NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Membuat konten kecantikan itu butuh waktu yang lama, setelah konten yang dia buat sesuai dengan rencana, ia pun melepas penat di belakang layar. Kedua asistennya membawakan cemilan serta minum untuk Vania.

"Soal kecelakaan orang tua kamu, apakah ada kemajuan dengan penyelidikannya?" tanya managernya seraya duduk di samping Vania.

Vania mengangkat gelas air mineral, meneguknya perlahan, lalu matanya menatap nanar sejenak sebelum menjawab, "Polisi masih terus menyelidiki, mencari celah dalam kegelapan yang tersisa." Suaranya bergetar, "Barang bukti ditemukan polisi, sebuah rekaman CCTV memperlihatkan sebuah kendaraan yang menabrak mobil orangtuaku. Kendaraan itu sempat berada di bengkel beberapa jam sebelum kejadian, dan si sopir, ya, sopir yang nyawanya melayang di tempat kejadian, ada dugaan dia bukan sekadar sopir, melainkan bagian dari komplotan yang direncanakan." Matanya semakin redup, "Aku berharap mereka segera tertangkap, aku yakin, mereka itu pembunuh bayaran."

Managernya menghela napas, kemudian melanjutkan, "Kabar tentang kecelakaan itu sempat mengguncang media sosial, tentang putusnya hubungan kamu dengan tunanganmu, tentang kematian tragis orangtuamu. Namun, itu tak bertahan lama." Dia menatap lurus ke depan, suaranya lebih tegas, "Atas permintaan kamu, tidak ada satu media pun yang berani menayangkan lebih jauh tentang tragedi keluarga kamu. Aku, sebagai pihak manajemen, telah meredam berita itu." Kedua tangannya menggenggam erat.

"Iya, untuk kasus kecelakaan orang tuaku cukup ditangani oleh pihak wajib saja. Kalau sudah masuk ke ranah sosial media, terserah kemungkinan kalau kasus ini akan dia lebih lebihkan oleh media untuk mencari keuntungan. Bisa jadi juga nanti pembahasannya merambat ke mana-mana karena dugaan netizen."

"Kamu benar Vania. Selalu soal kepindahannya dari rumah lamanya juga disorot oleh media. Yang nggak habis pikir, kok bisa sih pihak keluarga besar itu malah terlihat senang setelah mendapatkan semuanya dari kamu."

"Nggak apa-apa,aku nggak terlalu mikirin soal rumah dan apa yang sudah aku kasih ke keluarga besarku. Yang terpenting mereka tidak menjelek-jelekkan aku. Kalau seandainya mereka masih menjelek-jelekan aku di belakang, sangat keterlaluan. Aku udah lama nggak buka sosial media jadi banyak ketinggalan informasi. Terima kasih buat manajemen yang sudah membantu menetralisir berita mengenai aku, terutama mengenai kecelakaan orang tua aku."

"Sama-sama Vania. Itulah tugas kami sebagai manajemen untuk menjaga nama baik kamu. Kamu dan orang tuamu itu baik, jadi rasanya tidak pantas saja kalau ada yang memanfaatkan kesedihan kamu untuk menjatuhkan kamu. Selain itu selama bekerja di sini, kamu selalu bekerja dengan baik dan profesional. Ya sudah, kamu harus tetap semangat ya! Sekarang aku saja sama karir kamu dulu, soal laki-laki jangan terlalu dipikirin, kalau sudah jodoh nanti juga datang sendiri."

_____

Vania memasuki klinik kecantikan bersama dua asistennya, langkah mereka ringan namun ada bayangan kesedihan yang masih terselip di balik senyumnya. Setelah berbulan-bulan berduka, hari ini ia memutuskan untuk kembali merawat diri. "Selamat datang, mbak Vania sudah kama tidak mampir ke sini." sapa terapis dengan ramah.

Vania tersenyum ramah." Iya, saya baru sempat ke sini lagi"

Mereka dipandu ke ruangan pemeriksaan dimana terapis memeriksa kondisi kulit mereka satu per satu."Kulit mbak agak kering dan terlihat lelah, mbak," ujar terapis saat memeriksa wajah Vania dengan teliti.

Vania hanya mengangguk, matanya sayu menyimpan cerita pilu yang baru saja ia lalui. "Kami akan memberikan hidrasi ekstra dan treatment revitalisasi untuk membantu mengembalikan kilau alami kulit mbak," lanjut terapis tersebut, menyusun rencana perawatan yang akan disesuaikan dengan kebutuhan kulit Vania yang saat ini membutuhkan perhatian lebih.

Kedua asistennya juga mendapatkan rekomendasi perawatan yang berbeda sesuai dengan kondisi kulit mereka. Mereka dipersilakan untuk beristirahat sejenak di ruang tunggu yang nyaman sambil menunggu persiapan perawatan.

Setelah beberapa saat, mereka dipanggil satu per satu. Vania masuk ke ruangan dengan lampu redup dan aroma terapi yang menenangkan. Dia berbaring, menutup mata, sementara terapis mulai bekerja dengan lembut di wajahnya. Setiap sentuhan terapis terasa menenangkan, membawa Vania ke dunia lain, jauh dari segala kesedihan yang pernah menghantui.

Perawatan ini bukan hanya sekedar mempercantik diri, tapi baginya, ini adalah langkah awal untuk menyembuhkan diri dari dalam, mengusir kesedihan yang lama mengendap, dan memulihkan semangat hidup yang sempat padam. Seiring dengan serum yang meresap ke dalam kulitnya, Vania merasa ada sesuatu yang juga perlahan-lahan menyembuhkan hatinya yang lara.

