Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siap Siap Di Rawa Kematian
Di luar batu persembunyian, suasana mencekam menyelimuti Rawa Kematian. Ribuan dewa telah berkumpul, memenuhi area seluas puluhan kilometer. Mereka datang dari berbagai penjuru Alam Tiga, dari kota-kota besar hingga desa terpencil. Semua tergiur oleh hadiah Dua juta kristal ilahi tingkat tinggi untuk kepala Xu Hao dan Lumo.
Para pemburu itu tidak menyadari bahwa batu hitam di tengah rawa adalah tempat persembunyian. Mereka hanya tahu bahwa target mereka berada di area ini. Indra jiwa mereka tidak bisa menembus formasi pelindung yang dipasang Lumo.
Mereka menunggu dengan sabar. Beberapa duduk bersila di udara, bermeditasi. Yang lain berdiri di atas rawa, mengamati sekeliling dengan waspada. Ada yang membentuk kelompok kecil, berdiskusi tentang strategi.
Tiba-tiba, langit di atas mereka bergetar. Tekanan kuat turun, membuat banyak Dewa Langit merasakan sesak di dada. Seorang pria turun dari langit dengan lambat, dikelilingi aura keemasan yang memancar.
Komandan Penjaga Kota Xinjian. Raja Dewa bintang sepuluh.
Pria itu berjubah perang hitam dengan bordiran naga emas. Wajahnya keras, penuh bekas luka pertempuran. Matanya tajam seperti elang, menyapu seluruh area dengan sekali pandang. Tekanannya begitu besar, membuat Raja Dewa di bawah bintang delapan pun merasa sedikit tertekan.
Ia mendarat di atas genangan lumpur, namun kakinya tidak tenggelam. Energi ilahi di bawah telapak kakinya menahan berat tubuhnya.
Ia berbicara, suaranya menggema ke seluruh penjuru. "Di sinilah lima buronan berkumpul. Xu Hao, Lumo, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji. Aku bisa merasakan aura mereka, namun belum mengetahui lokasi pasti. Harap sabar dan menunggu."
Keriuhan mulai terdengar di antara para pemburu.
"Lima buronan? Berarti total hadiahnya bisa mencapai Dua setengah juta lebih!"
"Jika kita bisa mendapatkan semuanya, kita bisa pensiun selamanya!"
"Jangan mimpi. Lihat siapa yang datang."
Di antara kerumunan, beberapa sosok menonjol. Seorang pria tua dengan jubah abu-abu duduk bersila di atas awan kecil. Auranya dalam, tidak bisa ditebak. Di sekelilingnya, para pemburu lain menjaga jarak hormat.
Di sisi lain, seorang wanita cantik berpakaian putih berdiri sendiri. Wajahnya dingin seperti es, rambut panjangnya tergerai tertiup angin. Matanya tertutup, tapi indra jiwanya menyebar luas. Di pinggangnya, tergantung pedang putih bersih.
Dan yang paling menonjol, Komandan Penjaga Kota Youdu juga hadir. Pria kekar dengan jubah merah marun, sama-sama Raja Dewa bintang sepuluh. Ia berdiri di atas kepala naga energi yang ia ciptakan, memandang ke arah rawa dengan tatapan memburu.
Mereka semua siap. Begitu target muncul, mereka akan menyerang tanpa ampun.
Tiba-tiba, langit berubah.
Mendadak gelap. Awan hitam tebal muncul dari ketiadaan, menutupi matahari. Angin kencang bertiup, membuat rawa bergelombang. Lumpur hitam muncrat ke mana-mana.
Dan kemudian, aura mematikan turun.
Aura itu begitu mengerikan, begitu pekat, membuat jantung para Dewa Langit berhenti berdetak sejenak. Bahkan para Raja Dewa merasakan kengerian menjalar di tulang punggung mereka.
Petir merah menyambar dari langit. BUKAN SATU, TAPI PULUHAN.
BUMM! BUMM! BUMM!
Petir-petir itu menghantam ke segala arah. Para Dewa Langit yang berusaha menghindar, mati seketika. Tubuh mereka hancur berkeping-keping, jiwa mereka lenyap ditelan petir merah.
Yang lebih kuat menggunakan artefak pelindung terbaik mereka. Perisai energi, jubah anti petir, formasi pertahanan. Tapi semuanya sia-sia. Petir merah menembus semua pertahanan, membakar tubuh mereka hingga menjadi abu.
Kekacauan melanda.
"BERTAHAN!" teriak Komandan Penjaga Kota Youdu.
Ia melompat ke udara. Kedua tangannya terangkat, energi ilahi berkumpul membentuk pedang raksasa. Pedang itu berwarna emas, panjangnya mencapai seratus meter.
"TEBASAN ILAHI!"
Pedang itu ditebas kan ke atas. Satu tebasan yang membelah langit.
SLASHH!
Awan hitam terbelah. Cahaya masuk melalui celah itu. Petir merah berhenti. Ketegangan mereda.
Semua orang menarik napas lega. Tapi mereka tahu, ini baru awal.
Dari balik batu hitam di tengah rawa, lima sosok keluar. Mereka terbang perlahan, naik ke udara.
Lumo di depan, dengan kedua tangan di belakang pinggang. Wajahnya dingin, santai, seolah sedang jalan-jalan sore. Di belakangnya, Xu Hao dengan jubah hitamnya, mata ungu menyala redup. Lalu Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji, siap bertarung.
