NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Lensa Kebenaran

Fajar di Sukamaju pecah dengan warna merah darah yang mencekam. Kabut yang biasanya turun dengan lembut dari puncak bukit, kini tampak seperti asap peperangan. Tepat pukul enam pagi, deru mesin ekskavator milik kelompok Scorpio mulai menggeram serentak. Niko Mahendra keluar dari mobil hitamnya, mengenakan kacamata hitam dan setelan jas yang tampak terlalu formal untuk medan berlumpur. Ia melangkah menuju batas lahan Balai Kreatif dengan seringai yang sudah lama tidak dilihat oleh warga desa—seringai seorang pria yang merasa telah memenangkan segalanya.

"Rian! Keluar kamu!" teriak Niko melalui megafon. "Waktumu sudah habis. Surat eksekusi ini sah secara hukum. Kalau kamu tidak ingin melihat tunanganmu terluka, suruh warga menyingkir sekarang juga!"

Di dalam Balai Kreatif, Rian dan Gia berdiri berdampingan di balik jendela lantai dua yang belum terpasang kacanya. Rian menatap layar tablet di tangannya; indikator koneksi satelit menunjukkan warna hijau stabil. Sepuluh kamera nirkabel yang ia sembunyikan di sela-sela ukiran kayu dan tiang penyangga sudah mulai memancarkan sinyal ke server pusat di Jakarta dan tiga platform media sosial internasional secara real-time.

"Kamu siap, Gia?" bisik Rian. Tangannya menggenggam jemari Gia yang sedikit gemetar namun tetap kokoh.

"Aku siap. Biar dunia lihat siapa sebenarnya Niko Mahendra," jawab Gia mantap.

Rian melangkah keluar ke balkon, menatap rendah ke arah Niko yang berdiri di bawah sana bersama barisan petugas keamanan berseragam safari.

"Niko, kamu belum belajar juga ya? Penjara kemarin sepertinya kurang lama buat bikin kamu sadar kalau uang nggak bisa beli segalanya," ujar Rian dengan suara tenang yang menggema di lembah.

Niko tertawa sinis. "Uang mungkin nggak bisa beli segalanya, tapi uang bisa beli tanah ini, Rian. Dan tanah ini adalah nyawa desamu. Operator! Mulai ratakan pagar depannya!"

Ekskavator raksasa itu mulai bergerak. Bilah besinya yang besar terangkat, siap menghantam pagar kayu jati yang dibangun dengan keringat warga. Jon dan para pemuda desa sudah bersiap membentuk barikade manusia, namun Rian memberi kode agar mereka mundur sepuluh meter.

"Mundur, Jon! Biarkan dia melakukannya!" perintah Rian.

Warga terperangah. Mereka tidak mengerti kenapa Rian menyerah begitu saja. Niko yang melihat itu merasa di atas angin. "Bagus, Rian. Akhirnya kamu tahu diri. Hancurkan!"

BRAKKKK!

Bilah besi itu menghantam pagar utama hingga hancur berkeping-keping. Debu kayu beterbangan di udara. Namun, saat ekskavator itu mencoba maju satu meter lagi untuk menyentuh tiang utama Balai Kreatif, sebuah suara sirine keras tiba-tiba meraung dari arah tablet Rian yang terhubung ke pengeras suara gedung.

"HENTIKAN!" suara itu bukan suara Rian, melainkan suara berat seorang pria dari arah Jakarta yang tersambung melalui panggilan video. "Tuan Niko Mahendra, saya Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen. Anda sedang disiarkan secara langsung di hadapan lima belas ribu penonton dan tim penyidik pusat. Surat eksekusi yang Anda pegang baru saja dinyatakan palsu oleh Pengadilan Tinggi satu jam yang lalu!"

Niko membeku. Ia menatap surat di tangannya, lalu menatap ke sekeliling dengan panik. "Apa? Ini nggak mungkin! Pengacara saya bilang—"

"Pengacara Anda sudah kami amankan atas dugaan pemalsuan dokumen negara," suara di pengeras suara itu berlanjut. "Dan perusahaan tambang yang Anda wakili sedang dalam penyelidikan atas dugaan pendanaan terorisme lingkungan. Operator ekskavator, matikan mesin Anda sekarang atau Anda akan didakwa sebagai kaki tangan kejahatan internasional!"

Seketika, operator ekskavator mematikan mesin. Keheningan yang tiba-tiba melanda Sukamaju terasa lebih memekakkan telinga daripada deru mesin tadi.

Gia melangkah keluar ke balkon menyusul Rian. Ia memegang ponselnya yang menunjukkan kolom komentar siaran langsung. "Tangkap Niko!", "Selamatkan Sukamaju!", "Arsitek desa itu jenius!"—ribuan dukungan mengalir dari seluruh penjuru dunia.

"Niko, kamu lihat itu?" Gia menunjuk ke arah kamera-kamera kecil yang kini lampu merahnya berkedip di tiang-tiang gedung. "Setiap hantaman besi tadi sudah terekam dan terkirim ke server Interpol. Kamu nggak cuma menghancurkan pagar kayu, kamu baru saja menghancurkan sisa hidupmu sendiri."

