Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: BABAK 16 BESAR
Babak 16 besar dimulai dengan suasana yang lebih mencekam dari sebelumnya.
Arena utama kini hanya menyisakan enam belas petarung terbaik. Ribuan penonton memadati tribun, memenuhi setiap celah. Sorak-sorai dan yel-yel bergemuruh, sebagian besar mendukung petarung favorit mereka—kebanyakan adalah petarung dari grup A dan B yang sudah terkenal sejak awal turnamen.
Ha-neul berdiri di ruang tunggu, mengamati papan pengumuman besar yang menampilkan bagan pertarungan. Namanya terpampang di sisi kanan bawah, berhadapan dengan seorang pria bernama Jang Mu-won.
"Jang Mu-won..." gumamnya.
Seo Jun-ho, yang duduk di sampingnya, langsung bereaksi. "Lo dapat dia? Waduh, sial banget."
"Kenapa? Dia siapa?"
Jun-ho menatapnya tidak percaya. "Lo nggak tahu Jang Mu-won? Dia tuh jagoan dari grup A. Peringkat pertama di babak penyisihan. Rekor tiga pertarungan, tiga kemenangan, total waktu pertarungan nggak sampai sepuluh menit. Lawan-lawannya tumbang semua tanpa ada yang bisa balas serangan."
Ha-neul mengerutkan kening. "Cepat sekali."
"Lo belum lihat gayanya." Jun-ho menurunkan suara. "Dia pake pedang panjang, tapi yang bikin serem tuh... dia bisa ngeluarin energi pedang. Kayak teknik tingkat tinggi gitu. Lawan-lawannya pada kena serang dari jarak jauh sebelum sempet mendekat."
Ha-neul diam. Ini tantangan yang berbeda. Selama ini ia menghadapi petarung jarak dekat. Sekarang ia harus melawan seseorang yang bisa menyerang dari jauh.
"Ini ujian," bisik Hyeol-geon. "Tunjukkan apa yang kau pelajari di lembah."
Ha-neul mengangguk pelan.
---
Pertarungan pertama hingga ketiga berlangsung sengit. Dua petarung tewas di arena—korban pertama turnamen ini. Mayat mereka diseret keluar seperti bangkai hewan, tanpa ada yang peduli. Penonton justru bersorak lebih keras, haus darah.
Giliran keempat adalah pertarungan Ha-neul.
Ia melangkah ke arena. Dari seberang, Jang Mu-won muncul dengan langkah percaya diri. Pria itu tinggi, ramping, dengan jubah putih bersih—kontras dengan suasana kelam sekte. Pedang panjangnya tersarung di pinggang, gagangnya dihiasi permata biru. Wajahnya tampan, hampir seperti bangsawan, dengan senyum tipis yang meremehkan.
"Kang Woo?" sapanya. "Yang katanya jago tusuk dari grup D? Aku dengar kau punya jurus andalan."
Ha-neul tidak menjawab.
Jang Mu-won tertawa kecil. "Aku sudah amati semua pertarunganmu. Kau hanya bisa menang kalau sudah dekat. Begitu lawan bisa jaga jarak, kau pasti kesulitan." Ia menarik pedangnya—bilahnya berkilat biru, memancarkan energi dingin. "Sayang sekali, kau bertemu aku di babak ini."
Wasit memberi aba-aba. Pertarungan dimulai.
Jang Mu-won langsung menyerang dari jauh. Pedangnya diayunkan, dan energi biru melesat seperti anak panah. Ha-neul menghindar dengan cepat, berguling ke samping. Energi itu menghantam lantai batu, meninggalkan bekas hitam.
Serangan kedua, ketiga, keempat—bertubi-tubi. Ha-neul terus menghindar, tidak bisa mendekat. Jarak antara mereka selalu sekitar dua puluh meter, terlalu jauh untuk tusukannya.
Penonton bersorak. Mereka suka melihat pertarungan satu arah.
"LARI TERUS, BOCAH!" teriak seseorang. "NAK MAJU LAH!"
Tapi Ha-neul tidak peduli. Ia terus bergerak, mengamati pola serangan Jang Mu-won. Setiap kali mengayun, ada jeda—hanya sepersekian detik, tapi cukup.
"Dia mengandalkan energi. Setiap serangan menguras Qi-nya. Tunggu sampai dia lelah."
Ha-neul mengikuti saran itu. Ia terus menghindar, sesekali pura-pura tersandung untuk meyakinkan lawan bahwa ia kewalahan.
Jang Mu-won tersenyum puas. "Kau seperti tikus! Lari terus! Berapa lama kau bisa bertahan?"
