Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Di Dalam Bus Antar Kota
Bab 18: Di Dalam Bus Antar Kota
Pintu bus tertutup dengan dentuman logam yang kasar, seolah mengunci Rafi dan Nisa dalam sebuah kapsul besi yang pengap. Bus ekonomi jurusan Tanjungbalai–Kisaran ini mulai bergerak merayap keluar dari area terminal. Mesin dieselnya menggeram, menciptakan getaran ritmis yang merambat dari lantai bus ke telapak kaki Rafi, melewati sol sepatu yang dilem Alteco, hingga terasa ke tulang keringnya.
Secara teknis, perjalanan ini baru saja dimulai. Namun, bagi Rafi, setiap detik di dalam kabin ini terasa seperti ujian ketahanan mental.
Ia sengaja memilih duduk di sisi lorong, memberikan posisi di dekat jendela kepada Nisa. Secara logis, ini adalah tindakan protektif primer. Dengan Nisa di dekat jendela, gadis itu bisa mendapatkan sedikit asupan oksigen dari celah kaca yang tidak tertutup rapat, sekaligus terhindar dari gesekan bahu penumpang lain yang lalu lalang di lorong bus.
"Panas ya, Rafi?" Nisa berbisik, sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah.
Rafi melirik ke arah plafon bus. Di sana, lubang ventilasi AC hanya menyisakan kerangka plastik yang menguning tanpa ada embusan udara dingin sedikit pun. Yang ada hanyalah kipas angin kecil di dekat supir yang berputar lambat, hanya cukup untuk menghalau asap rokok sang supir sendiri.
"Iya, Nis. Sabar ya, kalau sudah jalan biasanya anginnya masuk dari jendela," jawab Rafi. Suaranya harus sedikit ditinggikan agar tidak tenggelam oleh suara bising knalpot bus yang bocor.
Ia memperhatikan detail kursi di depan mereka. Jok kulit imitasi warna cokelat tua itu memiliki sobekan di beberapa bagian, memperlihatkan busa kuning yang sudah menghitam karena usia dan keringat ribuan penumpang sebelumnya. Bau apek yang khas—campuran antara debu kain, sisa makanan, dan aroma minyak kayu putih dari penumpang di barisan depan—mulai memenuhi rongga hidung Rafi.
Ia merasa sangat bersalah. Secara analitis, ia sedang membawa seseorang yang "bersih" ke dalam ruang yang "kotor".
Rafi mencuri pandang ke arah tas kecil Nisa yang dipangku dengan rapi. Nisa tampak berusaha menjaga agar pakaian putih gadingnya tidak menyentuh dinding bus yang berkerak. Melihat itu, Rafi merasa dadanya sesak. Rasa mindernya kembali bekerja secara sistematis. Ia membayangkan betapa berbedanya jika mereka berada di dalam mobil pribadi yang sejuk, dengan musik pelan dan aroma parfum mahal, bukan diiringi suara klakson bus yang memekakkan telinga setiap lima menit.
"Nis, tasnya mau ditaruh di pangkuanku aja? Biar kamu nggak pegel," tawar Rafi.
Nisa menggeleng kecil sambil tersenyum tipis. "Nggak usah, Rafi. Ringan kok."
Bus mulai memacu kecepatan saat memasuki jalan raya lintas Sumatera ke arah Simpang Kawat. Guncangannya semakin menjadi-jadi. Setiap kali bus menghantam lubang jalanan yang tidak rata, tubuh mereka terpental kecil. Rafi secara refleks merentangkan tangan kirinya sedikit ke depan kursi Nisa, menjaga agar gadis itu tidak terbentur sandaran kursi di depannya jika supir mengerem mendadak.
Ia sangat sadar akan jarak di antara mereka. Hanya ada ruang sekitar sepuluh sentimeter yang memisahkan bahunya dengan bahu Nisa. Dalam ruang sesempit itu, Rafi bisa mencium kembali aroma sabun mandi Nisa yang mulai bertarung dengan bau solar bus.
Dia tetap wangi, pikir Rafi. Sementara aku, pasti sudah mulai bau matahari.
Rafi meraba saku depannya. Ia bisa merasakan gumpalan uang kertas di sana. Ia melakukan pengecekan taktil secara diam-diam. Seratus ribu, dua ratus ribu, tiga ratus ribu... semuanya masih di tempatnya. Kekhawatiran terbesarnya saat ini bukan lagi soal uang yang hilang, melainkan soal citra. Bagaimana jika di tengah perjalanan ini Nisa merasa bosan dan menyesal? Bagaimana jika keheningan di antara mereka menjadi terlalu berat untuk ditanggung?
