Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Vania sekarang berada di kantor polisi, sebelumnya polisi menghubunginya karena mau menunjukkan sesuatu terkait kecelakaan kedua orang tuanya dan dimintai informasi penting. Dalam ruangan dengan penjagaan ketat itu, Vania, pengacara serta beberapa saksi menyaksikan CCTV yang berhasil ditemui polisi. Pihak kepolisian mengumpulkan beberapa rekaman video dari berbagai sumber.
Tubuh Vania seolah membeku saat ia memasuki ruangan gelap di kantor polisi itu, disambut oleh layar monitor yang menyala terang. Seorang polisi menekan tombol play, dan gambar pertama muncul di layar—empat sosok berpakaian serba hitam dengan wajah dan tangan yang ditutup, sedang sibuk mengotak-atik bagian bawah sebuah mobil. Vania menahan napas, jantungnya berdebar kencang, mata tak lepas memandangi setiap gerakan mereka.
"Kami menemukan ini dari cctv dekat lokasi kejadian," jelas polisi itu, suaranya datar namun cukup untuk menambah ketegangan.
Layar berubah, menunjukkan rekaman kedua. Seorang supir tampak berbicara dengan seorang montir, gestur tubuh mereka menunjukkan adanya transaksi perbaikan biasa. Vania merasakan kepalanya berputar, pikiran-pikirannya berkecamuk mencoba menghubungkan titik-titik.
"Apakah ini... mobil orang tua saya?" suaranya bergetar, pelan namun terdengar jelas di ruangan hening itu.
Polisi itu mengangguk perlahan, "Kami menduga kuat, ini adalah mobil yang terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan orang tua Anda, Vania."
Air mata mulai menetes di pipi Vania, tangannya bergetar hebat. Ia merasa dunianya runtuh seketika, kehilangan segala pegangan. Kenyataan bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah tindakan terencana, menghantamnya lebih keras dari apapun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
"Saya hanya menemukan gelang ini, setahu saya gelang ini biasanya dipakai oleh laki-laki."jelas pemilik bengkel itu sambil menyerahkan gelang yang di bungkus plastik itu.
"Tapi bapak sama sekali tidak tahu siapa mereka?" Tanya Vania sembari memperhatikan gelang yang terbungkus plastik itu.
Pemilik bengkel itu menggelengkan kepalanya. "Tentu saja saya tidak tahu Mbak, saya dan karyawan saya sudah pulang saat itu. Bengkel saya kan tutup pukul 04.00 sore, Tapi anehnya mereka bisa manjat pagar bengkel yang tinggi itu. Saya bahkan terkejut, bengkel saya bisa dibobol kayak gitu."
"Berarti mereka adalah kelompok penjahat yang bermain rapi, Tapi sayangnya mereka ceroboh karena tidak menyadari ada Cctv dan gelang salah satu dari mereka terjatuh."
"Menurut penyelidikan kami, sepertinya sopir yang menjadi korban juga terlibat dalam peristiwa kecelakaan itu. Jika dilihat dari CCTV jalan raya ini, si sopir sengaja memposisikan kendaraannya pada mobil orang tua Mbak Vania,"jelas polisi.
Vania mengernyit, merasa ada yang janggal. "Kalau memang sopir itu terlibat dalam peristiwa kecelakaan ini, anehnya kok dia mau nyawanya ikut melayang? Atau mungkin supir itu tidak tahu kalau rem kendaraannya itu blong? Secara logika kalau memang supir truk itu terlibat, pasti dia akan selamat dan tidak mungkin menjadi korban," pikir Vania.
"Ya, benar sekali perkataan Mbak. Sepertinya supir itu sengaja dibuat meninggal dunia untuk menghilangkan jejak, tujuannya supaya polisi tidak bisa menyelidiki kasus ini melalui sopir itu," duga polisi tadi.
Rekaman video CCTV yang memantau jalan raya dan lalu lintas memperhatikan sebuah mobil yang melaju kencang mengarah ke arah mobil orang tuanya. Padahal jelas di sana ada mungil dan kendaraan lain di sekitar, pantes yang jadi pertanyaannya adalah kenapa mobil itu menabrak mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tuanya?Kecurigaan semakin kuat lantaran mobil itu seperti sengaja mengarahkan kendaraannya pada kendaraan kedua orangtuanya.
"Ini gak mungkin murni kecelakaan. Rem kendaraan itu pasti sengaja di rusak. Dilihat dari CCTV seperti supir itu juga tidak tahu kalau kendaraannya di rusak, dugaan saya supir itu juga panik karena rem nya rusak, sehingga ia hilang kendali dan menimbulkan kecelakaan parah."