Ia meningkatkan serangannya. Energi biru memenuhi arena, menciptakan ledakan-ledakan kecil di mana-mana. Ha-neul terus bergerak, hampir seperti menari di antara serangan.
Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Jang Mu-won mulai terengah. Serangannya tidak secepat awal. Qi-nya mulai menipis.
"Berhenti lari!" teriaknya frustrasi.
Ha-neul berhenti.
Penonton hening. Mereka tidak mengerti.
Jang Mu-won mengerutkan kening. "Apa?"
"Sekarang giliranku."
Ha-neul melesat.
Kecepatannya luar biasa—jauh lebih cepat dari sebelumnya. Jang Mu-won panik, mengayunkan pedangnya, tapi energi yang keluar hanya samar, tidak cukup kuat. Ha-neul menghindar dengan mudah, terus mendekat.
Sepuluh meter. Lima meter. Satu meter.
Pedang kayu Ha-neul menusuk.
Bukan ke titik vital, tapi ke pergelangan tangan kanan Jang Mu-won. Tepat di urat. Pedang panjang itu terlepas. Ha-neul terus bergerak, menusuk lagi—ke siku, ke bahu, ke pinggang. Empat tusukan dalam hitungan detik.
Jang Mu-won terkulai, tidak bisa bergerak. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka, tapi suara tak keluar.
Hening.
Wasit mendekat, memeriksa. Jang Mu-won masih sadar, tapi lumpuh total.
"Pemenang... Kang Woo!"
Sorak-sorai pecah. Kali ini berbeda—bukan ejekan, tapi kekaguman. Bocah dari grup D mengalahkan jagoan grup A dengan cara yang tidak terduga.
Ha-neul menunduk, mengambil napas. Tubuhnya lelah, tapi ia puas. Ia tidak perlu membunuh, hanya melumpuhkan. Itu cukup.
Saat melangkah keluar, ia melewati Jang Mu-won yang masih tergeletak. Mata pria itu menatapnya dengan campuran takjub dan takut.
"Kau... kau iblis..." bisiknya.
Ha-neul tidak menjawab. Ia terus berjalan.
---
Di tribun khusus, Penguasa Sekte Iblis bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa," gumamnya. "Anak ini benar-benar berbakat. Ia tahu persis kapan harus bertahan dan kapan menyerang." Ia menoleh ke ajudan. "Pastikan ia masuk ke dalam daftar kandidat ritual. Aku ingin melihat lebih banyak."
Ajudan mengangguk, mencatat sesuatu.
---
Di ruang tunggu, Seo Jun-ho menyambutnya dengan pelukan.
"LO GILA! LO GILA! LO NGALAHIN JANG MU-WON!" teriaknya. "Gua nggak percaya! Lo tuh monster!"
Ha-neul tersenyum tipis. "Lo sendiri gimana? Menang?"
Jun-ho mengangguk semangat. "Menang! Berkat tips lo, gua bisa lawan si item itu. Sekarang gua di 8 besar!"
"Selamat."
"Lo juga! Kita sama-sama di 8 besar!" Jun-ho tertawa. "Bayangin, kita bisa aja ketemu di semifinal!"
Ha-neul diam. Ia berharap tidak. Bertemu teman di arena adalah situasi yang tidak diinginkan.
Tapi takdir berkata lain.
Saat pengumuman bagan 8 besar keluar, nama mereka berdua berada di sisi yang sama. Jika keduanya menang di perempat final, mereka akan bertemu di semifinal.
Jun-ho membaca bagan itu, lalu tersenyum lebar.
"Akhirnya..." katanya pelan. "Kita bisa bertarung sungguhan, Kang Woo."
Ha-neul menatapnya. Di mata Jun-ho, ia melihat api semangat, bukan permusuhan.
"Iya," jawabnya. "Aku tunggu."
---
Malam harinya, Ha-neul duduk di atap asrama. Pikirannya melayang pada pertarungan besok, pada Jun-ho, pada misi utamanya.
"Kau tidak ingin bertarung melawannya?" tanya Hyeol-geon.
"Tidak. Tapi jika harus, aku akan lakukan."
"Dia temanmu."
"Di sini, tidak ada teman. Hanya sementara."
Hyeol-geon diam. Ia tahu muridnya benar, tapi juga tahu Ha-neul sebenarnya peduli pada Jun-ho.
"Apa kau akan mengalah?"
Ha-neul menggeleng. "Dia tidak akan mau. Dia ingin lihat kemampuan asliku. Aku akan memberikannya."
Di langit, awan kelabu bergerak lambat, menutupi bulan. Malam semakin larut.
Besok, pertarungan melawan teman.