Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Nick menutup pintu kantornya setelah mereka masuk.
Ruangan itu luas dan suasana nya tenang. Jendela kaca besar memperlihatkan seluruh kota dari ketinggian lantai eksekutif.
Tessa melangkah pelan ke arah jendela, menatap pemandangan di luar beberapa saat.
Dari atas sini, semuanya terlihat jauh lebih kecil.
Gedung-gedung, jalanan, bahkan orang-orang yang bergerak di bawah sana.
Sementara itu, Nick sudah duduk di kursinya dan membuka beberapa berkas di atas meja.
Seolah kehadiran Tessa di ruangan itu tidak cukup penting untuk mengganggu ritme kerjanya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Hanya suara kertas yang dibalik.
“Tessa.” Nick akhirnya berbicara tanpa mengangkat kepala.
Tessa menoleh.
“Ya?”
Nick menunjuk kursi di depan mejanya.
“Duduk.”
Nada suaranya pendek.
Lebih seperti instruksi daripada ajakan.
Tessa berjalan mendekat lalu duduk di kursi itu.
Namun ia tidak langsung berbicara.
Nick masih membaca dokumen di tangannya.
Beberapa detik kemudian Tessa berkata pelan,
“Jadi ini rutinitasmu setiap hari?”
Nick menutup berkas itu dan menatapnya.
“Kurang lebih.” jawab nick pendek,
“Terlihat… melelahkan.” ucap tessa lirih, ia takut salah bicara,
Nick mengangkat alis sedikit.
“Bisnis memang bukan tempat untuk bersantai.”
Tessa mengangguk kecil.
Ia memperhatikan meja besar itu, tumpukan dokumen, beberapa map penting, layar komputer yang masih menyala.
“Aku tidak menyangka semuanya sebesar ini.” gumam tessa,
Nick bersandar sedikit di kursinya.
“Aku sudah bilang padamu.” nada suaranya datar.
“Kau akan melihat sisi lain dari hidupku.”
Tessa menatapnya sebentar.
“Orang-orang di luar tadi terlihat seperti… takut padamu.”
Nick menatapnya tanpa ekspresi.
“Bagus.”
Jawabannya membuat Tessa heran,
“Bagus?”
“Kalau mereka tidak takut membuat kesalahan, mereka akan mulai ceroboh.”
Tessa menghela napas kecil.
Ia masih belum terbiasa dengan cara berpikir Nick.
Beberapa detik hening berlalu.
Lalu Tessa berkata lagi,
“Tapi kau juga berbicara padaku seperti itu tadi.”
Nick menyipitkan mata sedikit.
“Seperti apa?”
“Seperti stafmu.” ucap Tessa sembari menatapnya langsung sekarang.
“Semua yang kau katakan terdengar seperti perintah.” lanjutnya,
Ruangan menjadi sunyi beberapa detik.
Nick mengetuk meja dengan jarinya pelan.
Tatapannya tetap tenang, tapi jelas tidak terlalu menyukai arah pembicaraan itu.
“Di tempat ini, aku memang memberi perintah.” jawab nick,
“Tapi aku bukan karyawanmu.”
Nick menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia berkata dengan nada yang sedikit lebih dingin,
“Di kantor ini, aku tidak punya waktu untuk menyesuaikan cara bicara pada setiap orang.”
Kalimat itu terdengar tajam.
Tessa menahan napas sebentar.
Ia tidak bermaksud memperdebatkan.
Namun tetap saja, kata-kata itu terasa tidak menyenangkan.
“Aku hanya mengatakan bagaimana rasanya.”
Nick menatapnya lebih lama sekarang.
Kemudian ia berkata datar,
“Kalau begitu biasakan dirimu,"
Kalimat itu keluar tanpa emosi.
“Aku tidak membawa banyak orang ke tempat ini.”
Ia berhenti sebentar.
Tatapannya tetap pada Tessa.
