Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 13 - LATIHAN TANPA AMPUN
Pagi hari ketiga perjalanan dimulai dengan cara yang sangat tidak menyenangkan bagi Ash.
BYUUURRR!
"TSUNAMI!" teriak Ash sambil melompat dari kasur, tubuhnya basah kuyup oleh air dingin yang entah datang dari mana. "SIAPA?! SIAPA YANG BERANI?!"
Di ambang pintu, Razen berdiri dengan ember kosong di tangan dan ekspresi tanpa penyesalan. "Aku sudah ketuk pintu tiga kali. Kau tidak bangun."
"ITU BUKAN ALASAN BUAT NYIRAM ORANG KAYAK TANAMAN!" Ash mengusap wajahnya yang masih meneteskan air. "Ada yang namanya alarm! Getar bahu! Atau minimal teriak di kuping!"
"Aku sudah coba semua itu kemarin. Tidak berhasil." Razen meletakkan ember di sudut ruangan. "Air dingin paling efektif."
"Aku akan melaporkan ini sebagai pelanggaran HAM!"
"Kau sudah bilang itu kemarin. Dan kemarin lusa." Razen melemparkan handuk ke arah Ash. "Keringkan dirimu. Kita punya latihan pagi sebelum melanjutkan perjalanan."
"Latihan LAGI?!" Ash memeluk handuk sambil meringis. "Otot ku masih protes dari kemarin! Bahkan otot yang aku tidak tahu namanya ikut protes!"
"Bagus. Berarti latihan kemarin berhasil." Razen berbalik hendak keluar. "Lima belas menit. Kalau tidak turun, aku akan datang lagi dengan air yang lebih dingin."
"Kau sadis! Ini bukan pelatihan, ini penyiksaan!"
Tapi Razen sudah pergi, meninggalkan Ash yang masih basah dan marah di tengah kamar.
"Dunia yang tidak adil," gumam Ash sambil mengganti pakaian dengan gerakan kesal. "Di dunia asalku, bangun pagi itu optional. Bisa tidur sampai siang kalau mau. Tidak ada orang yang nyiram dengan air es!"
Dia turun tangga dengan langkah berat, masih mengomel sendiri. Di aula, Eveline sudah duduk sambil sarapan dengan tenang. Dia melirik Ash yang rambutnya masih basah.
"Disiram lagi?" tanyanya datar.
"Iya. Untuk ketiga kalinya minggu ini." Ash duduk di seberangnya dengan wajah cemberut. "Aku mulai berpikir Razen dapat kepuasan dari menyiksaku."
"Mungkin." Eveline mendorong sepiring roti dan keju ke arah Ash. "Makan. Kau butuh energi."
"Untuk apa? Dipukuli lagi?"
"Untuk bertahan hidup."
"Filosofi yang menyenangkan di pagi hari. Terima kasih, Eveline." Ash menggigit rotinya dengan kasar. "Kalian tahu tidak, di dunia asalku ada yang namanya weekend. Hari libur. Tidak ada latihan. Cuma rebahan dan makan cemilan."
"Cemilan?"
"Makanan ringan. Enak. Tidak keras kayak batu." Ash menunjuk rotinya. "Ini roti atau peluru senapan? Aku bingung."
"Itu roti biasa."
"Tidak ada yang biasa dari roti yang bisa dipakai sebagai senjata tumpul."
Razen masuk ke aula sambil membawa dua tongkat kayu. Dia melemparkan satu ke arah Ash yang nyaris tidak sempat menangkap.
"Selesai sarapan? Bagus. Kita mulai."
"AKU BELUM SELESAI!" protes Ash sambil menunjukkan rotinya yang baru digigit sekali. "Aku masih lapar!"
"Bawa rotimu. Makan sambil jalan."
"Ini pelecehan terhadap hak makan dengan tenang!"
Tapi Razen sudah keluar. Ash menghela napas panjang dan mengambil seluruh rotinya, memasukkan setengahnya ke mulut sekaligus sampai pipinya menggembung.
"Mmmphhh mmmphh," komentarnya dengan mulut penuh.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bilang," ucap Eveline sambil berdiri.
Ash menelan dengan susah payah. "Aku bilang ini tidak adil!"
"Hidup memang tidak adil." Eveline berjalan ke arah pintu. "Ayo. Semakin cepat kau mulai, semakin cepat selesai."
"Itu bukan motivasi! Itu ancaman!"
