Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA BENTENG UNTUK ARLO
Suasana hangat di teras akhirnya berpindah ke dalam ruang keluarga. Arlo kini menjadi pusat semesta; ia diletakkan di tengah karpet bulu, dikelilingi oleh Dana dan adik Arsen yang sibuk menyodorkan mainan-mainan lama yang entah sejak kapan sudah dikeluarkan dari gudang.
Arsen duduk di sofa, bersisian dengan Rosa. Ia merasa ini adalah saatnya untuk meluruskan segalanya. Ia tidak ingin keluarganya mencintai Arlo berdasarkan sebuah kesalahpahaman.
"Yah, Bu... Arsen harus jujur soal Arlo," Arsen memulai dengan nada bicara yang berat dan penuh kehati-hatian. "Arlo sebenarnya..."
Baru saja Arsen ingin menjelaskan tentang penemuan bayi itu di teras rumahnya dan surat yang ditinggalkan, Ayahnya mengangkat tangan, memberi isyarat agar Arsen berhenti bicara. Ayah Arsen menyesap tehnya perlahan, lalu menatap putranya dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan seorang ayah yang sudah paham tanpa perlu dijelaskan.
"Kita nggak tanya, Sen. Kita taunya Arlo itu cucu Ayah," potong Ayahnya dengan nada yang sangat tenang namun tidak terbantahkan.
Arsen tertegun. "Tapi Yah, secara biologis dia—"
"Ayah bilang, dia cucu Ayah," ulang sang Ayah, kali ini dengan senyum tipis yang tulus. "Di keluarga ini, darah itu nomor dua. Kasih sayang itu yang utama. Kamu membawa dia pulang, kamu menjaganya, dan Rosa membantumu. Bagi kami, itu sudah cukup untuk membuat dia jadi bagian dari keluarga ini."
Ibu Arsen mengangguk setuju, ia mengelus pundak Rosa yang tampak terharu. "Dua tahun kamu menutup diri, Sen. Kami kehilangan kamu. Tapi hari ini, kamu pulang membawa cahaya baru. Ibu nggak peduli dia datang dari mana. Yang Ibu lihat, Arlo sudah membuat putra Ibu kembali tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami untuk menyebutnya cucu."
Dana, kakak Arsen, menimpuk bahu Arsen pelan. "Udah, nggak usah dibahas lagi. Lagian kalau dilihat-lihat, cara dia cemberut aja mirip banget sama kamu kalau lagi ngambek. Udah sah jadi anggota klan kita ini mah."
Rosa mengusap ujung matanya yang mulai basah. Kehangatan keluarga Arsen benar-benar di luar ekspektasinya. Tidak ada interogasi tajam, tidak ada penghakiman. Hanya ada penerimaan yang luas.
Arsen menunduk, menyembunyikan rasa harunya. Ia merasa beban besar yang selama ini menghimpit pundaknya luruh seketika. Ternyata, cinta memang tidak selalu membutuhkan penjelasan logis atau bukti identitas.
"Terima kasih, Yah... Bu..." bisik Arsen parau.
Salsa, yang sejak tadi asyik menggoda Arlo dengan boneka beruang kecil, tiba-tiba berdiri tegak. Wajahnya yang biasanya ceria berubah menjadi sangat serius, hampir terlihat galak untuk ukuran seorang adik bungsu.
"Dengerin ya semuanya," ucap Salsa sambil berkacak pinggang, matanya menatap satu per satu orang di ruangan itu—mulai dari Arsen, Dana, hingga kedua orang tuanya. "Awas saja kalau suatu saat nanti ada yang bahas-bahas soal masa lalu Arlo atau dari mana dia berasal di depan orang lain. Pokoknya, kalau sampai ada yang bikin Arlo merasa dia 'berbeda', aku yang akan kasih pelajaran!"
Dana tertawa melihat adiknya yang mungil itu berlagak seperti pengawal pribadi, tapi ia mengangguk setuju. "Waduh, macan betinanya sudah keluar. Tenang, Sal, nggak akan ada yang berani."
Ayah Arsen tersenyum bangga melihat solidaritas anak-anaknya. "Salsa benar. Arlo lahir kembali hari ini sebagai bagian dari keluarga kita. Masa lalunya sudah selesai di depan pagar rumah Arsen semalam. Sekarang yang ada cuma masa depan."
Arsen menatap Salsa dengan rasa haru. Ia tidak menyangka adik kecilnya yang dulu sering ia jahili kini tumbuh menjadi sosok yang begitu protektif. Ia beralih menatap Rosa, yang juga tampak terkejut sekaligus tersentuh dengan pembelaan Salsa.
"Makasih ya, Sal," ucap Arsen tulus.
"Sama-sama, Kak! Tapi inget ya, Kak Arsen," Salsa menunjuk kakaknya dengan jari telunjuk. "Karena Arlo sekarang kesayangan keluarga, Kakak jangan berani-berani bikin dia nangis. Dan Kak Rosa..." Salsa beralih menatap Rosa dengan binar mata yang lebih lembut. "Selamat datang di keluarga paling berisik sedunia. Makasih ya sudah jagain Kak Arsen sama Arlo."
Rosa mengangguk haru, ia merasa diterima sepenuhnya tanpa celah. Kehadiran Salsa seolah menjadi pelengkap benteng perlindungan bagi Arlo—sebuah keluarga yang tidak hanya menerima, tapi juga siap pasang badan.
