NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh
Popularitas:98.2k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Azalea Nurul Huda binti Yahya Abdulrahman, aku jatuhkan talak satu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi!”

Suara Reza menggema keras di ruang tamu yang masih dipenuhi bau kapur barus dan bunga melati dari karangan duka. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa jeda dan tanpa ragu, bak petir yang membelah langit mendung di siang hari.

Azalea yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadah tipis, masih mengenakan mukena putih karena sejak pagi tak berhenti membaca doa untuk almarhumah ibu mertuanya, tersentak hebat. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tasbih terlepas. Butirannya berserakan di lantai, bergulir pelan seperti sisa-sisa harga dirinya yang baru saja dihancurkan. Ia menengadah perlahan.

Di hadapannya, Reza berdiri tegak. Wajahnya kaku. Tatapannya dingin. Tak ada duka, tak ada getir, tak ada penyesalan. Pria yang dulu memegang tangannya dengan gemetar saat ijab kabul itu kini tampak seperti orang asing.

Ruangan mendadak sunyi. Para pelayat yang tadi membaca tahlil kini saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar, tipis namun menyayat.

“Reza, apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Pak RT yang sejak tadi membantu menjamu tamu.

“Jangan sembarang kamu mengucapkan talak,” sambung Pak Usman, ustaz yang disegani warga. Sorot matanya tajam menatap Reza.

Namun, Reza hanya menarik napas pendek. “Aku menceraikan Azalea karena punya alasan.”

Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.

Semua mata beralih kepadanya. Azalea merasakan puluhan tatapan menusuk punggungnya. Tiga tahun ia dikenal sebagai istri yang penurut, menantu yang sabar. Ia yang memandikan Bu Rosidah ketika lumpuh total. Ia yang mengganti popok wanita tua itu. Ia yang menahan muntah saat membersihkan luka. Ia yang tak pernah mengeluh meski punggungnya sering kram karena mengangkat tubuh renta itu sendirian. Kini, di hari ketujuh kematian ibu mertuanya, ia menerima talak.

“Katakan, apa alasan kamu menceraikan Lea?” tanya Bu RT dengan suara bergetar karena menahan marah.

Reza menoleh sekilas ke arah Azalea, lalu berkata datar, “Azalea itu wanita mandul. Sudah tiga tahun kami menikah, tapi dia belum juga hamil.”

Kalimat itu jatuh seperti batu besar di dada Azalea. Wajahnya memucat. Bibirnya bergetar.

“Bagaimana bisa aku cepat hamil, Mas?” Suara Azalea lirih namun jelas terdengar. “Selama tiga tahun ini kita hidup terpisah. Mas tinggal di kota, jarang pulang. Sementara aku di sini, mengurus Ibu.”

Air mata wanita cantik itu menetes tanpa bisa ia tahan. Azalea tak sedang membela diri, hanya menyampaikan kenyataan.

Bisik-bisik semakin ramai.

“Jangan-jangan Lea memang cuma dimanfaatkan ....”

“Kasihan sekali Lea ....”

Reza mendengus pelan. “Alasan tetap alasan. Faktanya kamu belum memberiku anak.”

“Sungguh tega sekali kamu, Reza!” Bu RT tak lagi mampu menahan emosinya. “Kamu menikahi Lea hanya untuk mengurus ibumu yang sakit! Setelah ibumu meninggal, kamu buang dia begitu saja?”

Pak Usman menggeleng pelan. “Wanita belum hamil belum tentu mandul. Itu urusan Allah. Sudahkah kalian periksa ke dokter? Sudahkah kamu sebagai suami menjalankan kewajibanmu dengan benar?”

Ekspresi Reza tak berubah sedikit pun.

Azalea menatap pria itu. Dulu, ia jatuh cinta pada kesederhanaan Reza. Pada janji-janji kecilnya tentang rumah tangga yang sakinah. Pada cara Reza menggenggam tangannya di bawah payung saat hujan pertama setelah mereka menikah. Kini semua itu terasa seperti mimpi yang tak pernah benar-benar ada.

“Kenapa Mas menuduh aku mandul tanpa tes dokter?” tanya Azalea lagi, suaranya semakin pecah.