Setelah berjam-jam terkurung dalam ruang perawatan, Vania dan kedua asistennya akhirnya melangkahkan kaki ke mal yang terletak tidak jauh dari klinik kecantikan tersebut. Mereka mengenakan topi lebar dan masker yang menutupi sebagian besar wajah mereka, sebuah penyamaran sempurna yang memungkinkan mereka untuk berjalan-jalan tanpa risau akan dikenali oleh penggemar atau paparazzi.

Perut mereka mulai berbunyi, menandakan bahwa sudah waktunya untuk mengisi energi setelah sesi perawatan yang cukup melelahkan. Mereka berjalan beriringan, mata mereka menyisir setiap sudut mal, mencari restoran yang tampak mengundang. Cahaya hangat dan aroma menggoda dari sebuah restoran Italia menarik perhatian mereka. Vania, yang kini merasakan kebebasan setelah lama terikat dalam pernikahan yang menyakitkan, merasa lega bisa menikmati momen sederhana seperti ini.

Dengan langkah yang lebih ringan, mereka bertiga memasuki restoran itu. Duduk di sudut yang cukup tersembunyi, Vania merasa bisa bernapas lega menikmati kebebasannya.

Seorang pelayan menghampiri Vania, menawarkan daftar menu makanan dan minuman di restoran itu. Ketiganya melihat satu persatu di dalam di buku menu tersebut. Cukup lama mempertimbangkan Mereka pun memesan makanan dan minuman yang ingin mereka makan.

Sambil menunggu hidangan mereka disajikan sesekali, tawa kecil terdengar di antara mereka, sebuah tanda bahwa kebahagiaan itu bisa ditemukan dalam hal-hal kecil, bahkan seperti makan malam bersama setelah hari yang panjang.

"Akhirnya kulit wajahku kembali merasa sehat, makasih ya Vania udah ajak aku ke klinik kecantikan. Tinggal ke salon nih Van, soalnya rambutku juga butuh perawatan."

"Siap, tinggal atur waktunya aja nanti. Aku juga mau ke salon untuk merawat rambutku."

"Kalau aku sih pengennya fitness gitu supaya berat badan ku turun," keluh Laras.

Vania merangkul Laras sembari memberikan saran."makanya kurangi porsi makanmu itu, terutama camilan. Ganti pola makanmu itu dengan makanan yang sehat."

"Iya sih Mbak, tapi kalau udah ketemu makanan enak tuh susah menahan diri."

Katanya menggelengkan kepalanya, ia memilih untuk fokus pada ponselnya. Sebelumnya Vania sempat menutup akses sosial medianya, kita bisa pulang dia kembali aktif di berbagai sosial media miliknya. Komentar negatif mengenai dirinya sudah mulai berkurang. Vania berdecak begitu menemukan akun Deo yang sudah Vania blokir tiba-tiba muncul di beranda, laki-laki itu menuliskan cuitan di salah satu sosial media.

[Jadi cowok tuh serba salah ya. Udah berjuang dan kasih effort lebih malah gak dihargai. Giliran gak berjuang dan gak ada effort malah dikira cuma modus dan gak modal. Iya deh cewek mah selalu benar] 

Kira-kira begitulah isi cuitan Deo. Membacanya membuat Vania geram, bisa-bisanya laki-laki itu membuat cuitan seperti itu, memang ya dia sangat pandai membalikkan fakta. Begitu melihat komentar, sebagian besar netizen menyalahkan Deo karena selingkuh dengan mantannya.

Vania juga tidak mau diam saja. Ia segera mengetikkan sesuatu di aplikasi sosial media yang sama. Tentunya dengan tujuan untuk membalas cuitan mantan tunangannya itu.

[ Laki-laki yang berjuang dan dan tulus mencintai tidak akan berkoar-koar. Seandainya si perempuan sudah menghargai dan mencintai laki-laki itu tapi ternyata di khianati? Ngomong-ngomong menjaga hati dan jatuh cinta sendirian itu melelahkan loh, apalagi kalau sampai di khianati.]

"Kemarin-kemarin dia minta maaf seolah merasa menyesal, Eh sekarang dia malah playing victim lagi. Ini cowok lama-lama kelihatan busuknya setelah ketahuan berkhianat sama aku," ujar Vania geram.

"Ya, emangnya cowok kalau sudah ketahuan mendua, nggak akan menerima kalau dia bersalah. Biarin aja lah Mbak nggak usah ditanggapi, toh orang-orang juga tahu siapa yang salah di sini," ujar Laras.

Ketika tengah fokus pada ponselnya, tiba-tiba ada yang memukul-mukul pelan pundaknya.

"Mbak Rika, gak usah usil deh. Aku tahu kamu lapar, bisa sabar sedikit kan? Sebentar lagi makanannya jadi kok," ucap Vania tanpa, mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Kenapa si,Van? Aku dari tadi gak ngapa-ngapain loh."

"Loh, mbak? Terus yang dari tadi tepuk-tepuk pundak aku siapa?" Vania menoleh ke belakang. Ia terbelahlah dengan kehadiran anak perempuan di belakangnya.

"Halo, Tante Vania," sapa gadis kecil itu, ya siapa lagi kalau bukan Cila.

1
Wayan Suryani
sombong smg kamu ilcehjan lzgi
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!