“Kalau aku mengajakmu ke sini, itu berarti kau harus melihat semuanya apa adanya.”
Tessa terdiam.
Ia tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian Nick kembali membuka berkas di mejanya.
Seolah percakapan itu sudah selesai.
Namun sebelum benar-benar kembali bekerja, ia berkata lagi tanpa menatapnya,
“Dunia ini tidak selalu menyenangkan.” ucapnya dengan nada rendah,
“Dan aku tidak akan berpura-pura hanya untuk membuatmu merasa nyaman.”
Tessa menatapnya beberapa saat.
Lalu akhirnya berdiri dari kursinya dan berjalan kembali ke arah jendela.
Nick tidak menghentikannya.
Ia kembali membaca dokumen di tangannya.
Namun sesaat tatapannya sempat terangkat sebentar ke arah Tessa yang berdiri membelakanginya.
Hanya beberapa detik.
Lalu kembali pada pekerjaannya.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tessa suka sekali melihat pemandangan dari jendela besar itu,
Dari sana, kota terlihat seperti lautan gedung kaca yang berkilau di bawah matahari siang. Namun perhatian Tessa tidak benar-benar berada di luar sana.
Pikirannya masih tertinggal pada percakapan mereka beberapa menit lalu.
Di belakangnya, Nick sudah masih duduk di kursi kerjanya.
Ia membuka beberapa map yang baru saja dibawa sekretaris tadi. Lembar-lembar kertas dibalik dengan cepat, matanya bergerak tajam membaca angka demi angka.
Satu halaman.
Halaman berikutnya.
Pulpen di tangannya bergerak singkat, menandatangani dokumen tanpa ragu.
Seolah pembicaraan dengan Tessa tadi tidak pernah terjadi.
Tok.
Ketukan di pintu memecah keheningan.
“Masuk.” Nick menjawab tanpa mengalihkan pandangan nya dari dokumen didepannya,
Pintu terbuka.
Seorang pria sekitar umur empat puluh tahunan masuk dengan langkah yang tampak sedikit terburu. Di tangannya ada beberapa map tebal.
“Selamat siang, Tuan Nickolas.”
Nick hanya mengangkat tangannya sedikit sebagai jawaban.
“Laporannya.”
Tidak ada basa-basi.
Pria itu segera mendekat dan meletakkan map-map tersebut di atas meja besar.
Nick membuka map paling atas.
Beberapa detik pertama ruangan itu benar-benar sunyi.
Hanya suara kertas yang dibalik.
Tessa memperhatikan dari tempatnya berdiri.
Awalnya ekspresi Nick tetap datar seperti biasa.
Namun perlahan…
ada perubahan kecil di wajahnya.
Alisnya menegang sedikit.
Ia membalik satu halaman lagi.
Kemudian satu lagi.
Lalu map itu ditutup dengan suara yang cukup keras.
“Pak Arman.”
Pria itu langsung menegakkan tubuhnya.
“Ya, Tuan?”
Nick mengangkat pandangannya.
Tatapan itu tenang.
Terlalu tenang.
Namun justru membuat udara di ruangan terasa jauh lebih berat.
“Ini laporan keuangan divisi logistik bulan ini?”
“Iya, Tuan.” jawab Pak arman dengan sedikit gugup,
Nick membuka halaman tertentu dan memutarnya sedikit agar terlihat jelas.
“Kalau begitu jelaskan satu hal padaku.”
Ia mengetuk angka di kertas itu dengan ujung pulpen.
“Kenapa angka ini berbeda dengan laporan minggu lalu?”
Pak Arman mendekat.
Ia melihat halaman itu, lalu terlihat sedikit ragu.
“Oh… itu mungkin karena revisi terakhir dari tim..."
“‘Mungkin?” Nick langsung memotongnya,
Nada suaranya tidak keras.
Namun cukup tajam untuk menghentikan kalimat pria itu.
Nick bersandar sedikit di kursinya.
Tatapannya tetap tertuju pada pria di depannya.
