NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Gudang tidak lagi terasa seperti tempat berlindung. Ia berubah menjadi ruang pertempuran

Semua bergerak cepat, namun tidak panik. Setiap orang memiliki peran, jalur, dan tujuan masing-masing. Tidak ada perintah berulang. Tidak ada kebingungan. Mereka suda terorganisir dan terbiasa.

Lyra berdiri di tengah aktivitas yang terkoordinasi itu, memperhatikan bagaimana dunia Damian beroperasi ketika terdesak.

Sunyi. Efisien. Mematikan.

Draven menutup panel keamanan terakhir. “Sistem akan menghapus jejak dalam dua menit.”

Lucian mengangkat perangkat kecil dari meja dan memasukkannya ke saku. “Jaringan kamera kota sudah aku hack. Untuk sementara, kita bisa bergerak bebas ”

Orion memeriksa amunisi sambil berjalan. “Kendaraan siap di terowongan timur.”

Kael memimpin jalur evakuasi dengan ketenangan yang menenangkan. Ia tidak berbicara banyak, namun kehadirannya seperti dinding bergerak.

Elena mendekati Damian dengan tablet di tangan. “Ada satu jalur aman tambahan. Tapi itu berarti melewati wilayah netral.”

“Tidak ada wilayah netral lagi,” jawab Damian pelan.

Lyra memperhatikan kalimat itu.

Tidak ada wilayah netral.

Artinya semua sisi adalah medan tempur.

Sierra mendekat ke Lyra sambil menarik ritsleting jaketnya. “Kita benar-benar pergi bersama mereka?”

Lyra menatap ke arah Damian yang sedang berbicara dengan Kael.

“Aku belum melihat pilihan lain,” jawabnya.

Raina menghela napas panjang. “Aku biasanya memilih refresinh, bukan mencari mati dengan peluru yang berterbangan.”

Zaya menatap pintu yang hancur, lalu berkata tenang, “Pantai tidak mengejar kita.”

Kalimat itu menutup percakapan.

Damian melangkah mendekat.

“Waktu kita tidak banyak,” ucapnya.

Ia memberikan rompi anti peluru tambahan kepada Lyra. Gerakannya sederhana, tanpa sentuhan berlebihan, namun jarak di antara mereka terasa berbeda dari sebelumnya.

Lebih dekat.

Lebih nyata.

“Kau tetap di tengah formasi,” katanya.

Lyra mengangkat alis. “Kau selalu memberi perintah seperti ini?”

“Tidak,” jawab Damian. “Hanya pada orang yang ingin tetap hidup.”

Lucian berdeham pelan dari belakang. “Aku merasa tersentuh.”

Kael menepuk bahu Lucian keras. “Bergerak.”

Kelompok mulai menuju pintu logam bagian dalam yang mengarah ke terowongan bawah tanah. Cahaya redup membentuk lorong panjang yang berbau lembap dan dingin.

Langkah kaki mereka bergema berlapis.

Lyra berjalan di samping Damian. Ia tidak berbicara, namun kesadarannya terhadap pria itu terasa tajam. Cara Damian memperhatikan setiap sudut, setiap suara kecil.

Ia bukan hanya melarikan diri.

Ia menghitung kemungkinan.

Di belakang mereka, Orion berjalan paling akhir, memastikan tidak ada yang tertinggal.

Elena menutup akses masuk dengan panel portabel. “Gudang akan terlihat kosong dalam tiga puluh detik.”

Lucian tersenyum kecil. “Seolah kita tidak pernah ada.”

Perjalanan di terowongan berlangsung dalam diam tegang. Udara semakin dingin, dan suara kota perlahan menghilang.

Setelah beberapa menit berjalan, Draven mengangkat tangan memberi tanda berhenti.

Ia menempelkan perangkat kecil ke dinding beton. Lampu indikator menyala hijau.

“Area bersih,” katanya.

Pintu tersembunyi di sisi terowongan terbuka perlahan.

Di baliknya, ruang parkir bawah tanah dengan tiga kendaraan hitam tanpa tanda.

Orion membuka pintu kendaraan depan. “Rute bergerak dalam konvoi.”

Kael mengatur posisi dengan cepat.

Lyra hendak masuk ketika Damian menahan pintu sejenak.

“Kau masih bisa memilih pergi,” ucapnya pelan.

Lyra menatapnya beberapa detik.

Suara mesin kendaraan mulai hidup di sekitar mereka.

