Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi di lereng bukit itu datang dengan aroma tanah basah dan sisa kabut yang memeluk dahan-dahan pohon. Alana terbangun dengan mata yang terasa berat dan sembab, namun ada sebuah ruang kosong di dadanya yang kini terasa lebih lapang. Setelah badai tangis semalam, ia merasa seperti tanah yang baru saja dihantam hujan lebat: berantakan, namun bersih.
Tanpa memoles wajahnya dengan riasan tebal seperti biasanya, Alana mengenakan sweater rajut longgar dan sepatu olahraga. Ia melangkah keluar, meninggalkan ponselnya yang masih dalam mode pesawat di atas meja makan. Ia tidak ingin mendengar dering tagihan, keluhan Rian, ataupun drama Ibunya.
Ia berjalan memasuki hutan pinus yang berada tepat di belakang vila.
Suara langkah kakinya yang menginjak ranting kering dan daun-daun pinus menjadi satu-satunya melodi yang ia dengar. Di sini, di antara batang-batang pohon yang menjulang tinggi, Alana merasa sangat kecil. Dan untuk pertama kalinya, menjadi "kecil" terasa sangat melegakan. Selama ini, ia dipaksa menjadi raksasa yang menyokong atap rumahnya agar tidak runtuh.
Alana berhenti di sebuah area di mana sinar matahari mulai menembus celah-celah dahan, menciptakan garis-garis cahaya yang indah. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu batang pohon yang kasar.
"Ternyata, dunia tidak berhenti berputar saat aku berhenti bekerja," bisiknya pada angin.
Ia teringat kata-kata Pradipta tentang batu karang yang terkikis. Selama ini, Alana berpikir bahwa kekuatannya diukur dari seberapa banyak beban yang bisa ia pikul tanpa mengeluh. Namun, di bawah naungan pohon pinus ini, ia menyadari bahwa kekuatan sejati adalah keberanian untuk berkata "cukup".
Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan duduk dan mengamati tupai yang melompat atau mendengarkan gesekan daun. Ia merenungkan masa depannya. Ia tahu ia harus pulang, tapi ia berjanji pada dirinya sendiri: ia akan pulang sebagai Alana yang baru. Alana yang punya batasan. Alana yang tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan demi kenyamanan orang lain yang tidak tahu berterima kasih.
Menjelang sore, ia berjalan kembali ke vila dengan langkah yang lebih mantap. Ia mengambil ponselnya, menyalakannya, dan melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Ibu. Namun, alih-alih merasa cemas atau merasa bersalah seperti biasanya, ia hanya menatap layar itu dengan tenang.
Ia membuka aplikasi pesan dan mengirim satu pesan singkat ke grup keluarga:
Alana: Alana akan pulang besok sore. Tapi mulai bulan depan, Alana tidak akan lagi menanggung cicilan motor Rian dan uang jajan tambahannya. Alana butuh menabung untuk masa depan Alana sendiri. Mari kita bicarakan ini baik-baik saat Alana sampai.
Setelah mengirim pesan itu, Alana menghela napas panjang. Ada rasa takut yang menyeripit, namun rasa bangga jauh lebih mendominasi.
Ia kemudian mengirim pesan kedua, kali ini untuk Pradipta.
Alana: Terima kasih untuk kuncinya, Pak. Saya sudah menemukan kembali cara bernapas yang benar.
Sore itu, Alana duduk di teras vila, menyesap teh hangat sambil melihat matahari terbenam. Ia tahu badai besar mungkin menantinya di rumah, tapi kali ini, ia bukan lagi batu karang yang pasif. Ia adalah nahkoda yang siap mengendalikan kapalnya sendiri.
Pesan itu dikirim, dan Alana tidak mematikan ponselnya lagi. Ia ingin melatih dirinya menghadapi guncangan secara langsung.
Benar saja, hanya dalam hitungan menit, ponselnya meledak. Panggilan dari Ibu masuk bertubi-tubi, disusul rentetan pesan suara dari Rian yang isinya bernada protes dan ketidakpercayaan.
"Kak, kamu bercanda kan? Terus aku bayar pakai apa? Teman-temanku tahu aku baru ambil motor itu!" bunyi pesan Rian.
Lalu disusul suara Ibu yang serak, "Alana, kenapa kamu jadi perhitungan begini? Kamu tega lihat adikmu putus sekolah atau kerja serabutan karena motornya ditarik? Pulang sekarang, kita bicara yang bener!"
Alana menatap layar itu dengan senyum getir. Dulu, pesan-pesan seperti ini akan membuatnya gemetar dan segera mengetik permintaan maaf. Tapi sekarang, kata-kata itu hanya terdengar seperti angin lalu yang tidak lagi punya kuasa atas dirinya. Ia tidak membalas. Ia memilih untuk menyimpan energinya untuk esok hari.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi berbeda muncul di bagian atas layar. Pesan dari Pradipta.
Pradipta: Senang mendengarnya. Jaga "napas" itu baik-baik, Alana. Kamu akan membutuhkannya untuk menghadapi kemacetan Jakarta—dan mungkin, untuk menghadapi saya yang sudah menyiapkan tumpukan proyek baru yang lebih menarik (dan manusiawi).
Alana terkekeh pelan. Ada kehangatan aneh yang menjalar di hatinya. Proyek yang "manusiawi". Sepertinya Pradipta benar-benar berniat merombak cara kerja Alana di kantor nanti.
Malam terakhir di vila itu dilewati Alana dengan tidur yang paling nyenyak dalam satu dekade terakhir. Tanpa mimpi buruk tentang angka-angka anggaran, dan tanpa rasa bersalah yang mencekik leher.