NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Gelombang Kejut

Dari atas bukit, aku menyaksikan kekacauan itu seperti menonton pertunjukan wayang orang.

Asap masih mengepul dari beberapa titik. Obor-obor yang jatuh membakar sebagian tirai dan dekorasi. Orang-orang berlarian seperti semut yang sarangnya diinjak. Teriakan, perintah, tangisan bercampur jadi satu.

Dan di tengah semua itu, Jin Hojun digotong oleh dua pendekar tubuhnya. Bahunya berlumuran darah. Wajahnya pucat. Matanya terpejam.

Hidup, pikirku. Bagus. Mati terlalu cepat tidak menyenangkan.

Aku tidak tahu kapan aku menjadi sekejam ini. Mungkin sejak aku memutuskan untuk membuat bom. Atau mungkin sejak aku menyadari bahwa di dunia ini, hanya ada dua pilihan: membunuh atau dibunuh.

Hyun Moo muncul dari semak-semak di belakangku. Napasnya terengah-engah, tapi matanya berbinar.

"Berhasil, Tuan!"

Aku menoleh. Pria tua itu berlumuran darah—tapi darah Hojun, bukan darahnya sendiri. Di tangannya masih tergenggam pedang yang ujungnya merah.

"Kau terluka?" tanyaku.

"Lecet kecil. Tidak sebanding dengan apa yang kita capai hari ini." Dia duduk di sampingku, menatap ke arah markas. "Lihat itu, Tuan. Mereka panik. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi. Tidak ada yang tahu dari mana serangan datang."

Aku mengangguk. "Itu efek yang kuinginkan."

"Tapi Tuan..." Hyun Moo menatapku. "Sekarang bagaimana? Hojun terluka, tapi dia belum mati. Dan para pendekarnya masih setia."

Aku diam sejenak, memikirkan langkah selanjutnya.

Ini baru babak pertama. Kami baru menciptakan kekacauan, tapi belum merebut kekuasaan. Hojun masih hidup. Dan selama dia hidup, dia akan mencari dalang di balik semua ini.

"Kita tunggu," kataku akhirnya.

"Tunggu?"

"Lihat bagaimana reaksi mereka. Lihat siapa yang tetap setia pada Hojun, siapa yang mulai ragu. Informasi adalah senjata, Hyun Moo. Lebih berharga dari pedang."

Pria tua itu mengangguk pelan. "Tuan benar. Tapi sambil menunggu, ada satu hal yang harus Tuan ketahui."

"Apa?"

"Aku melihat seseorang di antara tamu. Seseorang dari Klan Gong."

Hatiku berdetak kencang. "Klan Gong? Di sini?"

"Iya. Kepala keamanan mereka, kalau tidak salah. Pria tinggi dengan jubah hitam bergaris perak. Dia duduk di barisan depan saat ledakan terjadi."

"Dan sekarang?"

"Dia masih di sana. Membantu mengevakuasi korban. Atau..." Hyun Moo mengerutkan kening. "...mengamati."

Mengamati. Kata itu membuatku waspada.

Klan Gong adalah klan besar. Lima ratus pendekar. Tiga di level Tinggi. Jika mereka ikut campur...

"Kita harus hati-hati," gumamku. "Klan Gong bisa jadi ancaman baru."

---

Kami menghabiskan sisa hari itu di atas bukit, bergantian mengamati markas.

Aku membuat jurnal sederhana dengan arang di papan kayu. Mencatat pergerakan: berapa banyak pendekar yang keluar-masuk, seberapa cepat mereka merespons, apakah ada kurir yang dikirim ke luar.

Hyun Moo kadang-kadang pergi menyusup, mendekati markas untuk mendengar percakapan. Dia kembali dengan informasi-informasi kecil:

"Mereka pikir serangan dari luar. Mungkin dari klan saingan."

"Tabib bilang luka Hojun parah. Bahu kirinya mungkin tidak akan pulih sempurna."

"Beberapa pendekar mulai bertanya-tanya. 'Siapa yang punya kemampuan seperti ini?'"

"Orang Klan Gong itu... namanya Gong Jinsung. Dia meminta bertemu dengan para tetua."

Informasi terakhir itu membuatku waspada.

"Klan Gong ingin bicara dengan tetua? Tentang apa?"

"Tidak tahu. Tapi pertemuan dijadwalkan malam ini."

Aku menatap langit yang mulai gelap. "Kita harus tahu apa yang mereka bicarakan."

---

Malam itu, Hyun Moo menyusup lagi.

Aku menunggu di atas bukit sendirian. Bulan hampir purnama, menerangi markas dengan cahaya perak. Dari sini, Aula Leluhur yang hancur sebagian terlihat seperti raksasa yang terluka. Atap teras yang runtuh masih meninggalkan puing-puing.

Dua jam berlalu.

Aku mulai cemas. Hyun Moo belum kembali. Jantungku berdetak lebih cepat.

Apa dia tertangkap? Apa terjadi sesuatu?

Tepat saat aku memutuskan untuk turun mencari, sesosok bayangan muncul dari kegelapan.

Hyun Moo.

Tapi dia berjalan pincang.

Aku berlari menghampirinya. "Kau terluka!"

"Luka ringan." Dia terbatuk. "Ada penjaga yang hampir melihatku. Harus berlari cepat. Lututku agak cedera."

Aku membantunya duduk. Wajahnya pucat, tapi matanya masih tajam.

"Aku dapat informasinya, Tuan."

"Ceritakan nanti. Kau butuh istirahat."

"Tidak. Ini penting." Dia menarik napas dalam-dalam. "Pertemuan itu... mereka membahas Tuan."

Aku terkejut. "Aku?"

"Bukan Tuan secara langsung. Tapi pewaris yang hilang. Jin Tae-Kyung." Hyun Moo menatapku. "Mereka tahu Tuan tidak mati."

Darahku serasa membeku.

"Bagaimana?"

"Tabib itu. Tabib yang meracuni Tuan. Dia melapor ke Hojun sebelum upacara bahwa racunnya... tidak bekerja sempurna. Mungkin Tuan masih hidup."

Aku diam, mencerna informasi ini.

Jadi Hojun tahu. Atau setidaknya, dia curiga.

"Lalu?"

"Gong Jinsung menawarkan bantuan. Dia bilang Klan Gong akan mengirim pencari jejak. Pelacak terlatih. Mereka akan mencari Tuan ke seluruh wilayah."

"Kenapa Klan Gong peduli?"

"Itu yang menarik." Hyun Moo tersenyum tipis, meskipun wajahnya sakit. "Gong Jinsung tidak peduli pada Hojun. Dia peduli pada... metode serangan. Ledakan itu. Dia bilang, 'Kekuatan seperti ini belum pernah kulihat dalam seratus tahun sejarah Murim. Siapa pun yang menciptakannya, dia bisa menjadi aset berharga... atau ancaman besar.'"

Aku menghela napas.

Jadi Klan Gong tidak mencari Jin Tae-Kyung pewaris klan kecil. Mereka mencari pencipta bom. Mereka mencari ilmu pengetahuanku.

"Ini bisa jadi baik atau buruk," gumamku.

"Baik bagaimana, Tuan?"

"Kalau mereka tertarik pada pengetahuanku, mungkin mereka bisa jadi sekutu. Tapi kalau mereka menganggapku ancaman..."

"Mereka akan membunuh Tuan."

"Tepat."

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa terjebak.

Di satu sisi, aku harus bersembunyi dari Hojun yang mencariku. Di sisi lain, Klan Gong—yang jauh lebih kuat—juga mulai mencium keberadaanku.

Dan aku hanya punya satu orang tua setia yang sekarang lukanya bertambah.