"Saya harap bapak bisa menyelidiki siapa dalang di balik kecelakaan orang tua saya. Saya mau pelakunya dihukum setimpal dengan perbuatannya," ujar Vania geram.
"Baik mbak. Tapi apakah orang tua mbak, punya musuh atau saingan bisnis?"
"Ada sih, pak. Saingan bisnis di tempat kerja sudah pasti ada. Sebelum kecelakaan, keluarga saya juga pernah ada masalah dengan mantan tunangan saya."
"Baik,mantan tunangan mbak Vania bisa jadi daftar orang yang perlu kami periksa."
"Saya minta izin mau foto gelang ini pak, siapa tahu saya bisa menemukan orang itu di tempat lain."
"Silahkan, mbak."
Vania mengambil ponsel dari dalam kas untuk memotret barang bukti yang berupa gelang itu. Dia punya ide dan menyusun rencana kepada pihak kepolisian supaya bisa memancing dalang beserta anak buah yang sudah mencelakai kedua orang tuanya.
----
" Permisi," sepasang suami istri menekan bel rumah Farel.
Tidak butuh waktu lama pintu rumah terbuka, menampakkan salah satu wanita yang merawat Cila. Perempuan itu mempersilahkan suami istri itu untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Dengan sigap ia juga membawa kan tas besar mereka agar tidak keberatan.
Sumi istri yang terlihat susah berumur itu duduk di sofa tamu. Pandangan mereka berkeliling, mencari sosok putri kecil yang mereka rindukan.
"Cila ada kan, Bi?" tanya wanita setengah baya itu.
"Ada, Bu. Cila lagi main di kamarnya. Kalau begitu saya panggil non fanya dulu. Ibu sama bapak mau istirahat sekarang? Biar saya siapkan dulu kamarnya."
"Ah gak usah, kami di sini saja dulu. Tolong panggil Cila ya. Saya kangen sama cucu saya."
Bibi mengangguk." Baik Bu, kalau gitu saya panggil non Cila-nya dulu."
Tak lama kemudian mbok berjalan ke ruang tamu begitu mendapatkan kabar jika orang tua Farel sudah sampai di rumah. Mbok setengah membungkuk sebagai tanda hormat kepada suami istri itu, namun ketika akan duduk bersimpuh di lantai. Ibu dari Farel mencegahnya.
"Eum, mbok jangan duduk di sana. Sini duduk di sofa aja."
"Yo gak bisa Bu, ibu kan atasan saya, saya di sini cuma bekerja."
"Gak apa-apa toh, mbok kan udah kerja lama sama anak saya. Sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. Duduk di sofa supaya kamu enak ngobrolnya."
Mbok mengangguk." Baik Bu, ibu dan bapak apa kabar? Pak Farel tau kalau ibu dan bapak ke sini?"
"Syukur Alhamdulillah kami sehat mbok. Kita kebetulan punya waktu senggang buat ke sini, saya belum ngabarin Farel. Sengaja supaya jadi kejutan."
Cila berjalan dengan riang sembari bernyanyi dan memeluk boneka kesayangannya. Begitu matanya melihat kakek dns nenek punya yang duduk di sofa, gadis kecil itu semakin merasa senang. Ia berlari kemudian menyalami mereka dan memeluknya.
"Yeay, kakek dan nenek ada di rumah Cila!" Sorak Cila dengan semangat.
"Cila kangen sama kakek dan nenek gak nih?" Tanya kakeknya,
"Kangen dong, kek." Jawab Cila sembari bergelayut manja pada sang kakek.
"Ya ampun cucu nenek susah besar ya, pipinya makin gembil ini." Ujar neneknya sambil mencubit pipi cucunya.
Mata Cila tiba-tiba berkaca-kaca." Kakek dan nenek lama di sini kan? Cila kesepian, biar ada temen Cila mau kakek dan nenek lama di sini."
"Iya cu, kakek dan nenek liburan agak lama untuk nemenin cucuk nenek tersayang."
"Asik! Nenek dan kakek bisa anter Cila ke sekolah. Kakek, Nek ayok ke kamar Cila."
"Kakek dan neneknya baru sampai loh non, kakek dan neneknya mau istirahat dulu. Setelah itu baru main sama non Cila, sekarang non main sama bibi atau mbok aja dulu ya."
Kakek Cila tertawa kecil." Gak apa-apa mbok, rasa lelah kami hilang setelah bertemu dengan Cila, yuk kita main sama kakek dan nenek."
Mbok mengangguk." Baik pak, kalau begitu saya siapkan makan siang untuk ibu dan bapak dulu." Setelahnya mbok berpamitan menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.