Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anindya kembali ke surabaya
Amarah yang membakar dada membuat Dinda kehilangan akal sehat. Setelah Yoga berangkat ke rumah sakit untuk praktik, Dinda segera menyewa mobil dan meluncur ke Bogor. Ia berhasil mendapatkan alamat rumah asri itu dari detektif swasta yang selama ini ia sewa.
"Akan kuhancurkan harga dirimu, perempuan lumpuh. Kamu pikir bisa merebut suamiku dan hidup enak dengan uangnya?" maki Dinda sepanjang jalan.
Siang itu, suasana rumah di Bogor sangat tenang. Anindya sedang duduk di kursi rodanya di teras samping, menikmati teh hangat sambil membaca buku tentang fisioterapi. Tiba-tiba, suara derit mobil dan langkah kaki yang kasar memecah kesunyian.
Dinda muncul dengan kacamata hitam dan tas bermerek, menatap Anindya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menghina.
"Jadi ini janda yang sudah bikin suami orang lupa rumah?" suara melengking Dinda membuat Anindya terlonjak kaget.
Anindya menoleh, wajahnya nampak bingung namun tetap berusaha sopan. "Maaf, Anda siapa ya?"
"Nggak usah pura-pura polos! Aku Dinda, istri sah Prayoga Aditama!" bentak Dinda sambil melempar beberapa foto pernikahannya dengan Yoga ke pangkuan Anindya.
Anindya terpaku. Tangannya gemetar saat melihat foto-foto Yoga mengenakan jas pengantin bersanding dengan wanita di depannya ini. Jantungnya berdegup kencang, kenyataan bahwa Yoga sudah memiliki istri menghantamnya seperti gada besi.
****
"Mas Yoga... sudah menikah?" bisik Anindya parah, air matanya mulai menggenang.
"Iya! Dan kamu tahu kenapa dia baik sama kamu? Bukan karena cinta, tapi karena kasihan melihat kamu yang cacat dan nggak punya siapa-siapa setelah Arka mati!" Dinda melangkah maju, menunjuk tepat di wajah Anindya. "Kamu itu beban! Kamu cuma pengalihan buat dia karena kami sedang ada masalah. Jangan bermimpi bisa naik kasta jadi istri dokter. Lihat dirimu sendiri, jalan saja nggak bisa!"
Anindya menangis tergugu. Kata-kata Dinda sangat tajam dan menghunjam tepat di titik terlemahnya. "Aku... aku nggak tahu, Mbak. Mas Yoga bilang..."
"Mas Yoga bilang apa? Mau jagain kamu? Itu cuma akting!" potong Dinda kejam. "Gara-gara kamu, uang belanja aku dikurangi. Gara-gara membiayai pengobatan kamu, Yoga jadi pelit sama istrinya sendiri. Kalau kamu masih punya harga diri dan sayang sama almarhum Arka, pergi dari hidup Yoga sekarang! Jangan jadi parasit di rumah tangga orang!"
Dinda tersenyum puas melihat Anindya yang lemas dan tak berdaya di kursi rodanya. Tanpa rasa iba sedikit pun, Dinda berbalik dan meninggalkan rumah itu.
Sepeninggal Dinda, Anindya merasa dunianya benar-benar berakhir. Ia merasa dikhianati oleh Yoga, namun di sisi lain ia merasa sangat berdosa kepada almarhum Arka dan istri sah Yoga. Ia memandang kakinya yang tak bisa digerakkan, lalu memandang foto Arka yang selalu dibawanya.
"Maafin Anin, Mas Arka... Anin sudah jadi perusak rumah tangga orang," isak Anindya sendu.
Ketika Bi Ijah datang membawa camilan, ia menemukan Anindya sudah pingsan di kursi rodanya karena syok yang luar biasa.
Keputusan Anindya sudah bulat. Harga dirinya sebagai seorang istri yang setia pada almarhum Arka terasa tercoreng. Ia merasa telah menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, meskipun itu terjadi karena ketidaktahuannya.
Dengan air mata yang terus mengalir, Anindya memanggil Pak Dadang. Ia beralasan ingin mencari udara segar di luar area perumahan agar Bi Ijah tidak curiga. Namun, begitu berada di dalam mobil, suaranya terdengar bergetar namun tegas.
"Pak Dadang, tolong antar saya ke Terminal Bus antarkota sekarang. Saya mau pulang ke Surabaya," ucap Anindya lirih.
Pak Dadang terperanjat. "Tapi, Non Anindya... Dokter Yoga pesan supaya Non tidak pergi tanpa izin beliau. Kondisi kaki Non juga belum pulih benar."
"Saya mohon, Pak. Kalau Bapak kasihan sama saya, tolong bantu saya pergi. Saya tidak bisa tinggal di sini lagi sebagai perusak rumah tangga orang," Anindya memohon dengan sangat sampai terisak.
Melihat kondisi Anindya yang begitu hancur, Pak Dadang akhirnya luluh. Dengan perasaan berat, ia melajukan mobil menuju Terminal Bus Baranangsiang. Di sana, Pak Dadang membantu Anindya membeli tiket bus eksekutif jurusan Surabaya dan memastikan Anindya duduk dengan nyaman di kursi prioritas.
"Ini nomor saya, Non. Kalau sudah sampai Surabaya, tolong kabari saya," ucap Pak Dadang sebelum turun dari bus dengan perasaan bersalah yang amat besar kepada Yoga.