Wajah Niko berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba lari menuju mobilnya, namun Jon dan para pemuda desa sudah memblokir jalan keluar dengan batang-batang pohon tumbang. Dari arah jalan raya, suara sirine polisi yang asli—kali ini dari tim Polda yang dikirim langsung dari Bandung—mulai terdengar mendekat.

Boris, kepala keamanan Scorpio, segera melepaskan atributnya dan mencoba menjauh, namun Rian berteriak, "Jangan biarkan mereka pergi, Jon! Mereka punya daftar koordinat pengeboran ilegal di lereng utara!"

Perkelahian singkat terjadi saat anak buah Niko mencoba melawan, namun warga desa yang sudah muak selama berbulan-bulan kini bersatu dengan kekuatan yang luar biasa. Dalam hitungan menit, Niko dan Boris berhasil diringkus tepat saat mobil patroli Polda merangsek masuk ke halaman Kedai Harapan.

Siang harinya, suasana Sukamaju berubah total. Kerumunan warga berkumpul di depan Balai Kreatif, namun kali ini bukan untuk barikade, melainkan untuk menyaksikan tim penyidik menyegel seluruh alat berat tambang milik Niko. Ibu Sari dan tim akreditasi kembali datang, kali ini didampingi oleh Gubernur yang merasa perlu memberikan pernyataan langsung setelah siaran langsung Rian menjadi viral di tingkat nasional.

"Mas Rian, Mbak Gia... saya minta maaf atas kelalaian koordinasi di tingkat bawah," ujar Sang Gubernur sambil menjabat tangan mereka berdua di depan kamera wartawan yang kini memenuhi desa. "Desa Sukamaju resmi ditetapkan sebagai Zona Cagar Budaya dan Pariwisata Strategis. Tidak akan ada tambang, tidak akan ada penggusuran. Dan Balai Kreatif ini... saya sendiri yang akan menandatangani prasasti pembukaannya bulan depan."

Gia tersenyum haru. Ia melihat ayahnya, Pak Jaya, sedang dikerumuni wartawan yang ingin tahu soal resep kopi jahenya yang melegenda. Kedai Harapan kini bukan lagi sekadar kedai kecil; ia telah menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap keserakahan korporasi.

Namun, di tengah keriuhan itu, Rian mengajak Gia menjauh sedikit ke arah kebun kopi di belakang kedai. Rian tampak kelelahan, matanya sayu namun penuh kepuasan.

"Gia, kita menang," bisik Rian. Ia menyandarkan punggungnya pada salah satu pohon kopi yang sudah mulai berbuah lebat.

"Kita menang karena kamu nggak pernah berhenti jadi arsitek, Rian. Kamu merancang keselamatan desa ini seperti kamu merancang sebuah gedung," sahut Gia. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dan mengusap debu di dahi Rian.

Rian meraih tangan Gia, menatap cincin perak berbentuk biji kopi yang melingkar di sana. "Ini bukan akhir, Neng. Sekarang tugas kita yang lebih berat dimulai. Memastikan Balai Kreatif beneran jadi sekolah yang bermanfaat, dan memastikan Kedai Harapan tetap punya rasa yang jujur."

"Aku siap. Asal kamu jangan tiba-tiba punya ide buat jadi detektif lagi," canda Gia.

Rian tertawa, tawa yang lepas tanpa beban untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Sukamaju sebagai pelarian. "Detektif itu capek, Neng. Aku lebih suka jadi suamimu yang punya utang kopi seumur hidup."

Tiba-tiba, Jon datang dengan tergopoh-gopoh. "Mas Rian! Ada masalah lagi!"

Rian dan Gia langsung tegang. "Apalagi, Jon? Niko kan sudah ditangkap?"

"Bukan soal Niko, Mas. Itu... itu tamu-tamu dari kota yang datang mau minum kopi makin banyak! Kursi kita kurang! Stok kopi kita juga tinggal sedikit karena tadi pagi dipake buat jamu warga yang jaga!" Jon melaporkan dengan wajah panik yang lucu.

Rian dan Gia saling pandang, lalu tertawa bersamaan. Inilah masalah yang sebenarnya mereka inginkan—masalah kemajuan, bukan masalah peperangan.

"Ayo, Neng Bos. Waktunya kita kerja di 'medan tempur' yang sebenarnya," ujar Rian sambil menarik tangan Gia menuju kedai.

Di bawah langit Sukamaju yang kini biru bersih tanpa kepulan asap mesin tambang, Kedai Harapan kembali berdenging oleh suara tawa dan deru mesin penggiling kopi. Rahasia Mata Air Buta tetap terjaga, dan pondasi cinta yang mereka bangun kini sudah mengeras sempurna, lebih kuat dari beton mana pun yang pernah ada.

1
tinie
si bos menyamar ya jadi kuli bangunan🤔
F.Room
kayanya rian bukan kuli biasa
F.Room
keliatan kalo Niko sendiri yg nyesel
F.Room
kayanya Rian naksir Gia
F.Room
americano
Bunda Hilal
Nyimak 🥰
Sefna Wati: hai
terimakasih sudah mau baca dan mampir di ceritaku
jangan lupa tinggalkan like ya🥰🥰🥰
dan lanjut baca terus ya kak
masih banyak perjalanan seru lainnya
total 1 replies
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!