“Perusahaan ini tidak berjalan dengan kemungkinan.”
Ia mendorong map itu kembali ke arah Pak Arman.
“Perusahaan ini berjalan dengan angka yang pasti.”
Ruangan kembali sunyi.
Pak Arman terlihat semakin gugup sekarang.
Nick melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
“Angka ini salah.”
Pria itu membuka mulut, mencoba menjelaskan.
“Tuan, kami hanya..."
Nick mengangkat tangannya sedikit.
Gerakan kecil itu langsung menghentikan kalimatnya.
“Kalau kau harus menjelaskan terlalu banyak,” kata Nick perlahan, “biasanya itu berarti ada kesalahan sejak awal.”
Tessa yang berdiri di dekat jendela memperhatikan semuanya.
Ia belum pernah melihat Nick bekerja seperti ini.
Tidak ada suara keras.
Tidak ada emosi yang meledak.
Namun setiap kalimatnya terasa seperti perintah.
Dan orang di depannya jelas merasakannya.
Pak Arman menelan ludah.
“Kami akan memperbaikinya, Tuan.”
Nick menyilangkan tangan di atas meja.
“Kapan?”
“Sore ini.” jawab Pak arman,
Nick menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata singkat,
“Dua jam.”
Pria itu tampak benar-benar terkejut.
“Dua… jam, Tuan?”
Nick menutup map itu lagi dengan tenang.
“Ya.”
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Kalau satu divisi tidak mampu memperbaiki satu laporan dalam dua jam…”
tatapannya menjadi lebih tajam,
“…mungkin aku perlu mempertimbangkan mengganti semua orang di dalamnya.”
Kalimat itu diucapkan tanpa emosi.
Namun cukup membuat wajah Pak Arman langsung pucat.
“Saya akan memastikan semuanya selesai, Tuan.”
Nick mengangguk sekali.
Gerakan kecil yang terasa seperti keputusan final.
“Bagus.”
Pria itu segera mengumpulkan map-map tersebut kembali.
Tangannya terlihat sedikit tergesa sekarang.
Sebelum keluar dari ruangan, ia sempat melirik Tessa sekilas.
Lalu buru-buru pergi.
Pintu tertutup.
Keheningan kembali memenuhi kantor besar itu.
Tessa masih berdiri di dekat jendela.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berbicara.
Suaranya pelan.
“Sekarang aku mengerti.” ucap tessa seraya melangkah pelan dan kembali duduk didepan nick,
Nick tidak langsung menjawab.
Ia kembali membuka dokumen lain dan menulis sesuatu.
“Mengerti apa?”
Tessa menatap nick tanpa berkedip,
“Kenapa semua orang terlihat takut padamu.”
Pulpen di tangan Nick berhenti bergerak.
Ia mengangkat pandangannya, hingga tatapan mereka beradu,
“Takut?”
Tessa mengangguk kecil.
“Itu bukan hanya rasa hormat.”
Nick menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata dengan nada datar,
“Kalau mereka melakukan pekerjaan mereka dengan benar…”
ia menutup map di depannya,
“…mereka tidak punya alasan untuk takut.”
Tessa menghela napas pelan.
“Dua jam terdengar cukup kejam.”
Nick bersandar di kursinya.
“Bisnis tidak berjalan dengan belas kasihan, Tessa, tapi bisnis berjalan dengan hasil.”
Tessa diam sejenak.
Kemudian berkata pelan,
“Dan kau memimpin semuanya seperti itu setiap hari?”
Nick tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap tessa dengan intens, lalu berkata dengan suara rendah,
“Kalau kau ingin melihat hidupku…”
ia berhenti sejenak,
“…ini bagian yang sebenarnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Tessa menatap pria itu beberapa saat.
Sekarang Tessa benar-benar memahami satu hal.
Pria yang ia nikahi bukan hanya dingin.
Tapi dunia yang ia kuasai memang tidak pernah lembut sejak awal.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna