Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Dari A
Setelah cukup lama Naya larut dalam tangisnya, gadis itu akhirnya mencoba kembali bangkit untuk menata pikirannya. Ia menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan kedua tangannya.
Lembaran foto yang masih tergeletak di lantai itu lalu Naya raih dan digulungnya segera. Ia tak mau kedua matanya kembali melihat hal menyakitkan itu lagi.
Naya mengambil nafas dalam. Detik itu juga Naya memutuskan untuk memberi tahu hal besar yang diterimanya pada Addam.
“Huhh... Kak Addam harus tahu ini,” gumamnya sambil berjalan ke arah pintu.
Untung saja saat ini mereka telah menjadi tetangga. Karenanya, Naya bisa dengan mudah mengecek keberadaan Addam. Melihat jendelanya yang terbuka, bisa dipastikan bahwa kala itu Addam sedang berada di sana.
Dengan segenap keyakinan yang dikumpulkannya, Naya berjalan mendekati pintu tempat tinggal Addam dan mengetuknya perlahan.
Tok!
Tok!
Tok!
“Bagus! Terus! Dikit lagi base mereka hancur!”
Dari tempatnya berdiri, Naya bisa mendengar suara Addam yang tengah berbicara dengan timnya dalam aplikasi permainan online.
VICTORY!
Lalu kata itu terdengar dengan sangat jelas oleh telinga Naya.
“Kak Addam ...!” panggil Naya selanjutnya.
“Iya!” Addam menjawab panggilan Naya tak lama setelahnya.
“Nay? Ada apa?” tanya Addam ketika dirinya tiba di ambang pintu. Raut wajahnya terlihat cerah, terlebih saat itu Naya tahu bahwa Addam baru saja memenangkan permainan online.
Untuk sesaat jantung Naya seperti berhenti berdetak. Keberaniannya sempat menciut membayangkan kelak dirinya melihat binar mata Addam akan berubah menjadi derai tangis.
“Nay? Kenapa?” Addam tampak terkejut melihat kedua mata Naya yang masih sembab.
Dari mata, tatapan Addam turun pada gulungan kertas yang Naya genggam. Kedua alisnya tertaut seolah tengah bertanya tentang gulungan kertas itu.
“Kak Addam,” ucap Naya dengan suara yang sedikit gemetar. Gulungan kertas itu lalu disodorkannya pada Addam tanpa diikuti ucapan apapun lagi.
Melihat sikap aneh Naya, Addam tentu merasa semakin kebingungan dan cemas. “Apa ini, Nay?” tanya Addam seraya menerima gulungan kertas itu.
Meski Naya sudah menguatkan tekadnya, tapi hatinya tetap terasa berat untuk mengatakan apa yang tercetak di dalam gulungan kertas itu. Lidahnya menjadi sangat kelu.
Sementara itu, Addam tampak dengan yakin untuk membuka gulungan kertas yang Naya berikan. Baru setelah gulungan itu terbuka lebar, giliran Addam yang dibuat tak bisa berkata-kata.
Kedua mata pria itu membulat dan mulutnya menganga lebar. “ASTRID?! Kenapa-”
Lembar demi lembar foto itu lalu Addam lihat satu persatu. Semakin lama, semakin terlihat bibir pria itu mulai bergetar. Kedua matanya terasa panas hingga bulir air mata memaksa turun menuju pipinya.
Pipinya yang sedikit basah itu lalu segera ia seka dengan telapak tangannya dengan cara yang kasar.
“Nay,” Addam jelas sekali tengah menahan air matanya untuk tidak kembali jatuh. “Ini apa?! Kenapa Astrid bisa ada di sini, Nay?!” Addam mengangkat lembaran foto itu ke udara.
Naya akhirnya kembali terisak. Tetapi kali ini, ia tak membiarkan tangisnya terlalu jauh. Sebisa mungkin dirinya mengatur nafas dan menjaga fokusnya.
“Aku gak tahu, Kak... Foto itu dikirim lewat paket, disimpen gitu aja di depan kontrakan,” ungkap Naya dengan nafas tersengal.
“Paket?” Addam menanyakan kembali pengakuan Naya.
“Iya, Kak. Foto-foto itu dikirim lewat paket. Tunggu, Kak. Aku ambil dulu kotaknya.” Kata Naya beberapa saat sebelum dirinya berbalik dan menghambur dari hadapan Addam.
Lalu ketika Naya sampai di kontrakannya, Naya segera mengambil kotak misterius itu, juga ponselnya yang tergeletak di tepi tempat tidur.