“Kalau aku pergi,” jawab Lyra, “mereka tetap akan mengejar.”

Damian tidak menyangkal.

“Dan kalau aku bertahan,” lanjutnya, “aku ingin tahu kenapa semua ini terjadi.”

Hening singkat.

Damian mengangguk sekali. Bukan persetujuan… melainkan penerimaan.

“Kalau begitu, tetap dekat denganku.”

Lyra tersenyum tipis. “Itu bukan ancaman, kan?”

“Bukan.”

Ia masuk ke kendaraan.

Konvoi bergerak perlahan keluar dari ruang parkir, menyusuri jalur bawah tanah yang mengarah ke bagian kota yang lebih gelap dan jarang dipetakan.

Di kursi belakang, Sierra menggenggam tangan Raina. Zaya memperhatikan peta digital di layar kecil di depan mereka.

Lucian duduk santai, namun matanya terus mengamati data yang berubah.

Di kendaraan depan, Kael dan Orion berkomunikasi singkat melalui saluran internal.

Dan di tengah semuanya—

Damian duduk di samping Lyra.

Tidak berbicara.

Tidak menoleh.

Namun kehadirannya terasa seperti garis yang memisahkan kekacauan dari ketenangan.

Konvoi akhirnya muncul ke permukaan melalui pintu logam tua di distrik industri yang sunyi.

Langit mendung.

Angin dingin.

Kota terlihat normal bagi siapa pun yang tidak tahu apa yang bergerak di baliknya.

Elena memecah keheningan melalui komunikator.

“Lokasi tujuan aktif. Tapi ada satu hal…”

Damian menjawab, “Bicara.”

“Eliminasi di gudang bukan hanya uji kekuatan. Mereka mencari sesuatu.”

Lyra menoleh.

“Mencari apa?”

Elena tidak langsung menjawab.

Layar di dashboard menampilkan simbol yang sama seperti sebelumnya.

Simbol organisasi bayangan.

“Mereka mencari seseorang yang seharusnya sudah mati.”

Hening memenuhi kendaraan.

Lyra merasakan perubahan halus pada ekspresi Damian.

Sangat halus… namun cukup untuk menyampaikan satu hal:

Masa lalu sedang menyusul.

Dan perjalanan mereka bukan pelarian.

Ini awal perburuan yang sesungguhnya.

Konvoi melaju menembus jalan industri yang lengang. Gedung-gedung tua berdiri seperti bayangan raksasa yang mengawasi setiap pergerakan mereka.

Lyra menatap keluar jendela kendaraan. Kota tampak biasa. Lampu lalu lintas masih menyala. Orang-orang masih berjalan. Kehidupan tetap berlangsung.

Seolah dunia tidak peduli bahwa perang kecil baru saja dimulai.

Di dalam mobil, suasana jauh berbeda.

Layar taktis di dashboard menampilkan jalur yang terus berubah. Lucian mengubah rute setiap beberapa menit, memastikan tidak ada pola yang bisa diprediksi.

“Kita tidak dikejar,” ucap Orion dari kendaraan depan melalui saluran komunikasi.

Draven menambahkan, “Belum.”

Kata itu menggantung lama.

Lyra melirik Damian. Pria itu duduk tegak, pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya jelas tidak berada di jalan yang mereka lewati.

Ada sesuatu yang berubah sejak Elena menyebut seseorang yang seharusnya sudah mati.

Lyra akhirnya memecah keheningan.

“Kau mengenal simbol itu.”

Bukan pertanyaan.

Damian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata pelan, “Aku mengenal orang yang menggunakannya.”

Lyra menunggu kelanjutan.

Tidak ada.

“Kau selalu bicara setengah,” gumamnya.

Damian menoleh sedikit. “Karena setengah lainnya berbahaya.”

Lyra menahan tatapannya. “Aku sudah berada di dalam bahaya.”

Hening kembali jatuh.

Namun kali ini berbeda.

Lebih jujur.

Di kursi belakang, Sierra memperhatikan percakapan itu dengan mata cemas. Raina menggenggam sabuk pengaman lebih erat, sementara Zaya mengamati data jalur di layar dengan fokus tajam.

Lucian tiba-tiba mengangkat tangan sedikit. “Ada perubahan lalu lintas digital. Seseorang mencoba membaca pergerakan kita secara tidak langsung.”

Kael merespons cepat dari depan, “Sumber?”