Aku duduk di beranda, menatap karung mesiu yang masih tersisa. Hampir setengah dari persediaan kami habis untuk serangan tadi.

Sumber daya terbatas. Musuh bertambah. Waktu semakin sempit.

Tapi justru di saat-saat seperti ini, otak insinyurku bekerja paling baik.

Masalah: dicari oleh dua kekuatan. Solusi: buat mereka saling bertarung.

Masalah: kekuatan kecil. Solusi: ciptakan teknologi yang membuat mereka ragu untuk menyerang.

Masalah: sumber daya habis. Solusi: dapatkan lebih banyak.

Aku menatap Hyun Moo yang tertidur di sudut ruangan. Napasnya berat—luka lututnya pasti sakit.

Besok, aku harus bekerja sendiri.

---

Pagi datang dengan kabut tebal.

Hyun Moo masih tidur. Aku tidak membangunkannya. Dia butuh istirahat.

Aku mengambil karung kosong, beberapa peralatan, dan berjalan ke timur—ke arah pegunungan tempat sumber air panas berada.

Belerang.

Aku butuh lebih banyak belerang.

Perjalanan ke pegunungan memakan waktu setengah hari. Jalannya terjal, berbatu, dan tubuhku yang belum sepenuhnya pulih terasa berat di setiap langkah. Tapi aku terus berjalan.

Sekitar tengah hari, aku menemukannya.

Sebuah sungai kecil dengan air hangat—uap mengepul di permukaannya. Di sekitar sungai, bebatuan kuning bertebaran. Belerang. Cukup banyak.

Aku mulai mengumpulkan, memasukkannya ke dalam karung. Bau busuknya menyengat, membuat mataku perih. Tapi aku tidak peduli.

Saat karung hampir penuh, aku mendengar suara.

Langkah kaki. Beberapa orang. Mendekat.

Refleksku langsung menghunjam. Aku bersembunyi di balik batu besar, menahan napas.

Sekelompok pria muncul dari balik pepohonan. Lima orang. Berpakaian hitam. Di dada mereka, ada lambang—lambang yang kukenal dari ingatan Jin Tae-Kyung.

Klan Gong.

Jantungku berdetak kencang.

Mereka berhenti tidak jauh dari tempatku bersembunyi. Salah satu dari mereka—yang paling tinggi—mengeluarkan peta.

"Area ini sudah kita periksa," katanya. "Tidak ada tanda-tanda."

"Apakah mungkin target sudah kabur ke luar wilayah?" tanya yang lain.

"Kurang mungkin. Informasi dari Hojun mengatakan target terluka parah. Tidak mungkin pergi jauh."

Target. Itu aku.

"Kita bagi tugas. Dua orang ke utara, dua ke selatan. Aku akan memeriksa area sekitar sungai. Bertemu lagi di sini saat matahari terbenam."

Mereka bergerak.

Yang tinggi—pemimpin mereka—berjalan tepat ke arahku.

Aku menekan tubuh sekecil mungkin ke balik batu. Napas kutahan. Tangan kananku meraba pinggang—hanya ada belati kecil. Melawan pendekar level menengah? Mustahil.

Langkahnya makin dekat.

Kres.

Dia menginjak ranting kering. Berhenti. Menoleh ke arahku.

Ataukah dia mendengar sesuatu?

Dia diam sejenak, menajamkan pendengaran. Lalu—

Suara gemuruh dari kejauhan. Longsor kecil? Atau mungkin hewan? Yang pasti, itu cukup mengalihkan perhatiannya.

Dia mengerutkan kening, lalu berbalik, berjalan ke arah lain.

Aku menunggu sampai langkahnya benar-benar hilang, baru berani menghela napas.

Terlalu dekat.

---

Aku kembali ke rumah sore harinya, dengan karung penuh belerang dan keringat bercampur ketakutan.

Hyun Moo sudah bangun. Dia duduk di beranda, wajah cemas. Saat melihatku, dia berdiri—terhuyung karena lututnya.

