Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Mendadak Luas
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah dinding bambu terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menggeliat di balik selimut kain tipis, mencari-cari kehangatan yang biasanya kudapatkan dari dekapan Ibu atau setidaknya suara gaduh Ayah yang sedang bersiap di dapur. Namun, pagi ini, telingaku hanya menangkap kesunyian yang ganjil.
Aku bangkit dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Mataku menyapu seisi kamar yang remang-remang. Kasur kapuk di sampingku sudah kosong. Aku melangkah keluar menuju dapur, berharap mencium aroma kopi atau asap dari tungku yang dinyalakan Ayah.
Tapi, tungku itu mati. Abu kayunya sudah mendingin, menyisakan sisa pembakaran malam tadi saat kami makan Mie Sakura. Di atas meja kayu yang reyot, hanya ada makanan yang sudah dingin dan sebuah gelas berisi teh manis yang gulanya mengendap di bawah.
"Ayah...?" panggilku lirih.
Suaraku memantul di dinding rumah yang mendadak terasa begitu luas. Tidak ada jawaban. Aku berjalan ke depan rumah, membuka pintu kayu yang berderit nyaring. Halaman masih basah oleh embun, dan jejak kaki Ayah yang samar menuju jalan setapak menjadi bukti bahwa ia sudah berangkat sejak buta tadi, tepat seperti janjinya semalam.
Aku kembali masuk ke dalam dan melihat Kakak sedang duduk di amben, terdiam sambil menatap botol arbei kosong yang terletak di sudut ruangan. Kami hanya berdua. Hanya ada aku, Kakak, dan sisa-sisa camilan semalam yang plastiknya sudah mengerut.
"Kak, Ayah sudah pergi?" tanyaku sambil duduk di sampingnya.
Kakak mengangguk pelan. "Tadi sebelum subuh. Ayah bilang jangan bangunkan kamu, biar kamu istirahat."
Aku memandangi makanan di atas meja. Tiba-tiba, rasa lapar yang tadi sempat muncul hilang seketika. Rumah ini, yang biasanya terasa penuh dengan tawa dan aroma masakan, kini terasa asing. Tidak ada suara Ibu yang menyuruhku mandi, tidak ada suara Ayah yang bercanda tentang beratnya alu lesung. Yang ada hanyalah suara detak jam dinding tua yang seolah menghitung setiap detik ketidakhadiran mereka.
"Nanti Ayah bawa arbei, kan?" tanyaku lagi, berusaha mencari kepastian di tengah ketidakpastian yang mulai menghimpit.
"Semoga saja," jawab Kakak singkat, namun aku bisa melihat sorot matanya yang juga menyimpan kerinduan yang sama.
Aku berjalan ke arah jendela, menatap ke arah gunung yang jauh di sana. Di balik rimbunnya hutan itu, mungkin Ayah sedang berjuang menembus semak berduri, mencari butiran manis untuk menghibur hatiku. Sementara di tempat lain yang entah di mana, Ibu mungkin sedang bekerja keras demi sebuah kotak ajaib bernama televisi.
Aku memeluk Pipit, boneka merahku, erat-erat. Pagi itu aku menyadari satu hal yang menyakitkan: tumbuh besar ternyata bukan hanya soal bisa mengangkat alu yang berat, tapi juga soal belajar menelan rasa sepi di rumah yang kini hanya berisi aku, Kakak, dan harapan-harapan yang kami gantungkan pada kepulangan orang tua kami di sore hari.
Matahari mulai meninggi, mengusir sisa embun di pucuk daun pisang samping rumah. Aku mengambil makanan yang dingin itu, membaginya tepat di tengah menjadi dua bagian yang sama besar untukku dan Kakak. Kami makan dalam diam, hanya suara gesekan sendok dan piring plastik yang mengisi kekosongan.
"Kak, kalau nanti sore Ayah belum pulang, kita nyalakan lampunya sendiri?" tanyaku memecah keheningan.
Kakak menatapku, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat jauh lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya. "Iya. Kita yang jaga rumah hari ini. Kamu bantu Kakak ambil air nanti, ya?"
Aku mengangguk mantap. Ada rasa bangga yang aneh menyelinap di sela rasa sepiku. Seolah-olah dengan menjaga rumah ini tetap "hidup", aku sedang membantu Ayah mendaki gunung dan membantu Ibu bekerja di kota. Rumah yang tadinya terasa luas dan kosong, perlahan mulai terasa seperti medan perjuangan kami sendiri.
Aku meletakkan Pipit di atas kasur, merapikan selimut kain tipis yang tadi berantakan. Aku menyadari bahwa kesepian ini bukan musuh, melainkan kawan baru yang mengajarkanku cara menunggu tanpa harus menangis.
Sore nanti, entah Ayah membawa sekantong arbei atau hanya membawa lelah di pundaknya, aku akan berdiri di depan pintu. Aku akan memastikan tungku sudah menyala dan teh manis yang baru sudah tersaji. Karena meski Ibu belum pulang dan Ayah masih di hutan, rumah ini tidak boleh benar-benar dingin.
Harapan adalah satu-satunya hal yang membuat rumah ini tetap terasa hangat, meski dinding bambunya mulai lapuk dimakan waktu. Kami akan menunggu, setidaknya sampai warna jingga di ufuk barat berubah menjadi pelukan kepulangan yang kami rindukan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