Lucian mengetik cepat. “Belum pasti. Tapi pola mereka sabar. Terlalu sabar.”

Elena berbicara dari jaringan komunikasi, suaranya tetap tenang, “Mereka tidak ingin menangkap kita di jalan. Mereka ingin tahu tujuan kita.”

Orion tertawa pendek. “Sayang sekali, bahkan kita belum sepenuhnya tahu.”

Damian akhirnya berbicara lagi, kali ini lebih tegas, “Rute tetap. Jangan ada deviasi.”

Lyra menoleh padanya. “Kita menuju ke mana sebenarnya?”

Damian menatap jalan di depan.

“Tempat yang tidak tercatat.”

Kendaraan berbelok tajam, meninggalkan jalur utama dan memasuki kawasan pelabuhan lama yang jarang digunakan. Bau laut samar mulai terasa, bercampur logam dan minyak.

Gerbang besi tua terbuka perlahan saat konvoi mendekat.

Di baliknya, kompleks bangunan industri yang tampak mati berdiri sunyi. Tidak ada penjaga terlihat. Tidak ada tanda aktivitas.

Namun Lyra merasakan sesuatu yang tak terlihat.

Tempat ini hidup… dengan cara yang berbeda.

Kendaraan berhenti di dalam hanggar besar. Pintu logam menutup kembali dengan suara berat yang menggema.

Mesin dimatikan.

Keheningan datang lebih tebal dari sebelumnya.

Kael keluar lebih dulu, matanya memindai sekeliling. Orion mengikuti, lalu Draven membuka akses kontrol di dinding beton.

Lampu-lampu industri menyala bertahap, mengungkap ruang luas yang tersembunyi di balik tampilan bangunan tua.

Ini bukan tempat perlindungan sementara.

Ini markas.

Lyra turun dari kendaraan perlahan. Udara di dalam hanggar terasa lebih hangat, namun tekanan tak kasatmata tetap ada.

Elena sudah menunggu di dekat meja taktis portabel.

“Selamat datang di titik nol,” katanya.

Raina berbisik pada Sierra, “Titik nol terdengar tidak menenangkan.”

Zaya menjawab pelan, “Titik nol adalah tempat segalanya dimulai ulang.”

Lucian meregangkan tubuhnya. “Akhirnya tempat dengan sinyal stabil.”

Damian melangkah masuk ke tengah ruangan, dan seperti sebelumnya, pusat gravitasi ruangan berpindah padanya.

Semua perhatian berkumpul tanpa perlu diminta.

“Elena,” panggilnya.

Wanita itu mengaktifkan proyeksi besar di tengah hanggar. Simbol organisasi bayangan kembali muncul—lebih jelas, lebih tajam.

“Kami mengonfirmasi sesuatu,” katanya.

Semua orang memperhatikan.

“Simbol ini terhubung dengan operasi lama… yang dihentikan bertahun-tahun lalu.”

Lyra merasakan udara di ruangan itu berubah.

Damian tidak bergerak.

Namun bayangan di matanya mengeras.

“Operasi apa?” tanya Lyra.

Elena menatap Damian sejenak, seolah meminta izin tanpa kata.

Tidak ada penolakan.

Ia melanjutkan.

“Operasi yang melibatkan identitas yang dihapus dari sistem internasional.”

Lucian berbisik pelan, “Penghapusan total…”

Aidan, yang baru turun dari platform pengamatan atas, berkata singkat, “Itu bukan sekadar menghilang. Itu penguburan hidup.”

Lyra menatap Damian.

“Dan orang yang mereka cari…”

Elena tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia tidak perlu.

Karena untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu—

Damian Alveros tidak terlihat seperti pria yang sepenuhnya mengendalikan situasi.

Ia terlihat seperti seseorang yang masa lalunya baru saja mengetuk pintu yang telah lama dikunci.

Lyra melangkah mendekat satu langkah.

Tidak menyentuh.

Tidak berbicara.

Namun cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan mundur.

Damian akhirnya berkata pelan, hampir seperti pengakuan yang tidak ia rencanakan,

“Perburuan ini bukan tentang aku sekarang.”

Ia menatap simbol itu lama.

“Ini tentang siapa aku dulu.”

Hanggar kembali sunyi.

Dan semua orang di ruangan itu menyadari—

Pertempuran yang akan datang bukan hanya soal bertahan hidup.

Ini tentang kebenaran yang telah lama dikubur… dan seseorang yang tidak pernah benar-benar mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!