"Tuan! Aku khawatir..."

Aku meletakkan karung. "Tidak apa-apa. Aku dapat belerang."

Tapi ekspresinya tidak berubah. Malah makin serius.

"Tuan, ada yang harus kukatakan. Saat Tuan pergi... seseorang datang ke sini."

Aku menegang. "Siapa?"

"Seorang anak. Mungkin umur sepuluh tahun. Dia bilang ada surat untuk 'pencipta ledakan'."

Pencipta ledakan.

Aku mengambil surat itu—selembar kertas kasar yang dilipat. Membukanya dengan hati-hati.

Isinya singkat:

"Aku tahu kau di balik serangan kemarin. Aku tidak tahu siapa dirimu atau bagaimana kau melakukannya. Tapi aku ingin bertemu. Datanglah ke kedai teh di Desa Bawah, tiga hari lagi, saat matahari terbenam. Datang sendirian. Atau jangan datang sama sekali.

—Gong Jinsung"

Aku membaca surat itu tiga kali.

Gong Jinsung. Kepala keamanan Klan Gong. Pria yang kulihat di upacara. Pria yang sekarang memimpin pencarian terhadapku.

Dia tahu.

Tapi dia tidak mengirim anak buahnya untuk menangkapku. Dia mengirim undangan.

Kenapa?

"Tuan, ini jebakan?" Hyun Moo bertanya cemas.

"Mungkin." Aku menggeleng. "Tapi mungkin juga tidak."

"Apa maksud Tuan?"

Aku menatap surat itu. "Dia bilang 'datang sendirian'. Kalau mau menjebak, dia bisa langsung kirim puluhan pendekar ke sini. Tapi dia tidak."

"Lalu?"

"Dia ingin lihat, siapa sebenarnya di balik semua ini. Dia ingin nilai sendiri."

Hyun Moo diam sejenak. Lalu dia berkata, "Tuan tidak akan pergi, kan?"

Aku menatapnya. Di mataku, aku melihat ketakutan. Ketakutan kehilangan satu-satunya harapan.

"Aku harus pergi."

"Tuan!"

"Dengar, Hyun Moo. Klan Gong terlalu kuat untuk kita lawan. Kalau mereka benar-benar ingin menangkapku, mereka bisa lakukan kapan saja. Tapi pria ini... dia menawarkan kesempatan. Kesempatan untuk bicara. Mungkin kesempatan untuk dapat sekutu."

"Tapi kalau itu jebakan?"

"Kalau itu jebakan..." Aku tersenyum tipis. "Paling tidak aku akan mati dengan tahu bahwa aku sudah mencoba."

---

Tiga hari.

Tiga hari untuk bersiap.

Aku menghabiskan waktu itu untuk membuat lebih banyak mesiu. Belerang dari pegunungan, arang yang masih banyak, sendawa yang Hyun Moo beli dari tabib desa dengan uang sisa.

Aku juga membuat sesuatu yang baru.

Sebuah alat kecil—tabung bambu sepanjang dua puluh sentimeter, diisi mesiu, dengan sumbu di ujung. Aku menyebutnya "petasan genggam". Cukup kecil untuk disembunyikan di lengan baju. Cukup kuat untuk melukai siapa pun dalam jarak dekat.

Asuransi, pikirku. Kalau pertemuan itu jadi jebakan, setidaknya aku bisa membawa beberapa dari mereka bersamaku.

Hyun Moo melihatku membuatnya dengan mata cemas.

"Tuan, kau benar-benar akan pergi sendirian?"

"Aku tidak punya pilihan."

"Aku bisa ikut. Bersembunyi di dekat situ. Kalau terjadi sesuatu..."

"Kau terluka. Dan mereka pasti sudah mengawasi. Kalau kau ikut, mereka akan tahu. Dan itu bisa memperburuk situasi."

Pria tua itu menunduk. Untuk pertama kalinya, kulihat matanya basah.