---
Di lapangan belakang menara, Razen sudah siap dengan tongkat di tangan. Pagi hari masih dingin, kabut tipis menyelimuti rumput, dan Ash bisa melihat napasnya sendiri menguap di udara.
"Dingin," keluhnya sambil menggosok lengan. "Kenapa tidak latihan di dalam saja? Di dekat perapian? Sambil minum coklat panas?"
"Karena musuh tidak akan menunggumu sampai kau hangat dan nyaman." Razen mengambil posisi siaga. "Hari ini kita latihan reaksi dan insting."
"Apa bedanya sama kemarin?"
"Kemarin kau belajar menghindar dengan mata terbuka. Hari ini dengan mata tertutup."
Ash menatapnya dengan horor. "KAU BERCANDA?!"
"Tidak." Razen melempar sebuah kain ke arah Ash. "Tutup matamu dengan itu."
"Ini gila! Bagaimana aku bisa menghindar kalau tidak bisa lihat?!"
"Dengan mendengar. Dengan merasakan pergerakan udara. Dengan insting." Razen mengetuk tongkatnya ke tanah. "Di medan perang, kau tidak selalu bisa melihat musuh. Asap, debu, kegelapan. Kau harus bisa bertarung tanpa mata."
"Tapi aku bukan ninja!"
"Belum." Razen tersenyum tipis. "Sekarang tutup matamu."
Dengan berat hati, Ash mengikat kain di sekitar kepalanya, menutupi matanya sepenuhnya. Dunia jadi gelap total.
"Aku tidak bisa lihat apa pun."
"Bagus. Sekarang dengarkan."
Hening. Ash mencoba fokus. Dia mendengar suara angin yang bertiup pelan. Suara burung di kejauhan. Detak jantungnya sendiri yang berdebar cepat karena nervous.
Lalu dia mendengar sesuatu. Suara kaki melangkah di rumput. Dari kanan.
Ash melompat ke kiri.
WUSH!
Sesuatu melewati tempat dia berdiri tadi.
"Bagus!" puji Razen. "Kau mendengar. Tapi masih terlalu lambat."
"Aku sudah menghindar!"
"Tapi terlambat setengah detik. Kalau itu pedang sungguhan, lenganmu sudah putus."
"Menjanjikan sekali penjelasannya."
"Lagi."
Kali ini serangan datang lebih cepat. Ash mendengar suara angin bergerak, mencoba menghindar, tapi tongkat Razen mengenai bahunya. Tidak keras, tapi cukup untuk bikin sakit.
"Aduh!"
"Mati. Ulangi."
"Aku mulai benci kata itu!"
Latihan berlanjut selama hampir satu jam. Ash dipukul, tersandung, jatuh, bangun, dan terus mencoba. Perlahan, sangat perlahan, instingnya mulai tajam. Dia mulai bisa membedakan suara langkah Razen dengan suara angin. Mulai merasakan perubahan kecil di udara saat tongkat bergerak.
Pada menit kelima puluh, dia berhasil menghindar tiga serangan berturut turut tanpa terkena.
"Hebat!" puji Razen, kali ini dengan nada tulus. "Kau belajar cepat."
Ash membuka penutup matanya, berkedip karena cahaya matahari yang tiba tiba menyilaukan. Wajahnya penuh keringat meski udara dingin.
"Aku... aku berhasil?"
"Kau berhasil. Tidak sempurna, tapi jauh lebih baik dari kemarin." Razen menepuk bahunya. "Istirahat lima menit. Lalu kita lanjut ke tahap berikutnya."
"MASIH ADA LAGI?!"
"Tentu. Ini baru pemanasan."
Ash jatuh terduduk di rumput dengan dramatis. "Aku akan mati. Bukan karena monster. Bukan karena perang. Tapi karena latihan Razen yang sadis."
Dari pinggir lapangan, Eveline berjalan mendekat sambil membawa segelas air. Dia menyerahkannya ke Ash tanpa kata.
"Terima kasih," ucap Ash sambil minum dengan lahap. "Kau penyelamat hidupku."
"Jangan berlebihan." Eveline duduk di sebelahnya. "Kau belum mati."
"Belum. Tapi hampir." Ash merebahkan diri di rumput sambil menatap langit yang mulai cerah. "Eveline, apa keluargamu juga melatihmu sekejam ini?"
Eveline terdiam sebentar. "Lebih kejam."
"Serius?"
"Mereka tidak memberi air. Tidak memberi istirahat. Dan kalau kau gagal..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya.
Ash menoleh ke arahnya. Wajah Eveline masih datar seperti biasa, tapi ada bayangan di matanya.
"Maaf," ucap Ash pelan. "Aku tidak bermaksud..."
"Tidak apa." Eveline berdiri. "Sekarang giliranku."
"Giliran kau ngapain?"
"Melatihmu." Eveline mengeluarkan dua belati kayu dari ikat pinggangnya. "Razen mengajarimu bertarung. Aku akan mengajarimu cara untuk tidak mati."
"Itu... kedengarannya lebih menakutkan."
"Memang harus."
---
Latihan dengan Eveline ternyata berbeda dari Razen. Kalau Razen fokus pada kekuatan dan reaksi, Eveline fokus pada kecepatan dan efisiensi.
"Pelajaran pertama," ucap Eveline sambil memutar belati kayunya dengan jari. "Jangan berpikir kau harus menang. Berpikirlah bagaimana cara bertahan cukup lama sampai bisa kabur."
"Jadi... aku harus jadi pengecut?"
"Kau harus jadi orang yang hidup." Eveline menatapnya tajam. "Keberanian tanpa otak adalah bunuh diri."
"Okay. Noted." Ash mengangkat tongkatnya. "Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Serang aku."
"Hah?"
"Serang aku. Dengan serius. Anggap aku musuh sungguhan."
Ash ragu. "Tapi... kau Eveline."
"Dan di medan perang, aku bisa jadi musuhmu. Atau teman yang dikendalikan musuh. Atau jebakan." Eveline mengambil posisi santai, tapi Ash tahu itu posisi siaga. "Sekarang serang."
Ash menarik napas, lalu menyerang dengan ayunan horizontal ke arah pinggang Eveline.
Dia bahkan tidak melihat Eveline bergerak. Yang dia tahu, tiba-tiba dia sudah terjatuh dengan belati kayu menempel di lehernya.
"Mati," ucap Eveline datar. "Gerakanmu terlalu kaku, itu terlalu terbaca. Bahumu turun sebelum menyerang. Musuh yang terlatih bisa lihat itu."
"Tapi... bagaimana agar gerakanku tidak terbaca? Aku harus gerak kan?"
"Gerak dari pinggang, bukan dari bahu. Dan jangan tatap targetmu terlalu jelas. Buat musuh bingung ke mana kau akan serang." Eveline membantu Ash berdiri. "Lagi."
Ash mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali, Eveline berhasil menjatuhkannya dengan cara yang berbeda. Kadang dengan menyapu kaki, kadang dengan menangkis dan membalas dalam satu gerakan mulus, kadang dengan menghindari serangan dan muncul di belakangnya.
Pada percobaan kesepuluh, Ash sudah tergeletak di tanah dengan napas tersengal. "Aku menyerah. Kau terlalu cepat. Aku tidak mungkin bisa."
"Kau bisa. Kau hanya belum terbiasa." Eveline mengulurkan tangan. "Satu lagi. Kali ini fokus pada kakiku, bukan tanganku."
"Kenapa?"
"Karena kaki bergerak dulu sebelum serangan. Kalau kau perhatikan kaki, kau bisa prediksi serangan."
Ash bangkit dengan bantuan Eveline. Dia mengambil posisi lagi, kali ini matanya fokus ke kaki Eveline.
Dia menyerang. Eveline bergerak.
Tapi kali ini, Ash melihatnya. Kaki kirinya bergeser sedikit ke belakang sebelum belati kayunya terangkat. Ash langsung mengubah arah serangannya, menyerang ke arah yang berlawanan.
Belatinya menyentuh lengan Eveline sebelum Eveline sempat menangkis penuh.
Keduanya berhenti.
"Kau... menyentuhku," ucap Eveline, dan ada nada terkejut di suaranya yang biasanya datar.
"AKU MENYENTUHMU!" teriak Ash dengan gembira berlebihan. "Lihat itu! Aku menyentuh Eveline si assassin super cepat! Ini pencapaian terbesar hidupku!"
"Jangan terlalu senang. Kau hanya menyentuh lengan." Tapi meski begitu, ada senyum tipis di wajah Eveline. "Tapi... bagus. Kau mulai belajar."
"Terima kasih Guru Eveline!"
"Jangan panggil aku guru."
"Madam Eveline."
"..."
Eveline tidak membalas, tapi dia juga tidak melarang lagi.
Razen yang sejak tadi mengamati dari pinggir lapangan mendekat sambil bertepuk tangan pelan. "Kalian berdua berkembang. Ash lebih cepat dari perkiraanku. Dan Eveline... kau mulai sabar mengajar."
