Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Strategi di Balik Layar
Hana menghabiskan malam itu dengan mata yang sulit terpejam. Ucapan Pak Mulyono terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya. Ia tahu betul bagaimana watak keluarga besar Aris; mereka adalah orang-orang yang sangat menjunjung tinggi fasad atau tampak luar, namun di baliknya tersimpan rasa haus akan validasi dan materi yang tak pernah puas.
Pagi harinya, sebelum jam kantor dimulai, Hana sudah duduk di sebuah kafe kecil di lantai dasar gedung kantornya. Ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum menghadapi badai profesionalisme di atas sana. Namun, ketenangannya terusik saat layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah tautan berita dari akun gosip lokal di media sosial yang dikirimkan oleh temannya.
Judulnya provokatif: "Kisah Pilu Ibu Mertua yang Terlantar: Mantan Menantu Sukses Jadi Manajer, Lupa Daratan?"
Di dalam artikel itu terdapat foto Ibu Aris yang sedang terbaring lemah—Hana curiga itu foto lama saat mertuanya sakit ringan—dan kutipan anonim yang sangat mirip dengan gaya bahasa Pak Mulyono. Artikel tersebut tidak menyebutkan nama asli Hana secara gamblang, namun deskripsi "Manajer Keuangan di Perusahaan Properti Besar Sudirman" sudah lebih dari cukup untuk mengarahkan telunjuk orang-orang ke arahnya.
"Cepat sekali," gumam Hana. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang dingin.
Begitu sampai di lantai divisinya, suasana terasa berbeda. Para staf yang biasanya sibuk menyapa, kini tampak menunduk saat Hana lewat. Maya, asistennya, sudah menunggu di depan pintu ruangan dengan wajah sepucat kertas.
"Bu Hana, Pak Adrian memanggil Ibu ke ruangannya sekarang. Tim Humas dan Tim Hukum juga sudah ada di sana," bisik Maya.
Hana mengangguk. Ia merapikan blazer abu-abunya, menarik napas dalam, dan melangkah menuju ruangan Adrian. Ia tahu ini adalah ujian kepemimpinan pertamanya.
Di dalam ruangan, suasana tampak sangat formal. Selain Adrian, ada Baskara—pengacara yang menangani perceraiannya—dan seorang wanita tegas bernama Shinta dari divisi Humas.
"Hana, silakan duduk," ujar Adrian. Wajahnya serius, namun matanya tetap menunjukkan dukungan.
Shinta langsung membuka pembicaraan. "Hana, artikel gosip itu mulai viral. Meskipun mereka tidak menyebutkan namamu, komentar-komentar di bawahnya sudah mulai menyebut akun media sosial perusahaan. Ini bisa mempengaruhi sentimen investor jika tidak segera ditangani."
"Apa rencana Anda, Mbak Shinta?" tanya Hana tenang.
"Mereka menginginkan klarifikasi. Jika kita diam, publik akan menganggap berita itu benar. Jika kita menyerang balik dengan kasar, kita akan terlihat seperti perusahaan besar yang menindas rakyat kecil," jelas Shinta.
Baskara menyela, "Saya punya ide lain. Kita tidak akan mengeluarkan pernyataan emosional. Kita akan menggunakan data. Saya memiliki bukti transfer bantuan yang dikirimkan Hana setiap bulan kepada Ibu Aris pasca perceraian. Kita juga punya bukti rekaman ancaman pemerasan dari Pak Mulyono kemarin di lobi. Saya sudah meminta tim keamanan untuk mengamankan rekaman CCTV dan audionya."
Adrian menatap Hana. "Hana, ini urusan pribadimu, tapi dampaknya sudah ke kantor. Saya ingin kamu yang memutuskan. Apakah kamu ingin kita menyelesaikan ini di bawah meja dengan memberi mereka uang agar diam, atau kita hadapi secara hukum?"
Hana terdiam sejenak. Jika ia memberi uang, itu berarti ia memelihara benalu. Mereka akan kembali lagi dan lagi. Sabar yang dulu ia miliki sudah lama habis.
"Jangan beri mereka sepeser pun," ujar Hana dengan suara yang jernih dan mantap. "Jika kita memberi mereka uang, kita membenarkan narasi bahwa saya bersalah. Kita akan lakukan apa yang dikatakan Pak Baskara. Kita keluarkan rilis yang elegan, tunjukkan bukti bahwa kewajiban kemanusiaan sudah dijalankan, dan umumkan bahwa kita sedang memproses hukum atas tindakan pemerasan."
Keputusan itu langsung dieksekusi. Sore harinya, perusahaan mengeluarkan pernyataan singkat namun berbobot. Mereka tidak hanya membela Hana, tapi juga melampirkan bukti-bukti transaksi yang disensor sebagian untuk membuktikan bahwa tuduhan penelantaran itu bohong.
Dampaknya instan. Netizen yang tadinya menghujat mulai berbalik arah. Mereka mulai melihat pola manipulasi dari keluarga Aris.
Namun, kejutan sebenarnya datang di penghujung hari. Aris menelepon Hana menggunakan nomor baru.
"Hana! Kamu benar-benar keterlaluan! Gara-gara rilis kantormu itu, diler tempatku bekerja sekarang memecatku! Mereka bilang mereka tidak mau punya karyawan yang keluarganya bermasalah hukum!" suara Aris terdengar histeris di seberang telepon.
"Itu bukan karena saya, Aris. Itu karena perbuatan pamanmu sendiri. Kalian yang memulai api ini, sekarang kalian yang terbakar," jawab Hana dingin.
"Aku akan datang ke apartemenmu, Hana! Aku bersumpah!"
"Datanglah, Aris. Polisi sudah berjaga di sana karena laporan pemerasan pamanmu semalam. Kamu hanya akan menambah masa hukumanmu sendiri," balas Hana sebelum memutuskan sambungan.
Hana menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya yang empuk. Ia merasa lelah, namun ada kepuasan aneh yang menjalar di hatinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu melindungi Aris dari kesalahannya sendiri.
Adrian masuk ke ruangan Hana saat matahari mulai terbenam di ufuk Jakarta. Pria itu membawa dua cup kopi hangat.
"Kamu hebat hari ini, Hana. Kamu tidak goyah sedikit pun," puji Adrian.
"Saya hanya belajar dari mentor yang baik," goda Hana sedikit, mencoba mencairkan suasana.
Adrian tertawa kecil, lalu wajahnya kembali serius. "Hana, perjalanan kita masih panjang. Aris yang kehilangan pekerjaan dan keluarga yang terdesak biasanya akan menjadi lebih berbahaya. Mereka tidak lagi punya beban untuk kehilangan apa pun. Kita harus tetap waspada."
Hana mengangguk. Ia tahu konflik ini hanyalah satu dari sekian banyak kerikil yang harus ia lalui. Namun, malam itu, ia pulang ke apartemennya bukan dengan air mata, melainkan dengan daftar rencana untuk memperkuat posisinya di perusahaan.
Ia berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota. Di bawah sana, Aris mungkin sedang meratapi nasibnya, tapi di sini, di atas sini, Hana Anindita sedang menyusun strategi untuk masa depannya yang lebih gemilang.