selingkuhanmu itu, mobil yang kau kendarai, bahkan baju yang menempel di tubuhmu saat ini... semuanya tercatat sebagai aset perusahaan. Dan karena Alana adalah pemilik barunya, dia berhak meminta semuanya kembali."

"Maksudmu..." Siska mulai gemetar.

"Satpam!" panggil Elvan.

Dua puluh satpam berseragam hitam masuk ke dalam ballroom.

"Bantu Tuan Raka dan Nona Siska untuk melepaskan semua aset perusahaan yang mereka pakai. Sekarang juga. Di sini," perintah Elvan tanpa ampun.

"Jangan! Tidak boleh di sini!" teriak Siska histeris saat para satpam mulai mendekat untuk menyita tas bermerek dan perhiasan sewaan yang ia pakai.

Alana berbalik, tidak ingin melihat pemandangan memalukan itu lebih lama lagi. Dia sudah cukup puas melihat kehancuran di mata Raka. Balas dendam terbaik bukan hanya tentang menyakiti fisik, tapi tentang merampas segala hal yang membuat mereka merasa berkuasa.

"Ayo, Dek. Kita pulang. Rumah aslimu jauh lebih nyaman daripada melihat sirkus ini," ajak Elvan sambil merangkul bahu Alana.

Alana berjalan meninggalkan ballroom dengan kepala tegak. Di belakangnya, suara teriakan protes Raka dan tangisan histeris Siska yang diusir keluar hotel tanpa alas kaki menjadi musik pengiring yang sangat manis.

Saat mereka berjalan menuju deretan mobil Rolls-Royce di lobi, Alana menatap langit malam yang kini sudah cerah. Bintang-bintang tampak bersinar terang.

"Terima kasih, Kak. Aku merasa seperti dilahirkan kembali," ucap Alana tulus.

"Ini baru permulaan, Alana," sahut Gio (si kakak bungsu) sambil merangkul leher kakaknya itu dengan gemas. "Besok, kita akan pergi ke mall. Aku akan membelikanmu satu lantai penuh pakaian. Kita harus merayakan status barumu sebagai CEO yang paling ditakuti di Jakarta!"

Alana tertawa. Tawa pertamanya yang benar-benar lepas setelah tiga tahun lamanya. Dia tahu, jalan di depannya mungkin masih penuh drama, terutama saat keluarga Raka tahu siapa dia sebenarnya. Tapi kali ini, dia tidak akan menghadapinya sendirian. Dia punya tujuh raksasa yang siap meratakan gunung demi dirinya.

1
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya, aku suka🤗🤗😘😘😍
falea sezi
ngapain ngemis ma kenzo kayak janda gk laku aja masih banyak. laki laki Alana hadeh g usa merendahkan harga diri klo lu di buang ma kenzo ywda
merry
cinta mrkk sdg di uji sm dengan masa lalu dua klurga,, ternyta raka dam klurga semua nya penjahat pengen raka tu menyesel Dan bucin sm Alana tp gk bs milikin lgg,, sebgai pria gk pyn hati us bpk y pembunuh mm culik alna skrg raka selingkh Dan mau Alana hncur
Sari Supriyanti
Up..up...uuuup.thooor....😍👍💪💪💪
Ariany Sudjana
wah seru ini novelnya 🙏
Marsya
waduh siapa lagi nhe,bnyak x identitasnya🤔🤔🤔
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!