"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 15
"Tidurlah di sampingku!"
DEG!
Jantung Yiyue seolah berdetak kencang saat mendengar ucapan suaminya. Gadis cantik itu terdiam membeku dengan berbagai macam pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Antara percaya dan tidak dengan apa yang dia dengar barusan, mengingat selama ini Yiyue tidak pernah tidur seranjang dengan suami kulkasnya itu. Terlebih, ada sebuah perjanjian diantara mereka yang membuat Yiyue semakin yakin jika dirinya hanya sebagai pelayan bagi suaminya.
Selama Yiyue menikah dengan Qiaoyan, gadis cantik itu selalu tidur di atas sofa sedangkan Qiaoyan tidur di atas ranjang king size nya yang begitu empuk. Berbeda halnya dengan Yiyue, meskipun sofa yang ditempatinya terasa empuk namun tetap saja tak senyaman seperti tidur di atas ranjang yang bebas bergerak.
Semenjak Yiyue tidur di atas sofa, sering kali gadis cantik itu merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun, hal itu ditepis oleh Yiyue dan tak mempermasalahkannya. Pasalnya dia tahu betul mengenai posisinya di villa itu, tak lain sebagai gadis penebus hutang yang bertugas sebagai pelayan untuk merawat Qiaoyan, suami kulkasnya.
Yiyue menggeleng pelan, mengangkat wajahnya menatap Qiaoyan yang sedang duduk di atas ranjang bersandar di heard board.
"Tidak Tuan. Saya tidur di sofa saja seperti biasanya," tolak Yiyue berusaha lembut dan menampilkan senyum manisnya. Gadis cantik itu takut jika suami kulkasnya kembali murka.
Qiaoyan menghela napas pelan berusaha mengendalikan emosinya agar tidak meluap. "Baiklah. Kalau kau tidak mau jangan salahkan aku jika ciuman tadi terulang kembali." Kecamnya yang terdengar tegas.
Lelaki itu memicingkan matanya menatap pada Yiyue dengan tersenyum menyeringai. "Sepertinya ... kau menginginkan untuk berciuman denganku lagi?"
Mata Yiyue membulat sempurna, kemudian menggeleng cepat. "Tidak Tuan. Maksudku, aku takut jika saat tidur nanti malah mengganggu tidurmu. Karena tidurku suka gila, aku tidur suka mendengkur dan mengigau," kilah Yiyue.
Qiaoyan berdehem, sebelum kemudian bersua. "Baiklah, sepertinya kau ingin kucium."
"Tidak! Jangan Tuan!" Secepat kilat Yiyue melambaikan tangannya
"Baiklah, aku akan tidur denganmu." Lanjutnya yang terpaksa mengiyakan keinginan suami kulkasnya itu.
Tanpa sepatah kata pun, Yiyue naik ke atas ranjang, menciptakan desiran halus pada sprei. Dia langsung merebahkan diri membelakangi suaminya, ranjang yang semula luas kini terbagi menjadi dua seperti dua benua yang terpisahkan.
Sementara Qiaoyan tersenyum kemenangan melihat sang istri yang berakhir menurutinya. Qiaoyan menggeleng-gelengkan kepala geli tidak habis pikir dengan istrinya yang begitu menggemaskan.
Sorot matanya menatap punggung sang istri yang terbungkus dengan selimut tebal. Qiaoyan menghela napas panjang yang tertahan di udara kamar yang tiba-tiba terasa dingin. Tanpa ijin, tangan besar Qiaoyan langsung menarik tubuh Yiyue dalam pelukannya. Entah kenapa, lelaki itu seolah tak ingin berjauhan dengan sang istri terlebih Yiyue seperti memberi jarak diantara mereka dan Qiaoyan tak menyukai itu.
"T- tuan? Kenapa kau memelukku?" Yiyue tersentak kaget saat tangan besar melilit di pinggang rampingnya.
"Tidurlah!" titah Qiaoyan yang telah memeluk erat istri kecilnya layaknya seperti guling.
Yiyue yang berada dalam dekapan suaminya, dia terus meronta berusaha lepas dari tangan besar sang suami.
"Diam! Jika kau terus bergerak, dia akan bangun. Apa kau mau bertanggung jawab, hah?" sentak Qiaoyan.
Detik itu juga Yiyue pun terdiam membeku, tubuhnya tak lagi meronta meskipun dia tak tahu siapa yang akan bangun? Yiyue hanya pasrah dan berusaha memejamkan mata di dalam dekapan suami kulkasnya itu.
🥕🥕🥕
Sinar mentari pagi menerobos masuk melalui celah gorden, membelai wajah Yiyue hingga memaksa kelopak matanya terbuka. Kesadaran datang perlahan, membawa kejutan yang membuat napasnya tertahan. Jarak yang biasanya membentang luas di antara mereka mendadak sirna. Suami yang selama ini sedingin es itu kini tertidur lelap tepat di sampingnya. Lebih mengejutkan lagi, tangan besarnya melingkar kokoh di pinggang sang istri, menariknya rapat seolah takut kehilangan, sebuah kehangatan yang asing namun familier.