Secara sosiologis, bus antar kota adalah tempat di mana privasi menjadi sangat mahal. Di sebelah kanan Rafi, seorang bapak paruh baya sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, sesekali kepalanya terkulai ke arah lorong. Di belakang mereka, terdengar suara anak kecil yang menangis karena kegerahan.
"Tanjungbalai ke Kisaran biasanya sejam ya, Rafi?" Nisa bertanya lagi, mencoba memecah kesunyian.
"Kalau supirnya ngebut dan nggak banyak ngetem, bisa 45 menit, Nis. Tapi bus bumel kayak gini biasanya lambat," jelas Rafi secara teknis.
Ia melihat butiran keringat mulai membasahi pelipis Nisa. Rambut halusnya menempel di kulit dahi yang putih. Secara impulsif, Rafi ingin mengambil tisu dan menyekanya, namun logikanya segera mencegat. Jangan terlalu agresif, nanti dia risih, peringat suara di kepalanya.
Rafi memilih untuk membuka sedikit lebih lebar kaca jendela di samping Nisa. "Biar anginnya lebih banyak, Nis," katanya.
"Makasih ya," sahut Nisa.
Angin kencang langsung masuk ke dalam kabin, membawa debu jalanan dan hawa panas, tapi setidaknya memberikan sedikit sirkulasi udara.
Rambut Nisa tertiup angin, menutupi sebagian wajahnya. Nisa tertawa kecil sambil merapikan rambutnya ke belakang telinga.
Melihat tawa kecil itu, sebagian beban di pundak Rafi terasa terangkat. Secara emosional, itu adalah validasi bahwa Nisa tidak sedang menderita di dalam bus ini. Nisa sedang berusaha menikmati perjalanan ini, sesederhana apa pun itu.
Rafi kembali menyandarkan punggungnya ke jok yang keras. Ia memperhatikan pemandangan di luar jendela—deretan ruko, bengkel-bengkel ban, dan pohon-pohon sawit yang mulai muncul di pinggiran jalan. Ia menghitung dalam hati setiap kilometer yang mereka tempuh.
Bagi orang lain, perjalanan satu jam ini mungkin membosankan. Tapi bagi Rafi, setiap putaran roda bus adalah langkah menuju pembuktian diri. Di dalam bus yang berisik dan berbau solar ini, ia merasa sedang berada di tengah-tengah sebuah misi diplomatik yang sangat penting.
Ia harus menjaga suasana agar tetap nyaman. Ia harus memastikan uangnya tetap aman. Dan yang paling penting, ia harus memastikan Nisa tetap merasa dihargai meski mereka hanya naik bus kelas ekonomi.
"Nis, nanti kalau sudah sampai, kita nggak langsung ke Irian. Kita minum es dulu di pinggir jalan ya, biar segeran dikit," kata Rafi, menyusun rencana cadangan di luar draf awalnya. Secara anggaran, es jeruk seharga 5.000 rupiah tidak akan merusak simulasinya.
Nisa menoleh, matanya berbinar sedikit. "Boleh. Ide bagus itu."
Rafi tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mereka naik ke bus, otot-otot di wajahnya tidak lagi terasa kaku. Meskipun udara di dalam bus semakin pengap dan baju flanelnya mulai terasa lembap oleh keringat, Rafi merasa dia sedang memenangkan pertempuran ini.
Ia kembali menatap lorong bus. Kondektur mulai berjalan menarik ongkos. Rafi sudah menyiapkan selembar uang dua puluh ribu rupiah di tangannya. Ia ingin proses pembayaran ini berjalan mulus tanpa perlu ada adu mulut soal kembalian atau tarif. Di dunia Rafi, efisiensi adalah segalanya saat kau sedang dalam pengawasan orang yang kau sukai.
Getaran bus semakin kencang saat supir menginjak rem untuk menghindari sebuah truk sawit. Rafi kembali menahan posisi duduknya agar tidak menyenggol Nisa, menjaga jarak aman namun tetap waspada.
Di dalam besi tua yang melaju di aspal panas Sumatera ini, Rafi menyadari satu hal: perjalanan fisik ke Kisaran mungkin hanya 45 kilometer, tapi perjalanan untuk menghilangkan rasa mindernya mungkin akan jauh lebih panjang dari itu.