NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Anak yang Tidak Pernah Dikubur

Hujan malam itu datang tanpa henti, membasahi seluruh desa seperti permintaan dari langit yang murka. Rina berjalan pelan melewati jalanan kecil desa, membawa notebook dan senter yang redup. Setiap langkahnya menimbulkan percikan air dan lumpur yang menempel di sepatu.

Ia mengikuti suara tangisan tipis, suara yang terdengar tidak hanya dari luar, tetapi dari dalam tanah sendiri. Suara itu menuntunnya ke kuburan lama di tepi hutan, sebuah area yang tampak terlupakan oleh waktu. Batu nisan tua retak, tertutup lumut, dan sebagian besar tidak memiliki nama.

Di tengah kuburan, Rina melihat sesuatu yang aneh: tanah di satu liang kubur terlihat baru saja digemburkan, tapi tidak ada tanda manusia menggali. Dari dalam tanah itu, muncullah sosok seorang anak kecil, matanya kosong dan tubuhnya basah, seolah baru saja keluar dari hujan.

Anak itu tidak menangis, tetapi suaranya terdengar langsung di kepala Rina:

"Aku… tidak pernah dikubur… aku tidak bisa pergi…"

Rina menunduk, mencoba menenangkan diri. "Siapa… siapa namamu?" tanyanya pelan.

Anak itu menatapnya lama, kemudian menunjuk ke tanah di depannya. Secara perlahan, lumpur bergerak dan membentuk huruf-huruf, menuliskan satu nama: “Dimas…”

Rina menghela napas. Ia mengingat catatan pria tua dari toko ritual: anak-anak yang tidak dikubur dengan benar akan tetap berada di antara dunia hidup dan mati, menjadi bagian dari kutukan. Dan hujan… hujan adalah penghubung mereka.

“Dimas…” Rina menulis namanya di notebook. Begitu huruf terakhir terbentuk, anak itu tersenyum samar, tapi matanya tetap kosong. Ia menunjuk ke arah hutan dan berbisik:

"Pergi… sebelum hujan menulis lagi…"

Rina sadar bahwa kutukan ini bukan hanya tentang menulis nama arwah dewasa; anak-anak yang terlupakan lebih berbahaya karena tidak memiliki penyelesaian. Setiap malam hujan turun, mereka muncul lebih kuat, lebih sulit dikendalikan.

Ia kembali ke rumah, membawa rasa takut dan tanggung jawab baru. Notebooknya kini penuh simbol, nama, dan tanggal. Setiap huruf yang ia tulis adalah janji untuk menenangkan arwah yang tersesat, tapi setiap nama baru yang muncul membuatnya semakin terikat dengan kutukan itu.

Di tengah malam, saat ia menutup jendela, suara tawa anak kecil terdengar dari luar. Perlahan, hujan mulai menulis di tanah sendiri—bekas huruf muncul kembali, kali ini bukan dari manusia, tapi dari energi arwah yang haus pengakuan.

Rina menelan ludah. Ia tahu satu hal: kutukan ini lebih tua dari desanya, lebih dalam dari tanah itu sendiri, dan anak-anak yang tidak pernah dikubur hanyalah permulaan dari gelombang yang akan datang.

Dan malam itu, Rina berjanji pada dirinya sendiri:

Ia harus menemukan cara menulis akhir bagi setiap arwah, sebelum hujan menulis namanya sendiri.

---

Malam itu hujan turun seperti dinding abu-abu yang menutupi desa. Rina berjalan pelan, sepatu menyentuh genangan air yang dalam, membawa notebook basah dan pena yang nyaris habis tinta. Suara tangisan anak kecil yang ia temui sebelumnya masih bergema di kepalanya, bercampur dengan bisikan lain yang tidak ia kenal.

Ia memutuskan untuk mengikuti peta tua yang diberikan pria tua dari toko ritual—peta itu menggambarkan desa seperti beberapa dekade lalu, sebelum banyak rumah hilang atau diganti. Ada satu titik yang tidak ada di peta modern: sebuah rumah tua, tersembunyi di balik pepohonan lebat dan semak yang merambat, tidak terdaftar di peta digital manapun.

Saat Rina mendekat, ia merasakan udara menjadi lebih berat. Hujan tampak berhenti sejenak, meninggalkan kabut tipis yang menyelimuti tanah basah. Rumah itu tua, kayunya lapuk, atap sebagian runtuh. Jendela retak, namun dari dalam terlihat cahaya samar lilin yang menari-nari di dinding.

Langkah Rina terhenti. Ia merasakan sesuatu yang aneh: tanah di depan rumah itu lebih basah dari hujan yang turun, meski hujan berhenti di sekitarnya. Dan dari lumpur itu, huruf-huruf muncul perlahan, menulis sendiri satu kata:

"Masuk…"

Rina menelan ludah, hatinya berdebar. Ia tahu ini bukan undangan biasa. Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu rumah yang berderit panjang, suara kayu tua menambah ketegangan. Di dalam, aroma tanah basah dan lilin tua menyerang hidungnya. Dinding dipenuhi simbol merah samar, seperti yang ia lihat di halaman rumahnya, tapi lebih kompleks, lebih mengikat.

Di sudut rumah, bayangan arwah muncul satu per satu—seorang wanita berambut panjang, anak kecil, bahkan bayangan pria muda yang dulu menuntut namanya ditulis. Mereka menatap Rina tanpa ucapan. Bisikan terdengar, saling bersahutan:

"Tolong kami… tulis… jangan salah… jangan tertinggal…"

Rina sadar: rumah ini bukan rumah biasa. Setiap simbol di dinding, setiap retakan di lantai, setiap genangan tanah di dalam rumah adalah bagian dari kutukan desa yang tidak pernah tercatat di peta modern.

Ia berjalan lebih dalam, memperhatikan buku tua yang berserakan di lantai. Buku itu menampilkan catatan tentang arwah, ritual, dan simbol tanah basah yang mengikat mereka. Saat Rina membuka halaman terakhir, hujan di luar tiba-tiba mengguyur deras lagi, membasahi rumah seolah menelan cahaya lilin.

Dari bayangan sudut rumah, arwah anak kecil yang ia temui sebelumnya melompat ke arahnya, matanya menatap dengan intens:

"Kau harus menulis… atau kami akan menulis namamu…"

Rina memegang notebook dan pena. Ia tahu bahwa rumah ini adalah pusat energi kutukan desa, tempat semua arwah yang hilang dikumpulkan, dan setiap malam hujan memperkuat ikatannya. Jika ia gagal menulis dengan benar, tidak hanya arwah yang tersiksa—ia sendiri akan menjadi bagian dari rumah itu, hilang, seperti banyak jiwa sebelum dirinya.

Dengan napas berat, tangan gemetar, ia mulai menulis nama-nama yang muncul di tanah basah rumah itu, mengikuti simbol yang bersinar samar. Setiap huruf yang terbentuk terasa seperti ditarik ke dalam tanah, seakan energi arwah menembus dirinya.

Saat nama terakhir ditulis, arwah anak kecil tersenyum samar, dan semua bayangan perlahan memudar. Hujan di luar berhenti seketika, meninggalkan ketenangan yang menakutkan.

Rina duduk di lantai, basah kuyup, tubuh gemetar. Ia baru sadar satu hal: rumah ini adalah inti dari kutukan desa, dan setiap nama yang muncul bukan hanya soal arwah hilang—tetapi soal menjaga hidupnya sendiri.

Malam itu, ia berjanji pada dirinya sendiri:

Ia harus memahami semua simbol, semua arwah, dan semua aturan kutukan sebelum hujan menulis namanya sendiri.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!