Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Langkah Lagi
POV NANA
H-1 sidang akhir.
Kalimat itu saja sudah cukup membuat dada Nana terasa sesak.
Kamar kosnya berubah seperti medan perang kecil. Print-out skripsi berserakan di meja. Stabilo warna-warni terbuka. Laptop menyala dengan slide presentasi terakhir yang terus ia revisi, meskipun sebenarnya sudah tidak ada yang perlu diperbaiki lagi.
Ia hanya cemas.
Tangan kirinya memijat pelipis.
Kepalanya terasa berat.
Perutnya melilit sejak sore.
“Kenapa kalau ditanya ini aku blank ya…” gumamnya sendiri.
Sidang akhir bukan hanya soal presentasi. Itu adalah penentuan dari seluruh perjuangan empat tahun terakhir. Lembur tugas, praktikum, laporan, rapat BEM, revisi dosen pembimbing yang tak terhitung.
Semua bermuara besok pagi.
Ponselnya bergetar.
Mas Izzan.
Ia langsung menekan video call. Entah sejak kapan, suara Izzan menjadi semacam penenang di tengah kepanikannya.
Wajah itu muncul di layar.
Namun ada yang terasa berbeda.
Biasanya saat di Ukraina, latar belakangnya adalah dinding putih dengan jendela kecil di sisi kanan. Kali ini temboknya berwarna krem dengan lukisan kecil di belakangnya.
Nana mengernyit sebentar.
“Mas di mana?” tanyanya spontan.
“Di kamar teman,” jawab Izzan santai. “Wifi di kamarku lagi gangguan.”
Nana mengangguk pelan. Tidak terlalu memikirkan.
“Mas, aku takut banget,” katanya jujur.
Izzan memperhatikan wajahnya yang terlihat pucat dan lelah.
“Takut apa?”
“Takut nggak bisa jawab pertanyaan penguji. Takut blank. Takut… semuanya.”
Izzan tersenyum lembut.
“Kamu itu udah sejauh ini, Na. Kamu pikir kamu sampai sini karena kebetulan?”
Nana terdiam.
“Kamu lulus semua mata kuliah. Kamu ketua BEM. Kamu bisa bagi waktu antara organisasi dan skripsi. Masa sidang aja kamu kalah?”
Nada suaranya tenang, tapi penuh keyakinan.
Nana menggigit bibirnya. Sedikit lebih tenang.
“Tapi deg-degannya nggak bisa hilang.”
“Deg-degan itu tandanya kamu peduli. Itu bagus.”
Hening sejenak.
“Mas doain ya.”
“Selalu.”
Ia tidak tahu, di balik layar itu, Izzan sedang menatapnya dari sebuah kamar hotel di Malang.
Ya.
Ia sudah kembali ke Indonesia.
Tugasnya selesai hanya dalam dua minggu. Lebih cepat dari perkiraan.
Dan ia sengaja tidak memberi tahu Nana.
Karena ia punya rencana.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
POV IZZAN
Hotel di Malang terasa asing sekaligus hangat.
Ia berdiri di dekat jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai redup menjelang malam.
Besok adalah hari besar Nana.
Ia sengaja pulang lebih cepat. Sengaja memesan hotel dekat kampus Nana. Sengaja merahasiakan semuanya.
Ia ingin hadir.
Bukan lewat layar.
Bukan lewat chat.
Tapi langsung.
Melihat sendiri perempuan yang sedang ia perjuangkan itu berdiri menghadapi penguji, lalu keluar dengan status baru.
Sarjana Farmasi.
Malam itu, setelah video call selesai, ia memandangi layar yang sudah gelap.
“Nggak sabar lihat ekspresimu besok,” gumamnya pelan.
Ia sudah menyiapkan papan bunga ucapan. Sudah menghubungi kakak Nana. Sudah memastikan keluarga Nana datang diam-diam tanpa memberi tahu.
Semua sudah diatur.
Besok akan menjadi hari yang tak terlupakan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
HARI SIDANG
Pagi itu Nana bangun lebih cepat dari biasanya.
Tangannya dingin. Jantungnya berdebar lebih cepat dari alarm.
Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam rapi. Rambutnya ditata sederhana. Wajahnya terlihat tegang meskipun ia berusaha tersenyum.
