NovelToon NovelToon
Jodoh Shakira, Pernikahan Ke Dua

Jodoh Shakira, Pernikahan Ke Dua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.

Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.

Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.

"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."

"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"

"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.

"Aku sudah menikah!"

Deg.

Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?

Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 - Langkah yang diambil

Tok.. tok.. tok..

"Bu, Mas, buka pintunya! Ini aku Shakira. Mas aku pulang, buka pintunya!"

Setelah berjuang buat kembali ke rumah suaminya, akhirnya Shakira berhasil berada di depan rumah mertuanya. Untungnya ia memiliki pegangan uang jadi bisa mencari tumpangan dan untungnya ada orang baik yang mau membantunya pulang.

Tidak ada sahutan dari dalam rumah.

"Assalamualaikum Mas, Bu. Buka pintunya!"

"Berisik!!" seru Bu Rahma dari dalam rumah. Dan pintu pun di buka.

"Bu, aku..."

"Ngapain balik lagi kesini hah? Punya nyali juga setelah kita usir dari sini? Pergi sana! Saya tidak mau lihat wajah kamu lagi, menjijikan."

"Ibu boleh benci aku semau itu tapi tolong dengarkan dulu penjelasan ku, aku mau ketemu Mas Fauzi." Shakira hendak masuk tapi di tahan.

"Eiitts, tidak semudah itu kamu masuk ke dalam rumah saya. Fauzi sudah tidak mau lagi ketemu sama kamu, dia sudah pergi."

"Pergi? Aku gak percaya. Mas, Mas! Aku mau bicara, keluar dong Mas."

"Ngeyel ya jadi orang, saya bilang Fauzi sudah pergi dari rumah, dia mau menikmati hidupnya tanpa bayangan kamu. Dia tidak mau sama kamu dan sudah membuang mu, jadi silahkan pergi dari sini!"

"Aku masih jadi istrinya, Bu. Gak semudah itu suamiku pergi ninggalin aku. Aku gak percaya."

"Silahkan mau percaya atau tidak juga tidak masalah, yang pasti anak saya sudah tidak mau lagi sama kamu."

"Aku gak percaya. Mas! Mas!" Shakira berusaha masuk, tapi tidak bisa karena selalu di tahan. Ia tidak percaya suaminya pergi begitu saja meninggalkan dirinya seorang diri.

"Saya bilang pergi!"

"Aku tidak akan pergi sebelum ketemu suamiku. Mas, keluar kamu!"

"Dia pergi ke Bandung, puas kamu!" Pada akhirnya Bu Rahma memberitahu kemana Fauzi pergi daripada Shakira terus kekeh mendingan dia bicara saja.

Benar saja Shakira terdiam dengan segala pikirannya yang rumit. Sakit, tentu saja, ia merasa tidak dihargai sebagai istrinya jika bebas sang suami pergi.

"Bandung?"

"Iya, dia kesana mau mencari istri baru sekaligus kerja. Jadi silahkan kamu pergi dari sini dan jangan ganggu anak saya lagi!"

"Dimana tempatnya? Aku mau kesana." Meski pun jauh, ia tak akan pernah begitu saja melepaskan suaminya. Ia akan menyusul Fauzi demi keutuhan rumahtangganya.

"Mana saya tahu. Sudah sana, jangan ganggu saya lagi. Tidur saya terganggu gara-gara kamu." Bu Rahma masuk bersiap menutup pintu.

"Ibu tidak sedang membohongiku, Kan?" ujarnya menahan pintu.

"Untuk apa saya bohong sama kamu? Saya bukan tukang bohong, tidak seperti kamu, ngakunya belum menikah eh tak tahunya kawin lebih dulu, banyak lagi, dasar perempuan malam!" balas Bu Rahma penuh kebencian lalu dia menutup lagi pintunya membiarkan Shakira sendirian.

Shakira mematung, matanya berkaca-kaca memikirkan nasib pernikahannya. Sosok yang ia harapkan bisa menjadi pendamping dan membimbingnya justru kini menjadi orang pertama yang mencampakkannya. Menyakitinya tanpa pernah ia pikirkan sebelumnya.

"Kamu membuang ku tanpa sebab yang pasti, kamu meninggalkanku disaat malam pertama kita. Seharusnya tidak begini, harusnya kamu dengarkan aku dulu."

Sesak, sungguh menyesakan dada. Langkahnya perlahan menjauh dari rumah itu, tak terasa air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa di cegah.

Kemana ia harus pergi ditengah malam yang gelap gulita ini? Kemana dia harus meminta pertolongan? Tidak ada sanak saudara dekat disana setelah memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya.

Perlahan Shakira menarik nafas, berusaha tenang ditengah emosi yang menguasai. "Ok, tenang, tarik nafas dulu baru hembusan, lalu berpikir dengan pikiran jernih."

