melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjalan yang mengubah arah
Pagi keberangkatan datang lebih cepat dari yang Alya kira.
Alarm di ponselnya berbunyi pukul lima, namun ia sebenarnya sudah terbangun beberapa menit sebelumnya. Udara pagi masih dingin ketika ia berjalan menuju dapur kecil apartemen.
Kopi hitam segera memenuhi cangkirnya.
Ia berdiri di dekat jendela sambil menatap langit yang perlahan berubah terang.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini ia akan melihat langsung proyek energi milik Kusuma Group.
Sebuah proyek besar yang perlahan menyeretnya semakin dekat ke pusat lingkaran dunia yang dulu hanya bisa ia lihat dari jauh.
Di belakangnya, suara langkah kaki terdengar.
Raka keluar dari kamar sambil merapikan jam tangannya.
“Kamu sudah siap?” tanyanya.
Alya mengangguk pelan.
“Tim kantor berkumpul di bandara pukul tujuh.”
Raka melihatnya beberapa detik.
“Kamu terlihat tegang.”
Alya tersenyum tipis.
“Sedikit.”
Ia tidak menjelaskan lebih jauh.
Perasaan itu bukan sekadar gugup karena perjalanan kerja.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Semakin dekat ia dengan Kusuma Group, semakin banyak hal yang mulai terbuka di hadapannya.
Dan ia tahu perjalanan ini mungkin akan menjadi titik penting dalam cerita hidupnya.
Raka mengambil jaketnya.
“Aku antar kamu.”
Bandara pagi itu cukup ramai.
Daniel sudah berdiri bersama beberapa anggota tim Aurora Capital ketika Alya tiba.
Dina melambaikan tangan dari jauh.
“Kamu akhirnya datang!”
Alya tertawa kecil.
“Aku tidak mungkin terlambat.”
Daniel menatap semua anggota tim.
“Kita akan bertemu langsung dengan tim Kusuma Group di lokasi proyek. Mereka sudah menyiapkan transportasi dari bandara.”
Dina berbisik pada Alya,
“Ini pertama kalinya aku ikut kunjungan proyek sebesar ini.”
Alya hanya tersenyum.
Namun pikirannya terus berjalan.
Agung Kusuma.
Nama itu semakin sering muncul dalam beberapa minggu terakhir.
Namun ia belum benar-benar memahami pria itu sepenuhnya.
Yang ia tahu hanya satu.
Agung adalah pusat dari banyak keputusan besar di Kusuma Group.
Pesawat akhirnya lepas landas.
Perjalanan menuju kota tempat proyek itu berada memakan waktu hampir dua jam.
Dina menghabiskan sebagian besar waktu dengan berbicara tentang rencana wisata kecil setelah pekerjaan selesai.
Sementara Alya lebih banyak diam.
Ia memandangi awan di luar jendela.
Kadang hidup terasa seperti perjalanan di udara seperti ini.
Tenang di luar, namun penuh arah yang tidak selalu terlihat.
Ketika mereka tiba di bandara tujuan, sebuah mobil hitam besar sudah menunggu.
Seorang pria dari Kusuma Group menyambut mereka dengan sopan.
“Selamat datang. Kami akan membawa kalian langsung ke lokasi proyek.”
Perjalanan dari bandara menuju lokasi memakan waktu hampir satu jam.
Kota itu lebih kecil dari ibu kota, namun kawasan industrinya berkembang pesat.
Beberapa bangunan pabrik terlihat berdiri di sepanjang jalan.
Akhirnya mobil berhenti di sebuah area luas yang masih dalam tahap pembangunan.
Beberapa menara baja tinggi terlihat berdiri di tengah area proyek.
Helm keselamatan dan rompi proyek sudah disiapkan.
Daniel memperkenalkan tim Aurora Capital kepada beberapa staf Kusuma Group yang menunggu.
Lalu seseorang berkata,
“Direktur Agung akan datang sebentar lagi.”
Alya merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Tidak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti di dekat area proyek.
Agung turun dari mobil itu.
Seperti biasa, ia terlihat tenang dan percaya diri.
Angin sore membuat jasnya bergerak sedikit.
Ia berjalan mendekati kelompok itu dengan langkah mantap.
“Selamat datang di proyek kami.”
Suaranya terdengar tenang namun tegas.
Daniel menjabat tangannya.
“Terima kasih atas undangannya.”
Agung kemudian memandang tim Aurora Capital satu per satu.
Ketika pandangannya berhenti pada Alya, ia tampak mengenalinya.
“Analis yang memberikan analisis menarik itu,” katanya.