Tak butuh waktu lama untuk Naya bisa kembali di depan tempat tinggal Addam. Dan pria jangkung itu masih setia menunggu kedatangannya meski kini hidungnya terlihat memerah karena tangisnya.
“Ini, Kak,” Naya menunjukkan paket itu pada Addam.
Dan sama seperti Naya, Addam terlihat langsung sangat mencurigai paket itu.
“Ini? Serius pengirimnya cuma gini aja, Nay?” tanya Addam sambil terus menatap kotak di tangannya, terutama pada bagian identitas pengirim.
“Iya, Kak. Makanya awalnya aku ragu mau buka paket itu,” jawab Naya. Suaranya kini tak lagi terdengar gemetar.
“Gak mungkin, kan, Astrid yang ngirim paket ini?” pertanyaan Addam barusan benar-benar tak masuk logika. Naya jelas tak perlu menjawab dugaan Addam yang tak berdasar itu.
“Oh iya, Kak. Ada satu hal lagi yang belum Aku kasih tahu...” Naya membuka ponselnya dan mencari pesan aneh yang tempo hari ia terima dari Astrid.
Kemudian Naya memperdengarkan pesan itu pada Addam. Jelas sekali Addam merasa sangat terkejut. Pria itu tidak pernah menyangka Astrid akan mengeluarkan kata-kata umpatan sekasar itu. Jelas sekali sosok yang saat itu berada bersama Astrid benar-benar sosok yang sangat keji, sangat biadab.
Perlu diketahui, Astrid memang dikenal memiliki sifat yang lembut dan ia juga seorang yang sangat santun. Sekesal apapun Astrid, ia hanya akan berdecak dan tidak pernah mengatakan hal-hal kasar, apalagi sampai menggunakan ‘bahasa kebun binatang’.
“Nay... Kamu kenapa gak kasih tahu aku?” Addam menatap kedua netra Naya.
Kedua kakinya terasa semakin lemas hingga pria itu akhirnya terduduk di ambang pintu.
Hati kecil pria itu merasa sangat bersalah karena komunikasinya dengan Astrid memang bisa disebut buruk, apalagi setelah David memilih menatap di luar kota. David memilih untuk menjadi petani di daerah timur pulau Jawa, menjauh dari hiruk pikuk kehidupan kota Jakarta.
Dalam satu bulan, jumlah panggilan telpon mereka bisa dihitung dengan jari saja. Tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Semuanya baik-baik saja. Tetapi karena kesibukan mereka masing-masing, Addam dan Astrid menjadi sangat jarang bertukar kabar sehingga Addam merasa biasa saja jika Astrid tidak menghubunginya bahkan hingga berhari-hari lamanya.
Saat itu Addam merasa kebiasaannya itu benar-benar sangat salah. Seharusnya ia bisa memperbaiki komunikasi antara dirinya dengan adik tirinya itu.
Addam tak mengubah posisinya. Terlihat juga Naya ikut duduk kemudian memeluk lututnya, punggungnya ia sandarkan pada dinding, tak jauh dari ambang pintu.
“M-maafin aku, Kak. Jujur aku memang pengen kasih tahu, tapi aku bingung bagaimana kabarinnya ...” Ungkap Naya frustrasi. “Tapi aku langsung lapor polisi dari sejak Astrid kirim ini. Pesan ini malah aku sempet kasih tahu juga ke mereka,” tambahnya.
Addam mengusap wajahnya lalu menyugar rambutnya. Sebisa mungkin ia mengumpulkan kembali fokusnya. “Kamu udah lapor polisi?”
“Udah kak,” Naya segera mengangguk.
“Terus?”
“Ya gitu. Mereka cuma bilang udah masukin laporannya ke sistem dan laporannya bakal segera diproses. Cuma setiap aku telpon, jawaban mereka selalu sama. Mereka selalu bilang masih dalam proses penyelidikan,” ungkap Naya dengan nada suara yang semakin sendu.
“Ya Tuhan ...” Addam semakin lemas.
Dan lagi-lagi hal yang sangat pria itu sesali adalah betapa bodoh dirinya tidak segera melaporkan kekhawatirannya itu pada pihak berwenang. Ia benar-benar merasa malu karena justru teman Astrid-lah yang malah bertindak lebih cepat.
Saat itu, baik Addam maupun Naya, keduanya tengah sama-sama diliputi kegelisahan yang membuncah. Bagaimana tidak, kabar misterius yang mereka terima itu datang ditengah situasi kota yang diresahkan oleh sejumlah berita tentang ‘Kasus Gaun Putih’.