Komandan Penjaga Kota Xinjian menggeram. "LUMO!! Ini pasti ulahmu!"
Lumo terbang santai mendekat. Ia berhenti sekitar seratus meter dari barisan depan para pemburu. Suaranya tenang, malas.
"Pak Tua, berhentilah marah-marah. Lagipula ini salahmu. Kau membawa semua orang ini untuk mati bersamamu. Kenapa tidak kau bawa Kaisar Dewa dari istana penguasa Alam Tiga?"
Ia melihat ke kiri dan kanan, mengamati ribuan pasukan yang mengepung. Lalu menggelengkan kepala.
"Jika hanya segini, kalian pasti mati hanya dengan satu jentikan jariku."
Seorang Raja Dewa bintang tujuh, pria kekar dengan kapak raksasa, melangkah maju. Wajahnya merah padam karena marah.
"SOMBONG!"
Baru saja kata itu keluar dari mulutnya, tubuhnya terbakar.
Api hitam muncul entah dari mana. Membakar pria itu dari dalam. Ia menjerit, berusaha memadamkan api dengan energi ilahinya. Tapi api itu tidak bisa dipadamkan. Dalam hitungan detik, tubuhnya menjadi abu. Jiwanya juga ikut musnah, tidak ada yang tersisa.
Semua orang terkesiap. Beberapa mundur selangkah tanpa sadar.
Xu Hao menyipitkan matanya. Ia menyaksikan dengan saksama. Hanya dengan sekali pandang, musuh yang kekuatannya hampir setara dengannya mati dalam sekejap. Lumo ini... kekuatannya sangat di luar akal sehat.
Penjaga Kota Youdu dan Xinjian saling pandang. Mata mereka melebar.
Lalu Penjaga Kota Xinjian menunjuk Lumo dengan jari gemetar.
"Kau... kau benar-benar sesat! Sebulan yang lalu kau masih Raja Dewa bintang satu, dalam kondisi terluka parah, kultivasimu hancur karena diserang Dewa Penguasa! Bagaimana bisa kau sudah pulih dan menjadi Raja Dewa bintang delapan?!"
Lumo menghela nafas panjang. Seperti bosan mendengar pertanyaan itu.
"Aku Lumo. Aku tidak mengikuti tatanan apa pun dalam sistem surgawi yang kalian sembah. Hanya itu jawabannya."
Semua orang terdiam. Kemudian kemarahan dan ketakutan bercampur di wajah mereka. Tapi ketakutan lebih dominan.
Penjaga Kota Youdu berbicara. Suaranya berat, penuh pertimbangan.
"Aku kembali. Aku mengundurkan diri dari perburuan ini."
Ia menatap Lumo, lalu Xu Hao. "Kupikir Lumo masih terluka. Kupikir membunuh Xu Hao akan lebih mudah. Tapi tidak kusangka Lumo sudah mulai memulihkan kekuatannya. Aku tidak ingin mengambil resiko menghadapi Lumo yang sudah pulih."
Tanpa menunggu respons, ia berbalik. Tubuhnya terbang pergi, meninggalkan area pertempuran dengan lambat dan penuh keputusasaan.
Yang lainnya melihat itu, segera mengikuti. Satu per satu, para pemburu berbalik dan pergi. Mereka tidak bodoh. Bertarung melawan monster seperti Lumo adalah bunuh diri.
Penjaga Kota Xinjian mengepalkan tangannya. Wajahnya berubah beberapa kali. Dia harus melakukan sesuatu demi satu juta kristal ilahi. Akhirnya ia berbicara.
"Lumo. Aku akan biarkan kau pergi. Tapi biarkan aku membunuh anak itu."
Ia menunjuk Xu Hao.
"Aku berjanji tidak akan pernah memburu mu lagi. Bagaimana?"
Semua orang yang baru saja pergi, berhenti. Mereka menoleh, menunggu jawaban Lumo. Pertanyaan itu bagus. Jika Lumo setuju, mereka masih bisa mendapatkan keuntungan. Xu Hao sendirian, hadiahnya satu juta kristal.
Lumo mengangguk pelan. "Kalian bisa mencobanya."
Ia lalu menyingkir sedikit, terbang ke samping. Kemudian duduk bersila di udara, menyilangkan kaki, meletakkan tangan di atas lutut. Matanya terpejam, seolah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi.
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji pucat.
Mei Mei melangkah maju. "Senior Lumo! Apa yang senior lakukan?! Nenek Yi pasti akan kecewa melihat senior seperti ini!"
Lumo melambaikan tangannya malas, tanpa membuka mata. "Haaa... fokuslah bertarung. Tidak perlu banyak protes."
Ketiganya merasa geram. Tapi sebelum mereka bisa berkata apa-apa, Xu Hao mengangkat tangannya. Suaranya tenang, menenangkan.
"Tenanglah. Kita pasti bisa membunuh semua orang yang datang."
Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji menatap Xu Hao. Ada keyakinan di mata pria itu. Keyakinan yang membuat mereka sedikit lega.
Tapi di dalam hati, mereka masih bertanya-tanya. Bisakah mereka bertahan melawan ribuan pemburu, dengan dua Raja Dewa bintang sepuluh sebagai ancaman utama?
Di hadapan mereka, Penjaga Kota Xinjian tersenyum puas. Ribuan pemburu mulai berkumpul kembali, mengarahkan target mereka pada Xu Hao dan tiga temannya.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"