Alya tersenyum sopan.
“Senang bertemu lagi.”
Namun berbeda dari Dina yang terlihat gugup, Alya tetap berdiri tenang.
Agung hanya mengangguk kecil.
Ia tidak menunjukkan ketertarikan khusus.
Namun ia jelas mengingatnya.
Tur proyek dimulai.
Seorang insinyur menjelaskan tentang pembangkit energi yang sedang dibangun.
Struktur besar itu dirancang untuk memasok energi ke beberapa kawasan industri baru.
Alya mendengarkan dengan serius.
Ia sesekali mencatat sesuatu di tablet kecilnya.
Agung berjalan bersama mereka, kadang menambahkan penjelasan singkat tentang rencana jangka panjang proyek tersebut.
“Dalam lima tahun,” katanya, “kawasan ini akan menjadi salah satu pusat industri terbesar di wilayah ini.”
Daniel terlihat tertarik.
“Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, dampaknya akan sangat besar.”
Agung mengangguk.
“Itulah tujuan kami.”
Mereka berhenti di sebuah platform tinggi yang menghadap seluruh area proyek.
Dari sana terlihat jelas betapa luasnya pembangunan itu.
Angin sore bertiup cukup kencang.
Rambut Alya bergerak tertiup angin ketika ia melihat pemandangan itu.
Dina berbisik,
“Ini luar biasa.”
Alya mengangguk pelan.
Namun bukan hanya ukuran proyek yang membuatnya berpikir.
Ia mulai memahami bagaimana Kusuma Group bergerak.
Mereka tidak hanya membangun proyek.
Mereka membangun pengaruh.
Agung berdiri beberapa langkah dari Alya ketika ia berbicara dengan Daniel.
Sesekali ia melirik ke arah Alya yang sedang mencatat sesuatu.
Namun tidak ada ekspresi khusus di wajahnya.
Ia hanya terlihat mengamati.
Sore menjelang malam ketika tur proyek selesai.
Kusuma Group sudah menyiapkan makan malam sederhana untuk tim Aurora Capital.
Restoran kecil di dekat kawasan proyek itu terasa hangat dengan lampu kuning.
Dina terlihat jauh lebih santai sekarang.
Ia bahkan mulai bercanda dengan beberapa staf Kusuma Group.
Sementara Alya duduk lebih tenang.
Agung duduk di ujung meja bersama Daniel.
Pembicaraan mereka lebih banyak tentang rencana kerja sama.
Beberapa kali Alya ikut memberikan pendapat ketika Daniel menanyakan sesuatu padanya.
Agung mendengarkan jawabannya tanpa banyak komentar.
Namun ia tampak memperhatikan.
Setelah makan malam selesai, tim Aurora Capital kembali ke hotel.
Di kamar hotel, Alya berdiri di balkon kecil sambil memandang kota yang jauh lebih tenang dibanding ibu kota.
Lampu-lampu jalan terlihat seperti garis cahaya panjang di malam hari.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Raka.
“Bagaimana perjalanannya?”
Alya tersenyum kecil.
Ia mengetik balasan.
“Lebih besar dari yang kubayangkan.”
Beberapa detik kemudian balasan datang.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Alya melihat langit malam.
“Ya.”
Namun ia menambahkan satu kalimat lagi.
“Dan sepertinya perjalanan ini baru saja dimulai.”
Di sisi lain kota itu, di suite hotel berbeda, Agung berdiri di dekat jendela kamar.
Bima duduk di sofa sambil membaca laporan hari itu.
“Tim Aurora Capital cukup solid,” kata Bima.
Agung tidak langsung menjawab.
Ia memikirkan sesuatu.
“Alya,” katanya akhirnya.
Bima menoleh.
“Analis itu?”
Agung mengangguk pelan.
“Dia mengamati lebih banyak daripada yang ia katakan.”
Bima tertawa kecil.
“Itu biasanya tanda analis yang bagus.”
Agung memandang lampu kota di luar jendela.
“Mungkin.”
Namun ia tidak mengatakan hal lain.
Malam terus berjalan dengan tenang.
Namun tanpa disadari siapa pun, perjalanan kecil yang membawa Alya ke kota itu perlahan mulai mengubah arah banyak hal.
Bukan hanya proyek bisnis.
Bukan hanya hubungan antar perusahaan.
Tetapi juga hubungan antara orang-orang yang berada di dalam lingkaran dunia yang sama.
Dan seperti setiap cerita besar lainnya…
semua perubahan itu selalu dimulai dari langkah yang terlihat kecil.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.