Malam itu, rumah yang dulu sempat terasa sepi sejak Arsen mengasingkan diri, kembali berdenyut penuh kehidupan. Arlo, yang kini sudah berpindah ke gendongan Salsa, tampak tertawa riang, tidak tahu bahwa di sekelilingnya, sebuah pasukan pelindung baru saja dibentuk untuk menjaganya seumur hidup.
Ayah Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati, mengamati Arsen dengan tatapan yang lebih tenang namun tetap menuntut kepastian. "Sen, Ayah mau tanya hal teknis. Kamu sudah bicara serius dengan pengacara soal status hukum anak ini? Kita tidak bisa cuma main perasaan, legalitas itu harga mati untuk masa depan dia."
Arsen membalas tatapan ayahnya dengan mantap, menunjukkan bahwa ia tidak lagi serapuh dua tahun lalu. "Sudah, Yah. Aku sudah konsultasi panjang lebar dengan Rendy. Dia bilang, langkah paling aman dan bersih adalah mendaftarkan akta kelahiran Arlo dengan mencantumkan namaku dan Rosa sebagai orang tua kandungnya secara administratif. Itu jalur tercepat supaya Arlo punya identitas legal yang kuat untuk segala urusan, mulai dari asuransi sampai sekolah nanti."
Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan penjelasan yang lebih mendalam. "Tapi, Rendy juga menyarankan agar kita tetap memegang surat adopsi resmi dari pengadilan sebagai lapis perlindungan kedua. Jadi, kalau suatu saat nanti ada pihak yang mencoba menggugat atau mempertanyakan asal-usul Arlo, kita punya dokumen negara yang menyatakan bahwa hak asuh penuh telah dialihkan kepada kita secara sah. Kita harus punya dua benteng hukum itu, Yah. Akta kelahiran untuk kehidupan sehari-harinya, dan surat adopsi sebagai jaminan hukum permanen supaya tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambil Arlo dari tangan kita."
Rosa yang duduk di samping Arsen menambahkan dengan suara lembut namun yakin, "Kami juga sudah sepakat, Yah, bahwa keselamatan Arlo adalah prioritas. Kami tidak ingin dia merasa sebagai 'orang asing' di dokumennya sendiri. Dengan nama kami berdua di sana, dia akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia benar-benar milik keluarga ini sejak awal."
Ayah Arsen manggut-manggut, tampak puas dengan kesiapan putranya. "Bagus. Itu baru namanya laki-laki yang punya rencana. Berkas itu harus rapi. Jangan sampai saat dia besar nanti, dia kesulitan mengurus paspor atau warisan karena keteledoran kita sekarang. Urus pernikahan kalian secepatnya, biar administrasi akta itu tidak cacat hukum."
Ibu Arsen mengusap punggung Arlo yang terlelap dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah bayi itu adalah porselen yang paling berharga. Matanya yang berkaca-kaca menatap Arsen dan Rosa bergantian, menyiratkan kerinduan yang mendalam sekaligus kasih sayang baru untuk si kecil.
"Malam ini kalian tidur di sini saja ya? Ibu nggak tega kalau kalian harus pulang malam-malam bawa bayi. Udara luar nggak bagus buat Arlo, apalagi kalian tadi sudah perjalanan jauh," ucap Ibu Arsen lembut, volumenya dikecilkan agar tidak mengusik tidur Arlo.
"Tapi Bu, kami nggak bawa perlengkapan banyak..." Arsen mencoba menyela, namun Salsa langsung memotong dengan sigap.
"Tenang saja, Kak! Aku tadi sudah cek gudang, masih ada bak mandi bayi punya keponakan Bang Dana yang dulu ditinggal di sini. Soal baju Arlo, nanti kita cuci pakai pengering, atau kalau perlu kita ke minimarket depan sebentar beli popok tambahan," sahut Salsa penuh semangat. "Pokoknya Arlo jangan dibawa keluar lagi malam ini!"
Ayah Arsen pun mengangguk setuju sambil melipat korannya. "Satu malam di sini tidak akan membuat pekerjaanmu di kota terbengkalai, Sen. Lagipula, Ayah masih ingin melihat wajah cucu Ayah saat bangun tidur besok pagi."
Arsen melirik Rosa, mencari persetujuan di mata wanita itu. Rosa tersenyum dan mengangguk pelan. Ada rasa haru yang hangat di dadanya; ia tidak pernah menyangka akan diterima dengan begitu terbuka oleh keluarga Arsen.
"Baiklah, Bu. Kami menginap di sini malam ini," jawab Arsen akhirnya.
"Salsa, siapkan kamar Kakakmu! Pasang sprei yang paling lembut untuk Arlo!" perintah Ibu Arsen dengan nada komando yang ceria.
Malam itu, rumah besar yang dulu sempat terasa sunyi dan dingin karena kepergian Arsen, tiba-tiba kembali dipenuhi suara tawa dan kesibukan yang manis. Arsen melihat pemandangan di depannya—Ibu dan adiknya yang sibuk menyiapkan kamar, Ayahnya yang sesekali mencuri pandang ke arah Arlo—dan ia sadar, keputusan membawa Arlo pulang adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat dalam hidupnya.