Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam itu setelah kedua anaknya tertidur, Elena duduk sendirian di dapur dengan lampu yang remang. Ia membuka ponselnya dan mengetik satu pesan untuk suaminya.
"Adrian, aku mau ke kota. Kirimkan alamatmu."
Ia meletakan ponselnya dan menunggu. Tak sampai lima menit ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Adrian.
Elena menatap nama itu terpampang di layar ponselnya selama beberapa detik. Merasa tak percaya akhirnya suaminya menghubunginya setelah sekian lama. Lalu ia mengagkatnya.
"Hallo!"
Lalu suara itu terdengar, suara yang sudah terlalu lama tidak ia dengar secara langsung. Suara Adrian.
Tapi sekarang terdengar berbeda. Ada kepanikan dalam nadanya.
"El, kamu tidak perlu ke sini." Langsung, tanpa salam, tanpa menanya kabar. "Di sini tidak ada apa-apa. Kamu di rumah saja dulu, aku yang akan."
"Adrian."
Elena membuka mulutnya tapi mendadak tidak tahu harus berkata apa.
Terlalu banyak yang ingin ia tanyakan. Terlalu banyak yang sudah menumpuk selama berbulan-bulan, selama satu tahun ini, dan semuanya berebut keluar sekaligus sampai tidak ada satupun yang berhasil membentuk kalimat yang utuh.
Kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku?
Kenapa kamu tidak peduli saat Ara sakit?
Perempuan itu siapa?
Mobilnya bagus, kata Bu Ratih. Itu mobil siapa?
Benarkah kamu disana hidup enak? Sementara aku di sini menghitung sisa uang receh untuk dua butir telur.
Tapi tidak ada satupun yang keluar.
Yang keluar hanya napasnya yang bergetar, menghianati semua ketenangan yang sudah ia coba bangun sejak tadi.
"El? Kamu masih di sana?"
Elena menutup matanya.
"Aku di sini." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Terlalu pelan dan berat.
"Dengerin aku, tidak ada gunanya kamu ke sini. Kota besar, kamu tidak kenal siapa-siapa di kota, anak-anak—"
"Anak-anak." Elena mengulang kata itu. Dan entah kenapa dua kata itu saja sudah cukup untuk membuat tenggorokannya kembali tercekat. "Kamu ingat kita punya anak, Adrian?"
Sunyi di seberang.
"El, jangan dramatis...."
"Ara demam kemarin." Suara Elena datar tapi ada sesuatu di baliknya yang retak. "Aku kirim pesan. Kamu baca tapi kamu tidak membalasnya."
"Aku sibuk, aku...."
"Kamu online jam sebelas malam." Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia rencanakan. "Jam sebelas malam kamu tidak sibuk, Adrian. Kamu tidak balas karena kamu tidak mau membalas."
Sunyi lagi. Kali ini lebih panjang.
Dan di dalam kesunyian itu Elena mendengar sesuatu di latar belakang, sayup-sayup, tapi masih terdengar dengan jelas. Suara televisi. Suara yang terdengar nyaman, terdengar hangat, terdengar seperti seseorang yang sedang berada di ruangan yang layak dengan kehidupan yang layak.
Sementara Elena duduk di dapur sempit dengan lampu remang dan dengan segala kekurangan nya.
"El, kita bicara nanti ya. Sekarang aku sedang...."
"Sedang apa?" Elena memotong. Suaranya tidak meninggi, tapi ada sesuatu di dalamnya yang berubah. "Sedang sibuk? Sedang rapat? Atau sedang tidak mau bicara dengan istri dan anak-anakmu?"
"Elena...."
"Kirimkan alamatmu."
"Aku bilang tidak perlu...."
"Adrian." Satu kata lagi. Tapi kali ini berbeda. Kali ini tidak ada pertanyaan di dalamnya. Tidak ada kebingungan. Tidak ada harapan yang menggantung. "Aku bukan minta izin. Aku memberitahu kamu."
Hening panjang di seberang. Lalu sambungan terputus. Adrian yang menutup telepon.
Elena menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Nama Adrian yang tadi berpendar di sana sekarang sudah hilang, digantikan wallpaper foto Evan dan Ara yang ia jadikan latar belakang ponselnya, foto yang diambil enam bulan lalu di depan kontrakan ini, keduanya tertawa karena sesuatu yang sudah Elena lupa apa.
Tangannya menggenggam ponsel itu erat. Lalu perlahan mengendur. Ia tidak mendapat alamatnya.
Tapi ia mendapat sesuatu yang lain, yaitu kepastian. Bahwa ada sesuatu yang Adrian sembunyikan. Bahwa paniknya tadi bukan panik orang yang tidak bersalah. Bahwa Bu Ratih sepertinya tidak salah lihat.