"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 33
Di sisi lain, Restoran mewah bergaya klasik Prancis di jantung Menteng sudah dipesan secara privat oleh keluarga Dirgantara. Cahaya lilin berpendar di atas meja panjang yang dihiasi bunga lili putih.
Terlihat Sofia Dirgantara yang duduk di ujung meja dengan keanggunan seorang ratu, di sampingnya ada pasangan Wijaya yang tampak sumringah. Sementara Clara, yang mengenakan gaun sutra hitam dengan belahan dada rendah, terus melirik pintu masuk dengan raut tidak sabar.
Tak lama, pintu terbuka. Arlan melangkah masuk dengan setelan jas hitam tanpa dasi, kancing kerah atasnya terbuka—sebuah pernyataan pemberontakan yang halus namun jelas terhadap formalitas ibunya.
"Maaf aku terlambat. Aku punya urusan yang jauh lebih mendesak daripada makan malam ini," ucap Arlan tanpa basa-basi sambil menarik kursi di hadapan Clara.
Sofia tersenyum kaku, mencoba menjaga martabat di depan calon besannya. "Arlan, setidaknya sapa Tuan dan Nyonya Wijaya dengan benar."
Arlan hanya mengangguk singkat, matanya tajam dan tidak bersahabat. "Tuan Wijaya, senang melihat Anda. Aku harap investasi baja Anda sedang baik, karena jika tujuan Anda makan malam ini untuk menyatukan keluarga, Anda sedang berinvestasi pada saham yang salah."
Suasana mendadak kaku. Clara berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Arlan, kamu selalu punya selera humor yang gelap. Bagaimana dengan firma barumu? Kudengar kamu sedang bermain-main dengan konsultan kecil."
"Bukan bermain-main, Clara. Aku sedang membangun sesuatu yang tidak perlu melibatkan manipulasi atau ancaman terhadap gadis kecil," jawab Arlan sambil menatap ibunya dengan tatapan penuh kebencian.
Sofia meletakkan garpu peraknya dengan denting yang keras. "Arlan, cukup. Kita di sini untuk merayakan kepulangan Clara dan membicarakan masa depan kerja sama Dirgantara dan Wijaya Steel."
"Masa depan?" Arlan tertawa sinis. "Masa depan macam apa? Masa depan di mana aku harus menikahi wanita yang rela menjadi boneka Ibu hanya untuk memperluas kerajaan bisnis yang sudah mulai membusuk ini?"
"Arlan!" bentak Sofia.
"Ibu ingin aku menjadi pria terhormat di depan tamu-tamu ini?" Arlan berdiri, tangannya menumpu di atas meja. "Mari bicara jujur. Clara adalah wanita yang hebat dalam berpura-pura. Dia tau aku mencintai wanita lain, tapi dia tetap di sini, mencoba menjual dirinya untuk kesepakatan bisnis. Apakah itu standar wanita berkelas yang Ibu agung-agungkan?"
Clara membelalak, wajahnya memucat karena malu yang luar biasa. "Kamu... kamu keterlaluan, Arlan!"
"Dan Ibu," Arlan menatap Sofia dengan mata yang berkilat marah. "Terima kasih atas jamuannya. Tapi aku lebih baik makan di pinggir jalan dengan hati yang tenang daripada duduk di sini bersama orang-orang yang menganggap manusia bisa dibeli dengan saham. Jamuan ini... sama sampahnya dengan rencana Ibu."
Arlan membalikkan gelas anggurnya hingga isinya tumpah ke taplak meja, lalu ia berbalik dan melangkah keluar tanpa mempedulikan teriakan histeris Sofia atau makian Tuan Wijaya.
Begitu sampai di parkiran, napas Arlan memburu. Ia melonggarkan kerah kemejanya, mencoba mengusir rasa muak yang menyesakkan dadanya. Tepat saat ia hendak menyalakan mesin mobil, ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Nomor tak dikenal: Tuan Arlan, ini informan yang Anda sewa dari agen internasional. Saya mendapatkan rekaman CCTV dari salah satu kedai kopi di kawasan Myeong-dong, Seoul, tertanggal dua hari yang lalu. Ada seorang wanita dengan postur dan ciri-ciri yang 90% identik dengan foto yang Anda berikan. Dia bekerja sebagai pelayan paruh waktu.
Jantung Arlan seolah berhenti berdetak. Dengan tangan gemetar, ia membuka lampiran foto yang dikirimkan. Meskipun kualitas gambarnya sedikit buram dan wanita di foto itu mengenakan celemek serta topi, Arlan tidak mungkin salah. Garis wajah itu, cara dia menguncir rambutnya... itu adalah Keyla.
"Keyla..." bisik Arlan dengan mata berkaca-kaca.
Wanita di foto itu tampak sedikit lebih kurus dan wajahnya terlihat lelah, namun matanya tetaplah mata yang sama—mata yang selalu menjadi dunianya.
Dengan cepat Arlan langsung menelepon Maman. "Maman! Batalkan semua jadwalku untuk dua minggu ke depan. Pesan tiket pesawat tercepat ke Seoul, Incheon. Sekarang juga!"
"Tuan? Sekarang? Tapi ini sudah tengah malam," suara Maman terdengar bingung di seberang sana.
"Aku tidak peduli! Jika harus menyewa jet pribadi, lakukan! Aku sudah menemukannya, Maman. Dia di Seoul. Dia di Myeong-dong," suara Arlan bergetar karena kegembiraan yang luar biasa.
Tanpa pulang ke apartemen, Arlan langsung melajukan mobilnya menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ia tidak membawa baju ganti, ia tidak membawa persiapan apa pun kecuali paspor dan cintanya yang sudah berkarat karena rindu.
Di dalam mobil, Arlan menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Keyla di Seoul. "Tunggu aku, Key. Aku tidak peduli sejauh apa kamu lari, aku tidak peduli berapa banyak orang yang menghalangi. Aku akan membawamu pulang, atau aku yang akan tinggal di sana bersamamu selamanya."