****
Dua jam kemudian, Yoga tiba di rumah Bogor dengan membawa bungkusan makanan kesukaan Anindya. Namun, ia hanya mendapati Bi Ijah yang tampak bingung mencari keberadaan Anindya dan Pak Dadang.
Saat Yoga mencoba menghubungi Pak Dadang, sang sopir akhirnya mengaku dengan suara gemetar bahwa Anindya sudah berada di dalam bus menuju Surabaya.
"Sialan!" Yoga memukul setir mobilnya dengan keras. Matanya berkilat marah. "Ini pasti ulah Dinda!"
Yoga segera memutar arah mobilnya kembali ke Jakarta dengan kecepatan tinggi. Ia tidak langsung mengejar Anindya ke Surabaya, melainkan menuju rumah kontrakannya dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
****
Yoga mendobrak pintu rumah kontrakan hingga hampir terlepas dari engselnya. Dinda, yang sedang asyik maskeran sambil menonton televisi, tersentak kaget.
"DI MANA KAMU TADI SIANG, DINDA?!" teriak Yoga dengan suara yang menggelegar ke seluruh ruangan.
Dinda mencoba berlagak tenang. "Kenapa? Habis jenguk selingkuhanmu terus dia ngadu ya?"
Yoga melangkah cepat, ia menyambar ponsel Dinda dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Kamu sudah keterlaluan! Kamu menyakiti wanita yang tidak tahu apa-apa! Kamu menghancurkan satu-satunya wasiat sahabatku!"
"Dia cuma janda gatal, Mas!" teriak Dinda membela diri.
"DIAM!" Yoga menunjuk wajah Dinda dengan jari yang bergetar karena marah. "Dengar baik-baik, Dinda Dewi. Aku tidak peduli lagi soal kekurangan lima miliar itu. Aku akan meminjam uang ke bank atau menjual seluruh asetku di Surabaya malam ini juga. Detik ini, hubungan kita berakhir!"
Yoga mengeluarkan sebuah map dari tasnya, surat perceraian yang sudah ia siapkan. "Tanda tangani ini sekarang, atau besok pagi video perselingkuhanmu akan menjadi tontonan utama di seluruh grup WhatsApp keluarga besar kita!"
Yoga berdiri mematung. Kata-kata Dinda tentang Dokter Reza menghantamnya tepat di ulu hati. Bayangan wajah Dokter Reza yang tersenyum bangga saat memeluknya di hari pernikahan, serta memori saat Dokter Reza datang ke pemakaman ayahnya dan berjanji akan menanggung seluruh biaya pendidikannya, berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Dinda masih bersujud, memeluk kaki Yoga dengan erat, tangisannya terdengar memilukan meskipun Yoga tahu ada sebagian dari itu yang merupakan akting.
"Mas... aku mohon. Kalau Papa tahu kita cerai karena aku salah, Papa pasti serangan jantung. Kamu tahu sendiri kondisi Papa gimana setelah operasi bypass kemarin. Kamu mau jadi orang yang membunuh penyelamat hidupmu?" bisik Dinda dengan suara parau, sengaja menekan titik terlemah Yoga.
Yoga memejamkan mata rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ada pergulatan batin yang luar biasa hebat. Di satu sisi, ia ingin mengejar Anindya ke Surabaya dan memulai hidup baru yang jujur. Di sisi lain, ia berhutang nyawa dan masa depan pada Dokter Reza. Ia bukan orang yang tahu berbalas budi dengan cara menghancurkan jantung orang yang sudah mengangkat derajatnya.
Tanpa sepatah kata pun, Yoga menyentakkan kakinya agar terlepas dari pelukan Dinda. Ia berbalik dan melangkah masuk ke kamar dengan bahu yang tampak sangat berat. Ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Di ruang tamu, Dinda perlahan bangkit. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Senyum kemenangan yang tipis muncul di sudut bibirnya. Ia tahu persis kartu as-nya berhasil. Yoga yang penuh integritas dan rasa tahu budi tidak akan pernah berani mempertaruhkan nyawa Dokter Reza.
"Punya hati nurani memang menyusahkan ya, Mas Yoga," gumam Dinda sinis sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Di Dalam Kamar Yoga
Yoga merosot duduk di balik pintu. Ia tidak mempedulikan Dinda lagi. Pikirannya terbang ke arah bus eksekutif yang saat ini mungkin sedang melaju di Tol Trans Jawa menuju Surabaya.
Ia segera mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Anindya, namun tidak aktif. Ia kemudian menelepon Pak Dadang.
"Pak Dadang... saya tidak bisa menyusul Anin sekarang. Ada urusan mendadak yang mengikat saya," suara Yoga terdengar hancur. "Tolong, Bapak tetap di terminal Surabaya.
Tunggu busnya sampai. Pastikan Anin sampai di rumah neneknya dengan selamat. Jangan sampai dia sendirian dengan kursi rodanya. Kirim saya foto kalau dia sudah aman. Tolong, Pak... ini permintaan terakhir saya."
Yoga melempar ponselnya ke tempat tidur. Ia merasa seperti pecundang paling besar di dunia. Ia menyelamatkan nyawa banyak orang setiap hari di rumah sakit, tapi ia tidak bisa menyelamatkan kebahagiaannya sendiri, apalagi melindungi wanita yang sudah dititipkan sahabatnya.