Merasa lebih tenang dia mencari ide. "Akan ku cari dimanapun kamu berada. Ini gak bisa di biarkan begitu saja, enak aja kamu pergi tanpa pamit. Awas aja ya, aku akan menemukanmu suamiku. Tunggu kedatanganku."

**********

"Lo yakin mau ke Bandung malam ini juga? Gak besok pagi aja, ji? Ini sudah larut malam dan sebenarnya lo sedang menghindar dari istrimu, caranya pun salah bilang menerima kerjaan di sana, padahal tidak kan?" ujar temannya Fauzi, laki-laki yang diminta tolong sama Fauzi untuk membantunya.

"Ini terkesan egois, bohong juga, tapi gue tidak punya pilihan lain selain dengan cara ini. Masalah kerja atau tidaknya gimana nanti aja, terpenting sekarang gue mau menenangkan diri dulu di sana sebelum langkah besar di ambil."

"Langkah yang lo lakukan sudah salah dan juga sangat besar, lo meninggalkan istrimu padahal ini malam pertama kalian sebagai suami istri. Ok, gue tidak akan nanya masalahnya apa, tapi setidaknya kalian harus bicara tentang semuanya tanpa harus saling menyakiti kan? Kalian selesaikan masalah kalian tanpa harus saling menghindar juga, kasihan dia, pasti saat ini sedang sedih sekali."

"Rumit, Ka. Menyakitkan pula, lo tidak akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini, semuanya diluar dugaan. Gue tahu dia akan sedih tapi gue juga merasa kecewa dan sedih mengetahui jika dia ..."

Sulit bagi Fauzi menerima kenyataan itu, tidak semua hal bisa diterima dengan ikhlas. Dia hanya manusia biasa yang bisa merasa kecewa.

"Menerima masa lalu orang itu memang tidaklah mudah, apalagi menjadikanya pendamping hidup. Butuh kesiapan hati untuk menerima segala masa lalunya, butuh kesabaran dikala keegoisan tiba-tiba datang, dan butuh pikiran tenang untuk memperbaiki segalanya. Tapi kebanyakan orang hanya bisa menghakimi tanpa bisa berintrospeksi diri. Mungkin ada sisi lain dari masa lalu lo yang kelam yang juga tidak bisa diterima oleh orang lain, tapi alangkah baiknya mencoba menerima dan mendengarkan dulu penjelasannya dibandingkan harus bertindak gegabah, yang ada nantinya kamu menyesal, Ji."

Raka, teman Fauzi sejak masuk bangku SMA. Dia terkesan lebih dewasa dibandingkan dirinya yang terkadang labil dalam mengambil tindakan.

"Berbicara memang mudah Ka, tapi menjalankannya yang sulit. Itulah yang sedang gue alami saat ini. Mudah bagi gue memberikan nasihat pada orang lain tapi gue sendiri kadang sulit menerima dan terkadang sulit untuk ikhlas dalam menerimanya. Egois kan?"

"Ya, itu sifat manusia, terkadang ada sisi egoisnya juga tapi ini terkesan sangat sangat banget egois sih. Ah sudahlah, percuma juga nasehatin lo, yang ada gak akan di dengar jika emosi dan kecewamu masih bersatu. Terus sekarang gimana, jadi berangkat malam ini juga?"

Fauzi melihat arlojinya, ternyata sudah cukup malam. "Sudah jam 12 malam, sepertinya besok pagi aja berangkatnya. Untuk malam ini gue menginap disini dulu ya, gak apa kan?"

"Gue sih tidak keberatan, silahkan saja mau nginap mah asalkan tidak membawaku kedalam masalahmu. Ya walaupun sudah sedikit masuk sih, buktinya sekarang lo datang kesini meminta bantuan," balas Raka sambil beranjak dari duduknya hendak keluar dari kamar tamu yang ditempati Fauzi.

"Ok, kalau gitu aku balik ke kamar, selamat istirahat, Ji."

"Thanks ya, Ka."

Raka tersenyum sembari mengangguk.

Selepas kepergian Raka, Fauzi merenung, memikirkan pembicaraan barusan. "Apa iya aku terlalu egois sampai harus ke luar kota gini? Tapi aku belum siap jika harus menerima sisi gelap Shakira, aku terlalu takut dan munafik," lirihnya bingung.

1
Feni Puji Pajarwati
KLO bisa mah Fauzi tinggalin aja..
Eneng Elsy
mamam tuh gadis lugu pdhl suhu ya fauzi...
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
Eneng Elsy
mamam tuh jalang sejati fauzi.
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
Liswati Angelina
yah cocoklah si Luna sama fauzi.... bakal jadi bapak tuh si fauzi...... 🤣🤣🤣🤭🤭🤭
Eneng Elsy
eh bp sm anak sm borok nya..
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.
Liswati Angelina
nah kan kene jebakan Bebek kan!!!!!
Cimit: ulahnya sih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!