Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Kerajaan Bayangan Sang Iblis
Keheningan di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa mereka menjauh dari Mansion Pusat Renfred tidak terasa mencekam. Di samping Valerie, Jerome tampak sangat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyatakan perang terbuka terhadap ayahnya sendiri dan mengancam akan menghancurkan warisan keluarganya.
Valerie menggenggam jemari Jerome yang besar, merasakan urat-urat tangan pria itu yang menonjol. "Jerome... kau benar-benar tidak menyesal? Jika Ayahmu benar-benar mencabut hak warismu, kau akan kehilangan segalanya. Posisi CEO, saham Renfred Group, semuanya..."
Jerome menoleh, sebuah seringai tipis yang penuh teka-teki muncul di bibirnya. Ia menarik tangan Valerie dan mengecup punggung tangannya dengan penuh pemujaan.
"Kau pikir aku sebodoh itu, Val? Menyerahkan hidupku pada belas kasihan seorang tua yang gila hormat?" Jerome terkekeh rendah, suaranya bergema dengan nada otoritas yang jauh lebih kuat dari biasanya. "Sepuluh tahun aku mengawasimu, dan selama sepuluh tahun itu pula aku membangun bentengku sendiri. Renfred Group hanyalah taman bermain yang kupinjam. Kekuasaanku yang sesungguhnya... tidak ada di dalam dokumen keluarga mereka."
Valerie tertegun. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat permukaan dari gunung es yang bernama Jerome Renfred. Di balik jabatannya sebagai CEO Renfred Group, Jerome diam-diam telah membangun Blackwood Global Investments dan Ares Security—sebuah konglomerasi raksasa yang berbasis di Swiss dan Singapura yang asetnya kini telah melampaui total kekayaan seluruh keluarga Renfred digabungkan.
Jerome bukan hanya seorang pebisnis piawai; ia adalah arsitek ekonomi yang telah menguasai jalur logistik dan teknologi keamanan dunia secara senyap. Meskipun ia keluar dari silsilah Renfred hari ini, dunia bisnis akan tetap berlutut di bawah kakinya. Jerome sengaja membiarkan ayahnya merasa memegang kendali, padahal dialah yang selama ini menopang ekonomi keluarga itu dari balik layar.
"Aku tidak butuh nama Renfred untuk melindungimu, Valerie," bisik Jerome sembari merangkul bahu istrinya. "Aku memiliki dunia di telapak tanganku, dan seluruh dunia itu... adalah milikmu."
Keesokan paginya, saat Jerome sedang berada di ruang kerjanya yang dijaga ketat, Raka menghampiri Valerie yang sedang duduk di taman belakang. Wajah Raka tampak sangat serius, ia menyerahkan sebuah kotak kecil berbahan perak kuno kepada Valerie.
"Nona Valerie... ada sesuatu yang harus Anda ketahui. Tuan Jerome memerintahkan saya untuk menyerahkan ini jika saatnya sudah tepat," ucap Raka dengan nada formal.
Valerie membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah jam saku tua dengan ukiran pohon ek—lambang keluarga Blackwood. Di balik tutup jam tersebut, ada sebuah koordinat GPS dan selembar foto kecil yang sudah sangat usang. Foto seorang pria yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya, sedang menggendong bayi kecil di depan sebuah rumah kayu di tepi danau.
"Ini... Arthur Blackwood?" suara Valerie bergetar.
"Ya, Nona. Selama bertahun-tahun, Tuan Jerome diam-diam telah menelusuri kebenaran di balik pengasingan keluarga Blackwood. Beliau tahu bahwa Edward Vaughn dan Tuan Besar Renfred bekerja sama untuk melenyapkan Arthur," Raka menjelaskan dengan hati-hati.
"Lalu di mana dia sekarang, Raka? Apakah dia masih hidup?"
Raka mengangguk pelan. "Tuan Jerome telah menyelamatkannya dari penjara bawah tanah di luar negeri dua tahun lalu. Beliau membiayai pengobatan dan menyembunyikannya di sebuah pulau pribadi yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun, bahkan oleh intelijen Renfred sekalipun. Tuan Jerome hanya menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan Anda, karena kondisi kesehatan Tuan Arthur sebelumnya sangat tidak stabil."
Valerie menutup matanya, air mata kelegaan menetes di pipinya. Ia merasa sesak oleh besarnya cinta Jerome. Pria itu tidak hanya menyelamatkan nyawanya di kehidupan ini, tapi juga diam-diam menyatukan kembali kepingan hidupnya yang hancur, bahkan sebelum Valerie menyadarinya.
...****************...
Di dalam ruang kerja, Jerome sedang menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV dari sebuah vila medis rahasia. Di layar itu, seorang pria paruh baya dengan rambut memutih namun memiliki tatapan mata yang tajam sedang duduk di kursi roda, menatap matahari terbenam.
"Hanya sebentar lagi, Arthur," gumam Jerome sembari menyalakan cerutu. "Aku akan membawa putri Anda pulang. Tapi setelah itu, pastikan kau membantuku menghancurkan mereka yang telah membuat putri kita menangis selama puluhan tahun."
Jerome tahu, dengan membawa kembali Arthur Blackwood, ia tidak hanya memberikan Valerie seorang ayah, tetapi juga memicu ledakan besar yang akan meruntuhkan dominasi Tuan Besar Renfred selamanya. Jerome tidak pernah bermain untuk menang, ia bermain untuk memusnahkan lawan-lawannya hingga ke akar-akarnya.
Malam itu, Jerome menghampiri Valerie yang masih memandangi jam saku pemberian Raka. Ia memeluk istrinya dari belakang, menghirup aroma rambut Valerie yang menenangkan sarafnya yang tegang.
"Kau sudah tahu rahasianya, hm?" tanya Jerome lembut.
Valerie berbalik, memeluk leher Jerome dengan erat. "Kenapa kau melakukan semua ini sendirian, Jerome? Menyelamatkan ayahku, membangun kekaisaran sebesar itu... kau memikul beban yang sangat berat."
Jerome mengangkat dagu Valerie, menatap matanya dengan obsesi yang kini bercampur dengan ketulusan yang murni. "Beban itu terasa ringan karena tujuanku hanya satu, Valerie. Aku ingin saat kau bangun setiap pagi, kau tahu bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menyentuhmu. Aku ingin kau menjadi ratu di kerajaanku, bukan tawanan di kerajaan ayahku."
Valerie tersenyum, ia mencium bibir Jerome dengan penuh rasa syukur. "Bawa aku padanya, Jerome. Aku ingin bertemu ayah kandungku."
Jerome menyeringai gelap, sebuah kilat haus darah muncul di matanya. "Besok, Val. Kita akan pergi. Dan setelah itu, kita akan memastikan Edward Vaughn dan Ayahku melihat bagaimana seorang Blackwood dan seorang Renfred bersatu untuk meruntuhkan takhta mereka yang penuh darah."
...****************...