Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Jerat yang Terpasang
Pagi itu, suasana di kantor pusat sudah kembali kondusif. Rilis resmi yang dikeluarkan tim Humas kemarin terbukti efektif meredam isu negatif yang beredar. Namun, bagi Hana, ketenangan ini terasa seperti keheningan di tengah hutan sebelum badai besar melanda. Ia tahu Aris; pria itu tidak akan menyerah begitu saja ketika harga dirinya—dan sumber keuangannya—terancam habis.
Hana sedang meninjau dokumen anggaran untuk proyek di Surabaya ketika Maya masuk ke ruangannya. Kali ini, Maya tidak membawa berita buruk, melainkan sebuah paket berbungkus kertas cokelat tanpa nama pengirim.
"Ini baru sampai, Bu. Kurirnya bilang sudah dibayar lunas dan hanya diminta mengantarkan ke meja Ibu," lapor Maya.
Hana menatap paket itu dengan dahi berkerut. Setelah kejadian dengan Pak Mulyono, ia menjadi lebih waspada. "Buka di sini saja, Maya. Pelan-pelan."
Maya menyobek pembungkusnya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah map transparan berisi tumpukan foto. Hana mengambil map itu, dan seketika tangannya membeku. Foto-foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi: foto saat ia sedang makan siang berdua dengan Adrian di sebuah restoran bulan lalu, foto saat Adrian merangkul bahunya di parkiran minggu lalu, dan beberapa foto dirinya masuk ke apartemen.
Di balik tumpukan foto itu, ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan yang kasar: "Satu miliar rupiah, atau foto-foto 'perselingkuhan' manajer hebat ini akan mendarat di meja Direktur Utama. Kamu punya waktu 24 jam."
Hana menarik napas panjang, mencoba menekan gejolak mual di perutnya. "Maya, tolong hubungi Pak Baskara dan minta beliau ke sini sekarang. Juga, beri tahu Pak Adrian saya perlu bicara, tapi jangan katakan apa-apanya di telepon."
Satu jam kemudian, Baskara dan Adrian sudah berada di ruangan Hana yang terkunci rapat. Baskara memeriksa foto-foto itu dengan teliti menggunakan sarung tangan plastik tipis.
"Ini bukan sekadar gosip lagi, Hana. Ini sudah masuk pemerasan tingkat tinggi," ujar Baskara serius. "Sudut pengambilan gambarnya sangat profesional. Mereka tidak menggunakan ponsel biasa, ini lensa jarak jauh."
Adrian menatap foto-foto itu dengan rahang yang mengeras. Rasa bersalah mulai menghantui pikirannya. "Maafkan saya, Hana. Perhatian saya kepadamu justru menjadi senjata bagi mereka untuk menyerangmu."
Hana menggeleng. "Jangan menyalahkan diri sendiri, Adrian. Mereka akan mencari cara apa pun untuk menjatuhkan saya. Yang jadi masalah adalah 24 jam ini. Mereka sangat nekat."
"Kita tidak akan membayar mereka," tegas Adrian. "Jika kita membayar, mereka akan terus meminta lebih. Kita harus memancing mereka keluar."
Baskara mengangguk setuju. "Hana, saya ingin kamu membalas pesan ini. Katakan bahwa kamu butuh waktu untuk mencairkan dana dan ajak mereka bertemu di tempat yang 'aman' bagi mereka. Kita akan bekerja sama dengan tim keamanan internal dan kepolisian untuk melakukan operasi tangkap tangan."
"Apakah ini tidak terlalu berisiko bagi nama baik perusahaan?" tanya Hana ragu.
"Justru sebaliknya," sahut Adrian. "Jika kita menangkap mereka saat sedang melakukan pemerasan, kita punya bukti hukum yang tidak bisa dibantah. Citra Anda akan bersih total sebagai korban kriminalitas, bukan pelaku skandal."
Hana menghabiskan sisa harinya dengan perasaan yang berkecamuk. Ia mengirimkan pesan ke nomor yang tertera di balik foto tersebut, mengikuti arahan Baskara.
"Saya setuju. Tapi satu miliar bukan jumlah kecil. Saya butuh waktu untuk mengambilnya dari deposito. Temui saya besok malam pukul delapan di kafe remang-remang pinggir kota. Saya datang sendiri."
Balasan datang sepuluh menit kemudian: "Jangan coba-coba membawa polisi, atau foto ini akan menyebar sebelum kamu sampai di lokasi."
Hana meletakkan ponselnya di atas meja. Tangannya yang dingin saling bertautan. Di luar jendela, langit Jakarta mulai menggelap, seolah mencerminkan suasana hatinya. Ia teringat kembali masa-masa ia masih menjadi istri Aris—saat ancaman biasanya hanya berupa teriakan atau piring yang pecah. Kini, ancaman itu jauh lebih canggih, melibatkan uang besar dan reputasi profesional.
"Hana?" suara lembut Adrian memanggilnya. Pria itu ternyata belum pulang dan masih berdiri di pintu penghubung ruang kerja mereka.
Hana menoleh, mencoba tersenyum meskipun getir. "Saya baik-baik saja, Adrian. Hanya sedikit tidak menyangka bahwa 'sabar' yang saya selesaikan dulu harus diganti dengan 'perang' yang seperti ini."
Adrian mendekat, berdiri di depan meja Hana. "Kamu tidak sedang berperang sendirian. Kali ini, kamu punya sekutu yang tidak akan membiarkanmu jatuh."
Malam itu, Hana tidak langsung pulang. Bersama Baskara dan tim keamanan, mereka menyusun rencana detail. Kamera tersembunyi, penyadap suara, hingga posisi petugas yang akan menyamar sudah ditentukan.
Saat Hana akhirnya melangkah keluar dari gedung kantornya menuju parkiran, ia merasa setiap pasang mata di kegelapan sedang mengawasinya. Ia masuk ke dalam mobil, mengunci pintu, dan menatap dirinya di spion. Matanya yang dulu penuh ketakutan kini tampak tajam dan penuh perhitungan.
Besok malam bukan hanya tentang menyelamatkan satu miliar rupiah. Besok malam adalah tentang memutuskan rantai terakhir yang mengikatnya pada masa lalu yang beracun itu. Dan Hana sudah siap untuk menghadapinya.