Di luar ruang sidang, Alysia, Caca, dan Rafi sudah menunggu.
“Kita di sini sampai kamu keluar!” kata Alysia menyemangati.
“Iya, jangan mikir aneh-aneh,” tambah Caca.
Rafi hanya mengangkat jempol sambil tersenyum.
Nana menarik napas panjang sebelum namanya dipanggil.
Ia melangkah masuk.
Pintu tertutup.
Waktu terasa berjalan lambat.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
DUA JAM KEMUDIAN
Pintu ruang sidang terbuka.
Nana melangkah keluar dengan mata berkaca-kaca.
Ia lulus.
Dengan nilai yang memuaskan.
Seketika tangisnya pecah.
Alysia langsung memeluknya. Caca ikut menangis. Rafi menepuk pundaknya bangga.
“Gue bilang apa! Lo pasti bisa!” teriak Alysia.
Nana tertawa di sela tangis.
Empat tahun.
Empat tahun perjuangan.
Dan hari ini, ia resmi menyandang gelar S.Farm.
Namun belum selesai sampai di situ.
Ketika ia berjalan sedikit menjauh dari ruang sidang—
Ia melihat sesuatu di depan gedung.
Sebuah papan besar berdiri tegak.
Tulisan di atasnya membuat langkahnya terhenti.
“Congratulations for semhastolution
Lareina Shafa Putri
Selamat ya sudah lulus Sarjana Farmasi, bangga padamu.
From Izzan Adreano Althaf ❤️”
Nana membeku.
Jantungnya seperti berhenti sesaat.
Teman-temannya langsung heboh.
“WOYYYYY NANA!”
“Itu siapa?!” teriak Caca.
Nana menutup mulutnya dengan tangan.
Mas Izzan?
Tapi bukannya masih di Ukraina?
Ia segera meraih ponselnya.
Ingin video call.
Namun sebelum sempat menekan tombol—
Kerumunan sedikit terbelah.
Seseorang berjalan mendekat.
Tinggi. Tegap. Mengenakan kemeja rapi. Membawa bucket mawar merah besar di tangannya.
Langkahnya mantap.
Dan ketika wajah itu semakin jelas—
Nana benar-benar terdiam.
Mas Izzan.
“Mas…” suaranya hampir tak terdengar.
Izzan berdiri tepat di depannya.
“Selamat ya, cantik,” ucapnya lembut.
Nana tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya.
“Mas katanya masih di Ukraina!”
Izzan tersenyum kecil.
“Udah pulang dua minggu lalu.”
“Kenapa bohong?”
“Karena aku mau lihat ekspresi kamu kayak gini.”
Air mata Nana kembali jatuh. Kali ini bukan karena sidang.
Di belakang Izzan, keluarganya mulai muncul satu per satu.
Mama. Papa. Kedua kakaknya. Bahkan beberapa sepupu.
Ternyata mereka sudah tahu.
Ternyata semua ini direncanakan.
“SELAMAT YA NANA!” seru mereka bersamaan.
Nana memeluk Mamanya lebih dulu. Lalu Papanya. Kakak-kakaknya ikut tersenyum bangga.
Hari itu terasa seperti perayaan kecil kemenangan hidupnya.
Di tengah keramaian itu, Izzan tetap berdiri menatapnya.
Ia menyerahkan bucket mawar merah itu.
“Perjalananmu kurang satu langkah lagi,” ucapnya pelan. “Profesi.”
Nana tersipu malu.
“Mas nggak bilang-bilang…”
“Kalau bilang, nggak seru.”
Teman-temannya sibuk memotret. Alysia berbisik ke Caca, “Fix ini mah calon banget.”
Nana hanya bisa tersenyum sambil menunduk malu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di momen terpenting hidupnya.
Izzan ada.
Bukan lewat layar.
Bukan lewat suara.
Tapi nyata.
Dan di tengah tawa, pelukan, dan bunga merah yang memenuhi tangannya—
Nana sadar satu hal.
Perjuangannya menuju gelar Sarjana Farmasi mungkin hampir selesai.
Tapi perjalanan hatinya… baru saja dimulai dengan lebih serius.
Dan lelaki yang berdiri di depannya itu—
Masih terus menatapnya.
Seakan berkata tanpa suara:
Aku di sini. Dan aku tidak akan pergi.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang