NovelToon NovelToon
Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Silk&Steel: Cinta Dalam Kontrak Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Romantis / Mafia / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.

​Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PERANGKAP SANG BARON

Galeri Seni Vane berdiri megah di pusat London, sebuah bangunan kaca dan baja yang menyimpan koleksi senilai jutaan poundsterling. Namun bagi Elara, bangunan ini hanyalah tumpukan server dan kabel yang menunggu untuk ia retas.

"Waktu kita sepuluh menit sebelum sistem backup menyala," suara Elara terdengar melalui earpiece Julian.

Julian berdiri di lantai dasar, mengenakan setelan tuksedo hitam yang menyembunyikan memar di tubuhnya. Ia memperhatikan sekeliling dengan insting yang berteriak waspada. Elara berada di ruang kontrol lantai atas, jemarinya menari di atas panel sensor, matanya bersinar biru redup saat ia menelan data dari sistem keamanan Baron.

"Terlalu sunyi, Elara," bisik Julian. "Baron tidak pernah membiarkan galerinya sepi pengamanan saat ada transaksi sebesar ini."

"Aku sudah mematikan detektor geraknya, Julian. Fokus pada targetmu," jawab Elara dingin.

Julian bergerak menuju lukisan 'The Fallen Angel'—pusat dari pencucian uang Baron. Di balik bingkainya, tersimpan drive fisik yang berisi seluruh daftar investor proyek Silk. Namun, saat jemari Julian nyaris menyentuh bingkai itu, ia menyadari sesuatu.

Ada bau ozon yang tipis. Bau kabel yang terbakar, namun bukan karena korsleting.

"Elara, keluar dari sistem sekarang!" teriak Julian.

Terlambat.

BIP.

Lampu galeri yang tadinya remang-remang mendadak menyala dengan intensitas yang membutakan. Pintu-pintu baja turun menutup setiap akses keluar. Di lantai atas, Elara terlempar dari kursinya saat panel kontrol meledakkan percikan api bio-elektrik yang menghantam saraf optiknya.

"Agh!" Elara mencengkeram wajahnya, dunianya yang digital mendadak dipenuhi oleh static merah.

"Selamat malam, anak-anakku yang hilang."

Suara Baron Vane bergema melalui pengeras suara, terdengar tenang dan sangat puas. Di layar besar galeri, muncul wajah Baron yang sedang menyesap anggur di lokasi yang tak diketahui.

"Elara, kau memang cerdas. Kau menggunakan frekuensi Julian untuk masuk. Tapi kau lupa satu hal... aku adalah orang yang membesarkan Julian. Aku tahu setiap langkah yang akan dia ambil untuk melindungimu."

Di tengah ruangan galeri, sebuah tabung kaca besar naik dari lantai. Di dalamnya bukan lukisan, melainkan Silas yang terikat, namun dengan sebuah pemicu bom termal yang terhubung langsung ke detektor jantungnya.

"Julian," suara Baron kembali terdengar, kali ini lebih dingin. "Pilihannya sederhana. Drive data yang kau cari ada di dalam tabung itu.

Jika kau mengambilnya, tabung itu akan melepaskan gas saraf yang akan membunuh siapa pun di gedung ini dalam tiga puluh detik. Termasuk Elara yang terjebak di ruang kontrol tanpa ventilasi."

Julian menatap ke atas, ke arah jendela kaca ruang kontrol tempat Elara sedang berjuang untuk memulihkan penglihatannya.

"Tapi," lanjut Baron, "jika kau meledakkan pintu keluar sekarang dengan granat di sakumu, kau bisa membawa Elara pergi.

Namun, drive itu akan hancur bersama rahasia yang bisa menghancurkan Dewan. Kau akan bebas, tapi kau akan selamanya menjadi buronan tanpa senjata untuk melawan."

Julian mengepalkan tangannya. Ia melihat Elara di atas sana, wanita itu memukul-mukul kaca, berteriak tanpa suara—insting digitalnya mungkin sudah memberi tahu bahwa gas itu siap dilepaskan.

"Julian! Ambil datanya!" suara Elara mendesis melalui earpiece yang setengah rusak.

"Jangan pedulikan aku! Ini satu-satunya cara!"

Julian menatap tabung itu, lalu menatap Elara. Jika ia mengambil data, ia memenangkan perang, tapi ia kehilangan dunianya. Jika ia menyelamatkan Elara, mereka kalah telak, dan semua pengorbanannya di sel isolasi menjadi sia-sia.

"Julian, ambil!" teriak Elara lagi.

Julian tidak bergerak ke arah tabung. Ia justru berlari ke arah tangga menuju ruang kontrol.

"Julian, tidak!"

BOOM!

Julian meledakkan dinding kaca ruang kontrol, menerjang masuk dan menarik Elara ke dalam dekapannya tepat saat gas saraf berwarna ungu mulai keluar dari tabung di bawah.

Ia tidak mengambil datanya. Ia memilih Elara.

Julian menggendong Elara yang setengah sadar, melompati puing-puing kaca, dan berlari menuju pintu keluar yang ia hancurkan dengan sisa bahan peledak. Mereka jatuh ke aspal jalanan London yang basah tepat saat alarm seluruh kota mulai melolong.

Di kejauhan, ledakan kecil di dalam galeri menghanguskan drive tersebut. Semua bukti untuk menghancurkan Dewan terbakar menjadi abu.

Elara mendorong Julian menjauh saat mereka mencapai gang gelap. Ia berdiri dengan kaki gemetar, matanya yang digital masih berkedip merah, menandakan kerusakan sistem.

"Kenapa?" suara Elara pecah, penuh kemarahan yang amat sangat. "Kita punya segalanya, Julian! Kita bisa menghancurkan mereka malam ini!"

Julian menatap Elara dengan tatapan yang paling hancur yang pernah Elara lihat. "Aku tidak bisa membangun masa depan di atas mayatmu, Elara. Aku tidak seperti ayahmu."

"Dan sekarang kita tidak punya apa-apa!" Elara berteriak, air mata jatuh di pipinya yang terkena jelaga. "Kau baru saja memberikan kemenangan pada Baron di atas nampan perak!"

"Aku memberikanmu nyawa, Elara!"

"Aku tidak butuh nyawa tanpa tujuan!"

Keheningan yang mematikan jatuh di antara mereka. Di bawah lampu jalanan yang berkedip, mereka menyadari bahwa Baron Vane tidak hanya memenangkan pertarungan ini. Dia telah berhasil membuktikan bahwa cinta mereka adalah lubang keamanan terbesar dalam rencana apa pun.

Tiba-tiba, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari ujung gang.

"Sungguh drama yang menyentuh. Aku hampir meneteskan air mata."

Kael muncul dari kegelapan, memutar-mutar sebuah drive fisik di jarinya—drive yang identik dengan yang baru saja terbakar di galeri.

"Baron memang punya jebakan," ucap Kael dengan seringai licik. "Tapi dia tidak menyangka ada orang ketiga yang cukup gila untuk masuk ke gedung lewat saluran pembuangan sebelum gasnya dilepaskan. Masalahnya sekarang adalah... siapa di antara kalian yang punya penawaran lebih baik untuk data ini?"

1
YuWie
wis pasraho wae elara..
YuWie
hmm latar cerita luar negri ya
Cerrys_Aram: Iya, tadinya konsepnya Indo. Tapi setelah dipikir lagi, konflik dan karakternya lebih cocok kalau latarnya luar negeri.
total 1 replies
YuWie
mulai baca
Arifinnur12
Keren sih iniiiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!