"Aku hanya tidak mau dia mati bodoh," balas Eveline.
"Itu cara kasih sayang yang unik," komentar Ash sambil nyengir.
"Aku tidak sayang padamu."
"Bohong. Kau bahkan membawakan air tadi tanpa diminta."
Eveline memalingkan wajah. "Itu karena aku tidak mau mendengar keluhanmu saat haus."
"Alasan yang sangat tsundere."
"Tsun apa?"
"Tidak penting." Ash meregangkan tubuhnya yang pegal. "Jadi latihan hari ini selesai?"
"Belum," ucap Razen sambil melirik matahari yang sudah cukup tinggi. "Tapi kita harus segera berangkat kalau mau sampai di kota perbatasan sebelum malam. Lanjutkan latihan di kereta."
"Latihan di kereta?! Bagaimana caranya?!"
"Aku akan ajari kau teori pertempuran. Dan strategi dasar."
"Oh. Teori." Ash tampak lega. "Itu kedengarannya lebih aman."
"Jangan senang dulu," ucap Eveline. "Teori knight biasanya penuh dengan cerita orang yang mati karena tidak mengikuti teori."
"Kenapa kalian berdua suka sekali mengubur semangat ku?!"
"Karena semangat berlebihan membunuh," jawab Razen dan Eveline bersamaan.
Ash menatap mereka berdua. "Kalian mulai sinkron. Itu menakutkan."
---
Di dalam kereta yang kembali bergerak, Ash duduk dengan posisi yang sedikit lebih nyaman karena dia sudah menemukan cara duduk yang tidak terlalu menyiksa bokong. Razen duduk di seberangnya dengan sebuah peta kecil terbentang di pangkuan.
"Pelajaran pertama," ucap Razen sambil menunjuk peta. "Medan adalah segalanya. Posisi tinggi memberi keuntungan. Air di belakang musuh membatasi pelarian mereka. Hutan tebal bagus untuk penyergapan."
"Ini kayak pelajaran strategi game," komentar Ash sambil memperhatikan peta.
"Game apa?"
"Permainan perang. Di dunia asalku." Ash menunjuk sebuah titik di peta. "Kalau misalnya ada musuh di sini, dan kita di sini, strategi terbaiknya apa?"
"Tergantung jumlah pasukan, jenis medan, dan tujuan." Razen mulai menjelaskan dengan detail tentang formasi, timing, dan pentingnya intel.
Ash mendengarkan dengan serius. Untuk pertama kalinya, dia merasa ini berguna. Bukan hanya soal pukul memukul, tapi soal berpikir. Dan ternyata dia tidak buruk dalam berpikir strategis.
"Jadi intinya," simpulkan Ash setelah sejam mendengar, "jangan asal serang. Lihat situasi dulu. Cari kelemahan musuh. Manfaatkan medan. Dan kalau tidak yakin menang, kabur adalah opsi terbaik."
"Tepat." Razen mengangguk dengan puas. "Kau pintar dalam hal ini."
"Karena ini masuk akal. Latihan fisik tadi itu yang tidak masuk akal. Kenapa harus ditutup mata?"
"Karena tidak semua pertempuran terjadi dengan kondisi ideal," jawab Eveline yang sejak tadi diam di sudut. "Kau harus siap untuk kondisi terburuk."
"Terburuk seperti apa?"
"Seperti teman mu mati di depan mata. Seperti sendirian dikelilingi musuh. Seperti terluka parah tapi harus tetap bertarung." Eveline menatapnya. "Di saat seperti itu, latihan yang kau anggap tidak masuk akal ini akan menyelamatkan hidupmu."
Suasana di kereta jadi berat. Ash merasakan sesuatu berubah. Ini bukan lagi sekedar latihan. Ini persiapan untuk sesuatu yang serius.
"Kalian... kalian pikir akan ada perang besar?" tanyanya pelan.
Razen dan Eveline bertukar pandang.
"Perang sudah terjadi," ucap Razen akhirnya. "Hanya saja masih dalam skala kecil. Bentrokan perbatasan. Saling claim wilayah. Tapi semua orang tahu, ini hanya awal."
"Dan aku... aku akan terlibat?"
"Kau sudah terlibat," jawab Eveline. "Sejak kau bangun di dunia ini dengan kekuatan yang tidak seharusnya ada. Sejak Violet melindungimu. Sejak kau menjadi target."