"Tuan... aku sudah kehilangan Patriark. Aku sudah kehilangan kakak Tuan. Aku tidak sanggup kehilangan Tuan juga."

Aku diam. Lalu aku meletakkan tangannya di bahunya.

"Kau tidak akan kehilangan aku. Aku akan kembali. Dengan sekutu, atau setidaknya dengan informasi."

---

Hari ketiga tiba.

Matahari mulai condong ke barat. Aku mengenakan jubah hitam lusuh, menyembunyikan lima "petasan genggam" di balik lengan dan pinggang. Belati kecil tetap kuselipkan di kaki.

Hyun Moo berdiri di ambang pintu, menatapku.

"Doakan aku," kataku.

"Tuhan memberkati Tuan."

Aku berbalik dan pergi.

---

Desa Bawah terletak sekitar satu li dari markas klan. Desa kecil dengan penduduk mungkin dua ratus jiwa. Kedai tehnya mudah ditemukan—satu-satunya bangunan dengan lampu minyak di teras.

Saat aku tiba, matahari sudah hampir tenggelam. Langit jingga. Obor-obor mulai dinyalakan.

Kedai itu sepi. Hanya beberapa pengunjung—tampaknya penduduk lokal. Di sudut paling gelap, seorang pria duduk sendirian.

Tubuh tinggi. Jubah hitam bergaris perak. Wajah tegas dengan mata tajam.

Gong Jinsung.

Aku berjalan mendekat. Setiap langkah terasa berat. Tanganku sudah siap meraih petasan.

Dia menatapku. Tidak tersenyum. Tidak menyapa. Hanya menunjuk kursi di seberangnya.

Aku duduk.

Dia mengangkat teko, menuangkan teh ke cangkir di depanku.

"Jin Tae-Kyung," katanya pelan. "Atau siapa pun dirimu sebenarnya."

Aku tidak menjawab.

Dia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

"Aku sudah dengar kau lemah. Penakut. Tidak layak jadi pewaris." Dia menyesap tehnya. "Tapi orang yang bisa membuat ledakan seperti itu... bukan orang lemah."

"Kau tidak takut aku meledakkan kedai ini?" tanyaku tenang.

Gong Jinsung tertawa kecil. "Kalau itu yang kau mau, kau sudah lakukan dari luar. Tapi kau di sini. Kau datang. Itu berarti kau ingin bicara."

Aku diam. Dia benar.

"Aku tidak tahu dari mana kau dapat kemampuan ini," lanjutnya. "Tapi aku tahu satu hal: klan kecil seperti Jin tidak akan bisa mempertahankan rahasia ini lama. Cepat atau lambat, klan lain akan tahu. Dan mereka akan datang."

"Termasuk Klan Gong?"

Dia menatapku lurus. "Termasuk Klan Gong."

Lalu dia bersandar, menyesap teh lagi.

"Tapi aku punya tawaran."

Aku menunggu.

"Bekerjalah dengan kami. Ajari kami rahasia ledakan ini. Sebagai imbalan, Klan Gong akan melindungimu. Dari Hojun. Dari klan lain. Dari siapa pun."

Aku mempertimbangkan kata-katanya.

Perlindungan. Kekuatan. Sumber daya.

Tapi juga perbudakan. Ketergantungan. Kehilangan kendali.

"Dan jika aku menolak?"

Gong Jinsung tersenyum. Senyum yang sama—tidak sampai ke mata.

"Maka kau akan jadi ancaman. Dan Klan Gong punya kebiasaan... menyingkirkan ancaman sebelum mereka tumbuh besar."

Aku diam.

Di luar, matahari benar-benar tenggelam. Gelap mulai menyelimuti desa.

Dan di dalam kedai kecil ini, seorang insinyur gila duduk berhadapan dengan perwakilan kekuatan besar Murim.

Pilihan ada di tanganku.

---

[Bersambung ke Bab 7]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!