NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Langkah Luna turun dari mobil Range Rover Hera seolah membawa atmosfer musim dingin yang membekukan ke halaman kampus California yang biasanya hangat. Wajahnya yang pucat hampir seputih kemeja yang ia kenakan, namun sorot matanya yang biasanya lembut dan penuh empati kini berganti menjadi sepasang kristal es yang tajam.

Zayn, yang sedang berdiri di dekat gerbang fakultas teknik bersama gerombolannya, tidak bisa mengalihkan pandangan. Dari kejauhan, ia bisa melihat betapa lesunya Luna. Kantung mata itu tidak bisa disembunyikan oleh bedak setebal apa pun. Hati Zayn berdenyut, ia tahu dialah penyebab hancurnya binar di mata itu. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat Zayn dan semua orang di koridor itu terperanjat.

Seorang mahasiswa tingkat pertama yang tampak culun, dengan kacamata tebal dan tumpukan buku yang menutupi pandangannya, tak sengaja tersandung tepat di depan langkah Luna. Buku-bukunya berhamburan, mengenai ujung sepatu hak tinggi Luna.

Biasanya, Luna akan menjadi orang pertama yang berlutut, membantu memunguti buku itu dengan senyum tulus yang menenangkan. Namun kali ini, Luna justru berdiri kaku dengan tatapan merendahkan.

"Menyingkir dari jalanku!" bentak Luna. Suaranya melengking dingin, penuh dengan nada jijik yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Gunakan matamu kalau tidak mau dianggap sampah yang menghalangi jalan orang!"

Mahasiswa itu gemetar, wajahnya memerah karena malu sekaligus takut. Orang-orang di sekitar mereka berhenti berjalan. Bisikan mulai menjalar seperti api. “Itu Luna Storm? Gadis paling manis di fakultas kedokteran?”

Zayn mengepalkan tangannya di saku jaket. Ia tertegun. Luna yang ia kenal adalah gadis yang bahkan tidak tega membunuh serangga di perpustakaan. Perubahan drastis ini terasa seperti tamparan bagi Zayn. Ia sadar, kata bosan yang ia ucapkan semalam tidak hanya mematahkan hati Luna, tapi juga menghancurkan sisi kemanusiaan gadis itu. Luna sedang membangun benteng duri agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya.

Ketegangan itu tidak berakhir di pagi hari. Sore harinya, kantin sedang penuh sesak. Luna baru saja keluar dari toilet kantin dengan langkah gontai. Wajahnya semakin pucat, dan napasnya sedikit tersengal. Di dalam toilet tadi, ia kembali muntah hebat hingga seluruh tubuhnya terasa lemas. Setiap kali ia mencium aroma makanan dari kejauhan, perutnya seolah diaduk-aduk oleh rasa mual yang tak tertahankan.

Ia berjalan menuju mejanya, melewati meja anak-anak teknik tempat Zayn sedang duduk. Di saat yang sama, seorang mahasiswi tak sengaja menyenggol tas Luna hingga sebuah buku anatomi jatuh ke lantai.

"Aduh, maaf Luna, aku tidak sengaja..."

"Kenapa hari ini banyak sekali sampah?" potong Luna dengan nada ketus, matanya menatap buku yang tergeletak di lantai seolah itu adalah benda paling menjijikkan di dunia. "Mengganggu hariku saja. Singkirkan itu sebelum aku menginjaknya."

Gadis itu terdiam seribu bahasa, sementara Luna terus melangkah pergi tanpa menoleh, meninggalkan suasana kantin yang mendadak sunyi senyap.

Zayn, yang sejak tadi mengamati dari mejanya, merasa napasnya sesak. Arlo yang duduk di sampingnya berbisik, "Zayn, itu benar-benar Luna? Dia sudah seperti singa betina yang haus darah. Apa kau melakukan sesuatu padanya semalam?"

"Dia terlihat sakit, Zayn," timpal Ben dengan wajah serius. "Lihat wajahnya, dia pucat sekali. Dia seperti orang yang sedang berjuang menahan sakit, tapi emosinya meledak-ledak. Kau yakin dia baik-baik saja?"

Zayn tidak menjawab, tapi matanya tidak lepas dari sosok Luna yang kini duduk di sudut kantin, menyandarkan kepalanya ke meja dengan tangan yang memegangi perut. Khawatir mulai menggerogoti pertahanan dingin Zayn. Ia tahu Luna pemarah saat ini karena dia terluka, karena dia merasa dihina dengan kata bosan itu. Luna sedang mencoba menjadi sekeras ayahnya, Alexander Storm, agar dunia tidak lagi melihat kerapuhannya.

Namun, yang membuat Zayn paling gelisah bukanlah perubahan sifat Luna, melainkan kondisi fisiknya. Muntah hebat? Wajah pucat? Memegangi perut?

Zayn teringat pengakuan Luna kemarin soal "hamil". Semalam ia sangat yakin Luna berbohong karena kegugupannya, tapi melihat kondisi Luna sore ini, keraguan mulai muncul di benak Zayn. Bagaimana jika itu bukan sekadar taktik? Bagaimana jika sesuatu benar-benar terjadi setelah malam di markas itu?

Hera, yang baru saja masuk ke kantin, langsung menghampiri Luna. Ia melihat kakaknya yang tampak sangat menderita. "Luna, ayo pulang. Kau terlihat sangat buruk."

"Aku tidak apa-apa, Hera! Jangan mengaturku!" sentak Luna cukup keras hingga beberapa orang kembali menoleh.

"Kau berlebihan, Luna. Kau baru saja membentak semua orang hari ini," bisik Hera tajam.

Luna tertawa sinis, tawa yang terdengar hampa. "Memang harus begitu, bukan? Biar mereka tahu kalau aku bukan gadis manis yang bisa mereka kasihanilah. Terutama pria-pria di sini. Mereka semua sama. Hanya ingin kepuasan, lalu bilang bosan."

Zayn yang mendengar itu dari jarak beberapa meter memejamkan mata. Kata-katanya sendiri kini menyerangnya kembali. Ia ingin berdiri, menarik Luna ke dalam pelukannya, dan membisikkan bahwa semua itu bohong. Bahwa ia tidak pernah bosan. Bahwa ia mencintai setiap inci dari jiwa Luna.

Tapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa duduk mematung, melihat gadis yang paling ia cintai berubah menjadi sosok angkuh yang dingin untuk menutupi hancurnya hatinya.

Saat Luna berdiri untuk pergi, ia sempat melirik ke arah meja Zayn. Tatapan mereka bertemu hanya sedetik. Luna tidak memberikan tatapan memohon seperti semalam. Kali ini, ia hanya memberikan tatapan kosong, seolah Zayn hanyalah bagian dari sampah yang ia bicarakan tadi.

Begitu Luna menghilang di balik pintu kantin, Zayn segera bangkit.

"Mau ke mana, Zayn?" tanya Arlo.

"Urusan pribadi," jawab Zayn pendek dengan nada yang tak kalah dingin.

Ia harus memastikan sesuatu. Ia harus tahu apakah muntah-muntah Luna itu karena rasa stres membayangkannya dengan Zella, atau karena ada sesuatu yang lebih nyata yang sedang terjadi di dalam rahim gadis itu. Jika Luna benar-benar hamil, ia tidak peduli lagi dengan ancaman Alexander Storm. Ia akan menyeret Luna keluar dari mansion itu, bahkan jika ia harus membakar seluruh dunia untuk melakukannya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!