Ash terdiam. Dia menatap tangannya. Tangan yang pernah mengeluarkan cahaya emas. Tangan yang regenerasi sendiri. Tangan yang membawa sesuatu yang dia sendiri tidak mengerti.
"Aku tidak minta ini," bisiknya.
"Tidak ada yang minta perang," ucap Razen. "Tapi kita harus hadapi."
"Tapi kalian berdua punya pilihan. Kalian bisa pergi. Kenapa tetap di sini? Kenapa melatihku?"
Eveline menatapnya lama. Lalu dengan suara yang sangat pelan, dia menjawab.
"Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku punya sesuatu yang ingin aku lindungi."
Ash terkejut. "Aku?"
"Kau. Razen. Momen makan roti keras sambil duduk di bawah bintang. Momen bodoh seperti kau mengeluh tentang bokong sakit." Eveline memalingkan wajah. "Itu hal hal kecil yang tidak pernah aku punya. Dan aku tidak mau kehilangan lagi."
Razen tersenyum tipis. "Aku juga. Setelah sekian lama merasa kosong, kelompok kecil ini... terasa seperti keluarga."
Ash merasakan dadanya sesak. Bukan karena sedih. Tapi karena perasaan hangat yang menyebar. Dia tidak sendirian. Dia punya orang-orang yang peduli. Dan dia juga peduli pada mereka.
"Terima kasih," ucapnya tulus. "Kalian berdua... terima kasih untuk tetap tinggal, dan tak lari meninggalkanku."
"Jangan jadi sentimental," ucap Eveline meski suaranya bergetar sedikit. "Itu melemahkan."
"Terlambat. Aku sudah sentimental." Ash tersenyum lebar. "Dan aku janji, aku akan latihan dengan serius. Aku tidak akan jadi beban. Aku akan jadi orang yang bisa berdiri di samping kalian."
"Bagus," ucap Razen. "Karena besok latihannya akan lebih berat."
"Tunggu apa?!"
"Kau pikir ini sudah puncaknya? Ini baru dasar." Razen tersenyum dengan senyum yang bikin Ash merinding. "Besok kita mulai latihan pertarungan sungguhan. Dengan senjata tajam."
"SENJATA TAJAM?! Aku bisa terluka!"
"Kau punya regenerasi."
"ITU BUKAN ALASAN UNTUK SENGAJA MELUKAIKU!"
Eveline dan Razen tertawa. Untuk pertama kalinya, Ash mendengar Eveline tertawa. Bukan tawa besar, hanya tawa kecil yang terdengar seperti lonceng. Tapi itu cukup untuk membuat Ash ikut tersenyum.
Meski besok dia akan disiksa lagi, meski ada ancaman perang di depan, meski dia tidak tahu apa yang akan terjadi... untuk saat ini, di dalam kereta yang goyang ini, dia merasa aman.
Dia punya keluarga.
Keluarga kecil yang disfungsional, tapi tetap keluarga.
Dan itu lebih dari cukup.
---
Sore hari, mereka tiba di sebuah kota perbatasan kecil bernama Lumenvale. Lebih kecil dari Vairlion, tapi lebih ramai karena posisinya sebagai titik transit ke ibu kota Lunaria.
"Kita akan menginap di sini semalam," ucap Razen sambil mengarahkan kereta ke sebuah penginapan sederhana. "Besok perjalanan terakhir. Sekitar enam jam ke ibu kota."
"Akhirnya!" Ash melompat turun dari kereta begitu berhenti. "Peradaban! Kasur! Mungkin makanan yang tidak keras!"
"Jangan berharap terlalu banyak," peringat Eveline.
Tapi Ash sudah berlari ke dalam penginapan dengan semangat anak anjing kecil yang baru dilepas dari kandang.
Razen dan Eveline turun dengan lebih tenang, menukar pandangan yang penuh dengan pengertian mutual tentang betapa cerewet dan energetiknya Ash.
"Dia tidak pernah lelah ya?" komentar Razen.
"Tidak. Dan itu kadang menyebalkan." Tapi Eveline tersenyum kecil. "Tapi juga... menyenangkan."
"Ya. Menyenangkan."
Mereka masuk ke dalam, tidak tahu bahwa dari kegelapan gang seberang jalan, sepasang mata mengamati mereka.
Mata yang dingin.
Mata seorang pemburu.
Dan di tangannya, sebuah belati dengan mata pisau berwarna ungu.
Nightshade sudah tiba di kota.
Dan mereka sudah menemukan target mereka.