⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Cold War & The Ice Cream Manifesto
......***Happy reading ***......
Malam itu, kamar Gia berubah jadi markas komando darurat. Caca, yang dihubungi lewat video call, sudah memasang wajah serius layaknya pengamat politik di televisi nasional. Sementara itu, Gia guling-guling di kasurnya, memeluk guling yang sudah dia kasih nama "Radit Junior" saking delulunya.
"Gue harus bales apa, Ca?! 'Aww makasih Daddy'? Atau 'Jangan es krim dong Pak, saya maunya hati Bapak'?" Gia histeris, menunjuk layar ponselnya yang menampilkan pesan singkat namun mematikan dari Pak Radit.
"Stoppp! Stop right there, Gia! Jangan pick-me banget deh," sahut Caca dari layar ponsel. "Dengerin gue. Pak Radit itu tipe alpha yang suka kontrol. Kalau lo langsung meleyot, dia bakal ngerasa tugas dia 'menjinakkan' murid bandel udah selesai. Lo harus pakai taktik Push and Pull. Jual mahal dikit, biar dia kepikiran."
Gia mengerutkan kening. "Jual mahal gimana? Gue udah terlanjur ngaku suka di dalem mobil tadi! Harga diri gue udah terjun bebas dari lantai 36, Ca!"
"Justru itu! Besok di sekolah, lo akting seolah-olah obrolan di mobil itu cuma 'efek trauma kena bengkak'. Lo harus cool, slay, dan sedikit... distant. Biar dia bingung, 'Lho, kok ini anak kemarin nangis sekarang malah cuek?'. Cowok itu kalau dibikin bingung, egonya bakal naik, dan dia bakal nyari cara buat narik perhatian lo lagi."
Gia menelan ludah. "Oke. Mission accepted. Gue bakal jadi The Queen of Cool."
...
Selasa Pagi.
Gia masuk ke gerbang SMA Garuda Bangsa dengan gaya yang sangat berbeda. Biasanya dia bakal lari-lari sambil teriak manggil Caca, tapi hari ini dia jalan pelan (ya, karena kakinya masih agak diperban sih, tapi dibuat-buat biar kelihatan estetik). Dia pakai kacamata hitam yang bertengger di atas kepala dan earbuds yang terpasang di telinga, padahal nggak ada musik yang diputar. Dia cuma mau menghindari interupsi suara dari luar.
Baru saja dia melewati koridor arah kantin, siluet tinggi yang sangat dia kenali muncul dari arah ruang guru. Pak Radit. Hari ini dia pakai kemeja biru navy yang lengannya digulung sampai siku. Damage-nya? Jangan ditanya. Gia hampir saja mau lari nyamperin dan nanya "Bapak wangi apa hari ini?", tapi suara Caca di kepalanya berteriak: STAY COOL, GIA!
Gia mengatur napas. Dia tetap jalan lurus, menatap ke depan seolah-olah Pak Radit itu cuma tiang bendera yang kebetulan lewat.
Saat jarak mereka tinggal dua meter, Pak Radit berhenti. "Gia."
Gia nggak berhenti. Dia cuma menoleh sedikit, melepas satu earbud-nya dengan gerakan lambat yang sudah dia latih di depan cermin selama satu jam.
"Eh, Pak Radit. Pagi, Pak," sapa Gia dengan nada sedatar aspal sirkuit Mandalika.
Pak Radit menaikkan alisnya. Dia tampak sedikit bingung dengan perubahan suhu di sekitar Gia yang mendadak jadi minus sepuluh derajat Celcius. "Kaki kamu gimana? Masih sakit?"
"Udah mendingan, Pak. Makasih salepnya. Saya duluan ya, Pak, ada piket kelas," jawab Gia singkat, padahal dia nggak pernah piket seumur hidupnya. Dia langsung pasang lagi earbud-nya dan lanjut jalan tanpa nunggu balasan Pak Radit.
Di balik punggungnya, Gia bisa merasakan tatapan Pak Radit yang masih menempel di jaketnya. Satu poin buat Gia! batinnya kegirangan.
.
.
[To be continued]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..