“Tak perlu tes. Buang-buang uang saja,” jawab Reza ketus. “Kamu kira mudah cari uang? Kamu yang cuma diam di rumah mana tahu susahnya kerja.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada talak yang baru saja ia ucapkan.

Diam di rumah?

Azalea ingin tertawa, tapi yang keluar hanya isak tertahan. Dialah yang bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk ibu mertua yang tak bisa bangun sendiri. Dialah yang menggendong tubuh renta itu ke kamar mandi. Dialah yang menahan kantuk ketika malam-malam harus mengganti selang infus atau membersihkan muntahan.

“Astaghfirullahal’adzim!” Bu RT sampai memegang dadanya. “Kewajiban suami mencari nafkah dan memberi nafkah! Istri bukan beban!”

“Jangan merasa istri itu penghalang rezekimu,” tambah Pak Usman tegas. “Bisa jadi kemudahan yang kamu dapat selama ini karena doa istrimu.”

Namun, Reza tetap keras kepala. “Talak sudah terucap. Aku tidak akan menariknya kembali.”

Kalimat itu final.

Azalea menutup mata sejenak. Dadanya terasa sesak. Seolah udara tak lagi cukup untuk ia hirup.

Tiga tahun pengabdiannya berakhir dengan satu kalimat.

Azalea teringat malam-malam ketika ia menunggu Reza pulang, hanya untuk mendengar suaminya berkata lelah dan tertidur tanpa sepatah kata. Ia teringat bagaimana ia menahan rindu, menahan keinginan menjadi istri sepenuhnya, karena kondisi ibu mertua yang tak memungkinkan mereka tinggal bersama.

Azalea teringat ketika Reza berkata, “Sabar ya, Lea. Ibu lebih butuh kamu sekarang.”

Dan ia patuh.

“Baik,” akhirnya Azalea bersuara. Aneh, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. “Aku terima talak kamu, Mas.”

Ruangan kembali sunyi. Orang-orang ikut menahan napas dan sakit di dadanya.

“Tapi ingat,” lanjut Azalea, menatap lurus ke mata Reza, “Allah tidak tidur. Semua yang Mas lakukan kepadaku akan mendapat balasannya. Begitu juga segala hal yang aku lakukan untuk Ibu selama tiga tahun ini.”

Tangan Azalea gemetar ketika menghapus air mata. Namun, ia memaksa dirinya berdiri. Untuk pertama kalinya sejak tadi, punggungnya tegak.

“Karena Mas yang menggugat cerai, Mas urus sendiri ke pengadilan agama,” kata Azalea tegas. “Izinkan aku pergi dari rumah ini selama masa iddah.”

“Pergilah ke mana pun kamu mau,” jawab Reza tanpa beban. “Aku juga mau menjual rumah ini.”

Azalea tertegun.

Rumah ini. Rumah tempat ia belajar menjadi istri. Rumah tempat ia menangis diam-diam di dapur. Rumah tempat ia memeluk tubuh ibu mertua yang tak bisa lagi berbicara, hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca seolah mengucapkan terima kasih.

Rumah itu kini akan dijual. Seperti dirinya yang tak lagi dianggap bernilai.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Azalea melangkah ke kamar. Ia melepas mukenanya perlahan. Tangannya menyentuh ranjang yang dulu mereka gunakan bersama, meski lebih sering kosong di sisi suaminya. Ia mengambil koper kecil. Isinya tak banyak. Beberapa helai pakaian, mushaf Al-Qur’an, dan foto lama saat pernikahan mereka.

Dalam foto itu, Reza tersenyum hangat. Azalea memandangnya lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci. Ia tak sanggup membawanya.

Ketika Azalea kembali ke ruang tamu dengan koper di tangan, para ibu memeluknya satu per satu. Tangis pecah.

“Yang sabar, Nak.”

“Kami tahu kamu sudah berbuat yang terbaik.”

“Kamu perempuan kuat.”

Bu RT memeluknya paling lama. “Kamu akan menyesal seumur hidup, Reza,” katanya lantang, menatap pria itu penuh murka. “Karena menceraikan istri yang begitu setia.”

“Aamiin!” sahut beberapa ibu serempak.

“Ini urusanku!” balas Reza tajam. “Kalian jangan ikut campur!”

