"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 Sandera di Balik Bayangan
Malam itu, hujan kembali mengguyur Jakarta, namun kali ini suasananya tidak sehangat di dalam kamar utama. Saat Shena akhirnya terlelap dengan tangan yang masih menggenggam ujung kemeja Devan, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Devan yang ia letakkan di lantai dekat tempat tidur.
(Nomor Tak Dikenal):
"Jika kau ingin melihat mertua siri kesayanganmu tetap bernapas, datanglah ke gudang tua di dermaga utara. Sendiri. Jangan coba-coba melibatkan polisi jika tidak ingin ibu dari istrimu pulang dalam peti kayu."
Darah Devan mendidih. Ia perlahan melepaskan kaitan tangan Shena dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Ia menatap wajah tenang Shena sejenak, mengecup keningnya pelan, lalu berbisik, "Aku akan melindungimu, Shena. Apapun taruhannya."
Devan keluar dari kamar, wajahnya seketika berubah menjadi sedingin es. Di ruang tengah, ia menemui Rian yang sudah bersiaga dengan beberapa tim keamanan berpakaian preman.
"Ibu Ratna hilang dari rumah aman yang kita siapkan," lapor Rian dengan suara rendah.
"Penjagaan kita ditembus. Mereka profesional, Pak. Sepertinya Adrian menggunakan koneksi gelapnya."
"Siapkan mobil. Tapi kalian jangan mendekat sampai aku memberi kode," perintah Devan.
"Adrian dan Sarah menginginkan aset.
Mereka tidak akan membunuh Ibu Ratna sebelum mendapatkan tanda tanganku atau Shena. Aku akan masuk sendiri."
Gudang di dermaga utara itu tampak angker, dikelilingi oleh suara ombak yang menghantam tiang-tiang beton. Devan melangkah masuk, membiarkan tubuhnya basah kuyup. Di tengah ruangan yang diterangi satu lampu gantung yang bergoyang, ia melihat Ibu Ratna terikat di kursi dengan mulut ditutup lakban.
Di sisi lain, Sarah berdiri dengan payung hitam di tangannya, tampak sangat puas. Adrian duduk di tumpukan peti kayu, wajahnya yang tenang kini terlihat sangat licik.
"Selamat datang, Devan," sapa Adrian. "CEO yang rela kotor demi cinta. Sungguh puitis."
"Lepaskan Ibu Ratna, Adrian. Urusan kalian denganku, jangan bawa wanita tua yang tidak bersalah ini," geram Devan.
"Tidak bersalah?" Sarah tertawa nyaring.
"Wanita ini adalah alasan mengapa ayahku punya simpanan dan menghasilkan anak haram yang sekarang menguasai hartaku! Dia harus membayar setiap detik kemiskinan yang mungkin aku alami jika Shena tetap memegang saham itu."
Adrian melompat turun dari peti. Ia menyodorkan selembar dokumen.
"Sederhana saja, Devan. Tanda tangani pengalihan 30% saham Shena kembali ke perusahaan cangkang atas namaku, dan buat pernyataan bahwa wasiat tanah itu cacat hukum. Setelah itu, kau bisa membawa ibu mertuamu pulang."
"Shena tidak akan memaafkanku jika aku menyerahkan haknya tanpa izinnya," ucap Devan dingin.
"Maka pilihannya: Shena kehilangan saham, atau Shena kehilangan ibunya. Kau bilang kau mencintainya, bukan? Buktikan pengorbananmu," tantang Adrian.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari pintu masuk.
"Jangan tanda tangani, Mas!"
Semua orang menoleh. Shena berdiri di sana, napasnya tersengal. Ternyata ia tidak benar-benar tidur lelap. Ia terbangun saat mendengar mobil Devan meluncur pergi dan memaksa supir cadangan untuk mengantarnya.
"Shena! Kenapa kau ke sini?!" teriak Devan panik.
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung ini sendirian," ujar Shena, matanya menatap tajam ke arah Sarah. "Kakak, lepaskan Ibu.
Ambil saja saham itu! Aku tidak butuh uang kalian! Aku hanya ingin ibuku!"
Sarah tersenyum menang. "Bagus. Adikku memang selalu mudah ditebak. Adrian, berikan penanya."
Namun, saat Adrian mendekati Shena, Devan melihat kilatan logam di balik jas Adrian. Itu bukan sekadar drama aset; Adrian telah kehilangan akal sehatnya karena dendam bisnis.
"Shena, lari!" teriak Devan.
Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Adrian menarik sebuah pisau lipat, berniat mengintimidasi Shena agar cepat menandatangani dokumen. Devan menerjang maju, menghalangi tubuh Shena.
Jleb!
Suara logam menusuk daging terdengar jelas di keheningan gudang itu. Shena menjerit histeris saat melihat Devan tersungkur, memegangi perutnya yang mulai bersimbah darah.
"MAS DEVAN!"
Sarah tertegun, wajahnya pucat. Ia hanya ingin harta, bukan pembunuhan. Adrian sendiri tampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan dalam kemarahannya.
Pada saat itulah, Rian dan tim keamanan menyerbu masuk setelah mendengar teriakan Shena. Adrian mencoba melarikan diri lewat pintu belakang namun segera diringkus, sementara Sarah hanya bisa terduduk lemas saat polisi yang memang sudah mengintai mulai bermunculan dari balik bayangan.
Shena memangku kepala Devan di lantai gudang yang dingin. Ia merobek sedikit kain dari lengan baju nya untuk menekan luka di perut Devan.
"Jangan tutup matamu, Mas! Kumohon!" tangis Shena pecah. "Kau bilang kau ingin melihat melati mekar di studioku! Kau bilang kau ingin menjadi suamiku!"
Devan tersenyum lemah, tangannya yang berlumuran darah menyentuh pipi Shena. "Aku... aku sudah membuktikan... aku bukan monster... kan?"
"Kau pahlawanku, Mas! Bertahanlah!"
Sirine ambulans mulai meraung di kejauhan. Di tengah badai dan darah, Shena menyadari bahwa cinta Devan bukan lagi sekadar kata-kata di depan kamera, tapi sebuah pengorbanan nyawa yang tak akan pernah bisa ia ragukan lagi.
...****************...