Seketika mata Yiyue membulat sempurna saat melihat suami kulkasnya tepat ada di hadapannya. Reflek Yiyue berteriak sekencang mungkin, tak peduli lagi dengan amukan suaminya.
"Aaaaaaa ...."
"Ada apa?" tanya Qiaoyan khawatir yang segera mungkin bangkit dan bersandar di head board.
Kedua netra Qiaoyan menatap intens sang istri yang terlihat ketakutan. Terlihat jelas istri kecilnya itu yang tak henti berteriak, tanpa peringatan Qiaoyan langsung menyentuh bahu Yiyue.
Yiyue tersentak kaget dengan sentuhan suaminya, sebelum kemudian dia mengangkat wajahnya menatap suami kulkasnya itu.
"Kau ...," pekik Yiyue. Secepat kilat gadis cantik itu bangkit, lalu menjauh dari sang suami. Kedua tangannya masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Jauh dalam lubuk hatinya, Yiyue merasa takut jika suami kulkasnya itu berani macam-macam dan berbuat lebih padanya. Tentu saja Yiyue tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi. Mau di taruh dimana coba mukanya jika dia hamil setelah dibuang suaminya. Lalu apa kata orang-orang nanti? Pasti dia akan dihakimi dan dicaci maki oleh semua orang mengingat dirinya hamil tanpa ada suami.
"Apa yang kau lakukan Tuan? Kenapa kau tidur disini?" tanya Yiyue dengan tubuh gemetar. Keringat dingin pun mulai bercucuran di dahinya padahal suhu kamar terasa dingin.
Qiaoyan berkerut alis dalam. "Kenapa aku tidur disini?" Lelaki itu mengulang ucapan istrinya. "Ini ranjangku, sudah pasti aku tidur disini. Justru aku yang harus bertanya padamu, kenapa kau ada disini? Tidur di ranjangku pula, atau jangan-jangan kau ingin tidur bersamaku dan memelukku ya ...," goda Qiaoyan menaik turunkan alisnya menatap istri kecilnya.
Mendengar itu, Yiyue mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
'Astaga! Apa yang aku lakukan? Kenapa aku tidur di atas ranjangnya?' batin Yiyue yang masih belum sadar perihal tadi malam, dimana suami kulkasnya lah yang memaksa dirinya untuk tidur bersama di atas ranjang.
Yiyue menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menampilkan sederet gigi putihnya. "Aaa eeehh ... m- maksudku bagaimana bisa aku ada disini? Seharusnya kan aku tidur di sofa, lalu ...." Tatapan mata Yiyue menunduk sambil meremas ujung selimut.
"Lalu apa? Apa kau tidak mengingatnya, hm?" tanya Qiaoyan yang langsung mendekatkan wajahnya menatap sang istri yang masih terlihat bingung.
DEG!
Seketika pandangan mereka pun bertemu, keduanya saling beradu pandang. Beberapa detik kemudian, Yiyue tersadar lalu memutus kontak mata terlebih dulu, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Maksud mu apa Tuan? Memangnya semalam kita melakukan apa?" tanya Yiyue penasaran tanpa menatap wajah suaminya.
Kini pandangannya turun memeriksa tubuhnya dengan pikiran yang berkecamuk.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Pakaianku saja masih utuh. Tidak! Itu tidak mungkin terjadi. Mana mungkin dia bisa melakukan hal itu sedangkan kakinya saja tidak bisa bergerak,' batin Yiyue menenangkan dirinya.
Kini perasaannya sedikit lega karena pakaiannya masih tampak utuh, melekat di tubuhnya.
"Bagaimana? Apa kau sudah ingat?" tanya Qiaoyan lagi sambil melipat kedua tangannya di dada. Kedua netranya menatap lurus ke arah Yiyue yang sedang duduk di bibir ranjang dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Yiyue menggeleng pelan dengan wajah polosnya, membuat Qiaoyan tersenyum miring.
"Yakin kau tak mengingatnya, hm? Atau perlu aku mengingatkanmu lagi?" goda Qiaoyan.
"Cukup Tuan, tidak usah berbelit. Cepat katakan!" sergah Yiyue menyorot tajam suaminya.
"Tadi malam kita berolahraga sampai pagi," bisik Qiaoyan sedikit mendesah tepat di telinga istrinya.
Dengan cepat Yiyue melompat dari atas ranjang, dia berjingkat kaget mendengar pengakuan suaminya. "Apa? Tidak! Itu tidak mungkin Tuan. Mana bisa kita melakukan itu sedangkan kau ...."
"Karena aku lumpuh begitu? Jadi kau meremehkanku, iya? Kalau begitu ayo kita coba sekarang, biar kau tahu kemampuanku."
.
.
.
🥕Bersambung🥕