Azalea tak menoleh lagi. Ia melangkah melewati ambang pintu. Langit sore itu kelabu. Angin berembus pelan, menerbangkan ujung jilbab putihnya. Setiap langkah terasa berat. Namun ia tahu, jika ia berhenti sekarang, ia akan runtuh. Di halaman rumah, ia berhenti sejenak. Menoleh untuk terakhir kalinya. Rumah itu menyimpan kenangan pahit dan manis. Tapi kini, semuanya telah usai.

Dalam hati, Azalea berbisik lirih, “Ya Allah, jika selama ini aku diuji karena kesabaranku, maka kini kuatkanlah aku karena kepergianku."

Air mata kembali jatuh. Dengan langkah tertatih namun pasti, Azalea Nurul Huda berjalan meninggalkan rumah itu, tanpa tahu ke mana ia akan pergi, tanpa tahu bagaimana esok menyambutnya. Yang ia tahu hanya satu. Hari ini, ia bukan lagi seorang istri. Dan hidupnya baru saja dihancurkan oleh satu kalimat yang diucapkan tanpa cinta.

1
Kar Genjreng
ga ngertia. Mak teroma dengan ayah' nya
yang pilih nikah lagi dengan orang kampung,,,jadi kalau orang kmpung semua menjijikan ya,,,anakmu suka dengan orang kampung 😇😇
Esther
luka masa lalu Elsa membuat dia menganggap wanita kampung kelakuannya sama dgn gundik ayahnya.
Gak semua seperti dalam bayanganmu Elsa, 2 menantu mu itu wanita kampung yang baik dan berkelas.

Apakah Elsa akan terluka karena kecelakaan ?
Nar Sih
semoga dgn kejadian kecelakaan ini mami elsa sdr klau punya menatu dri kampung itu blm tentu ngk baik ,
Eonnie Nurul
gak semua orang kampung kayak gundik bapakmu Elsa,bisa jadi bapak mu dulu kenak pelet 🤪
Dian Rahmawati
sweet nya Enzo
~Ni Inda~
Terbuat dari apa hatimu nek
Tdk tersentuh oleh pemandangan yg begitu menyejukkan
Rumah yg damai tanpa teriakan & suara benda pecah
Rumah yg tenang dlm sentuhan sholat & Qur'an
Hatimu hitam legam...lebih keras daripada batu bara
Semoga segera mendapat hidayah
Berapa lama lah lagi kau hidup di dunia ini...sdh tua tp hati msh terkunci mati
Yasmin Natasya
lanjut thor 😁🙏😍🤗
~Ni Inda~
Note !
Ada kepuasan tersendiri jika kita bisa memberi
Fa Yun
😍😍
Oma Gavin
bikin saja elsa mati atau cacat permanen biar tau rasanya tidak sempurna dan yg mau ngurusin hanya azalea
Kar Genjreng: jangan dong mending Mak Elsa saja biar nyadar anak anak masa depan nya masih panjang
total 3 replies
Ipehmom Rianrafa
lnjuut 💪💪💪
Yulay Yuli
Setelah kecelakaan Mami Elsa sadar, betapa baiknya Azalea
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Meninggoy si mami Elsa..
Diana Dwiari
udah lebaran aja sih thor....jadi pengen segera lebaran nih..m😂😂
🌸Santi Suki🌸: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Gadis misterius
Nenek lmpir minta diseleding tuh
Yulay Yuli
udh lebaran Duluan y
Nar Sih
semoga habis lebaran ini enzo dan lea bisa seperti psngn suami istri separti org lain agar erza juga elora cpt punya adik lgi
Dewie
👍
Sun Rise
bgus
Kar Genjreng
Gengsi mamak masih meninggi kapan tu kira kira akan runtuh menjadi manusia
yang tidak angkuh dan somse,,, mungkin ketika badan sudah tak sanggup untuk bergerak atau ya semacamnya ,,,bukan mendoakan yat buruk Yo memang sudah buruk selalu merasa paling kaya paling cantik SE Bonbin mungkin ya ,,,,ahhh bodo amat n,,,amat saja pinter Yo ga,,, terpenting Enzo sudah menjadi kepala rumah tangga yang baik dan mempunyai tempat bukan hanya singgah tapi untuk
pulang,,, kebahagiaan adalah berkumpul keluarga canda tawa dan saling melengkapi. Sehat selalu penulis dan Pembaca, Aamin 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!